Virus Corona: Sebuah Refleksi Teologis yang Belum Selesai

Hampir seperempat masa kulalui di tahun 2020 ini. Banyak hal menyukacitakan bagiku dan juga bagi GKJW… namun hal yang mencemaskan pun selalu mengikuti.

Beberapa rencana GKJW dengan para mitra di luar negeri turut kandas, seiring dengan jalan yang dilalui oleh kecemasan itu.

Rencana beberapa rekan untuk studi di Korea, pertemuan penting dengan beberapa tokoh pimpinan gereja di China, hingga program pertukaran guru TK di Jerman… semuanya berakhir dengan tanda tanya. Memang belum titik… namun tanda tanya itu seolah tanpa ujung… kecemasan sedang membusungkan dadanya.

Ah, sudahlah… semua itu hanya program yang bisa ditata lagi di waktu mendatang.

 

Tetapi bukan sesepele itu, ada hal lain… hal di sekitarku yang memprihatinkan…

Banyak saudara yang kini merasa sangat tercekam… aku juga…

Kesehatan tiba-tiba disadari menjadi satu-satunya hal yang paling berharga. Itu disandingkan dengan penyakit karna virus corona yang – katanya – dapat menyebabkan kematian mendadak.

Aku pun mengiyakan pendapat kawan-kawan, bahwa mengurangi kontak fisik dengan semua orang merupakan “jalan keselamatan” terhadap penyebaran virus itu.

Banyak nasihat berdasarkan penelitian medis yang mendukung sikap penolakan terhadap jabat tangan, cipika-cipiki, ataupun berbicara dalam jarak yang terlalu dekat. Bahkan ada juga saran, agar kita harus sebisa mungkin menghindar terhadap transaksi dengan uang kertas, sebab makhluk kecil itu kerasan bersarang di pori-porinya.

Sekali lagi aku berupaya untuk setuju, bahkan sangat percaya, dengan berbagai saran itu “demi” menjaga kesehatan.

 

Mungkin inilah saatnya, dimana ada waktu bagi kita untuk menjaga sebuah persekutuan dengan jalan menghindar dari aktifitas kontak fisik.

Semula hal itu memang membingungkanku…

Betapa tidak… sebab ketika akan memimpin sebuah ibadah minggu, aku harus bersalaman dalam prosesi serah-terima Alkitab. Setelah usai ibadah pun, aku seharusnya menyambut warga jemaat dengan berjabat tangan.

Baca Juga:  Sehat Secara Mental Ditengah Pandemi Covid-19

Apakah itu benar-benar harus kuhindari…? Termasuk kepada isteriku…? Termasuk kepada anak-anakku…? Bukankah warga jemaat juga adalah anak-anakku, ketika mereka pun menganggapku sebagai bapa pastoral mereka…? Sekali lagi:“demi” kesehatan.

Aku masih merenungkannya… hingga kini… bagaimanakah sebaiknya?

Tetapi yang jelas aku masih mengasihi mereka tanpa harus bersentuhan dengan mereka.

Tuhan pun tahu itu.

 

Kenyataan inilah yang semakin membuatku mendalami doa-doa harianku.

Tuhan menghendaki aku supaya meminta, sekaligus berupaya… seperti nasihat Bapa Benediktus dengan “Ora et Labora”-nya sejak awal abad ke-6.

Aku pun percaya bahwa doaku selalu didengar dan upayaku selalu dihargai oleh Bapa Sorgawi.

Sekali lagi… aku hanya mampu berdoa dan berupaya hidup sehat: entah dengan wedang jahe – seperti kata ilmuwan dari Jawa, entah dengan wedang bawang putih – seperti kata ilmuwan dari China.

Usaha-usaha semacam itu yang hanya kubisa… selebihnya… apa lagi…?

 

Itulah isi doaku kepada Sang Kristus, yang selalu menguatkanku, bahwa: banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:21).

Maka, bersama Paul Gerhardt, aku ingin menyenandungkan lagu yang semula berjudul Befiehl du deine Wege, yang
hanya mampu kunyanyikan melalui Kidung Jemaat 417.

Bait 1
Serahkan pada Tuhan seluruh jalanmu;
kuatirmu semua ditanggungNya penuh.
Sedangkan angin lalu dituntun tanganNya,
Pun jalan di depanmu, Tuhan mengaturnya.

Bait 8
Alihkanlah, ya Tuhan, segala kemelut
dan ajar kami pula berjuang bertekun.
Setia Kau menjaga, membimbing umatMu
Di dalam perjalanan menuju sorgaMu.

 

Pdt.Budi Cahyono

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •