Kisah-Kisah Doa Dalam Narasi Alkitab Evolusi dan Teologi Doa dalam Alkitab dalam Upaya Pembangunan Tradisi, Pelayanan, dan Komunitas Doa di GKJW

17 February 2023

2

PERIODE SEBELUM KERAJAAN

Para Pemimpin adalah Para Pendoa, Doa Syukur, dan Simbol Doa
Jika pada periode Bapa Leluhur, relasi Tuhan dan para pendoa serupa relasi yang timbal balik, pada periode ini, salah satu hal baru yang luar biasa adalah betapa sabarnya Tuhan terhadap orang-orang yang memiliki iman yang lemah, yang merasa sulit untuk percaya kepada-Nya. Perlakuan awal Allah dengan Musa dengan jelas mengungkapkan hal ini (Kel. 3:4 – 6:12). Musa tumbuh menjadi sangat percaya diri. Dia memiliki alasan alami untuk merasa seperti ini, karena dia memiliki semua hak istimewa aristokrasi selama empat puluh tahun pertama hidupnya. Namun, ketika Musa berusaha untuk membebaskan bangsanya dengan kekuatannya sendiri, dia gagal total. Maka, Tuhan mengajarkan kerendahan hati kepada Musa di gurun Midian selama empat puluh tahun berikutnya dalam hidupnya. Kemudian ketika Tuhan memanggilnya untuk kembali memimpin umatnya keluar dari perbudakan, dia tidak memiliki rasa percaya diri – di sisi lain, dia juga tidak cukup percaya kepada Tuhan. Tuhan mengajar Musa bahwa Tuhan saja cukup untuk menyelesaikan yang tidak bisa diselesaikan oleh Musa. Untuk itu, Tuhan harus mendorong Musa dan menegur kelemahan iman Musa (Kel. 4:14-17). Dan bukti dari Tuhan adalah keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan penyertaan Tuhan di sepanjang sejarah Israel.

Tradisi doa baru muncul dalam perjalanan Israel, yaitu doa syukur. Pembebasan Allah atas bangsa Israel dari perbudakan Mesir, memicu nyanyian pujian umum pertama yang dicatat Alkitab, yang kerap kali disebut sebagai “Song of the Sea” (Kel. 15:1-19). Nyanyian pujian ini kemudian digemakan juga oleh Miryam, dan dikenal sebagai nyanyian Miryam (Kel. 15:20-21). Doa dalam bentuk pujian juga dinyanyikan oleh Debora setelah mengalahkan Sisera, Jendral Kanaan (Hak. 5: 1-31), dalam seluruh teks Alkitab Perjanjian Lama, para peneliti menganggap – dari segi bahasa dan tata bahasa – nyanyian Debora ini sangat mungkin adalah tulisan tertua dari seluruh tulisan yang terdapat di Alkitab. Selain itu, doa Hana menunjukkan doa tidak identik dengan meminta (1 Sam. 2:1-10). Penulis Alkitab menyebut apa yang dia katakan sebagai doa, tetapi doanya tidak berisi permohonan apa pun, hanya pujian dan ucapan syukur. Hal ini berguna untuk mengamati ketika kita mendefinisikan doa, dan menarik bahwa sekalipun penyebutan tokoh perempuan dalam Alkitab tidak terlalu banyak, tetapi banyak sekali doa yang muncul dari perempuan adalah doa-doa syukur.

Namun demikian, kelemahan iman menjadi catatan besar dalam relasi doa dalam periode ini. Kisah anak lembu emas menggerakkan Musa untuk memohon kepada Allah bagi umat-Nya yang tidak setia (Kel. 32:11-14). Berbagai doa sejenis ditemukan dalam sepanjang perjalanan sejarah suku-suku Israel. Dalam kelemahan iman umat itu, pada periode ini hal yang patut dicatat adalah doa para pemimpin umat. Saat pemimpin mereka dengan setia bertekun dalam doa syafaat, Allah memberkati umat-Nya dengan kemenangan. Ketika para pemimpin menjadi lelah dan berhenti berdoa, musuh dapat bergerak maju. Kisah peperangan Israel dengan orang Amalek mengajarkan kepada kita efek dahsyat dari doa syafaat pemimpin umat (Kel. 17:12; bdk. Bil. 16:47-48). Keberanian dalam berdoa menjadi ciri periode ini (Kel. 32:3132; 33:12-16). Keberanian itu misalnya tampak ketika Musa mengorbankan nyawanya sendiri untuk bangsa yang dia cintai (Kel. 32:31-32). Penting juga selama era ini adalah doa para pemimpin Israel untuk bimbingan ilahi saat bangsa itu mengantisipasi, memasuki, dan menetap di Tanah Perjanjian (Bil. 27:5; Hak. 1:1; 1 Sam. 10:22).

Selain Musa, pendoa syafaat yang terkenal dalam periode ini adalah Samuel. Samuel berdoa bagi bangsanya, juga berdoa agar TUHAN menyelamatkan Israel dari tangan kuat orang Filistin (1 Sam. 7:5-12). Dia berdoa ketika orang-orang terlalu cepat bersikeras untuk mengangkat seorang raja (1 Sam. 8:6). Dia berdoa ketika Saul menjadi raja (1 Sam. 12). Dia juga membela Saul setelah Tuhan menolaknya sebagai raja Israel (1 Sam. 15:11, 35; 16:1).

Samuel adalah hakim Israel terakhir dan nabi resmi pertama. Alkitab menyebut Abraham dan Nabi Musa sebagai nabi, tetapi Samuel adalah yang pertama dalam urutan nabi yang diangkat Allah untuk menerima dan menyampaikan pesan-pesan-Nya selama monarki Israel. Samuel menganggap berdoa untuk bangsanya sebagai salah satu tugas utamanya sebagai seorang nabi. Dia memandang kegagalan untuk mendoakan mereka sebagai dosa (1 Sam. 10:22). Musa dan Samuel dapat dikatakan sebagai dua pemimpin terbesar umat Allah selama periode sejarah Alkitabiah ini. Keduanya menghidupi tradisi doa yang sama, mereka menganggap berdoa sebagai salah satu tanggung jawab kepemimpinan utama mereka (lih. Kis 6:1-4; 13:1 -2; 1 Tim 2:1-4).

Hal lain yang muncul dalam periode ini adalah hadirnya simbol. Simbol terkuat adalah tabut perjanjian, khususnya tutup pendamaian, tutup tabut, memiliki makna khusus dalam persekutuan umat dengan Tuhan (Kel. 25:22; Bil. 7:89). Penyebutan dupa yang pertama, simbol doa, terjadi pada periode ini (Kel. 30:1, 7-9; lih. Mzm. 141:2; Luk. 1:10; Why. 5:8; 8:3). Dupa terus-menerus naik dari Tabernakel di hadapan hadirat Allah menggambarkan doa-doa yang terus menerus dari umat-Nya menuju surga. Simbol lain yang muncul adalah urim dan tumim, yang merupakan suatu alat bantu undi yang digunakan oleh Imam Besar maupun para imam untuk mendapatkan petunjuk dari Allah (Kel. 28:30; Ul. 33:8). Dengan hadirnya simbol ini, lahirlah tradisi baru yang diorganisasi, yaitu peribadahan. Pengenalan sistem ibadah Lewi meningkatkan mediasi umat melalui doa. Bangsa Israel belajar bahwa sebagai orang berdosa mereka tidak dapat mendekati Allah yang kudus tanpa perantaraan yang tepat dan bahwa Allah menetapkan standar. Para imam mewakili kepentingan umat kepada Tuhan. Mereka bersyafaat setiap hari untuk bangsa.

Baca lanjutan tulisan ini

Renungan Harian

Renungan Harian Anak