Kebaktian Mengawali Masa Panen GKJW Wonorejo, Situbondo

Warga GKJW Jemaat Wonorejo, Situbondo beribadah di tengah sawah yang telah siap dipanen.

Masa Panen adalah masa yang dinanti-nantikan oleh para petani. Saat itu, para petani merasakan hasil jerih payahnya bekerja keras mengelola sawah. Akan tetapi, dibalik usaha keras manusia itu, ada campur tangan kuasa Allah pemilik alam semesta yang membuat para petani bisa merasakan hasil di masa panen.

Penghayatan iman seperti  inilah yang menjadi dasar warga jemaat GKJW Wonorejo Situbondo Majelis Daerah Besuki Timur melakukan “Kebaktian Mengawali Masa Panen”  pada tanggal 29 Maret 2021 lalu di sawah milik gereja. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan sebagai rangkaian kegiatan “Kebaktian Mengawali Masa Tanam” yang sudah dilakukan sebelumnya.

Kurang lebih 40 orang hadir dalam ibadah yang dilakukan di tengah sawah ini. Warga jemaat melantunkan pujian sukacita dan doa ucapan syukur kepada Allah. Pembacaan Firman diambil dari Pengkhotbah 3:1-2 bahwa untuk segala sesuatu di bawah langit semua ada waktunya.

Dalam khotbahnya, Pdt Ubin Maulana mengajak para petani supaya tetap semangat dan tetap bersyukur pada masa panen meski ada banyak kesulitan. Saat ini para petani harus mengeluarkan biaya perawatan sawah yang lebih besar karena adanya pembatasan pupuk bersubsidi. Akibatnya, para petani harus membeli pupuk non subsidi dengan harga 3x lipat dari harga pupuk bersubsidi.

Selain itu, terjadinya panen raya di banyak tempat juga membuat harga gabah saat ini menurun. Para petani juga harus rela  berat hasil panennya dikurangi karena curah hujan masih tinggi di masa panen ini.

Meski demikian,  panen ini tetap harus dihayati sebagai berkat Tuhan Allah yang harus diterima dengan penuh ucapan syukur. Semua ada waktunya dan Tuhan berkuasa atas semua itu. Kita umat kepunyaanNya hanya diminta untuk tetap tekun dan setia menjalankan segala tugas dan tanggung jawab dalam setiap proses kehidupan yang ada.

Baca Juga:  Muda, Beda, Menjadi Berkat

Melalui kebaktian ini, warga jemaat diajak pula untuk memiliki penghayatan iman yang membumi. Para petani diajak bersama-masa merasakan campur tangan kuasa Allah lewat alam/persawahan yang menjadi bagian kehidupan yang biasa mereka temui dalam keseharian. Dengan demikian, ada semangat untuk tetap menjaga dan merawat alam pemberian Tuhan  Allah dengan penuh tanggung jawab. Bukan hanya untuk demi keberlangsungan kehidupan saat ini saja, tetapi juga keberlangsungan hidup anak cucu nanti.

Kebaktian hari itu ditutup dengan pemotongan padi yang siap dipanen secara simbolis, lalu dilanjutkan dengan kegiatan makan bersama di tengah sawah.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •