“Saling Memberi Rasa Aman Dalam Keluarga” Refleksi di bulan keluarga

Kalender gerejawi GKJW menandai bulan Juli ini sebagai “Bulan Keluarga”. Berbagai kegiatan bertema keluarga diadakan jemaat-jemaat GKJW se-Jawa Timur untuk menyambut hal ini. Tahun ini tema untuk bulan keluarga ialah: “Kehadiran Kristus ditengah keluarga yang membawa keselamatan”.

Melalui penghayatan bulan keluarga ini diharapkan keluarga senantiasa direkatkan oleh adanya jalinan cinta kasih yang tulus antar anggotanya. Saat ini ditengarai cukup banyak keluarga yang tidak peduli dengan kualitas komunikasi antar anggota keluarga khususnya dari orangtua kepada anak-anak.

Melalui bulan keluarga ini, setiap anggota keluarga juga diharapkan bisa mengambil peran sebagai “pendamai” yang membuat suasana keluarga senantiasa penuh rasa aman, tentram dan damai. Hal itu sebagaimana Kristus telah menjadi pendamai antara kita dengan Allah ( 2 Kor 5:18-19).

Upaya pendamaian yang dilakukan oleh Kristus telah membawa sebuah “keselamatan” bagi semua anggota keluarga, yang dicirikan adanya rasa aman, tentram dan damai. Rasa aman ini adalah sebuah kebutuhan emosional/psikis yang paling “mendasar”dari setiap manusia. Rasa aman ini timbul dari terpenuhinya akan kebutuhan emosional yaitu berupa perasaan dicintai tanpa syarat, dihargai, diakui, adanya penerimaan diri dan mempunyai kendali diri secara penuh.

Apabila kebutuhan emosional ini tidak terpenuhi khususnya pada anak-anak dari orangtuanya maka anak-anak akan memunculkan berbagai perilaku dengan tujuan agar orangtua memenuhi akan kebutuhan emosional tersebut. Berbagai macam perilaku anak inilah yang sering dipandang oleh orangtua sebagai sebuah perilaku yang bermasalah. Anak yang kebutuhan emosionalnya belum terpenuhi akan mengalami perasaan gelisah dan cemas sehingga anak akan sulit berkonsentrasi, sulit mengendalikan emosi dan muncul kemarahan dalam diri.

Kebutuhan emosional dari anak di dalam dunia parenting sering dikenal dengan istilah tangki cinta anak. Setiap anak memiliki 2 buah tangki dalam dirinya yang hanya bisa diisi oleh kedua orangtuanya saja. Tangki cinta ini sifatnya sangat mudah mengalami kebocoran, yang artinya bisa berkurang isinya oleh karena peristiwa negatif yang dialami oleh anak akibat perlakuan orang-orang disekelilingnya. Sebagai contoh anak dimarahi oleh orangtua dan guru; anak diejek, ditertawakan, dilecehkan dan dibully oleh teman-temannya. Oleh karena sifat tangki cinta yang mudah bocor ini maka perlu diisi oleh orangtua setiap harinya secara konsisten, penuh kasih tulus dan hangat serta dilandasi oleh cinta tanpa syarat.

Baca Juga:  Keluarga Dalam Keberagaman

Pada saat tangki cinta anak terisi penuh bahkan meluap oleh cinta dari kedua orangtua maka anak akan merasa aman dan bahagia serta mudah untuk diajak bekerja sama sehingga bisa mencapai potensi diri yang terbaik. Sebaliknya apabila tangki cinta anak kosong maka anak akan merasa tidak aman, merasa tidak dihargai, berperilaku menjengkelkan, tidak menuruti perkataan orangtua dan muncul kemarahan dalam diri.

Tanpa adanya perasaan dicintai oleh kedua orangtuanya maka anak-anak tidak akan merasa aman, tentram dan damai.

Salah satu kebutuhan emosional seorang anak adalah dicintai oleh kedua orangtuanya, namun apakah setiap anak sudah merasa dicintai oleh kedua orangtuanya? Jawabnya, belum tentu! Setiap orangtua boleh saja merasa sudah mencintai anak-anaknya, tetapi apakah para orangtua pernah dan berani untuk bertanya kepada anak-anaknya, “Nak, apakah kamu merasa dicintai oleh ayah dan ibu?” Tidak jarang jawaban anak-anak adalah tidak! Mereka merasa belum dicintai oleh kedua orangtuanya, meskipun orangtua sering mengklaim bahwa mereka benar-benar telah mencintai anak-anaknya dengan berbagai upaya dan tindakan termasuk dengan memberikan berbagai macam barang yang disukai atau diminta oleh anak-anaknya. Oleh karena itulah tidak tepat apabila orangtua memaksakan pendapatnya bahwa mereka merasa sudah mencintai anak-anaknya, namun ternyata bagi anak belum merasa dicintai oleh orangtuanya.

Sekarang bagaimana seharusnya cara orangtua mengungkapkan rasa cintanya kepada anak-anaknya, agar anak-anak benar-benar merasa dicintai? Tanpa adanya perasaan dicintai oleh kedua orangtuanya maka anak-anak tidak akan merasa aman, tentram dan damai. Ini artinya kehadiran kedua orangtua dalam keluarga belum memberi keselamatan bagi anak-anak, seperti halnya tema bulan keluarga di tahun ini bahwa kehadiran Kristus di dalam keluarga yang memberi keselamatan dan memberi rasa aman, tentram dan damai bagi semua anggota keluarga.

Baca Juga:  Video Renungan Bulan Keluarga 2018

Cara mengungkapkan rasa cinta orangtua kepada anak-anaknya yang bisa dirasakan oleh anak-anak sehingga mereka benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya adalah dengan senantiasa mengisi dan memenuhi kebutuhan emosional anak atau tangki cinta anak setiap harinya. Mengisi tangki cinta anak bisa dilakukan oleh orangtua dengan melalui bahasa cinta yang paling dominan dari anak-anak itu sendiri. Ada 5 bahasa cinta yang bisa  dilakukan,  diantaranya  adalah  :

  1. Kata-kata pendukung yang bisa berupa kata-kata penuh kasih, kata-kaya pujian dengan tulus, kata-kata yang membesarkan hati di kala anak merasa terjatuh dan kata-kata berupa bimbingan.
  2. Waktu berkualitas dimana orangtua bisa melakukan kegiatan bersama dengan satu anak saja dimana kegiatan tersebut yang disukai oleh anak.
  3. Sentuhan fisik meliputi banyak cara seperti memeluk, mencium, mengusap rambut, menggandeng tangan, menggendong dll
  4. Hadiah yang artinya orangtua mengajari anak untuk menghargai semua hadiah/pemberian karena itu merupakan ungkapan cinta bukan menilai mahal tidaknya hadiah itu.
  5. Layanan yang diberikan orangtua kepada anak untuk mengajarkan anak agar bisa melakukannya sendiri secara mandiri.

Kelima hal itulah yang bisa dilakukan orangtua dalam mengungkapkan rasa cintanya kepada anak untuk memastikan bahwa anak-anak benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.

Satu hal lagi yang sangat penting adalah perlunya orangtua untuk bisa saling mengisi tangki cintanya. Orangtua juga membutuhkan kebutuhan emosional yang diperoleh dari pasangannya. Sesungguhnya kebutuhan emosional ini merupakan kebutuhan dasar setiap orang; tidak hanya bagi anak-anak saja tetapi juga bagi orang dewasa dan orangtua.

Dengan terpenuhinya kebutuhan emosional bagi semua anggota keluarga baik anak-anak maupun juga maka semua anggota keluarga akan merasakan rasa aman, tentram dan damai oleh karena adanya perasaan dicintai, dihargai, diakui, diterima apa adanya dan mempunyai kendali diri secara penuh.

Rasa aman, tentram dan damai inilah yang menunjukkan adanya keselamatan dalam sebuah keluarga; oleh karena Kristus telah lebih dahulu hadir ditengah-tengah keluarga dengan membawa keselamatan.

Selamat menggumuli bulan keluarga di tengah-tengah keluarga kita masing-masing. Tuhan Yesus memberkati – Amin.

 

Bagikan Entri Ini:

  • 188
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •