Sebuah Perenungan di Bulan Budaya 2019

Mulai 31 Oktober 2019 hingga 27 November 2019, jemaat se GKJW memasuki Bulan Budaya yang mengambil tema “Tinggalkan kebiasaan buruk dan gantikan dengan yang baik”.

Kata “Budaya” menurut kamus besar bahasa indonesia bisa berarti banyak hal, yaitu:

  1. Pikiran, akal budi
  2. Adat istiadat
  3. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah
  4. Sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang. Dari keempat arti kata budaya diatas, yang sangat terkait dengan tema budaya tahun ini adalah arti kata budaya sebagai pikiran atau akal budi; dan sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Dua buah kata kunci dari arti kata budaya yang sangat menarik adalah kata “pikiran” dan “kebiasaan”; bagaimana meninggalkan sebuah kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baik tidak lepas dari mekanisme pikiran atau cara kerja pikiran itu sendiri.

Sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi seorang rasul Paulus yang ada di dalam kitab Roma 7:15 “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (baca juga Roma 7 : 19). Dari pengakuan diatas, rasul Paulus merasa bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang dia “tidak tahu” atau lebih tepat diartikan sebagai sesuatu yang “tidak disadari”; sebuah tindakan yang sifatnya spontan atau sudah sering dilakukan sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang tidak disadari lagi.

Kebiasaan ini berkaitan dengan suatu tindakan yang sebenarnya dia benci namun “tanpa disadari” justru dia perbuat. Pada akhirnya memang rasul Paulus “menyadari” akan tindakan tersebut, namun apa daya, justru tindakan yang telah diperbuatnya menjadi sesuatu yang dia benci. Artinya ada suatu kondisi dimana rasul Paulus melakukan suatu tindakan yang “tidak disadari” lagi yang bersifat spontan, yang tidak mengalami suatu proses berpikir dengan kesadaran diri sehingga bertentangan dengan hati nuraninya. Tindakan yang kita benci namun sering dilakukan inilah yang bisa disebut sebagai suatu kebiasaan buruk.

Kaitannya “kebiasaan dan pikiran”, bahwa kebiasaan (habit) terletak di pikiran bawah sadar (subconscious). Salah satu fungsi dari pikiran bawah sadar adalah mengendalikan suatu kebiasaan. Kebiasaan ada tiga macam, yaitu kebiasaan baik (bersifat positif dan produktif), kebiasaan buruk (bersifat negatif dan destruktif seperti kebiasaan merokok, makan berlebihan dll) dan kebiasaan refleks (secara otomatis menutup pintu setelah membuka, menutup mulut saat batuk atau bersin).

Mengapa begitu sulitnya merubah suatu kebiasaan buruk dan mengganti dengan kebiasaan yang baik? Jawabannya adalah karena kebiasaan berada dan dikendalikan oleh pikiran bawah sadar yang mempunyai sifat homeostasis (bersifat malas untuk berubah, mempertahankan kondisi yang sudah ada).

Yang sering terjadi adalah kita berupa keras untuk menghilangkan suatu kebiasaan buruk dengan will-power atau kekuatan kehendak, namun semuanya sia-sia saja, oleh karena will-power berada di ranah pikiran sadar yang secara hukum pikiran dinyatakan bahwa kekuatan pikiran bawah sadar jauh lebih kuat dari pikiran sadar itu sendiri (pikiran bawah sadar 9x lebih kuat dari pikiran sadar), bahkan dari telusur artikel terbaru dikatakan bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan 95%-99% hidup kita dan pikiran sadar hanya mengendalikan 1%-5% saja.

Bagaimana untuk bisa merubah kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang baik? Sesuai dengan penjelasan diatas maka cara paling efektif adalah dengan masuk ke ranah pikiran bawah sadar dan dilakukan rekonstruksi terhadap program pikiran yang mengendalikan kebiasaan buruk tersebut; mengganti program pikiran lama yang mengendalikan kebiasaan buruk dengan program pikiran baru yang menghasilkan sebuah perilaku baru yang baik.

Cara yang lain dan cukup efektif untuk menghilangkan suatu kebiasaan buruk adalah dengan menetralisir emosi yang melekat pada program pikiran yang mengendalikan kebiasaan buruk tersebut. Cara ini sering penulis lakukan dalam membantu klien untuk menghilangkan suatu kebiasaan buruk seperti kebiasaan anak kecil yang masih suka mengompol, menggigit jari, menghisap jempol, kebiasaan buruk dalam bentuk respon perilaku akibat suatu phobia terhadap binatang, makanan, suatu benda (jarum, rambut), suatu tempat/keadaan tertentu (tempat gelap, sempit, ketinggian) dll.

Mengapa dengan menetralisir emosi bisa menghilangkan sebuah kebiasaan buruk? Emosi yang tidak lain adalah sebuah energi (e-motion, energy in motion, energi yang bergerak) merupakan kekuatan yang menggerakkan sebuah program pikiran yang mengendalikan suatu kebiasaan, sehingga dengan menghilangkan emosi atau energinya maka program pikiran tersebut tidak bisa dijalankan dan kebiasaan tidak muncul dalam bentuk perilaku.

Meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang baik merupakan sesuatu yang harus kita lakukan agar kehidupan yang kita jalani semakin hari akan semakin baik dan bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Bukanlah hal yang mustahil untuk bisa mengganti suatu kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik,
asalkan kita mempunyai niat yang kuat dan sungguh-sungguh untuk berubah dan tahu cara melakukannya maka semuanya akan terjadi dengan sangat mudah dan menyenangkan.

Mengakhiri perenungan ini, baiklah kita mengingat akan pesan rasul Paulus yang ada di kitab Roma 12 : 2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Hanya dengan melakukan perubahan budi (pikiran) yang didalamnya adalah perubahan kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, akan mengarahkan dan memampukan di dalam mencari kehendak Tuhan atas hidup kita. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita
semua – Amien!

 

Bagikan Entri Ini:

  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •