- Bagi pengikut komunitas itu, gereja bukan lagi tempat utama untuk kebutuhan imannya. Gereja tidak lagi menjadi tempat yang membuat mereka merasa jenak dan nyaman. Selain itu jika ia memiliki tanggungjawab dalam pelayanan di gereja, maka dengan ringan saja diabaikan apabila dalam waktu bersamaan ada kegiatan di persekutuannya. Artinya, pelayanan yang dilakukan di gereja tidak dilakukan dengan sepenuh hati, meremehkan gereja.
- Menimbulkan keresahan bagi warga jemaat.
Hal ini terjadi terutama terhadap mereka yang sedang dalam kondisi tidak sehat, baik dari sisi jasmaninya maupun karena sedang dalam kebimbangan hidup. Pada satu sisi warga tahu bahwa yang utama dalam iman adalah kesetiaan total kepada Kristus, namun di sisi lain terdapat dorongan untuk mendapatkan secara cepat tanda/ bukti dari kuasa Kristus yang bisa melepaskannya dari penderitaan atau beban hidup.
Mereka yang sedang dalam kondisi seperti itu lalu mendapat kunjungan dari anggota persekutuan. Mereka didekati dan dirayu bahwa apa yang mereka harapkan itu tersedia di persekutuannya sambil mengiming-imingi dengan berkat yang menggiurkan.
Tidak hanya ini. Ada warga jemaat yang hari ini dikunjungi oleh komunitas persekutuan A, sedangkan dua hari kemudian dikunjungi oleh komunitas persekutuan B. Masing-masing yang berkunjung manawarkan cara penghayatan iman yang berbeda, namun sama-sama mengiming-imingi dengan berkat yang gampang tercurahkan.
Bagi warga jemaat yang sedang dalam kondisi tidak sehat, tidak mudah untuk teguh dan tahan uji dalam menghadapi rayuan-rayuan itu, sehingga mengalami kebimbangan, dan mudah terjebak. “Saya bingung, Pak.” Ini yang disampaikan ke saya. - Memecah belah persekutuan orang-orang percaya.
Jika di sebuah jemaat terdapat 2 atau 3 tokoh persekutuan yang berbeda, maka yang terjadi adalah sebagai berikut: Tokoh persekutuan A akan dianggap tak berharga oleh tokoh persekutuan B, dan sebaliknya. Tokoh B merasa bahwa hanya dirinyalah yang mendapatkan pesan khusus dari “Tuhan Yesus” untuk memberitakan “Roh Kudus” sambil menilai tokoh A sebagai orang yang tidak mengenal Roh Kudus, dan sebaliknya. Bahkan bisa jadi masing-masing saling menyesatkan.
Mungkin suasana seperti itu tidak tampak di permukaan persekutuan sejemaat, tetapi menjadi jelas ketika masing-masing berkumpul di kelompok masing-masing. Dapat dipastikan bahwa ketegangan seperti itu tidak hanya antara tokoh, tetapi akan merembet ke para pengikutnya. Bandingkan dengan apa yang menjadi keprihatinan Rasul Paulus atas Jemaat Korintus (I Korintus 3). - Membawa warga jemaat beralih dari memuliakan Kristus (fokus kepada Kristus) berubah menjadi fokus pada “Kristus yang kelihatan” yang diperankan oleh manusia/ tokohnya. Pribadinya tidak lagi bergantung pada Tuhan Yesus Kristus tetapi beralih menjadi bergantung pada “apa kata/ dhawuh” dari tokoh/ pemimpinnya. Pribadi yang bergantung pada Kristus selalu berusaha terus meningkatkan kedalaman relasinya dengan Kristus dan menemukan kehendak-Nya, sehingga bisa dan berani menggumuli persoalan hidupnya (lihat, Yudas 1: 20, “ . . . bangunlah dirimu sendiri di atas imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus”),
Catatan Teologis
Setelah kita memahami beberapa ciri dan praktik pengajarannya, maka saatnya kita meninjaunya secara teologis dengan menyandarkan diri pada firman Tuhan disertai akal budi yang jernih. Ada beberapa pokok penting yang bisa dituliskan di sini.
1. Baik di Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB) kita mendapati kesaksian tentang TUHAN yang berdaulat atas kehidupan. Memperhatikan perjalanan umat di PL, misalnya saat bangsa Israel melewati padang gurun untuk menuju ke Kanaan, kita mengetahui bahwa bangsa itu bergantung secara mutlak hanya pada kasih dan kemurahan TUHAN.Dalam pengembaraannya terdapat banyak sekali karya istimewa TUHAN yang melampaui akal budi atau mukjizat yang dialami oleh umat Tuhan. Namun, jelas sekali di Alkitab dituliskan bahwa peristiwa-peristiwa yang melampaui akal budi itu hanya terjadi dalam hal-hal istimewa, bukan menjadi peristiwa yang rutin.
Demikian halnya peristiwa-peristiwa yang tertulis di PB. Ada saatnya Tuhan Yesus dan para muridnya melakukan peristiwa ajaib. Namun mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para murid tidak terjadi sebagai kegiatan rutin. Bahkan ada saat tertentu Tuhan Yesus melarang orang untuk menceritakan peristiwa ajaib yang dilakukan. Dalam injil Markus diceritakan ketika Tuhan Yesus baru saja melakukan mukjizat, yaitu menyembuhkan seorang yang sakit kusta, lalu berpesan kepada yang baru saja disembuhkan, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun…”- Markus 1: 40-44).