Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018
  1. Pada tanggal 18 Nopember 1978 Rakyat Amerika Serikat gempar karena terjadi peristiwa bunuh diri massal di negaranya. Secara bersamaan 918 orang melakukan bunuh diri di Guyana, AS. Mengapa? Karena mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh tokohnya.
    Mengapa ini bisa terjadi? Karena para pengikutnya meyakini bahwa sang tokoh (Jim Jones) adalah sosok yang dipilih oleh Tuhan, dan kata-katanya bersumber dari roh yang benar. Sehingga ketika para pengikutnya diminta untuk meminum racun mereka mengikutinya, karena perintah itu didasarkan pada kutipan firman Tuhan, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” – Markus 16: 16-18.
    Kepercayaan yang bulat kepada pemimpin menyebabkan pemimpin itu memiliki kewibawaan yang sempurna di hadapan para pengikutnya, sehingga apa pun yang dikatakan oleh sang pemimpin, maka para pengikutnya seolah tersihir dan kehilangan daya kritisnya. Akibatnya, disuruh apa pun dijalani, apalagi perintahnya mengutip Alkitab! Jadi, ketika akal sehatnya sudah ditenggelamkan oleh kepercayaan yang penuh kepada sang tokoh, maka tak ada lagi ruang kritis dalam hidupnya. Manusia menjadi seperti mesin.
  2. Contoh kedua ini saya saksikan sendiri sejak saya masih di sekolah dasar. Seorang pemuda tetangga kami di Wonosobo pernah mengikuti kuliah teologi di Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana, Yogyakarta. Ia kemudian terpaksa berhenti di tengah jalan, karena dikeluarkan oleh pihak sekolah, sebab memiliki pemahaman dan penghayatan iman yang berbeda dari yang diajarkan oleh fakultas.
    Pemuda ini suatu hari merasa mendapatkan penglihatan dan bisikan/ “wahyu” dari Tuhan agar menjalani hidup sebagaimana disebutkan dalam Alkitab, yaitu: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” – Matius 24: 42-44.
    Sejak mendapat penglihatan itu, ia tidak lagi bekerja, juga adiknya yang sudah menjadi pegawai negeri di Wonosobo diminta berhenti. Keponakannya yang masih duduk di SD diminta tidak lagi sekolah. Sehari-hari yang mereka lakukan adalah berdoa dan bernyanyi, sebab takut kalau Tuhan Yesus datang didapati mereka tidak sedang khusuk memuliakan Tuhan.
    Amat disayangkan bahwa kuatnya otoritas pemuda ini menyebabkan saudara-saudaranya tak mampu mengelak ketika mendapat nasihat/ perintah untuk meninggalkan pekerjaan dunia. Akibatnya, keluarga ini berantakan.
  3. Seorang gadis -sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya)- saat mengikuti ibadah di sebuah persekutuan tiba-tiba diberitahu oleh pemimpin persekutuan itu bahwa berdasarkan suara roh yang diterimanya, maka jodohnya adalah Bidu (juga bukan nama sebenarnya, anak dari salah satu anggota persekutuan itu). Berhari-hari Mawar mengalami kemelut batin, karena pada satu sisi ia percaya pada bisikan roh itu, sedangkan di sisi lain ia sudah memiliki hubungan dekat dengan pria lain yang dinilainya amat baik sikap dan perilakunya. Bersyukur bahwa kemudian akal sehatnya bekerja, sehingga pada akhirnya ia keluar dari persekutuan itu.
  4. Selama saya menjadi pendeta, setidaknya saya pernah mengajak berdialog secara khusus dengan tiga warga jemaat yang menolak penanganan dokter ketika mereka sakit. Mereka saat itu sedang sakit serius, dan keluarga mereka sudah merayu sedemikian rupa, agar mau ke dokter, tetapi mereka bersikukuh tidak memerlukan obat dan dokter. Saya pun berusaha menjelaskan kepada mereka dengan berpedoman pada akal sehat bahwa dokter/ obat itu amat penting untuk orang sakit; sama halnya sepeda  motor atau mobil itu penting untuk mereka yang akan pergi jauh.
    Namun, penjelasan saya itu ditolak mentah-mentah! Ketiga orang itu memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa mereka akan disembuhkan Tuhan. Keyakinan ini didapat setelah mereka mendengar nasihat dari pimpinan persekutuan yang telah mendapat bisikan roh bahwa mereka akan disembuhkan oleh Tuhan, bukan oleh dokter atau obat. Pada akhirnya, ketiga warga itu menjadi semakin parah sakitnya, dan kemudian meninggal dunia. Ternyata, pesan dari pemimpin persekutuan doa itu tidak benar!
  5. Bu Menik (bukan nama sebenarnya) pada saat dauran terpilih menjadi penatua di sebuah jemaat di desa. Beberapa warga jemaat berkeberatan atas terpilihnya Bu Menik sebagai penatua, karena dikhawatirkan ia akan terlalu mudah meninggalkan tugas di gereja. Menampung masukan itu Pak Pendeta ditemani beberapa anggota Panitia Dauran lalu menemui Bu Menik. Pak Pendeta bertanya, “Bu, jika -misalnya nanti pukul 17.00- Ibu sudah terjadwal melayani kebaktian patuwen, lalu pada pukul 15.00 Pimpinan Persekutuan Doa Ibu menugaskan Ibu untuk mendoakan orang sakit di rumahnya pada pukul 17.00: Apakah Ibu akan tetap melayani kebaktian patuwen?” Dijawab dengan tegas, “Tidak! Saya akan patuh pada pimpinan persekutuan doa saya dan saya akan tinggalkan tugas melayani kebaktian patuwen.”

Lima contoh itu menunjukkan bahwa absoluditas/ kedaulatan mutlak memang hanya ada di wilayah TUHAN, berbahaya kalau dipercaya juga dimiliki manusia! Ada baiknya diperhatikan baik-baik apa yang tertulis pada I Yohanes 4: 1 “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” Bersyukur bahwa Pendeta Gereja Protestan yang sudah dipercaya banyak orang sebagai alat Kristus itu kemudian memiliki keberanian untuk mawas diri dan kemudian menguji roh yang selama ini merasukinya, dan ternyata itu bukan roh Kristus.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak