Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

Apa yang saya tulis ini bukan berdasarkan pengamatan atau “menurut kata orang”, tetapi berdasarkan data, pengalaman riel. Sumber-sumber data bisa dipertanggungjawabkan. Hanya saja, karena menyangkut persoalan privasi, maka penyebutan nama disamarkan. Ini hal yang lazim dalam penulisan yang menyangkut privasi seseorang.

Berikut saya sampaikan dua data tentang komunitas dan pribadi yang berhubungan dengan penghayatan dan praktik iman yang tidak wajar.

I. Pengalaman Seorang Pendeta GKJW.

Seorang Pendeta Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang melayani di Kota Mojokerto mendapatkan informasi dari warganya bahwa ada sebuah persekutuan doa yang ditengarai tidak wajar praktik ibadah dan pengajarannya. Beliau menjadi penasaran dan tidak ingin memberikan penilaian sebelum mengetahui sendiri. Oleh karena itu ia kemudian mengikuti persekutuan itu. Tujuannya adalah ingin mengetahui secara pasti apa yang terjadi di dalamnya supaya bisa memberikan penilaian yang obyektif dan berdasarkan data, bukan berdasarkan prasangka. Hal ini dilakukan semata-mata memenuhi rasa tanggungjawabnya dalam mendampingi warga jemaat agar menjadi orang beriman yang benar.

Sedikitnya 4 (empat) kali beliau mengikuti dengan sangat serius setiap ibadah yang dilakukan. Selain itu ia selalu mencatat setiap hal yang dirasa ganjil selama kebaktian berlangsung. Dan, memang benar beliau menemukan hal-hal yang aneh dan tidak wajar selama empat kali mengikuti secara serius persekutuan itu. Setidaknya terdapat empat hal yang tidak wajar yang ia temukan, yaitu:

  1. Suasana ibadah: Pada saat ibadah berlangsung, tiba-tiba ada seorang yang tubuhnya bergetar, dan segera ketika tubuh seseorang itu bergetar, maka mereka yang hadir menyambut dengan ucapan “Gusti . . .”. Selanjutnya ibadah didominasi oleh sosok pribadi yang diyakini “dirawuhi” Tuhan Yesus. Sosok ini kemudian memiliki kemampuan lebih, yaitu mampu mengenali kehidupan orang lain. Ia lalu mengarahkan perhatiannya kepada seseorang kemudian menunjukkan kesalahan orang itu (peserta ibadah): menunjukkan dosanya, menasihati, dll. Ringkasnya, sosok itu seolah mengetahui persis apa yang sedang dialami oleh pribadi yang dituju itu. Kata-kata yang keluar dari sosok ini diyakini kebenarannya secara mutlak oleh mereka yang hadir.
  2. Menemukan beberapa kesalahan
    1. Salah mengutip ayat: Selama 4 kali mengikuti, beliau mencatat ada saatnya sosok pribadi -yang konon disebut sebagai “penyambung lidah” Tuhan itu salah dalam mengutip ayat Alkitab. Pada waktu itu yang dilakukan oleh sosok itu ialah menyebut Injil Matius 29. Padahal di Alkitab hanya terdapat 28 pasal di dalam Injil Matius, tidak ada pasal 29.
    2. Salah menyebut sebuah peristiwa. Pada waktu itu peristiwa yang disebut pemimpin ibadah ialah sebagai berikut, “Pada tanggal 13 Mei 1981 Paus menjadi korban upaya pembunuhan di Turki.” Padahal yang benar adalah peristiwa itu terjadi di lapangan St. Peter, Vatikan, Roma. Oknum (Mehmet Ali Agca) yang berusaha membunuh Paus yang memang berasal dari Turki.
  3. Ketakutan. Dalam dialog dengan pengikut persekutuan ini, tampak jelas bahwa apa yang dikatakan oleh tokoh itu sesuatu yang mutlak, kalau dilanggar akan menyebabkan celaka. Contohnya Pak Badu (bukan nama sebenarnya) yang menerima petunjuk bahwa anak sulungnya sudah disediakan Tuhan jodoh seorang gadis yang tinggal di sebuah desa. Pak Badu menerima petunjuk itu sebagai sebuah perintah yang mutlak, kalau melanggar akan celaka.
  4. Memberi nasihat yang tidak etis. Ada peserta ibadah yang sedang dalam pergumulan berat, karena anaknya laki-laki telah melakukan perbuatan terlarang yang menyebabkan kehamilan pacarnya. Di dalam ibadah itu, sang ayah diberi petunjuk oleh sosok yang diyakini menjadi “penyambung lidah” dari Tuhan Yesus agar segera menikahkan anaknya, tetapi setelah menikah supaya segera diceraikan.
    Catatan: Saran oleh “penyambung lidah” itu menimbulkan kemelut rumah tangga, dan beruntung bahwa kemudian sang ayah segera sadar tentang betapa anehnya “petunjuk sabda” itu, karena memberi nasihat untuk segera melakukan perceraian! Pada akhirnya, pendeta jemaat pula yang menolong kemelut keluarga tersebut, bukan kelompok persekutuan itu.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak