Nothing is Impossible Tuntunan Ibadah Remaja 14 Juni 2026

Tahun Gerejawi: Penutupan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Tema: Tuhan Maha Kuasa
Judul: Nothing is Impossible

Bacaan: Kejadian 18:1-15
Ayat Hafalan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Lagu Tema: JanjiMu Seperti Fajar

Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Kisah ini terjadi di tengah kehidupan Abraham dan Sara, bertahun-tahun setelah Tuhan berjanji bahwa mereka akan memiliki keturunan (Kejadian 12). Mereka sudah tua dan secara logika manusia, mustahil untuk memiliki anak.

  1. Perjumpaan yang Tak Terduga (Ayat 1-8):
    Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa tiga orang tamu. Abraham dan Sara segera menunjukkan keramahan yang luar biasa—ciri khas umat percaya—dengan menyiapkan hidangan terbaik. Ini mengajarkan bahwa berkat Tuhan sering datang dalam bentuk yang tak terduga, dan iman harus diwujudkan melalui tindakan kasih.
  2. Janji yang Menggemparkan (Ayat 9-10):
    Salah satu tamu (yang diyakini sebagai Tuhan) mengulang janji yang sama: “Tahun depan, Sara, isterimu, akan mempunyai anak laki-laki.” Janji ini datang pada waktu yang menurut Tuhan adalah waktu yang tepat, bukan menurut waktu yang diharapkan Abraham dan Sara (yang sudah menunggu puluhan tahun).
  3. Respon Manusia (Ayat 11-12):
    Sara, yang mendengarkan dari balik kemah, tertawa dalam hati. Tertawa di sini bukan tawa sukacita, melainkan tawa ketidakpercayaan yang bercampur keputusasaan, karena ia dan suaminya sudah terlalu tua (Ayat 11: “Telah putus haid”). Tantangan untuk Remaja: Sara terfokus pada keterbatasan dirinya (“Mungkinkah aku yang sudah tua ini…”), bukan pada Kemahakuasaan Tuhan.

Ayat 14 menjadi pertanyaan kunci dari Tuhan, Tuhan segera menegur Sara melalui pertanyaan yang menjadi inti refleksi kita: “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” (Ayat 14a)

Pertanyaan ini menegaskan bahwa Tuhan pasti memberikan berkat di tengah keluarga, sesuai dengan waktu-Nya harus didasarkan pada Kemahakuasaan Tuhan, bukan pada logika atau keterbatasan kita. Tuhan memastikan bahwa Dia akan kembali sesuai waktu-Nya yang tepat, dan janji itu pasti digenapi.

Refleksi Untuk Pamong
Sebagai Pamong, kita perlu memimpin Remaja untuk mengevaluasi sikap diri mereka saat menantikan janji dan jawaban doa. Sara tertawa karena ragu (ayat 12), berfokus pada keterbatasannya yang sudah tua. Remaja seringkali melakukan hal serupa, meragukan janji Tuhan karena terhalang oleh keterbatasan atau tantangan mereka sendiri. Tugas kita adalah membantu Remaja menggantikan ‘keraguan’ itu dengan keyakinan penuh pada Kemahakuasaan Tuhan. Ingatkan mereka bahwa janji dan berkat Tuhan akan datang, bukan menurut waktu instan yang kita inginkan, melainkan “Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.” Karena sejatinya, masa penantian adalah ujian kesabaran yang penting. Dengan merenungkan ayat 14, kita mendorong Remaja untuk mengalihkan fokus dari kelemahan diri mereka kepada kesetiaan dan kuasa Tuhan, yang sanggup melakukan yang mustahil.

Tujuan
Anak mengevaluasi sikap dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan iman dan kesabaran dalam menantikan jawaban doa dan Janji Tuhan.

Alat Peraga:
Papan/Kertas bertuliskan “Tidak Mungkin” dan “Mungkin”

Pendahuluan
Pernahkah teman-teman tertawa bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya? Misalnya, ada teman berkata, “Aku nanti bisa jadi juara nasional!” dan kita spontan tertawa karena merasa, “Ah, nggak mungkin!” Nah, di Alkitab pun ada seseorang yang tertawa seperti itu — namanya Sara, istri Abraham. Tapi yang ia tertawakan bukan manusia, melainkan janji Tuhan sendiri. Kadang, tanpa sadar, kita juga seperti Sara. Kita “tertawa dalam hati” karena merasa janji Tuhan terlalu besar, terlalu indah, atau terlalu mustahil bagi kita.

Apa yang terasa mustahil dalam hidup kita? (Minta anak-anak menjawab berdasarkan pengalaman hidup mereka masing-masing).

 Ajak anak-anak bermain “Mungkin” – “Tidak Mungkin”, Pamong menyebutkan beberapa kalimat dan biarkan remaja menilai apakah kalimat atau Statement tersebut mungkin atau tidak mungkin terjadi.

Inti Penyampaian
Kisah dalam Kejadian 18 ini terjadi ketika Abraham dan Sara sudah sangat tua. Tuhan pernah berjanji bahwa mereka akan memiliki anak, tapi waktu berjalan bertahun-tahun dan janji itu belum juga terjadi. Secara logika, mereka sudah tidak mungkin punya keturunan. Namun pada suatu hari, Tuhan datang dalam rupa tiga orang tamu. Abraham yang sedang duduk di depan kemahnya segera menyambut mereka dengan penuh keramahtamahan. Ia menyiapkan makanan, menyuruh Sara membuat roti, dan menyembelih anak lembu terbaik untuk para tamu itu. Menariknya, Abraham belum tahu bahwa tamu itu adalah Tuhan sendiri. Dari sikapnya kita belajar bahwa berkat Tuhan sering kali datang dalam bentuk yang tak terduga, dan iman yang sejati harus tampak melalui tindakan kasih dan pelayanan yang tulus.

Kemudian salah satu tamu itu menyampaikan kabar yang mengejutkan: “Tahun depan, Sara, isterimu, akan mempunyai anak laki-laki.” (ayat 10). Bayangkan reaksi Abraham dan Sara. Mereka berdua sudah lanjut usia, Sara bahkan sudah tidak lagi mengalami masa haid. Mendengar janji itu, Sara tertawa dalam hatinya. Tapi tawanya bukan tawa bahagia—itu adalah tawa ketidakpercayaan, tawa keputusasaan. Ia berkata dalam hati, “Mungkinkah aku yang sudah tua ini akan bersukacita lagi?” (ayat 12). Dalam momen ini, Tuhan menegur Sara dengan satu pertanyaan yang menjadi pusat iman kita: “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” (ayat 14). Pertanyaan itu bukan hanya untuk Sara, tapi juga untuk kita hari ini.

Berapa banyak di antara kita yang lebih sering memandang keterbatasan diri daripada memandang kuasa Tuhan? Kita merasa tidak mampu berubah, tidak bisa menghadapi keluarga, tidak bisa memperbaiki hubungan, tidak bisa sukses di sekolah, atau tidak mungkin mengalahkan rasa takut dan gagal. Kita tertawa dalam hati seperti Sara—karena lupa bahwa Tuhan yang berjanji adalah Tuhan yang Mahakuasa. Kadang Tuhan tidak menjawab doa kita segera, bukan karena Ia tidak sanggup, tetapi karena Ia tahu waktu yang paling tepat untuk menjawabnya. Janji Tuhan tidak pernah salah waktu. Ia selalu menepatinya pada saat yang paling baik.

Di bagian akhir kisah ini, Tuhan tidak membatalkan janji-Nya hanya karena Sara sempat tidak percaya. Sebaliknya, Tuhan tetap menepati firman-Nya. Beberapa waktu kemudian, Sara benar-benar melahirkan seorang anak laki-laki, Ishak, yang namanya berarti “ia tertawa.” Tuhan mengubah tawa ketidakpercayaan menjadi tawa sukacita. Ia mengubah rasa mustahil menjadi nyata. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak hanya menegur kita ketika iman kita lemah, tapi Ia juga sanggup memulihkan kita dan membuat kita tertawa karena sukacita. Amin.

Aktivitas
Setiap orang ambil selembar kertas kecil dan tulislah satu hal yang sekarang terasa “mustahil” bagi kalian — sesuatu yang sedang kalian doakan tapi belum terjawab. Lalu, di bawahnya tulis kalimat pendek ini:

“Tuhan, aku percaya tidak ada yang mustahil bagi-Mu.”

Lipat kertas itu, simpan di Alkitab atau buku catatan kalian. Setiap kali kalian mulai ragu, buka lagi kertas itu dan ingat: Tuhan yang menepati janji kepada Abraham dan Sara adalah Tuhan yang sama yang bekerja dalam hidup kalian.

Melalui kegiatan sederhana ini, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri, belajar percaya, dan meneguhkan iman bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kiranya tawa kita hari ini bukan lagi tawa keraguan, tapi tawa penuh sukacita karena percaya pada kuasa dan waktu Tuhan.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak