Di sisi lain terbuka pula kemungkinan bahwa warga jemaat tidak terbiasa hidup dengan kelekatan pada firman Tuhan, sehingga secara mudah menerima ajakan orang lain yang menawarkan kegiatan rohani yang lebih menarik. Ajakan itu diterima tanpa mendasarinya dengan pertimbangan-pertimbangan kritis. Sehingga ketika kemudian tertarik dan mengikutinya, segala sesuatu yang dialami di tempat yang baru itu diterima begitu saja dan diyakini sebagai sebuah kebenaran, karena tidak memiliki bekal untuk mengkritisinya.
Lebih-lebih ketika menerima ajakan itu seseorang sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak baik atau kondisi batinnya sedang mengalami kekosongan, kegelisahan, atau dalam pergumulan berat kehidupan. Jika ini yang terjadi maka sesuatu yang baru itu dengan sangat cepat akan merasuki pikiran bawah sadarnya, sehingga kemudian menjadi pengikut yang militan. Kalau sudah seperti ini, maka penjelasan yang runtut dan jelas dari orang lain yang menunjukkan bahwa apa yang dijalaninya itu keliru tak lagi mempan. Kalau diibaratkan dengan seseorang yang sedang menikmati buah jeruk, demi menerima sebuah “juring” yang ditawarkan oleh orang lain, karena dianggap lebih enak, maka jeruk yang dipegangnya dilepaskan (Bahasa Jawanya, “Mburu uceng kelangan deleg.”).
Kenyataan ini mau tidak mau perlu membuka mata gereja agar mau berbenah diri agar tidak jatuh dan tenggelam dalam keorganisasian semata, tetapi membuka ruang yang lebih lebar untuk perjumpaan personal warga jemaat.
Harapan kepada warga jemaat:
1. Perlu menyadari bahwa gereja/ jemaat memang bukanlah persekutuan yang sempurna, selalu ada berbagai kekurangannya. Justru menjadi panggilan kita bersama untuk mengupayakan agar kekurangan itu tidak semakin banyak. Perlu terus menumbuhkan dari hati terdalam kesediaan kita untuk semakin memperkuat persekutuan itu, dan tidak mudah tergoda untuk meninggalkan persekutuan karena terpikat oleh ajaran-ajaran baru yang lebih menawarkan kenyamanan-kenyamanan duniawi yang fana.
Ingatlah firman Tuhan ini, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Oleh karena itu, penting untuk diingat kita semua: Ujilah setiap hal baru yang berhubungan dengan iman yang benar dan kritis. Jangan biarkan iman kita dipertaruhkan untuk hal-hal yang bersifat fana dan duniawi.
2. Perlu dipahami bahwa gereja bukan sebuah lembaga yang birokratis – hirarkhis, ini yang dipahami di GKJW, entah gereja lain. Relasi antara pejabat gereja dengan warga jemaat tidak berjarak. Ada ruang dialog yang amat terbuka. Artinya, dialog kehidupan bisa terjadi setiap saat. Ketika pejabat gereja terlalu asyik dengan kegiatan organisasinya, maka warga jemaat bisa secara proaktif menyentil dan bahkan mengingatkan mereka untuk “kembali ke jalan yang benar”, yakni memelihara perjumpaan personal dengan warga jemaat.
Seandainya apa yang dibutuhkan oleh warga itu belum atau tidak bisa dipenuhi oleh gereja, setidaknya pejabat gereja memiliki saran ke arah mana kebutuhan itu bisa terpenuhi. Sehingga kalau terpaksa kehausan untuk mendapatkan makanan rohani itu tak terbendung, maka akan ditemukan tempat yang tepat yang tidak akan mengurangi kesetiaan pada gerejanya.
3. Tuhan menganugerahi kita akal budi. Dengan akal budi inilah Tuhan memberi kebebasan bagi manusia untuk menghadapi kehidupan. Iman tidaklah bertentangan dengan akal budi. Akal budi yang dilingkupi oleh roh Tuhan akan menuntun kita menjadi lebih kritis terhadap sesuatu.
Perhatikan surat Roma 12: 2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “budi” dalam kalimat itu maksudnya adalah pikiran/ pemahaman, bukan “hati” (bahasa aslinya, “nous”= pikiran).
Mereka yang memiliki kelekatan yang baik dengan Kristus, akan makin jernih dalam menyikapi sesuatu. Pemimpin ibadah yang berkata-kata tanpa menyadari apa yang dikatakannya berarti ia sedang tenggelam dalam ketidaksadaran (kerasukan?), akal budinya disingkirkan dan digantikan oleh sesuatu yang lain. Apakah sesuatu yang lain itu adalah Kristus atau Roh Kudus? Mungkin saja, asalkan hal itu terjadi dalam sebuah peristiwa yang amat langka (lihat di Kisah Rasul-rasul); namun meragukan kalau hal itu terjadi secara rutin apalagi terjadi bersamaan di beberapa tempat; atau hanya terjadi di persekutuan tertentu saja!