II. Pengalaman Seorang Pendeta Gereja Protestan.
Seorang Pendeta Gereja Protestan yang merasa tidak terpuaskan dengan gaya bergereja di gerejanya, mencoba mengikuti kegiatan gerakan kharismatik. Dalam gerakan ini ia bisa menikmati dan merasa terpuaskan kebutuhan rohaninya. Suatu saat ketika pendeta ini sedang khusuk mengikuti kebaktian kharismatik, tiba-tiba mengalami kondisi kemasukan ‘roh’.
Keadaan tubuhnya tiba-tiba bergetar, kulit tubuhnya terasa “griming-griming” dan kemudian bisa berkata-kata di luar kesadarannya. Selain itu, ia kemudian juga memiliki kemampuan menyembuhkan. Roh ini dipercaya sebagai Tuhan Yesus yang memasuki dirinya.
Selanjutnya ia mengembangkan pola pelayanan dengan model kharismatis. Karena sudah jatuh dalam pola pelayanan yang berbeda dari gerejanya, ia kemudian dikenai siasat/ sanksi gereja (penggembalaan khusus: tidak diperkenankan untuk mengikuti perjamuan kudus, membaptiskan anak, dll).
Pada suatu saat, ketika akal budinya yang jernih sedang menguasai dirinya, tiba-tiba ia menyadari bahwa terjadi beberapa kali kesalahan dalam pelayanan kharismatisnya itu. Ia juga ia belum pernah menguji apakah roh yang selama ini merasuki dirinya itu benar-benar Roh Kristus. Bersyukur bahwa kesadaran kritis beliau terus meningkat, sehingga kemudian tidak ragu lagi untuk mawas diri secara tuntas terhadap apa yang selama ini dijalaninya. Ia kemudian berketetapan hati untuk benar-benar menguji roh yang ada di dalam dirinya.
Ketika ia benar-benar melakukan pengujian atas roh yang selama ini merasuki dirinya, a.l. ia mengatakan, “Siapakah yang ada dalam tubuhku, apakah Tuhan Yesus? Jika bukan, keluar!” Ternyata, berdasarkan pengujian atas roh itu, roh itu kemudian keluar dari dalam dirinya! Jadi, roh yang merasuki dirinya selama ini yang diyakini sebagai roh Kristus, ternyata bukan!
Setelah itu ia kemudian menambah pengetahuannya tentang roh dan juga mendalaminya. Ternyata, di alam roh, memang terdapat bermacam-macam roh. Menyadari hal-hal ini, ia kemudian menjadi sangat berhati-hati dalam membuka diri terhadap roh yang datang. Mengapa harus berhati-hati? Karena bukan hal yang mustahil bahwa roh yang bukan Kristus itu akan memba-memba (Indonesia: menyaru/ menjadi seperti) roh Kristus!
Bersyukur bahwa pada akhirnya kesadaran akal sehatnya telah menuntunnya kembali ke penghayatan iman yang benar dan kembali ke gereja semula, dan kemudian secara penuh ia menjalani praktik imannya secara wajar, menggunakan akal sehat anugerah Tuhan. Pada akhirnya ia kemudian bisa menjadi pendeta lagi di gerejanya semula, bahkan menjadi pimpinan gereja.
Saya menduga bahwa hal-hal di atas tidak asing di tengah persekutuan kita sebagai jemaat. Kita tidak pernah hidup sendiri, tetapi selalu bergaul dengan banyak orang. Demikian pula dalam hal penghayatan iman. Praktik iman yang kita jalani tidak hanya melalui perjumpaan dengan sesama warga GKJW, tetapi juga bergaul dengan warga jemaat lain yang mungkin terlibat atau bahkan menjadi tokoh persekutuan-persekutuan yang penghayatan imannya berbeda.
Sudah sejak jaman dahulu dalam kekristenan dikenal adanya berbagai macam aliran, yang masing-masing berbeda dalam menghayati iman dan praktik ibadahnya. Warga jemaat yang memiliki pemahaman dan penghayatan yang baik atas imannya akan mampu menyaring dan kemudian menyikapi secara benar terhadap berbagai aliran yang mengelilinginya. Namun, ada pula warga jemaat tertentu ada yang mudah goyah dan tergoda untuk mengikuti begitu saja aliran yang berbeda cara penghayatan dan praktik ibadahnya asal menyenangkan dan menyebut nama Yesus Kristus. Hal ini bisa dipahami karena mungkin mereka belum memiliki bekal cukup untuk menyaringnya.
Adalah menjadi tugas dan panggilan gereja untuk menolong warganya agar dapat mengenali pokok-pokok teologi pengajaran dan praktik yang cenderung menjauh dari intisari iman Kristen agar tidak tergelincir jatuh mengikuti pengajaran yang tidak benar. Gereja tertantang untuk membantu warga jemaat agar bisa tumbuh menjadi orang Kristen yang taat dan setia namun tetap dituntun oleh akal sehat anugerah Tuhan.
Oleh karena itu di bawah ini akan disampaikan sebuah telaah terhadap dua data yang disebutkan di atas. Telaah ini ditulis semata-mata dilandasi oleh dorongan atau ajakan kepada warga jemaat agar semakin mengasihi Tuhan dan sesama melalui praktik iman yang baik, serta dituntun oleh akal sehat anugerah Tuhan.