Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

8. Salah satu ciri khas yang melekat pada persekutuan orang-orang percaya adalah adanya ibadah/ kebaktian. Bagi gereja atau persekutuan doa yang biasa (wajar), maka ibadah yang dilakukan itu terbuka untuk sesama orang percaya, dan siapa pun tidak di-larang untuk ikut menghadiri dan mengikutinya. Selain itu, karena memiliki penghayatan yang sama tentang Tuhan dan Juruselamat, maka gereja/ persekutuan yang bermacam-macam itu biasa melakukan ibadah bersama.

Jemaat kita -misalnya- seringkali mengundang pendeta dari gereja-gereja lain untuk melayani. Demikian pula jemaat kita mengikuti ibadah-ibadah bersama yang dilakukan baik oleh gereja-gereja lain, maupun oleh persekutuan kategorial/ ekumenis karena meyakini Alkitab dan Yesus yang sama

Lalu, bagaimanakah dengan persekutuan seperti yang kita telaah di atas? Persekutuan yang tidak wajar praktik ibadahnya akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan sebuah persekutuan yang setara dengan kelompok lain. Padahal sebagai milik Kristus, maka menjadi keniscayaan (sesuatu yang tidak bisa ditawar) untuk mau menghayati iman dan beribadah bersama dengan kelompok lain. Hanya saja, di sini ada persoalan serius. Pernahkah Anda bayangkan jikalau persekutuan yang kita telaah itu mengadakan ibadah bersama dengan kelompok lain?

Saya membayangkan seperti ini. Dalam ibadah bersama, manakala sang pemimpin dari persekutuan A lalu bergetar tubuhnya karena kerasukan “Roh Kristus”, bisa jadi ia kemudian mengarahkan perhatiannya ke pengikut persekutuan B, lalu membongkar kesalahan dan dosa-dosanya, serta memberi nasihat kepadanya. Pribadi yang dibongkar kesalahannya itu pastilah akan sangat terkejut, dan mungkin pula segera meninggalkan ibadah itu sambil marah-marah. Tuhan Yesus pastilah tidak pilih-pilih orang. Saat ingin berkata-kata khusus kepada pribadi tertentu, tentulah Tuhan Yesus melihat apakah pribadi yang akan diingatkan dosanya itu anggota persekutuan A atau B. Sementara pada saat yang sama, sang pemimpin persekutuan B setelah berdoa dengan sungguh-sungguh menyebabkan -misalnya- 2 orang pengikutnya dipenuhi oleh “Roh Kudus” sehingga tertawa tak terkendalikan. Betapa hiruk pikuknya suasana ibadah.

Atau, ketika dua persekutuan itu melakukan ibadah bersama-sama sekali pun tidak terjadi hal-hal di atas. Ibadah akan berlangsung sebagaimana lazimnya gereja-gereja protestan melakukannya. Jika ini yang terjadi, kemudian muncul pertanyaan penting: Kenapa ketika dalam ibadah bersama, saat pemimpin A dan B sama-sama berdoa dengan sungguh-sungguh tidak terjadi hal istimewa, misalnya tubuhnya bergetar dan ke-rasukan “Roh Kristus”? Ataukah ketika para pemimpin itu berdoa atau beribadah di luar persekutuannya, “Tuhan Yesus” sudah berpesan lebih dahulu kepada mereka, “Anak-’Ku’, hanya di dalam ibadah di persekutuanmu ‘Aku’ mau datang dan merasuki tubuhmu dengan roh’Ku’. Hanya kamu yang kuberi roh kudus, yang lain tidak”. Seperti inikah? Bukankah Roh Kudus itu mempersatukan, bukan memisahkan?

Itulah sebabnya persekutuan yang tidak wajar praktik ibadahnya bisa dipastikan amat eksklusif/ tertutup dalam menjalani praktik ibadahnya, dan tidak mudah mau mengadakan ibadah bersama persekutuan sejenis dari kelompok lain. Padahal Tuhan Yesus sendiri menaikkan doa dan harapan agar umat-Nya bersatu (“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau . . .” – Yohanes 17: 20, 21). Jika Tuhan Yesus-nya sama mestinya tidak perlu membuat sekat pemisah yang begitu lebar dan dengan suka cita mau beribadah bersama-sama dengan persekutuan sejenis lainnya.

Salah siapa?

Mengapa terdapat sebagian warga jemaat yang kemudian terjebak dan mengikuti sebuah persekutuan secara militan melebihi kesetiaannya pada gereja? Saya kira akan baik kalau kita tidak mengarahkan jari telunjuk kita ke mana-mana, kecuali kepada diri sendiri. Banyak gereja sudah menjadi sebuah persekutuan yang lebih serius dalam menata organisasi, sehingga aktifitas para pejabat gereja dicurahkan habis untuk kegiatan rapat dan merapikan organisasinya. Akibatnya kebutuhan esensial warga jemaat, yakni perjumpaan personal dengan para pejabat gereja entah melalui perkunjungan atau pelayanan doa menjadi begitu terbatas bahkan nyaris terabaikan. Dengan demikian dimaklumi kalau ada kekosongan rasa/ hati yang dialami oleh warga jemaat.

Bisa jadi, gereja menganggap bahwa kebutuhan warga sudah tercukupi dengan fasilitas pelayanan yang disiapkan oleh gereja: Ibadah Minggu, Ibadah keluarga (patuwen), dan perkunjungan kepada mereka yang sakit. Sebaliknya warga jemaat merasa tidak cukup hanya dengan pelayanan-pelayanan itu. Ada warga yang memerlukan pemahaman yang lebih mendalam daripada yang selama ini diterima secara rutin dalam ibadah, misalnya soal perkembangan teologi dan informasi-informasi mutakhir tentang alkitab. Atau warga yang memerlukan perjumpaan personal yang lebih intens, karena tantangan hidup yang makin berat. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak disediakan oleh gereja inilah yang kemudian mereka temukan di luar gereja. Dan mereka merasa dipuaskan di situ.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak