Menjelajah Sejarah Cikal Bakal GKJW Dalam Buku “Patunggilan Kang Nyawiji 1”

17 April 2021

3

 C. Isi dan Paradigma Buku Patunggilan Kang Nyawiji

Buku Patunggilan Kang Nyawiji 1 berisi 18 bab, merentang dari masa awal masuknya VOC ke Indonesia dan semangat pengabaran Injil di Eropa pada abad ke-17, awal mula bertumbuhkan orang-orang Kristen di Jawa Timur, hingga karya awal para zendeling (pengabar Injil) di Jawa Timur, khususnya Jellesma pada tahun 1851. Sehingga tentu saja, untuk konteks Jawa Timur, luas bahasan yang terdapat di buku ini masih sebatas seputaran Surabaya hingga Majawarna.

Sekalipun demikian, data-data yang disajikan luar biasa kaya. Tidak hanya menyajikan peristiwa, seperti yang diungkapkan sebelumnya, buku ini juga mengetengahkan konteks. Berbagai teks disandingkan untuk menemukan kisah otentik awal mula pengabaran Injil di Jawa Timur. Buku ini bukan hanya sedang merangkum berbagai sumber sejarah yang terkait dengan GKJW, tetapi memberikan posisi-posisi pada konteksnya, sehingga tidak terjadi anakronisme sejarah. Tentu upaya demikian mau tidak mau melibatkan proses interpretasi atas sumber-sumber sejarah yang ada, tetapi berbagai referensi yang disajikan memungkinkan pembaca untuk merunut sumber sejarah yang mereka gunakan. Artinya bahwa Tim Sejarah GKJW secara sadar memilih paradigma mereka dalam rangka penulisan buku ini, sekaligus mengizinkan pembaca untuk memperkaya dan membandingkan upaya kajian mereka dengan yang mungkin dilakukan oleh para pembaca.

Walaupun Tim Sejarah GKJW tidak secara langsung membagi-bagi tema buku ini, tetapi secara umum buku ini dapat dibagi menjadi empat bagian:

  1. Bagian pertama, Bab I-III, berisi latar belakang pengabaran Injil di Indonesia, yang menyajikan kisah penguasaan kolonial Belanda di Indonesia hingga semangat pengabaran Injil di Belanda.
  2. Bagian kedua, Bab IV-VII, adalah konteks dan komunitas para pengabar Injil awam Eropa di Jawa Timur.
  3. Bagian ketiga, Bab VIII-XIV, berisikan proses dan buah pengabaran Injil dari para penginjil awam tersebut.
    Bagian kedua dan ketiga ini terutama mengangkat kisah Coolen dan Emde sebagai cikal bakal komunitas Kristen di Jawa Timur dan tokoh-tokoh lokal Kekristenan di Jawa Timur, seperti Amarentia Menuel, Pak Dasimah, Singatruna, dkk.
  4. Bagian keempat, Bab XV-XVIII, kisah awal pengabaran Injil oleh Lembaga pengajaran Injil hingga masuk dan karya Jellesma bagi pertumbuhan Injil di Jawa Timur. Beberapa bab yang didedikasikan untuk Jellesma ini sangat membahagiakan karena selama ini tokoh besar sejarah GKJW ini hanya disinggung secara umum, tenggelam oleh nama besar Emde dan Coolen.
Baca Juga:  Jerobeam Mattheus, Tokoh GKJW di Masa Kebangkitan Nasional

Masing-masing bagian menyajikan data-data yang selain kaya juga telah dipilih mana yang relevan untuk kebutuhan sejarah GKJW. Bab satu ke bab berikutnya disusun sebisa mungkin secara kronologis peristiwa. Tentu saja kadang terjadi irisan antara suatu waktu dengan waktu yang lain dalam beberapa bab, karena sebuah peristiwa yang berbeda bisa terjadi dalam kurun waktu yang berbeda. Ada beberapa bab, seperti Bab I, III, IV (selain secara inheren dalam bab-bab lain) dikhususkan untuk menceritakan konteks, ketimbang peristiwa.

Sejarah awal GKJW yang dituliskan di buku ini menunjukkan bahwa cikal bakal GKJW merupakan realitas kultural yang lahir dari upaya menyebarkan Injil kepada wong-wong cilik. Cikal bakal GKJW yang dikisahkan dalam buku ini adalah orang-orang yang oleh banyak orang disebur sebagai kelompok pedalaman. Kelompok yang tidak banyak memiliki suara dalam kancah sosial politik masyarakatnya. Pengabaran Injil kepada kelompok ini menunjukkan upaya untuk membalik sejarah hanyalah milik orang-orang yang dekat dengan kekuasaan. Ketegangan yang muncul antara kelompok pengabar Injil awam dan komunitasnya dengan masyarakat sekitarnya (baik pemerintah kolonial, masyarakat Eropa pada umumnya, dan masyarakat bumiputera yang lain) tergambarkan sebagai upaya mencari keadilan bagi para wong cilik tersebut.

Sejarah masa lalu memiliki kecenderungan untuk mencatat kisah orang-orang besar dan berpengaruh, memiliki jabatan dan privilese pada kekuasaan – utamanya politik – di sebuah wilayah. Gambaran kisah pergulatan hidup wong-wong cilik dalam buku ini menunjukkan bahwa kisah mereka pun berharga, bahkan memberikan dampak besar bagi kehidupan sebuah gereja dengan jumlah warga terbesar se-Jawa Timur, GKJW. Orang kerap menghidupkan stereotip bahwa menjadi Kristen adalah menjadi antek penjajah. Tetapi perjuangan para cikal bakal GKJW dalam buku ini menunjukkan bahwa keberadaan mereka di bumi Jawa Timur justru merupakan upaya perjuangan melawan ketidakadilan kepada kelompok orang-orang yang menderita karena kolonialisme, sekaligus oleh kekuasaan-kekuasaan lokal yang sama-sama menekan.

Upaya pencarian keadilan tersebut juga sedikit banyak digambarkan dengan munculnya tokoh-tokoh yang selama ini tidak diperhitungkan dalam sejarah-sejarah nasional, maupun dalam buku-buku sejarah selama ini. Tokoh perempuan, tokoh-tokoh yang dianggap oleh masyarakat tidak berpendidikan, mantan bandit yang bertobat, dan orang-orang yang tanpa nama disuarakan melalui kisah-kisah buku ini.

Baca Juga:  Schmillinghausen, Desa Kelahiran Johannes Emde

Gaya penulisan yang dipilih sangat menarik. Narasi-narasi interpretatif (misalnya: ‘di lingkup rumahnya yang sederhana’ h. 159, ‘pada waktu melangkah masuk ke dalam Gedung gereja yang nyaman dan terang cahayanya’ h 302, dan lain-lain) yang disajikan dalam buku ini memberikan nuansa pembacaan yang membuat pembaca mampu memvisualisasikan kisah tersebut di panggung benak masing-masing pembaca. Hal tersebut membuat pembaca yang tertarik pada sejarah GKJW bisa dipastikan seperti dibawa ke dimensi yang disajikan oleh kisah tersebut. Namun, narasi-narasi interpretatif ini didasarkan pada sumber-sumber tertulis yang dihimpun, sehingga bukan sekadar interpretasi atas imajinasi, tetapi berangkat dari kesaksian sumber-sumbernya. Sehingga pembacaannya pun dibantu sekaligus sampai tahap tertentu diyakinkan.

Jelas dengan demikian bahwa buku ini lebih berangkat dari sumber-sumber tertulis. Tulisan ini adalah jenis tulisan sejarah yang lebih berangkat dari narasi formal ketimbang narasi pinggiran (Kurniawati, 2015: 81)Paradigma sejarah yang demikian memang memiliki kelebihan. Sejarah yang disusun akhirnya lebih sistematis dan dapat dirunut sumbernya. Tetapi, tentu saja pola penulisan sejarah yang demikian akhirnya lebih meletakkan dirinya pada komunitas yang memiliki tradisi tulis. Sedangkan, sejarah dalam masyarakat Jawa, khususnya konteks ‘pedalaman’ pada waktu itu, jelas lebih banyak menggunakan tradisi lisan. Sebagai pembanding, memori kolektif yang berkembang dalam tradisi lisan dan kemudian dipertemukan dengan tradisi tulis misalnya banyak dapat ditemukan dalam Alkitab atau Babad Tanah Jawi W. L. Olthof (1941, terj. edisi ke-3 oleh HR. Sumarsono, 2013). Kekhasan penggabungan kedua tradisi ini adalah data faktual dan folklore, kisah rakyat, menyatu saling berkelindan sehingga susah dibedakan antara fakta dan fiksi. Namun, di sisi lain memori kolektif yang menunjukkan pola berpikir komunitas masyarakat terwadahi. Sehingga, jika melihat perbandingan ini, maka jelas bahwa Tim Sejarah GKJW sedang berusaha untuk menulis sejarah berdasarkan tradisi penulisan sejarah akademis modern. Upaya yang demikian perlu disadari sekaligus diapresiasi.

Baca lanjutan tulisan ini

Renungan Harian

Renungan Harian Anak