Bencana Alam dari Perspektif Perjanjian Lama

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Perlu mendapat penekanan ulang bahwa konsep karya cipta Allah itu harus dipahami tidak berhenti pada awal Allah berkarya saja. Karya penciptaan Allah itu terus berlangsung sampai kepada titik kesempurnaan. Masa kehidupan manusia masuk dalam karya Allah yang dinamis itu juga. Artinya adalah, masa kehidupan seorang manusia, mungkin pada mandat masa menanam, masa memelihara atau masa menuai. Menjadi semakin tidak harmonis dan cenderung rusak, ketika manusia di masa menanam melakukan tindakan menuai, atau sebaliknya, disaat untuk merawat, sudah tidak sabar untuk segera menuai. Bahkan ada saatnya menanam, tidak segera dilakukan oleh karena lebih mengincar tahap tuai di tempat yang berbeda.

Maka tidak jarang ada lokasi yang gundul dan dibiarkan saja, sebab tidak ada semangat menanam, namun justru terus menuai termasuk didalamnya menuai “pohon-pohon besar’ yang belum ada penggantinya di tempat lain. Akibatnya kehidupan alam tidak lagi menjadi harmonis, artinya ritme kehidupan yang diatur oleh Sang Pencipta sebelumnya, dipaksa berubah oleh sang pemegang mandat yaitu manusia.

 

Karya Cipta Agung Allah

Seorang yang bernama Klaus Westermann memiliki pendapat dan memperlihatkan sebuah fakta yang tidak hanya pada ranah pemikiran tetapi juga kenyataan bahwa “bila Allah memberkati, maka Penciptalah yang bertindak dan itu sebabnya berkat bersifat menyeluruh dan ditujukan kepada segala makhluk hidup….Dalam seluruh perjanjian lama terdengar bahwa Allah memberkati terus-menerus, secara kontinu.”[1]

Pendapat ini sebagai wujud untuk menguatkan dua pandangan, yaitu yang pertama bahwa bangsa Israel sejak awal mengklaim hanya Allah dan bukan para dewa menurut agama bangsa lain, yang menciptakan segala sesuatu, mengaruniakan dan sekaligus memberkati segala sesuatu itu. Konsekuensi logis dari pengakuan tersebut adalah bahwa bangsa Israel beribadah dan menuruti seluruh petunjuk Allah. Hal ini dapat dilihat betapa bangsa Israel melihat “sepuluh hukum Allah” sebagai yang istimewa dalam landasan hidupnya.

Yang kedua, bahwa sifat menyeluruh penciptaan Allah itu memiliki pemahaman bahwa Tuhan yang adalah Sang Pencipta itu bukanlah Allah bangsa Israel saja, tetapi adalah Tuhan alam semesta dan umat manusia seluruhnya. Lebih kepada pemahaman bahwa Allah yang menjadikan dunia beserta isinya, memberikan hidup dan kehidupan segala makhluk serta memberkatinya, dan Allah berharap bahwa kehidupan damai sejahtera akan menjadi pemandangan yang indah dalam perjalanan hidup segala ciptaan. Dalam melestarikan harmoni inilah, ada harapan besar Allah supaya umat Allah diberi penghormatan untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kejadian 12:3)[2].

Kedua sudut pandang itulah setidaknya menjadi catatan penting bagi manusia sebagai umat yang berderajat lebih tinggi dari ciptaan lainnya. Ada kesempatan bagi manusia untuk bersama-sama dengan Tuhan masuk dalam kerangka keselamatan alam, sehingga manusia memiliki hak untuk melawan setiap penyalahgunaan alam termasuk beragam bentuk eksploitasi hewan dan tumbuhan. Keselamatan lingkungan berikut kelestariannya dianggapnya sebagai hak manusia untuk memprakarsainya, sehingga konsep antisipatif juga merupakan pendekatan yang layak untuk diterapkan.

Konsep penciptaan yang menyeluruh berarti menghilangkan pendekatan primordial manusia yang cenderung untuk keperluan pribadi. Diharapkan manusia kemudian memiliki kesadaran bahwa seluruh umat ciptaan Allah memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk masuk dalam karya keselamatan Allah. Disini juga dapat dipahami bahwa segala umat ciptaan Allah memiliki hak dan tanggung jawab yang sama menjadi saluran berkat antar umat ciptaanNya. Kesadaran mutlak manusia terutama bagi mereka yang telah dipilihnya sebagai anaknya, semestinya memiliki peran yang utama sebagai motor akan pertumbuhan, pemeliharaan dan pelestarian semua ciptaan Allah.

Menjadi sangat ironis kemudian jika umat yang semestinya menjadi motor penggerak kelangsungan hidup alam tetapi justru menjadi motor perusak alam. Wujud dari kekaguman manusia terhadap karya cipta Allah dan sekaligus sebagai rasa syukur atas diciptakannya penopang hidupnya adalah, senantiasa berpedoman bahwa perusakan alam adalah perlawanan terhadap Allah, sedangkan melestarikan alam adalah wujud dari cinta kasihnya kepada Tuhan.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

 

Bagikan Entri Ini: