Judul: Reset and Repost
Tahun Gerejawi: Bulan Marturia dan Diakonia
Tema: Berani Bersaksi
Bacaan: Keluaran 34: 1-9
Ayat Hafalan: “Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan penyelamatan-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.” (Mazmur 71:15)
Lagu Tema: Edward Chen – Hatiku Percaya
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Keluaran 34:1-9 berkisah tentang kesempatan kedua dan pemulihan hubungan antara Allah dan umat Israel yang mengalami kegagalan dalam menjaga kesetiaan dan ketaatannya kepada perintah Allah. Sebelumnya, Bangsa Israel telah melanggar perjanjian dengan menyembah patung anak lembu emas. Kesempatan kedua dan pemulihan hubungan itu diberikan oleh Allah agar terjadi perdamaian antara Allah dan Bangsa Israel. Atas dasar perdamaian tersebut, Allah memerintahkan Musa untuk memahat loh batu yang baru, dan Allah sendiri yang akan menuliskan kembali Sepuluh Perintah-Nya di atasnya. Ini menunjukkan Kemahakuasaan Tuhan Allah. Allah tidak membiarkan kegagalan manusia membatalkan janji-Nya. Dia yang Mahakuasa memilih untuk tetap memimpin kehidupan umat-Nya dan membarui perjanjian-Nya.
Saat Musa berada di gunung, Tuhan menyatakan sifat-sifat-Nya yang luar biasa: pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Ini adalah karakter Allah yang memimpin umat-Nya. Dia adalah Pemimpin yang besar dalam keadilan (menghukum dosa), tetapi jauh lebih besar dalam anugerah (memberi pengampunan).
Setelah memahami Allah, Musa langsung bersujud dan mengajukan permohonan yang berani: “…berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami…” Musa mengakui bahwa Israel adalah “bangsa yang tegar tengkuk” (keras kepala dan bandel), tetapi ia tahu bahwa satu-satunya harapan mereka adalah Pimpinan Tuhan yang nyata setiap hari. Permintaan ini adalah kesaksian Musa bahwa ia hanya mengandalkan Tuhan. Ia memohon:
- Pimpinan Tuhan (berjalan di tengah kami): Kami butuh Engkau hadir, memimpin langkah kami.
- Pengampunan (ampunilah kesalahan dan dosa kami): Kami tidak layak, tapi kami mohon belas kasihan-Mu.
Dengan mengandalkan Tuhan, Musa merasakan secara nyata kasih sayang dan kesetiaan Tuhan dalam memelihara kehidupan Bangsa Israel, termasuk kehidupan Musa sendiri – sebagai pemimpin Bangsa tersebut. Melalui sepuluh hukum yang kembali ditetapkan dan ditegaskan oleh Tuhan dan ditulis dalam loh batu yang baru, Tuhan berjanji untuk menjaga, memelihara dan menyelamatkan hidup mereka. Asalkan mereka setia dan tidak lagi mendua.
Refleksi Untuk Pamong
Kisah Keluaran 34:1-9 secara indah menegaskan bahwa Tuhan Allah Mahakuasa dan Pemimpin sejati dalam hidup umat-Nya, sebuah kesaksian yang harus kita sampaikan dengan yakin kepada anak-anak. Kegagalan Bangsa Israel menyembah anak lembu emas tidak membatalkan janji-Nya, melainkan justru menyoroti kemahakuasaan-Nya dalam memberikan kesempatan kedua melalui pembaruan perjanjian. Kita sebagai pelayan dipanggil untuk meneladani dan menceritakan sifat-sifat-Nya: pengasih, penyayang, dan berlimpah kasih setia, menunjukkan bahwa anugerah-Nya jauh lebih besar daripada “dosa tegar tengkuk” kita atau anak-anak didik kita. Mari kita berani memohon seperti Musa, “berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami,” karena satu-satunya harapan untuk menjaga, memelihara, dan menyelamatkan hidup jemaat kecil kita adalah Pimpinan Tuhan yang nyata setiap hari, bukan kekuatan atau kesetiaan kita sendiri.
Tujuan
Anak menceritakan kepada salah satu temannya, satu pengalaman singkat tentang pimpinan Tuhan dalam hidupnya.
Alat Peraga
- Dua Loh Batu Baru: Dua buah loh batu sederhana (bisa dari kardus yang dicat abu-abu) yang di dalamnya terdapat tulisan Kesepuluh Firman/10 Hukum Taurat berdasarkan Kitab Keluaran 20.
- Kertas Sifat Allah: Kertas-kertas kecil berisi sifat-sifat Tuhan.
Pendahuluan
Siapa di sini yang pernah bikin janji tapi gagal menepatinya? (Contoh: Janji belajar rajin, janji pulang tepat waktu, janji tidak akan telat lagi). Jujur! Angkat tangan! Wajar, karena kita semua sering gagal…
Hari ini kita bicara soal kegagalan yang super besar! Bangsa Israel, setelah melihat semua mukjizat, hanya butuh beberapa hari di kaki Gunung Sinai untuk melanggar janji mereka kepada Tuhan. Mereka membuat patung anak lembu emas dan bilang, ‘Inilah Tuhan yang mengeluarkan kita dari Mesir!’ Mereka merusak janji (perjanjian) mereka sendiri. Mereka memang gagal, tapi Tuhan tidak pernah gagal! Justru di momen kegagalan itulah, kita melihat kehebatan Tuhan yang sebenarnya.
Inti Penyampaian
Perhatikan, perjanjian sudah rusak total. Tapi apa yang Tuhan suruh Musa lakukan? ‘Pahatlah dua loh batu yang baru, sama seperti yang dahulu.’ (Mainkan alat peraganya). Ini adalah tanda kemahakuasaan Tuhan. Dia yang Maha Segalanya, tidak perlu kita untuk sempurna. Kemahakuasaan-Nya terlihat bukan hanya saat menciptakan dunia, tapi saat Dia memilih untuk memperbaiki kegagalan kita. Ini seperti kamu merobek tugasmu, tapi gurumu bilang, “Oke, ambil kertas baru, saya kasih kamu nilai baru, tapi kali ini saya akan mendampingimu menulisnya!”
Coba analisis, apa bedanya kalau Tuhan langsung menghukum semua orang Israel saat itu, dengan keputusan-Nya untuk memahat loh batu yang baru? Manakah yang lebih menunjukkan Kemahakuasaan? Kenapa?” (Ajak 2-3 remaja menjawab).
Saat Musa ada di gunung, Tuhan memproklamasikan jati diri-Nya. Ini bukan daftar peraturan, tapi daftar sifat-sifat-Nya. Dia berkata: pengasih, penyayang, panjang sabar, berlimpah kasih setia… tapi juga tidak membiarkan yang bersalah luput dari hukuman.”
Pikirkan seorang pemimpin sekolah yang baru. Kalau dia hanya baik (kasih setia) tapi tidak adil (menghukum dosa), sekolah akan kacau. Kalau dia hanya keras (adil) tapi tidak mengampuni, semua orang akan takut. Tuhan itu unik: Dia Pemimpin yang adil sekaligus Pemimpin yang paling mengasihi di alam semesta! Inilah kenapa kita mau dipimpin oleh-Nya.
Musa, setelah mengerti betapa hebatnya karakter Tuhan, langsung sujud dan mengajukan permohonan yang berani: ‘…berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami…’ Musa tahu Israel ‘tegar tengkuk’ (keras kepala). Dia tidak bilang, ‘Tuhan, kuatkanlah kami.’ Tapi, ‘Tuhan, Pimpinlah kami.’ Permintaan ini adalah kesaksian Musa! Dia sedang bersaksi: ‘Aku tidak mengandalkan kekuatanku (atau kekuatan Israel), aku hanya mengandalkan Pimpinan-Mu.’ Pimpinan Tuhan itulah satu-satunya kunci kemenangan kita melawan sifat ‘tegar tengkuk’ kita di sekolah, di rumah, dan saat scroll HP.
Sama seperti Israel, kita juga sering ‘tegar tengkuk’. Kita janji baca Alkitab, eh lupa. Kita janji tidak akan bergosip, eh keceplosan. Tapi hari ini, kita punya kabar baik: Tuhan yang Mahakuasa, Pemimpin yang berlimpah kasih setia, mau membarui perjanjian dengan kita, hari ini juga!
Tuhan tidak hanya mau jadi ‘Tuhan’ di hari Minggu. Dia mau memimpin (berjalan di tengah-tengah) PR-mu yang sulit, circle pertemananmu yang beracun, passion-mu, dan setiap keputusan yang kamu buat. Tugas kita adalah bersaksi dengan tindakan dan perkataan bahwa kita bergantung pada pimpinan-Nya.
Kita memang penah gagal dan mungkin suatu saat nanti akan mengalami kegagalan lagi dan lagi, namun tetaplah bergantung kepada pimpinan Tuhan, supaya saat kita gagal, Ia bersedia me- ‘Reset’ hidup kita dan memampukan kita untuk me- “Repost” karakter-Nya dalam tingkah laku dan perbuatan kita setiap hari, sebagai wujud nyata keberanian kita dalam bersaksi dan membagikan kasih Allah bagi banyak orang. Amin.
Reset : Menghapus yang buruk dan memulai kembali yang baru (Memulai ulang)
Repost: Menceritakan, membagikan, menyebarkan sesuatu untuk dilihat orang lain.
Aktivitas
Rencana ‘Proyek Bersaksi’
Secara berkelompok, minta mereka merancang (membuat) sebuah “Misi Kesaksian 7 Hari” yang sangat sederhana, dengan fokus pada Pimpinan Tuhan. Contoh: “Proyek Sabar” (Bersaksi kesabaran di rumah), “Proyek Jujur” (Bersaksi kejujuran di sekolah). Mereka harus menuliskan target spesifik karakter baik apa yang mau mereka lakukan dan jadikan proyek untuk bersaksi. Selain itu, minta mereka untuk menyusun sebuah rencana bagaimana mereka akan berdoa memohon Pimpinan Tuhan (bukan kekuatan sendiri) untuk menjalankan misi tersebut.