Tetap Rendah Hati Tuntunan Ibadah Remaja 3 Desember 2023

20 November 2023

Tahun Gerejawi: Advent 1
Judul: Tetap Rendah Hati
Tema: Perumpamaan Yesus

Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
Ayat Hafalan:Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 18:14b)

Lagu Tema: Dia Harus Makin Bertambah

Tujuan:

  1. Anak dapat menunjukkan perbedaan sikap orang Farisi dan pemungut cukai ketika berdoa di Bait Allah.
  2. Anak dapat menyadari bahwa kerendahan hati adalah sarana untuk mendekat kepada Tuhan.
  3. Anak dapat menerapkan sikap rendah hati ketika menghadap Tuhan.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Pada perikop ini Yesus mengingatkan orang-orang yang selalu merasa benar sehingga justru menghambat pertumbuhan rohaninya. Dengan perumpamaan, Yesus menunjukkan dua hal yang bertentangan yaitu perasaan sebagai orang saleh yang sudah melakukan hal-hal benar dan sebaliknya perasaan sebagai orang berdosa yang melakukan banyak kesalahan. Perasaan sebagai orang saleh diwakili oleh orang Farisi dan perasaan orang berdosa diwakili oleh pemungut cukai.

Orang Farisi berdoa dengan penuh syukur atas kesalehan dan kebenaran kehidupan rohaninya. Ia bangga karena merasa tidak memiliki keinginan untuk berbuat jahat.  Ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang melakukan perbuatan jahat dan menganggap dirinya jauh lebih baik. Ia juga rajin berpuasa dan memberikan sepersepuluh dari penghasilannya. Orang Farisi ini merasa bahwa dirinya sudah selalu melakukan hal yang benar, namun tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kesombongan dalam doanya. Ia merasa dengan usaha dan perbuatannya sendiri maka ia menjadi istimewa. Tidak lagi perlu merasa rendah di hadapan Allah. Ia merasa menjadi seseorang yang layak untuk mendapatkan karunia Allah karena usahanya sendiri yang telah melakukan pekerjaan-pekerjaan baiknya, bukan karena belas kasihan Allah. Dengan kesombongan ini juga orang Farisi menghina pemungut cukai yang dianggap sebagai orang yang lebih rendah darinya.

Berbeda dengan orang Farisi,  pemungut cukai adalah seorang yang menyadari bahwa ia adalah seorang yang berdosa. Ia merasa bahwa dirinya tidak layak di hadapan Allah karena apa yang telah ia lakukan. Ia benar-benar menyadari kesalahan dan dosa-dosanya, karena itu ia merasa pasrah kepada Allah. Pemungut cukai ini memohon belas kasihan Allah kepadanya. Dengan sikapnya ini ia telah menyatakan pertobatannya dan berpaling dari dosa menuju kepada Allah. Ia merasa tidak berdaya dan menyatakan kebergantungannya kepada Allah. Dengan begitu ia terbuka atas kasih karunia Allah kepadanya.

Dari perumpamaan Yesus ini disampaikan bahwa sikap orang Farisi dengan kesombongan rohani yang dilakukannya membuat dirinya tidak dibenarkan. Sedangkan pemungut cukai yang telah mengakui kesalahan dan dosanya sehingga hanya dapat bergantung atas belas kasihan dan karunia Allah saja justru yang dibenarkan. Perumpamaan ini ditutup dengan ungkapan yang terbalik dari Yesus, “barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Melalui perumpamaan ini kita diajak untuk tidak bersikap sombong rohani atas perbuatan baik yang telah kita lakukan. Melainkan mau mengakui kesalahan dan dosa serta berbalik kepada Allah, bergantung pasrah kepadaNya, karena kita hidup hanya dari belas kasihan dan karunia Allah saja.

Pendahuluan
Pernahkah teman-teman mendengar istilah “Merendahkan diri, meninggikan mutu.” ? Kira-kira apa makna dari istilah itu ya? (Pamong memberi kesempatan kepada remaja untuk menyampaikan pendapatnya tentang istilah ini). Lalu bagaimana perasaan teman-teman apabila menemui orang yang seperti istilah tersebut? (Pamong memberi kesempatan kepada remaja untuk menyampaikan perasaannya kepada orang tersebut).

Cerita
Sebagai orang yang percaya, tentu kita pernah berdoa dan melakukan pelayanan kepada sesama dan jemaat. Pelayanan di gereja dapat kita lakukan misalnya dengan menyampaikan Firman Tuhan di Kebaktian Anak, mengisi vocal group dalam kebaktian, membawakan kantong persembahan dalam kebaktian atau banyak lagi bentuk pelayanan yang lain.

Di dalam Lukas 18:9-14 sudah kita baca perumpamaan Tuhan Yesus tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai yang berdoa di Bait Allah. Orang Farisi menyampaikan doanya yang berisi tentang kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di dalam kehidupannya. Orang Farisi itu merasa dirinya orang yang paling suci karena telah melakukan banyak kebaikan. Ia telah melakukan puasa dua kali seminggu dan selalu memberikan persembahan sebesar sepersepuluh dari penghasilannya. Orang Farisi merasa bersyukur karena ia tidak sama dengan orang lain seperti perampok, orang lalim, pezinah atau bahkan pemungut cukai yang ada di dekatnya pada waktu itu. Tanpa disadari Orang Farisi ini sebenarnya sedang menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Ia merasa bahwa ia sudah menjadi orang yang paling benar sehinggga dengan kebaikannya itu ia sudah sangat layak di hadapan Allah. Tidak perlu lagi belas kasihan Allah karena dengan usahanya sendiri ia dapat berbat baik. Orang Farisi menyampaikan doanya dengan tinggi hati.

Sedangkan Pemungut Cukai menyampaikan doanya yang berisi tentang ketidaklayakan dirinya di hadapan Tuhan. Ia menyesal akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di dalam kehidupannya. Ia bahkan tidak berani menengadah ke langit. Karena merasa bahwa telah banyak melakukan dosa dan kesalahan, ia merasa tidak layak di hadapan Allah. Ia memohon belas kasihan Tuhan untuk berkenan mengampuni dirinya yang penuh dengan dosa dan kesalahan. Hanya dengan belas kasihan Tuhan saja ia akan memiliki kekuatan untuk bertobat dan menjalani kehidupannya yang baru. Pemungut Cukai menyampaikan doanya dengan rendah hati.

Dengan sikap doa yang dilakukan oleh Oran Farisi dan Pemungut Cukai, ternyata Tuhan Yesus menyampaikan bahwa Pemungut Cukai dengan doanyalah yang dibenarkan. Sedangkan Orang Farisi yang sudah merasa paling benar ternyata tidak dibenarkan. Mengapa begitu? Karena Orang Farisi menaikkan doanya dengan tinggi hati. Sedangkan Pemungut Cukai menaikkan doanya dengan kerendahan hatinya. Maka Tuhan membenarkan orang yang rendah hati dan memberi belas kasihan kepadanya.

Teman-teman, kita dapat mengambil teladan dari perumpamaan disampaikan Tuhan Yesus ini. Bahwa apapun yang kita lakukan kita harus tetap rendah hati. Di dalam doa dan pelayanan, kita tidak boleh merasa sombong dan merasa bahwa kita adalah yang paling baik. Tentu kita harus tetap melakukan yang terbaik dari kemampuan kita. Tetapi kita harus menyadari bahwa kita masih sering melakukan kesalahan dan dosa. Karena itu kita harus selalu mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Belas kasihan Tuhan selalu kita butuhkan di dalam kehidupan kita. Ketika kita mau mengakui segala dosa dan kesalahan kita di dalam kerendahhatian kita, maka Tuhan akan mengampuni dan membenarkan kita. Selanjutnya kita harus meninggalkan dosa dan kesalahan kita dan senantiasa hidup di dalam tuntunan Tuhan. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 14b, “… Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Aktivitas
Sediakan beberapa kertas dengan berisi tabel seperti di bawah ini. Ajak remaja untuk membuat daftar yang menunjukkan sikap sikap tinggi hati ataupun rendah hati yang dimilikinya. Ajak remaja untuk mengisinya dengan jujur dan menyimpannya sebagai pengingat pribadi untuk memperbaiki sikap tinggi hatinya dan selalu bersikap rendah hati.

No Sikapku Yang Tinggi Hati Sikapku Yang Rendah Hati
Contoh Kepandaianku membuatku sombong Menawarkan bantuan kepada yang membutuhkan
1  

 

2  

 

3  

 

4  

 

5  

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak