Apakah Engkau Mengasihiku? Sebuah Ajakan untuk Beriman dengan Akal Budi

6 September 2018

Keseimbangan ini amat penting untuk menjaga agar keinginan kita untuk hidup lurus hati dan jernih pikiran dapat kita raih. Berpegang teguh pada hati yang lurus dan pikiran jernih akan menghantar kita pada kerendahan hati dan tidak lagi malu mengakui kesalahan. Yesus pun dalam pelayanan-Nya selalu menyediakan waktu khusus untuk mencari tempat yang sepi dan seorang diri, agar bisa secara khusus memelihara dan menghayati relasi pribadi-Nya dengan Sang Bapa.

Ketika gerak pikiran dan hati kita menuju pada pusat hati dan pikiran kita, pada saatnya kita akan berjumpa dengan kebenaran sejati, karena di situ tidak ada lagi yang bisa disembunyikan! (Tahapan ini tidak selalu mudah, adakalanya baru bisa kita alami setelah berminggu-minggu berusaha sungguh-sungguh).

d. Tahap Keempat: Setelah merasa berhasil menata pikiran dan hati pada jalan lurus, mulailah bernyanyi. Pilihlah lagu rohani apa saja, yang paling disukai. Nyanyikanlah 3-5 kali. Bernyanyi itu penting karena akan melengkapi pikiran dan akal sehat kita dengan kehalusan budi yang berupa perasaan. Jika pikiran, perasaan, dan hati selaras dalam penghayatan yang sama tentang Tuhan Sang kehidupan, maka segeralah berdoa! Ketika sampai pada tahapan ini, maka tak terbeban lagi ketika benar-benar terbuka/ tak ada yang disembunyikan saat melantunkan kata-kata di dalam kekhusyukan doa kita. Doa menjadi sebuah kenikmatan rohani yang indah.

Memang akan melelahkan kalau empat tahapan itu kita lakukan setiap hari. Dari pengalaman beberapa orang untuk mengawalinya memang harus berusaha melakukannya setiap hari, setidaknya selama 3-4 minggu. Setelah ritme rohani mulai tertata, biasanya tahapan itu bisa kita lakukan dengan lebih cepat. Sebab kita mulai terbiasa mau menerima kenyataan sebagaimana adanya, sehingga bisa lebih cepat dalam mengakui kesalahan dan bisa segera berbenah diri. Selain itu akal sehat kita akan berfungsi sebagaimana mestinya dan berjalan selaras dengan penghayatan iman kita.

Empat tahapan di atas hanyalah salah satu cara membaca dan menindaklanjuti pesan Tuhan Yesus, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah . . . .” Anda bisa membaca dan menindaklanjutinya dengan cara berbeda.

7. Saran praktis. Ketika salah satu anggota keluarga kita sedang dalam kondisi yang tidak semestinya, misalnya beban hidup/ pikiran sedang amat berat, atau sedang dalam kegelisahan yang serius seyogyanya tidak dibiarkan seorang diri. Sebab menurut ilmu pikiran, seseorang dalam kondisi seperti itu posisi pikiran bawah sadar jauh melampaui pikiran sadar (logis).

Ketika dalam posisi seperti itu bila mendapat pengajaran yang salah dan diajarkan terus menerus dari siapa pun, maka isi pengajaran itu akan diyakini sebagai kebenaran yang mutlak (menjadi sebuah kebenaran yang diimani), karena tertanam bukan di otak sadarnya, tetapi di bawah sadarnya. Jika sudah seperti itu, maka sangat sulit untuk mengajaknya berpikir sehat. Seperti orang dewasa yang takut dengan kecoa atau cicak dipastikan bahwa dulu -entah ketika masih kecil atau sudah kanak-kanak- ketika pikiran bawah sadarnya begitu kuat memiliki pengalaman khusus yang menakutkan dengan kecoa. Sampai dewasa pun sulit menerima penjelasan secara logis tentang kecoa atau cicak. Oleh karena itu orang seperti itu perlu pendampingan yang rutin.

Penutup

Kalau boleh memberi ilustrasi, walau tidak tepat sekali, sebagai berikut. Jemaat/ gereja adalah ibarat ibu kandung dan warga jemaat adalah sang anak. Sang ibu mengandung berbulan-bulan, kemudian melahirkan sang bayi dengan bertaruh nyawa, lalu menghidupi sang anak dengan ASI, ritme hidup menjadi berubah.

Hampir setiap tengah malam terjaga dan menahan rasa kantuk dan lelah demi cinta kasihnya kepada sang bayi, dan itu terus dilakukan oleh sang ibu sampai anak itu bertumbuh menjadi kanak-kanak, remaja, bahkan pemuda. Cinta kasih sang ibu dicurahkan dengan tulus hati, tanpa pamrih. Memang tidak selalu sang ibu mampu memenuhi keinginan sang anak, karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Namun, isi hati terdalam sang ibu sebenarnya selalu rindu memberikan yang terbaik.

Sayang, ketika anak itu sudah mulai bisa berjalan dan kemudian bermain-main dengan anak-anak tetangga, ia kepencut dengan seorang ibu di sebelah rumah. Mengapa? Karena ibu ini selalu menawari sang anak dengan makanan yang tampak menarik dan lebih enak, sekali pun bukan makanan yang sehat. Sang anak itu kemudian kesengsem, dan pada akhirnya melupakan ibu kandungnya. Bahkan ketika anak itu sedang bertandang ke rumah tetangga, dengan sangat fasih dan bangga anak itu menceritakan berbagai kekurangan dan kelemahan ibu kandungnya.

Ketika ibu kandung itu mengetahui bahwa anaknya ternyata lebih menyukai ibu tetangga sebelah rumah, sang ibu kandung berupaya untuk mengingatkan anaknya, “Rumahmu di sini, nak, bukan di situ”. Sang ibu berusaha memberi penjelasan semampunya untuk membangkitkan akal sehat anaknya. Namun ternyata tidak mudah. Sang anak terlanjur kesengsem dengan ibu di sebelah rumah. Sang ibu hanya bisa duduk di pojok rumah, sambil mengelus dadanya sembari berbisik lirih di relung hatinya,“Apa yang kamu cari, anakku? Apakah engkau masih mengasihiku?” dan air matanya pun menetes. Barangkali berbeda perasaan sang ibu, jikalau sang anak itu sudah diadopsi oleh orang lain.

“Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan”
– Amsal 6: 23 –

Sumardijana, 17-08-2018

 

Keterangan: Tulisan ini tidak akan dapat diselesaikan jikalau tidak mendapat masukan yang sangat berarti dari Pdt. Em. Iman Santosa, Pdt. Em. Bambang Ruseno Utomo, Pdt. Bambang Margono, dan Bp, Purnomo. Oleh karena itu disampaikan terima kasih kepada mereka.
Gambar Ilustrasi: Vikar Taksi Ria Aprilia Wati

Renungan Harian

Renungan Harian Anak