c. Sebuah ajaran dan praktik ibadah yang benar pastilah berdasarkan sumber iman yang utama, yaitu Alkitab. Alkitab adalah sebuah buku yang terbuka, dalam arti setiap orang dipersilakan untuk mempelajari dan mendalaminya.
Pertanyaan penting di sini ialah: Apakah di dalam persekutuan ini ada kegiatan untuk mendalami isi Alkitab dan setiap anggotanya diberi kebebasan untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kritis yang bersumber dari Alkitab terhadap ajaran dan praktik ibadah di persekutuannya?
d. Model kepemimpinannya. Adalah manusiawi apabila seorang pemimpin itu melakukan sebuah kesalahan, sebab manusia memang pribadi yang terbatas. Namun menjadi berbeda manakala di persekutuan tertentu kata-kata pemimpin dalam ibadah diyakini langsung bersumber dari bisikan “Roh”, apalagi sampai mengalami keadaan trans/ tidak sadar terhadap apa yang diucapkan.
Kalau kata-kata yang berasal dari tipe pemimpin seperti itu ternyata salah, artinya bisikan “Roh”nya yang salah! Apakah di persekutuan yang kita ikuti ada hal seperti itu? Juga penting untuk ditanyakan: di persekutuan yang kita ikuti apakah ada ruang untuk mengoreksi kata-kata, pengajaran dari sang tokoh? Jika tidak ada, berhati-hatilah!
Padahal Rasul Paulus sendiri merasa berbahagia ketika orang-orang Kristen di Berea menguji isi khotbahnya (lihat Kisah Rasul 17: 11, “. . . karena mereka menerima firman itu dengan kerendahan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”).
e. Kutuk dan berkat. Perlu ditanyakan ke dalam hati kita terdalam/ sejujur-jujurnya: kebersamaan dalam persekutuan yang kita ikuti itu menjadikan diri kita sebagai orang Kristen yang merdeka ataukah semakin dikungkung oleh aturan-aturan yang amat ketat bahkan cenderung menjadi seperti ancaman.
Misalnya, Jikalau Si Badu sudah dijadual untuk mengunjungi dan mendoakan Si Mawar dan keluarganya pada Hari Minggu, maka akan timbul rasa takut celaka, jikalau tidak melakukan tugas itu! Sebaliknya, jika tugas itu dilakukan dengan baik, maka akan terberkati.
Apabila suasana di persekutuan kita seperti itu, berhati-hatilah. Sebab Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa jika kita hidup dalam Roh, kita akan dimerdekakan! (“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan.” – 2 Korintus 3: 17). Tentu arti kemerdekaan di sini bukan dalam arti bisa hidup semaunya sendiri, tetapi menunjuk pada makna hidup yang tidak lagi berada di bawah ancaman kutuk atau berkat, tetapi hidup dalam pertimbangan etis.
6. Ada baiknya kita mengingat kembali bahwa adakalanya seseorang meyakini sesuatu tetapi tidak bisa menjelaskannya secara nalar. Contoh. Bu Melati akan langsung berteriak ketika secara tidak sengaja tangannya menyentuh seekor ulat. Suaminya menerangkan dengan sangat jelas kepada Bu Melati, “Bu, ulat itu binatang kecil, tak usah berteriak dan berlari. Ulat itu larinya kalah cepat dengan kita . . . dst.” Apakah dengan penjelasan yang logis itu Bu Melati kemudian bisa tenang ketika tepat di sebelah tangannya diletakkan seekor ulat? Tidak, tetap takut dan bahkan bisa histeris!
Lewat contoh ini baiklah kita merenung-renungkan: Apakah ada di dalam hidup kita sesuatu yang tidak wajar tetapi tidak kita sadari, karena kita sudah tenggelam di dalamnya. Ketika ada orang yang berusaha menyampaikan tentang ketidakwajaran yang kita alami, kita menjadi marah; dinilainya tidak senang dan iri hati kepada kita. Lalu menjadi sensitif terhadap penilaian orang lain. Penjelasan yang runtut dan logis tentang ketidakwajaran itu tidak mempan.
Jika hal seperti ini kita alami, saya menganjurkan untuk mengikuti dan mendalami apa yang dipesankan oleh Tuhan Yesus, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” – Matius 6: 6. Kalau kita ingin mendalami pesan Tuhan Yesus itu untuk keperluan doa pribadi yang khusus tentu bukan dengan cara asal masuk ke dalam kamar, pintu ditutup, lalu berdoa, tetapi mesti melewati proses/ tahapan-tahapan tertentu, misalnya sebagai berikut: