Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

Saya ingatkan kembali tentang seorang pendeta dari gereja protestan yang pernah “menikmati hidup bersama dengan roh”, tetapi kemudian menyadari ketidak-wajarannya, sehingga kemudian kembali menghayati imannya secara wajar.

4. Hal utama dalam mengikuti Tuhan Yesus bukanlah dalam rangka agar bisa meraih kehidupan sehari-hari yang semakin enak, serba tercukupi. Bahwa hidup sejahtera, serba tercukupi kebutuhannya itu penting, betul. Kita boleh dan baik memohon kepada Tuhan untuk mengalami kehidupan seperti itu. Namun, bukan itu tujuan utama hidup kita. Kita menjadi pengikut Tuhan Yesus, karena di dalam Dia kita diselamatkan. Di dalam Dia kita diberi anugerah termahal, yakni kerajaan sorga, karena kita telah dibebaskan dari belenggu kuasa dosa. Bukan roti yang fana yang menjadi tujuan utama, tetapi roti sorgawi!

Iman yang sejati itu iman yang tidak menuntut hadirnya mukjizat dalam hidup kita. Jika iman selalu dihubungkan dengan menerima mukjizat, orang bisa mengatakan kepada kita, “Ya, pantasan saja ia beriman, sebab mengalami mukjizat.” Pemahaman seperti ini yang dimiliki oleh iblis. Ayub yang hidup saleh, dituduh oleh Iblis bahwa kesalehannya itu disebabkan karena hidupnya diberkati melimpah (“Apakah dengan tidak mendapatkan apa-apa Ayub takut akan Allah? . . . jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”- Ayub 1: 9-11). Ternyata iblis salah. Ayub tetap dalam kesalehan bahkan ketika hidupnya secara manusia hancur, benar-benar hancur. Perhatikan ungkapannya, “ . . . Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”- Ayub 2: 10.

Iman yang sejati itu tidak diukur dengan barang duniawi, tetapi pada ketegaran dan daya tahannya di tengah beban berat hidup, sebab hidupnya telah tenggelam dalam kekaguman terhadap cinta kasih Allah yang begitu besar.

Di PB bahkan makin jelas menunjukkan bahwa ukuran iman itu bukan uang atau harta. Seseorang rela menjual/ kehilangan segala sesuatu yang dimiliki demi mendapatkan mutiara (= keselamatan dari Tuhan Yesus; lihat injil Matius 13: 44-45). Demikian pula Zakheus menjadi berkurang drastis kekayaannya setelah mengikut Yesus. Hartanya berkurang, tetapi kebahagiaan rohaninya meningkat pesat (lihat Lukas 19: 1-10).

5. Secara praktis baiklah kita perlu meletakkan pedoman sederhana untuk menguji sebuah aliran itu sesuai dengan firman Tuhan atau tidak, yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Mengajukan pertanyaan secara serius itu amat penting, karena itu menjadi tanda memiliki kerinduan/ hasrat untuk mendapatkan kebenaran. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7). Oleh sebab itu, bertanyalah kepada diri sendiri beberapa pokok di bawah ini:

a. Alkitab itu tebal dan proses penulisannya memakan waktu lebih dari seribu tahun. Apakah Alkitab yang kaya dengan pengajaran ini dipahami secara utuh atau hanya ayat tertentu yang dipakai sebagai patokan pengajaran sebuah persekutuan? Bila ini yang terjadi, akan berbahaya. Sebab ada kecenderungan untuk memisahkan makna ayat yang dipilih itu dari keutuhan maksud Alkitab.

b. Akal sehat. Ketika Rasul Paulus berjalan-jalan di Athena, ia melihat sebuah mimbar yang terdapat tulisan, “Kepada Allah yang tidak dikenal.” Rasul Paulus menggunakan tulisan itu sebagai peluang untuk menyampaikan kepada orang-orang Athena tentang Tuhan yang dikenalnya. Artinya, Allah yang dihayati oleh Rasul Paulus bukan hanya Allah yang ada dalam perasaannya, tetapi juga Allah yang dikenali-diketahuinya, yang juga diterima dalam pikiran sadarnya.

Menyembah Allah itu dalam kesadaran, bukan dalam keadaan trans/ kerasukan. Pastilah Rasul Paulus mengenal dengan baik perintah utama Tuhan Yesus, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…” Jelas sekali di sini ditulis, “akal budi”/ pikiran sadar.

Pikiran sadar atau akal sehat ini menjadi sarana yang penting bagi manusia, itu adalah anugerah dari Tuhan. Bahkan itu adalah salah satu ciri khas manusia sebagai gambar Allah.

Ketika akan masuk dan menjadi anggota sebuah persekutuan, perlu segera dibangkitkan kesadaran kritis kita dengan mengingat pertanyaan ini: Apakah dalam persekutuan itu ada pengajaran dan praktik yang berlawanan dengan akal sehat/ akal sehat disisihkan? (Ada banyak sekali ajaran-ajaran yang aneh-aneh, misalnya: tertawa tak terkendalikan sebagai tanda diliputi oleh roh kudus, muntah-muntah ketika sedang dalam kekhusukan doa sebagai tanda pelepasan dosa, pemimpin ibadah selalu bisa berkata-kata tanpa disadari saat ibadah, jodoh anak kita sudah dipilihkan oleh Tuhan Yesus, dlsb.). Jika seperti itu, berhati-hatilah!

Renungan Harian

Renungan Harian Anak