Duh GUSTI, Ingkang Kawula Purugi Sinten Malih?

Mesin waktu seolah membawa kita kembali ke tahun 1880-an saat memasuki gedung gereja GKJW Jemaat Mojowarno. Tidak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Mimbar kayu berukir, deretan bangku jemaat dan jendela masih tetap asli seperti saat Paulus Tosari berkarya di jemaat ini. Mungkin hanya lonceng dan orgel yang harus “pensiun” dimakan usia.

Tiga larik tulisan huruf jawa menghiasi gevel gereja. Baris pertama dan kedua yang berbunyi: Duh GUSTI, ingkang kawula purugi sinten malih? Paduka kagungan pangandikanipun gesang langgeng.” dan “YOKANAN Bab:6:68.” seolah menjadi ekspresi kepasrahan Jemaat Mojowarno kepada Sang Maha Kasih. Sementara baris ketiga yang berbunyi: “Margane slamet rahe pamenthangan.” seolah menjadi ekspresi iman jemaat pedesaan ini.

Jaman boleh berubah, namun keberadaan gedung gereja GKJW Jemaat Mojowarno tampaknya tak lekang dimakan waktu. Seperti ajaran iman kepada Kristus yang diteruskan dari generasi ke generasi; yang dianugrahkan hanya karena kasihNya.

 

 

 

Bagikan Entri Ini:

Entri Serupa:

Pertemuan Raya Pemuda Rayon Kediri-Mataraman Pdt. Kristanto menyampaikan materi MaNgaLa Pertemuan Raya Pemuda (PRP) Rayon Kediri-Mataraman ini dilakukan mulai tanggal 01-03 Juli 2016 di GKJW ...
Dangdut Koplo, Musik Rohani Alternatif Dangdut koplo adalah salah satu dari aliran musik dangdut yang sedang trend di masyarakat. Beberapa tembang-tembang lawas dangdut booming lagi setelah...
Merayakan Hidup Dengan Bersyukur Hari Raya Undhuh-... GKJW Jemaat Mojowarno mengadakan hari raya undhuh-undhuh pada hari Minggu 13 mei 2018. Hari raya ini merupakan hari raya ucapan syukur dan persembahan...
GKJW Jemaat Ringin Pitu, Jemaat ke-167 GKJW Pelayan Harian Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (PHMA GKJW) pada hari Minggu 24 September 2017 meresmikan Calon Jemaat Ringin Pitu sebagai j...