Bencana Alam dari Perspektif Perjanjian Lama

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Sikap Nuh di satu pihak adalah seorang yang saleh dan taat perintah kepada Allah, tetapi di lain pihak, Nuh tampil sebagai seorang yang tidak memberi reaksi atas bencana yang melibatkan seluruh manusia dan mahluk hidup tersebut. Ada pandangan yang berbeda terhadap sosok Nuh, melakukan semua perintah Allah, tetapi tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Yang penting dia dan keluarganya selamat, yang lain tak perlu jadi perhatiannya.

Karen Armstrong mengisahkan kembali Gilgamesy, yang menceritakan kisah yang serupa, tetapi dengan sensibilitas yang sama sekali berbeda. Tokoh Utnapisytim dalam kisah tersebut digambarkan, sebagai berikut, “The Landscape was as level as a flat roof.I opened a hatch, and light fell on my face. Bowing low, I sat and wept. Tears running down my face”[16] Karen Amstrong menceritakan Utnapisytim yang menangis sebab merasa iba saat menyaksikan kematian umat manusia dan mahluk hidup.

Namun dalam kesaksian Alkitab, sama sekali tidak memperlihatkan reaksi Nuh. Tidak ada ungkapan tentang perasaan dan sikap hati Nuh terhadap apa yang terjadi dengan sesamanya. Mungkin kita mengatakan bahwa Nuh adalah seorang yang saleh, tetapi tidak berbela rasa. Bisa jadi bahwa teologi yang sedang ingin dikatakan oleh penulis Kejadian 7:1-24 memang tidak hendak menyoroti sikap Nuh yang tidak berbela rasa. Tampaknya bahwa penulis ingin menunjukkan bahwa upah dari kesalehan dan rajin berhubungan dengan Allah adalah keselamatan.

 

Perubahan Dimensi

Jika dirunut dari kisah penciptaan semua ‘titah’ sampai dengan muculnya dunia baru atas tokoh Nuh melalui konsep transformasinya Allah, maka bisa diungkapkan dengan satu ungkapan yaitu perubahan dimensi. Dimensi yang sangat menyolok adalah perubahan dari kehidupan ciptaan Allah yang mula-mula dalam dimensi kehidupan surgawi menuju dimensi kehidupan duniawi.

Dengan pemahaman yang sangat sederhana bahwa yang dimaksud dengan dimensi surgawi adalah adanya ketersediaan segala kebutuhan kehidupan semua titah dengan berlandasakan kesetiaan dan kesucian diri terhadap Allah. Sedangkan dimensi duniawi adalah betapa manusia dan titah yang lain, harus berupaya mempertahankan kehidupan dengan caranya sendiri-sendiri. Konsep sebagai teman sekerja Allah yang semula didambakan Allah untuk kelangsungan hidup alam ciptaanNya, justru berebut sebagai penikmat berlandaskan akan kehidupan egoisnya. Perubahan drastis inilah yang seolah-olah menjadi tabiat jelek manusia dan keturunannya sampai kapanpun.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

 

Bagikan Entri Ini: