Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

3. Jemaat Korintus mengalami perpecahan ketika warga jemaat menggeser pusat imannya, bukan kepada Tuhan Yesus, tetapi kepada tokoh-tokohnya: Paulus atau Apolos. Itulah sebabnya Rasul Paulus kemudian mengarahkan warga jemaat di Korintus untuk bersehati dan mengarahkan hidupnya kepada Kristus.

Karya Roh Kudus itu menyatukan, bukan memecah belah atau meresahkan jemaat. Mereka yang dituntun oleh Roh Kudus tidak akan mungkin mengajak orang lain untuk meninggalkan -misalnya- kebaktian (atau Ibadah Patuwen) yang diselenggarakan gereja saat di persekutuannya juga ada kebaktian. Karya Roh Kudus itu juga menolong orang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, tidak mudah merasa lebih suci daripada orang lain.

4. Menjalani hidup sehari-hari dengan Tuhan Yesus tidak berarti bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus bertanya kepada tokoh persekutuan, tetapi kita juga diminta untuk bergumul dengan problema hidup. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk hidup yang diberi kebebasan untuk berpikir dan menimbang-nimbang sebelum melangkah, bukan mesin yang hanya menanti perintah.

5. Buah iman selalu berkaitan dengan sikap hidup etis (moral yang baik). Sementara itu saya memiliki banyak catatan tentang para pengikut persekutuan yang masih memuja sang pemimpin/ tokoh sekali pun faktanya perilaku sehari-hari tokoh itu buruk. Memang dalam kenyataan banyak tokoh persekutuan yang menjalani hidup dengan baik, tetapi tidak sedikit juga yang berperilaku buruk, bahkan ada yang terjerat masalah rumah tangga bahkan perceraian, dlsb.

Bandingkanlah dengan surat Efesus 5: 17 tentang hidup sebagai anak terang (“. . . .sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan . . .”). Sehingga patut dipertanyakan ketika seorang tokoh rohani hanya dilihat dari kegiatan rohaninya, tanpa mau menghubungkan dengan perilaku sehari-harinya.

6. Alkitab memberi kesaksian bahwa Roh Kudus itu menuntun kita supaya memelihara akal sehat dan juga roh yang menghadirkan kerapian dan ketertiban (“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkit kekuatan, kasih, dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7).

7. Menilik sejarah kekristenan dari abad ke abad akan kita temukan bahwa kelompok-kelompok yang ajarannya aneh dan tidak wajar selalu bermunculan. Namun, kelompok-kelompok itu jarang yang berusia panjang, misalnya sampai ratusan tahun. Pada umumnya komunitas itu pada saat tertentu akan hilang, kecuali kalau kelompok-kelompok itu kemudian menjadi gereja yang mau menata secara organisasi, artinya memberi ruang yang cukup untuk akal sehat. Jika tidak, jarang yang bertahan sampai ratusan tahun, karena mereka bergantung pada tokoh/ sosok. Ketika sosok itu kharismanya meluntur, maka menyusutlah komunitasnya.

Pada tahun 1970-1980-an di Indonesia marak bermunculan aliran kekristenan yang aneh-aneh dan sangat tidak wajar. Misalnya, tanda bahwa seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus ialah ketika mengalami keadaan tertawa tanpa bisa dikendalikan, atau dalam kekhusukan doa mengalami ketidaksadaran diri, lalu -maaf- muntah-muntah dan jatuh menggelepar sebagai tanda dosa terlepaskan dan hidup dilimpahi kuasa Roh Kudus. Mereka yang mengikuti ajaran dan praktik itu banyak, tetapi entah sekarang saya sudah tidak pernah mendengarnya. Jika itu semua adalah karya Roh Kudus, tentulah akan terus mengalami perkembangan yang baik.

Diduga, tidak sedikit jenis persekutuan di tengah masyarakat kita yang polanya seperti di atas, yaitu amat bergantung pada sosok pemegang otoritas, lebih-lebih otoritas yang diklaim atas perintah Kristus sendiri.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak