LDR: Sebuah Refleksi di Tengah Pandemi

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu… Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Yesus Kristus merindukan kamu sekalian”.

Filipi 1: 1,8 diatas adalah ayat-ayat yang melintas di pikiran saya ketika membaca “Sebuah Refleksi Teologis Yang Belum Selesai milik Pdt. Budi Cahyono yang berkaitan dengan semakin mewabahnya virus Corona. “Aku masih mengasihi mereka tanpa harus bersentuhan dengan mereka. Tuhan tahu itu”, adalah kata-kata yang terngiang sepanjang malam hingga mentari menjelang.

Kerinduan, itulah yang bisa saya tangkap setelah menuntaskan kata demi kata yang tertuang dalam tulisan tersebut. 16 Maret 2020, adalah hari pertama dimana saya akhirnya ‘manut’ dengan apa yang pemerintah perintahkan melalui kampus kepada seluruh mahasiswa untuk tidak melakukan aktivitas apapun di dalam kampus dan diam saja di rumah atau di kos sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Pemberontakan jelas masih membara dalam hati, bagaimana tidak, 16 Maret adalah hari dimana seharusnya saya beserta teman-teman kampus ‘mengeksekusi’ kegiatan seminar nasional yang akan dihadiri oleh 1200 lebih orang. Banyak hal yang sudah saya dan teman-teman panitia lain lakukan, bukan hanya tenaga dan pikiran yang tercurah, namun hal-hal kasat mata yang sangat kentara, seperti makanan dan snack, tiket pembicara sertifikat peserta, dekorasi panggung, para pengisi acara tambahan semuanya ‘sudah ditangan’, bahkan dua pembicara kondang dari Jakarta dan Yogyakarta sudah hadir di Salatiga satu hari sebelum kegiatan, parahnya lagi, saya sudah membatalkan kehadiran sayaa  di acara wisuda teman yang tidak sengaja jatuh ditanggal itu,

Tahu gitu kan mending aku datang ke wisudamu, Kak, terus langsung pulang ke rumah”, gerutu saya lewat telepon kepada yang wisuda esok hari beberapa saat setelah saya selesai membaca pengumuman dalam Whatsapp Grup panitia. Marah, kecewa, dan geram bercampur menjadi satu.

Kini, sudah hampir dua bulan menjalani himbauan social distancing dan study or work from home seraya mengamati perkembangan pandemi yang sangat tidak terduga ini membuat saya memahami apa yang salah satu teman panitia katakan ketika kami berkumpul esok harinya di tempat yang ‘aman’ dari pantauan kampus, begini,

“Ya memang acaranya batal, kalian jangan sedih terus-terusan gini, harusnya kalian bangga, kita udah berkorban untuk menyelamatkan nyawa orang banyak. Nasi kotak dan snack yowis dibagi-bagi kemarin ke orang-orang dijalan, kurang berguna apa kita dan kegiatan kita? Ya to?”Melihat terus membesarnya angka dari jumlah korban yang terkonfirmasi positif terjangkit Covid-19 ini membuat saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri,

Yowislah, ate piye maneh. Hidup terasa menyedihkan jika terus-terusan memosisikan diri sebagai korban, pengorbanan itu seharusnya menjadikanmu pemenang, bukan pecundang”.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi itu kabarnya ditulis ketika Paulus sedang berada dalam penjara. Kekacauan yang terjadi dalam jemaat itu membuat Paulus yang merasa memiliki tanggung jawab untuk mendamaikan keadaan itu namun tidak bisa melawan keadaan yang menawannya. Ia tertawan dalam penjara yang akhirnya memaksa Sang Rasul hanya bisa ‘menilik’ orang-orang terkasih dan kesayangannya di kota Filipi melalui rangkaian kata serta nasihat dalam secarik surat. Jeruji besi (mungkin) serta tembok yang menjadi pembatas Paulus untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan dunia membuatnya harus menjalani bukan hanya social distancing, namun juga LDR (Long Distance Relationship)  atau hubungan jarak jauh dengan jemaat-jemaat yang ia kasihi dan mengasihi dia.

Berhari-hari setelah 16 Maret itu, setiap kita mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi ini, manut dengan anjuran kerja di rumah, belajar di rumah, bahkan ibadah di rumah. Setiap kita juga mungkin sudah  merasakan LDR (Lesek Disiksa Rindu, adalah plesetan dalam bahasa Jawa, yang seringkali diungkapkan di sosial media) dengan banyak hal yang biasa kita lakukan atau temui di  keadaan yang ‘normal’ seperti biasanya. Pendeta rindu bersalaman dengan jemaat saat usai ibadah Minggu, para majelis rindu bertemu dan pelayanan saat patuwen, para guru rindu berjabat tangan; memberikan PR; dan memeriksa buku tiap siswanya, para pedagang rindu bernegosiasi dengan calon pembeli, petani juga rindu berbincang dengan petani lain saat makan siang di pondok, para seniman rindu bertatap muka dengan para penggemarnya, dan saya, mahasiswa, saya juga rindu terhadap suasana kelas, suasana rapat, suasana kerja kelompok, pun rindu pelayanan dan ‘tos’ dengan para adik-adik sekolah minggu.

Durasi masa tawanan Paulus memang tidak disebutkan, namun hal itu memiliki ‘masa aktif’. Setelah masa aktif itu berakhir, Alkitab mencatat bahwa Paulus menemui sahabat, saudaranya, serta rasul-rasul lainnya bercanda tawa kembali dengan mereka, sebelum akhirnya ia meninggalkan kota Filipi dan melanjutkan perjalanannya kembali menuju sebuah kota bernama Tesalonika. Ya, seperti apa yang Pengkhotbah katakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Akhirnya, dengan melihat ulang foto-foto kebersamaan saya dengan teman-teman panitia, saya dengan adik-adik sekolah minggu, foto wisuda teman saya, dengan mendengarkan suara lembut Mbak Raisa lewat gadget saya saat bersenandung lagu “LDR”, saya ‘kunjungi’ dan resapi setiap kenangan itu, dengan tetap yakin kepada Dia, bahwa Dia sudah menetapkan masa aktif dari semuanya ini.

“Takkan ada rindu yang terus menggebu
Kau akan kembali, Bersamaku”


Oktavia Yermiasih
Warga GKJW Jemaat Pronojiwo, Lumajang
Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW, Salatiga

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 59
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •