Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

a. Tahap pertama: Usahakanlah berada dalam keadaan yang rileks, demikian pula posisi duduk atau berbaring yang senyaman mungkin. Setelah itu bangkitkanlah di dalam hati niat yang sungguh-sungguh untuk berdoa. Misalnya dengan mengatakan di dalam hati, “Saat ini saya akan sungguh-sungguh berdoa secara khusyuk.”.

b. Tahap kedua: Untuk beberapa detik, mulailah untuk mengatur pernafasan. Menghirup udara pelan-pelan lalu menghembuskannya pelan-pelan lewat mulut. Lakukan hal ini sampai beberapa kali sampai kita merasakan pikiran dan hati kita benar-benar merasa tenang.

c. Tahap Ketiga: Setelah merasa tenang mulailah berusaha untuk melihat diri sendiri sejujur-jujurnya melalui akal sehat kita dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri. Apa saja yang telah kita lakukan: terhadap anggota keluarga, orang lain, jemaat, isi doa selama ini lebih berharap pada kehendak Tuhan atau kesenangan diri, dll.

Seringkali ketika hal ini kita lakukan di benak kita lalu muncul pikiran atau perasaan untuk membela diri, terutama ketika kita mengingat kesalahan yang sudah kita lakukan. Nalar sehat acapkali kita kubur demi memberi ruang pada perasaan yang timbul. Menyadari kesalahan dan kemudian mengakuinya itu berat, sekali pun itu hanya ada dalam benak sendiri.

Ketika hal seperti ini muncul, jangan membiarkan pikiran atau perasaan kita lebih lekat pada pembenaran diri, tetapi berjuanglah untuk menggali kebenaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu tetaplah berusaha agar nalar sehat dan perasaan seimbang.

Pada bagian ini sebenarnya memerlukan penjelasan khusus, karena justru dalam puncak keheningan, kerap kali muncul “konflik diri”, yaitu suatu keadaan ketika di dalam diri kita sedang terjadi perdebatan seru antara pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar.

Contoh sederhana: Saat dalam keheningan doa, muncul kesediaan untuk jujur, lalu terungkap di benak kita, “Iya, kok kelewatan sekali aku ini, masak hanya karena diingatkan oleh tetangga kalau membuang sampah di tempatnya saja, aku sudah marah dan sudah setahun ini tetangga tidak aku sapa!”. Munculnya kalimat seperti itu tidak sederhana.

Menurut hukum pikiran, ungkapan seperti itu hanya terjadi ketika seseorang telah mengalami kedalaman kesadaran yang bersentuhan dengan hikmat hati nurani atau dalam bahasa iman: perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Tidak setiap orang menemukan momentum seperti itu. Namun, karena kuatnya kuasa dosa pada diri manusia, sehingga kesadaran yang indah itu hanya lewat sebentar, karena segera muncul di benaknya hal lain, seperti ini, “Ah, tapi ya tak salah membenci tetangga itu, sebab cara dia mengingatkan menyakitkan hati. Biar saja, saya tetap tak mau bertegur sapa dengan orang itu . . .” dst.

Tidak setiap orang mau menjalani tahap kedua ini secara serius, sehingga akhirnya mengamini pepatah yang sering kita dengar, “Watuk gampang obate, watak ora ana obate!

Hal ini dikuatkan oleh mereka yang mendalami teknologi pikiran yang mengatakan bahwa untuk mengubah apa yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar (kecoa itu binatang menakutkan bahkan mengerikan sehingga menimbulkan rasa takut, geli, jijik) menjadi kesadaran baru (melihat bahkan memegang kecoa tak lagi merasa takut atau jijik) harus dilakukan lewat terapi khusus atau penanganan yang rutin dari ahlinya. Saya percaya dengan penjelasan itu. Namun, perlu juga disampaikan bahwa ada sisi lain yang harus diingat, yaitu bahwa antara pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar, di situ ada karya Tuhan atau campur tangan Tuhan yang bisa terjadi pada diri manusia.

Ilmu pengetahuan itu baik dan amat penting dan perlu, tetapi terbatas, sehingga tidak akan mampu melampaui kuasa Tuhan. Oleh karena itu, benar yang ditulis oleh Rasul Yakobus, “. . . Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya . . . ” – Yakobus 5: 16b. Artinya, kesungguhan yang kita jalani lewat doa untuk menyeimbangkan antara pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar bukan hal yang sia-sia.

Doa yang kita ucapkan tidak ditujukan ke ruang hampa, melainkan kepada Tuhan yang kuasa-Nya melebihi segala sesuatu. Bukankah ketika kita berdoa, tidak hanya diri kita yang beraktifitas, tetapi juga Roh Kudus? (“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. – Roma 8: 26-28).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak