Kesulitan dalam hidup terkadang membuat kita tidak siap menghadapinya, bahkan berpaling dari Tuhan. Sebesar apapun kesulitan tersebut pasti Tuhan sedang mengajak kita belajar untuk menjadi dewasa di dalam Iman.
Sumangga tansah mbudidaya supados ingkang kalairaken ing tumindak kita menika dados wujuding raos sukur kita sarta kapitadosan kita dhumateng Gusti. Mboten krana kita ngudi dipun biji sae dening tiyang sanes, utawi ngudi pikantuk ganjaran saking Gusti.
"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu". Saat kita membantu orang yang tidak bisa membalas kebaikan kita, Tuhan sendiri yang akan membalaskannya bagi kita.
Tantangan, kesulitan dan penderitaan bisa menggeser iman pengharapan kita dari Injil Kristus dan menggeser posisi kita sebagai anak-anak Tuhan. Dengan menghayati apa yang dilakukan Tuhan di dalam Yesus Kristus ini, kita akan dikuatkan dalam menjalani kehidupan ini.
Srana kasucekaken menika kita saged gesang tetunggilan kaliyan Gusti. Srana tansah ngengeti bilih “disuci” sanes satunggaling momotan nanging malah kanugrahanipun Allah, kita badhe saged lan malah nggadhahi greget njagi kasucening gesang menika.
Ketulusan hati dalam melayani saudara-saudaranya merupakan bukti bahwa Tuhan berkenan hadir dalam pribadi Yusuf. Sehingga kehidupan Yusuf senantiasa terkuasai dan terberkati oleh Tuhan.
Gusti Allah ngagem Yusuf ingkang remeh menika dados lantaran pakaryanipun Allah ingkang agung milujengaken tiyang satanah Mesir, malah ugi bangsa sanes. “Allah ora nate ngremehake sapa wae. Kita aja ngremehake wong liya!”
Sudahkah kita berpikir untuk regenerasi dengan melibatkan orang-orang muda untuk ambil bagian di dalam pelayanan? Sudahkah kita mewariskan sikap hidup yang bisa menjadi teladan bagi generasi yang usianya di bawah kita?