Bagi Tuhan Yesus sendiri dalam melakukan panggilan-Nya melayani banyak orang tidak menjadikan mukjizat sebagai kegiatan rutin. Selain itu karya mukjizat Tuhan Yesus bukan ditujukan dalam rangka mengiming-imingi banyak orang untuk menjadi pengikut-Nya. Sehingga tak salah kalau kita simpulkan bahwa sesuatu yang melampaui akal budi/ mukjizat itu sesuatu yang amat khusus dan bukan sesuatu yang rutin, dan itu mutlak wilayah TUHAN.
Dalam sejarah kehidupan manusia dan juga orang-orang Kristen dari abad ke abad terdapat begitu banyak kesaksian iman yang menunjukkan karya Tuhan yang ajaib. Misalnya, seseorang sudah didiagnosa oleh dokter mengidap kanker ganas dan tidak mungkin bisa sembuh. Namun, hanya berselang dua hari dari vonis dokter itu, orang itu menjadi segar bugar setelah didoakan. Contoh seperti itu tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak. Memang doa orang yang benar akan mendapat perhatian istimewa dari Tuhan. Kita mengimani hal itu sebagai kebenaran (Yakobus 5: 16 “. . . Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”).
Namun hal itu menjadi berbeda kalau sesuatu yang ajaib itu kemudian bisa dijadualkan secara rutin oleh manusia. Misalnya, setiap hari Senin Tuhan Yesus mengunjungi persekutuan saya, ditandai dengan pemimpin kami yang bisa berkata-kata tanpa kesadaran dirinya dan mengetahui secara tepat kesalahan/ dosa orang lain. Kalau pemimpin kami sedang beribadah di tempat lain, Tuhan Yesus tidak mau mengunjunginya. Demikian pula kalau persekutuan kami berkembang dan bertambah jumlahnya menjadi 4 tempat persekutuan, maka Tuhan Yesus juga hadir dengan tanda-tanda istimewa di empat tempat persekutuan kami setiap hari Senin.
Bandingkan dengan apa yang dialami oleh Rasul Paulus, sosok yang kualitas iman dan moralnya tidak diragukan lagi. Sepanjang pelayanannya, ia merasa terganggu dengan apa yang terdapat di dalam tubuhnya (sejenis penyakit?). Ia berkeinginan sekali agar dibebaskan dari penyakitnya itu agar pelayanannya lebih optimal. Oleh karena itu ia kemudian memohon kepada Tuhan, bahkan tak cukup sekali, tetapi tiga kali. Namun permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan, (“Tentang hal itu aku sudah tiga kali aku berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur daripadaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’” – 2 Korintus 12: 8-9).
Perhatikan pula sosok Yohanes Pembaptis. Ia adalah tokoh besar yang disebut di Alkitab, bahkan yang membaptis Yesus. Namun, tokoh sebesar itu tidak sekali pun melakukan mukjijat, juga tidak mengalami “kerasukan” roh sehingga bisa berkata-kata tanpa kesadaran.
Pertanyaan kritis bisa diajukan di sini. Jika pribadi sekelas Rasul Paulus, yang kualitas iman dan moralnya sudah teruji saja tidak setiap permohonannya kepada Tuhan dikabulkan; mengapa di sekitar kita terdapat begitu banyak pemimpin rohani yang oleh orang banyak dipercaya bisa menghadirkan mukjizat secara rutin, setiap hari Senin, misalnya. Atau setiap doanya selalu dikabulkan oleh Tuhan. Siapakah diri kita sehingga menjadi lebih besar daripada Rasul Paulus atau Yohanes Pembaptis yang setiap permintaannya kepada Tuhan dipenuhi atau setiap ibadah yang dilakukannya dikunjungi oleh Tuhan dengan tanda istimewa?
Kalau itu terjadi maka absoluditas atau kemutlakan dan kedaulatan TUHAN bisa dikendalikan/ diatur oleh manusia. Apakah kita mau menyandarkan hidup kepada ‘tuhan’ yang bisa diatur/ dijadualkan oleh manusia? Siapakah diri kita, sehingga bisa menghadirkan Tuhan dan menjadual karya mukjizat-Nya? Bukankah kehendak Tuhan melampaui kehendak manusia?
2. TUHAN adalah berdaulat penuh dan absolut. Ketika TUHAN yang absolut itu berkenan memasuki diri manusia, maka yang mutlak itu tetap hanya TUHAN, sedangkan pribadi yang dihadiri oleh TUHAN itu tetap terbatas: baik kata-katanya maupun pikirannya.
Itu artinya, semua yang keluar dari manusia harus diuji kebenarannya dengan firman Tuhan, termasuk -misalnya- ada sosok yang kerasukan oleh roh! Sebab akan menjadi sangat berbahaya apabila yang keluar dari mulut manusia diyakini sebagai kebenaran yang mutlak, atau bisikan roh diyakini kebenaran mutlaknya. Amat berbahaya! Saya berikan lima contoh yang ekstrim itu.