Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

Supaya lebih mudah dipahami, kita perlu mengenal lebih dahulu ciri-ciri pengajaran dan praktik penyebarannya, sebagai berikut.

  1. Absolutisme pada pribadi/ tokoh.
    Komunitas Kristen seperti disebutkan di atas cenderung menempatkan sang pemimpin memiliki otoritas/ kebenaran mutlak. Pemimpin itu sendiri cenderung menikmati otoritasnya. Pada saat terjadi ketidaksadaran, para pengikutnya membiarkan sang pemimpin tenggelam dalam ketidaksadarannya/ ekstase. Saat tubuh bergetar dan kulit tubuh mulai muncul rasa griming-griming/ seperti orang kerasukan, tidak segera membangun kesadaran kritisnya, tetapi kondisi ini dipelihara.Kondisi seperti itu tidak segera disikapi secara kritis, misalnya dengan bertanya, “Ini roh Kristus atau roh lain?” Nalar atau akal sehat sebagai anugerah Tuhan pemberian Tuhan ditinggalkan.Contoh absolutisme: Jika pemimpin mengatakan kepada Pak Badu, misalnya, “Jodoh anak sulungmu adalah gadis B yang tinggal di desa X.” Maka, apa yang diucapkan oleh pemimpin itu diyakini sebagai sabda Tuhan sendiri, sehingga Pak Badu benar-benar mengalami ketakutan kalau anak sulungnya berhubungan secara khusus -misalnya- dengan gadis C. Manusia menjadi kehilangan unsur kebebasan etisnya, seperti mesin.
  2. Dalam menambah jumlah pengikutnya tidak jarang menggunakan ancaman verbal (kata-kata).
    Hal ini misalnya: “Lihatlah mereka yang mengikuti persekutuan kami: hidupnya terberkati, usaha sukses, dan kalau sakit disembuhkan. Sekarang lihatlah mereka yang menolak ajakan kami, sakit mereka semakin parah dan kehidupan mereka semakin susah, bahkan kemudian meninggal dunia”.Selain hal itu, komunitas tersebut juga memamerkan hasil doa juga dipakai untuk memikat orang lain agar tertarik masuk ke persekutuan ini. Padahal yang mendoakan orang sakit tidak hanya persekutuan ini. Siapa yang bisa memastikan bahwa karena doa dari persekutuan ini seseorang disembuhkan? Ini merupakan cara pendekatan yang jauh dari nilai cinta kasih!
  3. Mengutamakan persekutuannya daripada gereja.
    Jika ada kegiatan yang bersamaan waktunya di gereja dan di persekutuan, maka kegiatan gereja menjadi tidak penting. Ini artinya, kehadirannya di gereja tidak sepenuh hati atau keterlibatannya di gereja dilakukan sekedar untuk memenuhi unsur kepantasan saja, sebab hatinya yang terdalam tidak terpaut pada gereja! Gereja bukan lagi menjadi rumahnya, tetapi sekedar tempat singgah.
  4. Para anggotanya diarahkan untuk menjadi insan/ pribadi yang instan/ mencari gampangnya.
    Ini artinya orang tidak diajak untuk menggumuli kehidupannya secara serius, tetapi menunggu jawaban langsung dari sesuatu yang dianggap dari ‘Tuhan’. Contoh. Pak Badu ingin memiliki rumah di Kota Malang. Untuk mewujudkan keinginannya itu Pak Badu tidak bertanya ke beberapa pihak yang mengetahui tentang seluk beluk perumahan, tetapi yang dilakukan adalah bertanya kepada pemimpin rohaninya. Apa yang kemudian dikatakan oleh pemimpin itu, akan dilakukan!
  5. Memiliki semangat amat besar untuk memperkuat ikatan setiap anggota persekutuan
    Hal ini misalnya dengan upaya untuk menjodohkan pasangan dari anggota persekutuan itu sendiri, tentu hal ini mendasarkan diri dari bisikan roh. Selain itu para anggotanya juga cenderung militan (sungguh-sungguh, bahkan rela meninggalkan kegiatan rutinnya demi melaksanakan misi komunitasnya).

 

Siapa yang mengikutinya?

  1. Mereka yang mengikuti persekutuan ini bisa siapa saja, tetapi biasanya muncul dari keluarga, mewarisi dari orang tua misalnya.
  2. Mereka yang dalam pergumulan hidup berat: kesepian, sakit tak sembuh-sembuh; atau mereka yang mengalami kegelisahan. Misalnya: adanya keinginan agar anaknya akan mendapatkan jodoh yang baik.
  3. Tidak tertutup kemungkinan adalah mereka yang tergoda untuk diringankan beban hidupnya atau ingin roti dunia yang lebih besar, sekalipun demi itu rela menjadikan gereja tak lagi penting. Jadi, bukan dalam rangka mencari dan menggumuli kehendak Tuhan sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus dan Rasul Paulus, yakni hidup dalam semangat ugahari, tetapi dalam rangka memenuhi keinginan duniawinya.

 

Apa Buahnya di Tengah Kehidupan Jemaat?

Biasanya orang memberi pedoman sederhana untuk menilai apakah sesuatu itu baik atau tidak adalah dari buahnya. Baiklah di sini saya sampaikan apa yang terjadi ketika warga jemaat yang sudah terlanjur basah di persekutuannya kemudian mengajak warga jemaat lainnya untuk mengikuti persekutuannya. Saya mencatat beberapa buah atau pengaruh buruk bagi persekutuan jemaat, sebagai berikut:

Renungan Harian

Renungan Harian Anak