Kisah-Kisah Doa Dalam Narasi Alkitab Evolusi dan Teologi Doa dalam Alkitab dalam Upaya Pembangunan Tradisi, Pelayanan, dan Komunitas Doa di GKJW

17 February 2023

4

DOA YESUS

Pengajaran Yesus Tentang Doa dan Ketika Yesus Berdoa
Jika doa dimaknai sebagai relasi dengan Tuhan, maka hidup Yesus adalah doa. Injil mencatatkan pengajaran-pengajaran Yesus tentang doa dan tradisi hidup doa Yesus. Injil menggambarkan Yesus sebagai seorang pria yang menghabiskan banyak waktu dalam doa. Dia tidak mundur dari masyarakat tetapi menjalani kehidupan yang sangat aktif dan sibuk di Israel. Dan di tengah segala aktivitas hidup-Nya itu, Yesus selalu memiliki kesempatan untuk berdoa.

1. PENGAJARAN YESUS TENTANG DOA

A. DOA BAPA KAMI
Kesederhanaan Doa
Doa Bapa Kami dicatat dalam Injil Matius dalam konteks Khotbah di Bukit (Mat. 6:9-13). Dalam khotbah ini, Yesus mengajar murid-murid-Nya bagaimana hidup. Yesus mengulangi ajaran-Nya tentang doa. Lain halnya dengan Lukas, Yesus sedang berdoa, dan setelahnya para murid meminta Yesus memberikan petunjuk bagaimana caranya berdoa (Luk. 11:2-4). Dalam doa tersebut, Yesus merangkum perjalanan iman seorang Yahudi yang tertuang dalam naskah-naskah rabinik Yahudi. Struktur doa yang sama ditemukan dalam buku Doa Yahudi (Siddur), yaitu Buku Kaddish, Shemoneh Esreh, secara khusus pada bagian berkat, atau biasa juga dikenal dengan istilah Amidah. Kaddish adalah sebuah teks nyanyian pujian dalam bahasa Aram yang ditulis pada abad pertama sebelum Masehi. Ketika abad keenam, buku doa itu menjadi buku doa umat yang dibawakan ketika ibadah di Sinagoge dan dalam acara-acara pemakaman.

Penyebutan Tuhan sebagai Bapa, muncul dalam Amidah 19, yang secara lengkap bunyinya demikian, “Berkatilah kami, Bapa Kami, kami semua sebagai sebuah kesatuan, dengan terang wajah-Mu. Karena terang wajah-Mu, Ya Allah Tuhan kami, engkau memberi kami Taurat kehidupan dan kasih-kebaikan, kebenaran, berkat, belas kasih, hidup dan kedamaian.” Surga menunjukkan tempat Allah, Dia yang di atas, di langit, Dia Sang Pemberi. Kita punya relasi yang berbeda-beda dengan orang tua kita – kita bisa mengerti mengapa Bapa yang dipakai bukan Ibu, karena budaya patriarki Yahudi – tetapi dengan Allah yang di surga, kita bisa menumpukan hidup kepada-Nya.

Dikuduskanlah nama-Mu merujuk pada gagasan dalam agama Yahudi, nama Tuhan tak boleh disebut sembarangan. Jika kita belajar bahasa Ibrani, kita tahu nama Tuhan ditulis dengan YHWH (TUHAN dalam terjemahan Bahasa Indonesia), tetapi yang boleh menyebut nama itu hanyalah Imam Besar. Selain para Imam Besar, orang hanya boleh menyebut dengan Adonai (Tuanku, Tuhanku). Yesus menghargai tradisi Yahudi ini. Dalam versi lengkapnya di Amidah, tertulis demikian: “Kami akan menguduskan nama-Mu di dunia sebagaimana nama-Mu dikuduskan di surga, sebagaimana tertulis oleh tangan para nabi-Mu; sebagaimana para malaikat memanggil-Mu dan berkata Kudus, Kudus, Kudduslah Tuhan Semesta Alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Mu.”

Datanglah kerajaan-Mu merujuk pada Amidah 14 dan 15, “Tuhan Raja, kembalilah dalam belas kasih untuk memulihkan dan membangun Yerusalem, kota-Mu dan tinggallah di sana sebagaimana janji-Mu”. Bagian ini mengingatkan bahwa Tuhan akan mengembalikan kerajaan Daud setelah kerajaan itu hancur terpecah belah menjadi Israel Selatan (Yehuda dengan ibukota di Yerusalem) dan Israel Utara (Israel dengan ibukota di Samaria). Kerajaan yang terpecah belah itu saling bermusuhan sepanjang sejarah, kita bisa melihat sejarah kebencian itu dalam kisah orang Samaria yang dianggap rendah oleh orang-orang Yahudi dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati. (Luk. 10:25-37). Harapan atas pemulihan kerajaan Daud adalah harapan akan hadirnya Mesias yang mendamaikan dan mengangkat Israel kembali ke masa kejayaannya. Karena itu datanglah kerajaan-Mu sesungguhnya adalah sebuah harapan pada Mesias dalam iman Yahudi.

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. Di sinilah peran Tuhan sebagai sang pemberi (the provider) kembali kuat. Bagian doa ini disebutkan dalam Amidah 9 demikian, “Berkatilah kami, yang Tuhan sumber Keabadian, pada tahun ini dengan segala hasil bumi dan makanan, kasihilah bumi ini dengan segala panen dan buah-buahnya.” Makanan yang secukupnya juga merujuk pada kisah orang-orang Israel dari perantauan pulang dari Mesir, ketika Tuhan memberikan Manna, makanan dari surga. Mereka hanya boleh mengambil secukupnya untuk keluarga mereka, karena kalau mereka mengambil berlebihan, makanan itu akan membusuk dan berulat. Berkat secukupnya itu cukup, berkat untuk hari ini itu cukup.

Dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Bagian ini terdapat dalam Amidah 6, “Ampunilah dosa kami, Bapa Kami, ampunilah kami Raja kami, karena kami melakukan pelanggaran. Kami memohon maaf dan pengampunan. Diberkatilah Engkau Ya Tuhan yang berlimpah kasih dan pengampunan.” Bagian ini juga terdapat dalam Talmud (semacam hadisnya orang Yahudi yang berisi diskusi para rabi Yahudi tentang hukum, etika, tradisi, dan sejarah), secara khusus Talmud Shabbat No. 151 B, “Siapa yang melakukan belas kasih yang lain, maka belas kasih dari Surga akan diberikan kepadanya. Barangsiapa tidak melakukan belas kasih kepada yang lain, maka Surga pun tidak akan memberikan belas kasih kepadanya.” Bagian ini juga menjadi bagian pengajaran Yesus dalam Matius 6:15. Hukum tabur tuai adalah hukum yang diakui oleh Yesus. Walaupun Yesus secara khusus menekankan bagian positif hukum ini, menyemangati untuk mengampuni kesalahan orang lain. Dan tidak menekankan pada sikap tidak mengampuni dan pembalasan. Di sinilah ciri khas Yesus menonjol. Alih-alih menekankan pada penghukuman, Yesus menekankan pada tindakan aktif mengampuni. Yesus tidak menekankan pada sanksi, tetapi mendorong, memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan.

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Bagian ini terdapat bukan pada bagian Amidah, tetapi pada bagian doanya. “Jadilah kehendakmu, Ha-Shem (nama segala nama), Tuhanku dan Tuhan nenek moyangku, bahwa Engkau menyelamatkanku hari ini dan setiap hari dari orang-orang yang kurang ajar dan kurang ajar, dari orang jahat, teman yang jahat, tetangga yang jahat, kecelakaan yang jahat, yang merusak, rintangan rohani [‘Setan’], cobaan yang berat dan lawan yang keras, baik dia anggota perjanjian atau bukan anggota perjanjian.” Bagian ini juga mengingatkan pada Mazmur 140:1, bagian Mazmur Daud yang meminta pertolongan Tuhan senantiasa dari mereka yang melakukan kekerasan dan dari musuh-musuh yang jahat.

Apa secara khusus yang membuat doa ini begitu kuat? Orang-orang yang belajar Yudaisme, akan segera mengenali doa Yesus itu, karena doa tersebut berasal dari tradisi doa dan pengajaran iman Yahudi. Hal istimewa yang dilakukan Yesus adalah Yesus membuat pengajaran yang panjang dan rumit itu menjadi sederhana dan utuh.

Doa adalah sebuah simbol relasi. Seseorang berdoa karena dia berelasi dengan Tuhan (kepada siapa dia berdoa) dan sesama (yang dia doakan). Doa bukan sebuah relasi yang jauh, tetapi sebuah relasi yang personal. Dan sebagaimana relasi personal apa pun, maka relasi itu didasari oleh kesederhanaan. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan bukan banyak dan indahnya doa yang membuat doa menjadi kuat. Sebagian orang mengucapkan kata-kata doa yang sama berulang kali ketika mereka berdoa, sehingga doa menjadi semacam formulasi siap pakai. Banyak orang tidak bersungguh-sungguh memikirkan tentang apa yang mereka ucapkan, karena kata-kata itu merupakan kata yang dihafal. Doa yang diajarkan oleh Yesus adalah doa yang didasari pada kejujuran atas apa yang diminta dan disampaikan dengan sederhana apa adanya (Mat. 6:7–8).

 

B. PERUMPAMAAN TENTANG SAHABAT DAN PEREMPUAN
Ketekunan dalam Doa
Ajaran Yesus tentang berdoa yang paling terkenal tentu adalah Doa Bapa Kami. Yesus menunjukkan bahwa hidup dan karya-Nya konsisten dengan pola Doa Bapa Kami yang diajarkan-Nya. Yesus menindaklanjuti ajaran-Nya dalam Doa Bapa Kami, dengan sebuah perumpamaan dan petunjuk lebih lanjut dalam perumpamaan tentang sahabat yang gigih (Luk. 11:5-13). Inti dari perumpamaan ini adalah bahwa kegigihan berhasil ketika persahabatan gagal. Sekalipun sang sahabat awalnya tidak mau bangun dan memberikan apa yang diinginkan sahabatnya, kegigihan tetangga tersebut menggerakkan temannya untuk mengabulkan permintaannya (Luk. 11:8).

Pengajaran lain yang senada dengan itu adalah perumpamaan tentang pentingnya bertekun dalam doa dalam kisah seorang janda yang terus mengganggu hakim dengan permintaannya (Luk. 18:1-8). Dalam kedua perumpamaan tersebut, Yesus mengontraskan sikap sahabat dan hakim yang enggan mendengar – tapi akhirnya mendengar juga – dan dengan kesiapan dan kebaikan hati Bapa. Hal terpenting yang hendak ditekankah Yesus adalah kegigihan dan ketekunan dibutuhkan, termasuk dalam doa.

Injil Matius bahkan menuliskan pentingnya ketekunan dalam doa ini dengan pernyataan yang lebih tegas, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Mat. 7:7-8). Penekanan Matius sama dengan penekanan Lukas, bukan ketekunan dan kegigihan doa yang membuat sebuah doa dikabulkan, tetapi karena pada dasarnya Allah adalah kasih. Namun, ketekunan adalah sikap yang penting dan berharga.

Sehingga dapat dibahasakan demikian: justru karena Allah adalah kasih, yang mengasihi sama seperti bapak yang baik, maka jangan enggan meminta dengan tekun. Jangan berputus asa dalam doa, karena Tuhan akan memberikan sesuai dengan ketentuan-Nya, yang bahkan lebih baik dari yang kita minta. Ketekunan itu bukan untuk menggoyahkan hati Tuhan, yang pada dasarnya baik, tetapi kitalah yang membutuhkan ketekunan itu agar terus terhubung dengan Bapa yang baik tersebut. Ketekunan bukan untuk Tuhan, tetapi untuk menjaga relasi kita tanpa henti dengan Tuhan.

 

C. PERUMPAMAAN TENTANG ORANG FARISI DAN PEMUNGUT CUKAI
Kerendahan Hati dalam Doa
Kontras lain yang diajarkan Yesus mengenai doa diajarkan-Nya melalui perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14). Perumpamaan itu menceritakan tentang doa syukur orang Farisi dibandingkan dengan doa permohonan pengampunan dosa oleh pemungut cukai. Tidak ada yang salah dalam jenis doanya, tetapi dalam isi doanya. Orang Farisi, yang adalah pemimpin agama digambarkan berdoa – entah dengan sadar apa tidak – menganggap dirinya lebih baik daripada para penjahat atau pemungut cukai. Dia menunjukkan kesalehannya. Sedangkan pemungut cukai sadar diri dengan keberadaannya sebagai orang yang berdosa. Di akhir perumpamaan itu Yesus mengatakan bahwa yang merendahkan diri akan ditinggikan, yang meninggikan diri akan direndahkan. Yesus konsisten dengan pengajaran kerendahan hati ini, bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam banyak pengajaran dan keseharian-Nya (Mat. 20:20-28, 23:12; Luk. 14:7-14).

Kerendahan hati merupakan sikap batin karena kesadaran bahwa kita tidak sempurna (bandingkan juga dengan kisah perempuan yang dihakimi dalam Yoh. 7:53 – 8:1-11). Kerendahan hati berbeda dengan ‘menganggap diri’ rendah hati. Karena menganggap diri rendah hati tidak ubahnya dengan para Farisi yang menganggap diri saleh. Karena itu ditinggikan oleh Tuhan bukanlah tujuan dari kerendahan hati, tetapi akibat dari kerendahan hati.

 

D. DUA ATAU TIGA ORANG
Pentingnya Sahabat dan Komunitas Doa
Manusia dan relasi sesama manusia rentan, karena itu sangat mungkin dalam perjalanan hidup manusia, seseorang didapati melakukan sebuah kesalahan. Orang juga tidak selalu kuat, karena itu orang membutuhkan orang lain. Hal ini juga berlaku untuk doa. Beberapa kali Yesus mengajak para murid-Nya untuk berdoa bersama. Dalam krisis hidup-Nya ketika dia mempersiapkan peristiwa salib pun, Yesus mengajak beberapa orang terdekat-Nya untuk berdoa bersama. Hal tersebut misalnya tampak ketika Yesus mengajak para murid bersama-sama berdoa di Taman Getsemani menjelang penangkapan-Nya (Luk. 22:41-46; Mat. 26:39; Mrk. 14:34-36).

Dalam pertumbuhan iman seseorang, setiap orang membutuhkan orang lain untuk menemani perjalanannya. Demikianlah sahabat dan komunitas menjadi salah satu sumber kekuatan, termasuk dalam doa. Yesus bahkan menyatakan pentingnya sahabat dan komunitas iman dan doa ini melalui perkataan-Nya bahwa jika ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, maka dia ada di tengah mereka (Mat. 18:20).

Sahabat dan komunitas, sebagaimana teladan Yesus dengan para murid tidak menunjukkan relasi bertingkat, tetapi relasi yang setara. Sahabat dan komunitas ini adalah komunitas yang mendukung bukan hanya ketika suka, tetapi utamanya ketika dukacita datang. Ciri khas menonjol dari sahabat dan komunitas ini adalah kerelaan, termasuk kerelaan menderita bagi sahabat-Nya (Yoh. 15:13; bdk. Rm. 5:7-8). Yesus bahkan tidak pernah mengutus seorang murid berkarya sendirian, tetapi selalu berdua-dua (Luk. 10:1). Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan iman yang tidak selalu mudah, hadirnya sahabat dan komunitas yang mendukung perjalanan sama pentingnya dengan perjalanan itu sendiri.

 

2. KETIKA YESUS BERDOA

A. BERDOA SEPANJANG WAKTU
Semakin Sibuk, Semakin Tekun Berdoa
Yesus membiasakan berdoa sebelum dan sesudah karya yang dilakukan-Nya.
Doa-doa Yesus yang tercatat ini termasuk pembaptisan-Nya, yang meluncurkan pelayanan publik-Nya (Luk. 3:21). Ia berdoa sebelum pemilihan murid-murid-Nya (Luk. 6:12-13), sebelum mengajar di Galilea (Mrk. 1:35), sebelum berjalan di atas air (Mat. 14:22, Mrk. 6:46, Yoh. 6:15) sebelum transfigurasi-Nya (Luk. 9:29), sebelum pengakuan Petrus (Luk. 9:18), sebelum mengajarkan murid-murid-Nya Doa Bapa Kami (Luk. 11:1), sebelum membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:41-42), sebelum memberi makan ribuan orang (Mat. 14 dan 15, Mrk. 6 dan 8, Luk 9. Yoh. 6), sebelum perjamuan makan terakhir (Mat. 26:17-29, Mrk. 14:12-25, Luk. 22:7-38, dan Yoh. 13:1-38), dan sebelum penyaliban-Nya (Luk. 22:39-46; Yoh. 17; lih. Ibr. 5:7).

Namun bukan hanya itu, Yesus juga mengakhiri pekerjaan-Nya dengan berdoa (Mat. 14:13, Luk 5:15-16, 6:12, 10:21). Dia dikisahkan selalu mundur dari keseharian dan berdoa secara pribadi. Dia berdoa ketika pagi hari sebelum bekerja dan ketika malam hari sesudah semua pekerjaannya selesai. Dia kadang tidak memiliki waktu untuk makan (Mrk. 3:20). Dia kadang juga bahkan tidak memiliki waktu untuk beristirahat dan tidur (Mrk. 6:31,33,46). Namun, Dia selalu memiliki waktu untuk berdoa. Semakin Dia sibuk, semakin tekun Dia berdoa.

Hal tersebut menunjukkan konsistensi Yesus dengan pernyataan-Nya kepada Iblis ketika dicobai bahwa manusia bukan hanya makan dari roti saja, tetapi juga dari firman Allah (Mat. 4:4; Luk. 4:4). Relasi dengan Allah melalui doa adalah relasi yang menjaga Yesus tetap utuh dalam misi yang diemban-Nya dan tidak tergoyahkan untuk bergerak ke arah dan tujuan yang lain dari tujuan utama hidup-Nya.

 

B. DOA PAGI DAN MALAM DI RUANG SUNYI DAN TERSEMBUNYI
Sacred Space (Tempat yang Dikhususkan) dan Sacred Time (Waktu yang Dikhususkan)
Dalam seluruh Injil diceritakan bahwa Yesus adalah sosok yang sangat tekun berdoa. Dia memiliki tradisi doa yang dijaganya. Tradisi doa ini berbeda dengan tradisi doa yang selama ini dilakukan oleh para rabi Yahudi lainnya. Jika banyak para rabi Yahudi pada masa-Nya berdoa di tengah kerumunan, di pasar, dan di tempat-tempat umum yang dapat dilihat oleh banyak orang. Mereka melakukan ini dalam rangka mendemonstrasikan iman dan keteladanan kepada para umat Yahudi, karena itu banyak doa mereka disampaikan dengan suara keras di tengah banyak orang.

Yesus justru berdoa ketika pagi-pagi sekali (Mrk. 1:35) atau ketika malam hari (Luk. 6:12) ketika tidak ada orang sedang bersama-sama dengan-Nya. Bahkan dikisahkan Dia sengaja menyingkir dari orang banyak untuk berdoa (Mat. 14:13, Mrk. 1:35, Luk. 4:32, 5:16). Dalam banyak kesempatan banyak orang mencari Yesus dan tidak menemukan-Nya, justru karena Dia sedang berdoa seorang diri. Hal tersebut menunjukkan bahwa doa menjadi prioritas utama dalam hidup Yesus, melampaui tampil di depan publik.

Dalam relasi intim dengan Sang Bapa, Yesus sengaja memilih tempat dan waktu khusus, sekaligus mengkhususkan tempat dan waktu tertentu. Kata kudus (sacred atau qadesh – dalam Bahasa Ibrani) sangat erat kaitannya dengan kata khusus – dikhususkan. Sesuatu menjadi kudus karena dikhususkan (dipething – Jawa). Doa membutuhkan tempat dan waktu yang dikhususkan dan dikuduskan. Yang menarik dalam setiap doa pribadi-Nya, Yesus mengkhususkan waktu dan tempat yang sangat personal untuk relasi personal-Nya dengan Bapa ini. Relasi dengan Tuhan bukanlah pertama-tama bahan demonstrasi iman, tetapi nafas yang menghidupi.

Yesus bahkan secara tegas mengatakan bahwa jika seseorang berdoa, hendaklah berdoa di dalam kamar sendiri dan menutup pintu kamar itu (Mat. 6:6). Alasan utama kesendirian dan kesunyian (ketersembunyian) ini adalah Bapa pun berada di tempat tersembunyi. Allah adalah Roh, maka mendekati Roh adalah dengan Roh. Tempat dan waktu itu menjadi kudus karena dikhususkan untuk meraih kesunyian. Sunyi tidak menakutkan, kesunyian adalah ruang dan waktu berjumpa dengan Tuhan.

 

C. DOA YESUS UNTUK PARA MURID-NYA
Pentingnya Syafaat, Terkhusus Bagi yang Lemah
Doa Yesus dalam Yohanes 17 adalah doa-Nya yang terpanjang dalam seluruh Injil. Doa ini memainkan peran penting dalam Injil Keempat, Yohanes. Beberapa penafsir Alkitab bahkan menyebutnya sebagai doa dari segala doa (prayer of all prayers). Dalam Perjanjian Lama, doa sering menyertai khotbah perpisahan yang diucapkan oleh orang-orang penting di bawah ilham ilahi (lih. Kej. 49; Ul. 32-33). Doa Yesus ini mengakhiri diskusi Yesus dengan para murid di ruang atas ketika bersama-sama mereka (tanpa sadar) sedang merayakan perpisahan Yesus dengan para murid-Nya (Yoh. 14-16). Karena itu, banyak orang menganggap doa ini serupa doa yang dilakukan oleh para Imam Besar ketika mereka mengakhiri karya pelayanan mereka (Ibr. 2:13, 4:14, 8:1-4). Tema doa adalah kemuliaan Tuhan dan harapan-harapan untuk para murid hari ini dan di segala zaman. Misi para murid setelah Dia pergi adalah misi yang sangat penting; inilah yang Yesus doakan. Doa ini adalah contoh doa syafaat yang diucapkan oleh Yesus.

Dalam lima ayat pertama Yesus menyuarakan permintaan untuk diri-Nya sendiri. Hasratnya yang besar adalah untuk memuliakan Bapa-Nya. Itu juga harus menjadi keinginan yang mendorong murid-murid-Nya. Yesus meminta supaya orang dapat melihat hidup dan karya-Nya sebagai sarana untuk tujuan akhir pemuliaan Bapa.

Pemuliaan Yesus bergantung pada keberlanjutan hidup orang-orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya, yaitu murid-murid-Nya. Karena itu Yesus mendoakan mereka (Ay. 6-19). Panjangnya bagian ini menunjukkan bahwa kepedulian Yesus terhadap murid-murid-Nya lebih besar daripada kepedulian-Nya terhadap diri-Nya sendiri (lih. Luk. 6:12; Yoh. 6:15; Luk. 22:32; Rm. 8:34; Ibr. 7:25). Kekuatan pemeliharaan Tuhan dan bukan kekuatan murid yang membuat Yesus percaya diri saat Dia berdoa untuk mereka. Yesus mendasarkan permintaan-Nya pada fakta bahwa Allah telah memilih para murid dari dunia dan mereka adalah milik Allah. Dia berdoa secara khusus bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Mereka berdiri dalam hubungan khusus dengan-Nya. Mereka membutuhkan pertolongan khusus dari Bapa karena Yesus akan meninggalkan mereka. Kemudian Yesus berdoa untuk keselamatan mereka (Ay. 11b-16) dan pengudusan mereka (Ay. 17-19). Kekhawatiran ini tidak diragukan lagi tetap menonjol dalam doa Yesus untuk orang-orang terdekat-Nya, secara khusus bagi mereka yang lemah. Sebagian besar murid Yesus tidak tergolong dalam orang yang kuat secara ekonomi, bukan pula orang yang kuat secara iman, karena mereka sering kali bahkan tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan dalam karya pengajaran-Nya. Justru karena kelemahan inilah Yesus berdoa bagi mereka.

Doa selanjutnya berisi permintaan Yesus untuk orang percaya di masa depan (Ay. 20-26). Inilah orang-orang yang akan percaya kepada-Nya karena generasi pertama para murid menyaksikan hidup dan karya-Nya. Ia meminta persatuan (Ay. 20-23) dan pemuliaan (Ay. 24-26) bagi mereka. Doa syafaat Yesus ini menjadi model bagi orang Kristen saat itu hingga kini. Doa syafaat Yesus bagi orang lain juga patut diperhatikan. Dia berdoa untuk orang-orang seperti Petrus (Luk. 22:32), para prajurit di sekitar salib-Nya (Luk. 23:34; bdk. Yes. 53:1), dan murid-murid-Nya sekarang dan di masa depan (Yoh. 17:6-26). Pelayanan syafaatnya berlanjut hari ini (Rm. 8:34; Ibr. 7:25). Dia berdoa dari surga untuk milik-Nya yang ada di bumi.

 

D.DOA GETSEMANI
Penyerahan Utuh kepada Tuhan
Salah satu doa terkuat Yesus adalah Doa Getsemani (Luk. 22:41-46; Mat. 26:39; Mrk. 14:34-36). Saat Dia mengantisipasi penangkapan, pencobaan, dan penyaliban-Nya, Yesus mempersiapkan diri dengan berdoa kepada Bapa-Nya. Dia melakukannya sebagian untuk menghindari pencobaan. Murid-murid tidak merasakan kebutuhan besar mereka akan pertolongan Tuhan, jadi mereka tidur, tetapi Yesus mengantisipasi konflik dan mempersiapkan diri-Nya untuk itu dengan doa.

Apa yang Dia doakan di Getsemani juga penting. Sebagai seorang manusia, Dia bergumul dengan memenuhi kehendak Tuhan. Dia tidak selalu baik-baik saja. Ada beberapa indikasi dalam Injil dan di tempat lain dalam Perjanjian Baru bahwa ketika Yesus menjadi seorang manusia, Dia mengadopsi batasan-batasan yang umum bagi umat manusia. Ia mempertahankan sifat Allah, tetapi Ia juga mengadopsi sifat manusia dengan keterbatasan manusiawinya (Mat. 24:36; bdk. Flp. 2:6-7). Jadi ketika Yesus berdoa, Dia berdoa sebagai manusia. Injil Lukas, yang menekankan kemanusiaan Yesus, mencatat lebih banyak kehidupan doa Yesus daripada Injil lainnya.

Yesus mengajukan permintaan kepada Bapa-Nya di Getsemani. Dia meminta jika itu adalah kehendak Bapa Dia akan mengambil cawan dari Yesus. Cawan adalah gambaran umum Perjanjian Lama tentang penghakiman ilahi. Para nabi mengumumkan bahwa Allah akan memberikan cawan murka-Nya kepada banyak bangsa tetangga Israel untuk diminum. Yesus meminta untuk melarikan diri dari keharusan menanggung hukuman atas dosa-dosa umat manusia jika itu adalah kehendak Allah. Namun, Dia memasukkan keinginan ini di bawah keinginan lain yang lebih penting bagi-Nya. Namun, Dia berdoa terutama agar kehendak Tuhan terjadi. Pola doa Yesus di Getsemani adalah menyampaikan preferensi kita kepada Allah dalam doa, tetapi pada saat yang sama menyerahkannya pada kehendak Allah. Penyerahan diri utuh pada kehendak Tuhan menjadi pusat dalam doa.

 

E. DOA SALIB
Hidup adalah Doa

Dari tujuh pernyataan yang disampaikan Yesus saat di salib, tiga di antaranya adalah doa. Bukan sebuah kebetulan jika tiga dan tujuh dalam numerologi Yahudi merupakan tanda kesempurnaan. Ketiga kalimat doa di salib tersebut adalah:

    • “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).
    • “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46, Mrk. 15:34).
    • “Ya bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan roh-Ku” (Luk. 23:46).

Kalimat doa salib yang pertama menggemakan konsistensi Yesus dalam karya dan hidup-Nya, Allah bukan Allah yang pemarah, penghukum, dan pendendam, yang mudah melimpahkan hukuman kepada manusia yang berdosa. Allah adalah Allah yang pemurah dan pengampun, karena itu Allah tidak henti-hentinya menjangkau manusia dalam sepanjang sejarah manusia. Doa salib yang pertama ini juga menunjukkan konsistensi Yesus dengan pengajaran-Nya tentang kasih dan pengampunan. Dia bukan hanya mengajar tetapi Dia melakukannya sendiri.

Pernyataan Yesus yang kedua adalah penggalan dari Mazmur 22:2. Melalui kalimat ini Yesus menunjukkan bahwa misi yang dilakukan-Nya untuk menjangkau dan mengasihi manusia adalah misi yang tidak serta merta mudah, misi itu berat, bahkan mendatangkan penderitaan. Namun, Yesus tidak berhenti. Dia menggenapi nubuat tentang Mesias dalam berbagai teks Alkitab. Hidup-Nya secara utuh adalah wujud karya penyelamatan Allah bagi dunia. Melalui kalimat ini Yesus juga berbelarasa dengan orang-orang yang menderita bagi misi Ilahi dan kemanusiaan. Melalui kalimat ini Yesus menunjukkan bahwa ketika Sang Pemazmur dan orang-orang pada zaman-Nya begitu menderita hingga rasanya seolah-olah ditinggalkan oleh Allah, Yesus pun merasakan hal yang sama. Yesus menunjukkan belarasa-Nya dengan menjadi bagian dari mereka.

Kalimat ketiga menggemakan pilihan Yesus atas seluruh karya-Nya yang membuat-Nya gentar di Getsemani. Setelah semua karya dilakukan-Nya, dia mengakhirinya dengan menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Allah. Injil Yohanes menggambarkan ini dengan indah, ‘Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.’ (Yoh. 19:30). Penyaliban itu mengakhiri seluruh rangkaian karya Yesus di dunia. Karya-Nya tuntas, utuh, dengan segala suka dan penderitaan-Nya. Kata nyawa dalam ayat tersebut berasal dari kata pneuma, yang dalam Bahasa Yunani artinya roh. Dia menyerahkan roh-Nya kembali kepada Sang Bapa. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus melalui doanya menghidupi secara utuh panggilan-Nya. Hidup-Nya secara utuh dan tuntas adalah doa-Nya.

Baca lanjutan tulisan ini

Renungan Harian

Renungan Harian Anak