Bacaan: Keluaran 4 : 27 – 31 | Pujian: KJ. 249
Nats: “Berfirmanlah TUHAN kepada Harun, “Pergilah ke padang gurun menjumpai Musa.” Harun pergi dan bertemu dengan dia di gunung Allah, lalu menciumnya.” (Ayat 27)
Ketika berkunjung ke salah satu keluarga, ada seorang ibu yang menyiapkan handuk di kursi teras. Tak lama kemudian, suaminya datang dari sawah, bajunya basah, langkahnya berat sambil membawa cangkul di pundaknya, wajahnya tampak lelah. Tanpa banyak bicara, sang ibu menyambutnya, lalu tersenyum kecil sambil berkata, “Enggal siram, enggal dhahar pak.”
Tidak ada hal besar yang terjadi sore itu. Tetapi dari pemandangan sederhana itu, saya belajar sesuatu bahwa cinta yang nyata sering tidak berbicara banyak. Ia hanya hadir dalam kesediaan menunggu, dalam perhatian kecil yang tidak ditagih, dalam keberanian untuk tetap peduli walau hari terasa berat. Hari itu mungkin berat, tetapi mereka tidak sendiri!
Peristiwa itu mengingatkan kita pada kisah Musa dan Harun. Tuhan mengutus Harun untuk menemui Musa di padang gurun. Mereka berdua sama-sama membawa beban yang tidak ringan, sebuah panggilan besar yang terasa mustahil dijalani sendiri. Tetapi ketika mereka bertemu, ada pelukan dan kelegaan. Tidak ada keajaiban besar di saat itu, hanya perjumpaan dua orang yang saling meneguhkan, dan di sanalah awal mula pelayanan dimulai. Dari perjumpaan itu, Musa dan Harun melangkah bersama menyampaikan kabar dari Allah. Mereka tidak menawarkan janji kosong, melainkan menghadirkan kesaksian bahwa Tuhan sungguh peduli pada umat yang menderita. Dan ketika umat mendengar, mereka percaya!
Kesaksian dan pelayanan sering lahir dari hal-hal sederhana seperti itu. Dari langkah kecil yang mau mendekat, dari hati yang mau menyeka peluh yang lain, dari waktu yang mau dibagikan meski lelah. Kadang kita hanya berpikir pelayanan itu soal “panggung”, padahal mungkin ia justru tumbuh dari dapur, ladang, atau teras rumah, tempat di mana cinta dan perhatian sederhana berjumpa setiap hari. Sebab disitulah inti dari kesaksian: menghadirkan Allah dalam cara yang paling manusiawi. Seperti Musa dan Harun, atau seperti sepasang suami-istri di sore yang letih itu, kita pun dipanggil untuk menjadi tanda bahwa kasih Allah masih bekerja, dan tidak ada yang benar-benar berjalan sendirian. Amin. [vena].
“Setiap perjumpaan menyisakan jejak kasih dan disanalah pelayanan menemukan bentuknya, serta kesaksian menemukan suaranya.”