Kebangkitan Kristus Memperdamaikan yang Tercerai-berai Khotbah Paskah 12 April 2020

Minggu Paskah
Stola Putih

Bacaan 1         :  Yeremia 31 : 1 – 6
Bacaan 2         : 
Kolose 3 : 1 – 4 
Bacaan 3         :  Matius 28 : 1 – 10

Tema Liturgis :  Mengabarkan Kebangkitan Kristus sebagai Penggenapan Perjanjian Baru
Tema Khotbah:
Kebangkitan Kristus Memperdamaikan yang Tercerai-berai

 

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 31 : 1 – 6

Kitab Yeremia ditujukan kepada umat Israel yang sedang berada di pembuangan (Yer. 1:3). Kehadiran Yeremia sebagai seorang nabi Israel tentu saja memiliki fungsi sebagai perpanjangan lidah Allah dalam menegur dan memperingatkan umat Israel supaya tetap setia dan taat menyembah Allah. Ketaatan kepada Allah ini mulai tercampur dikarenakan umat Israel yang mengalami pembuangan mulai banyak bersinggungan dengan praktik agama lain dan kesetiaannya kepada Allah mulai luntur. Sebagai seorang nabi, Yeremia memang mewarisi jabatan imam dari orangtuanya yaitu Hizkia yang berasal dari Anatot daerah Benyamin (Yer. 1:1). Narasi hidup Yeremia yang dibesarkan dalam lingkungan kaum imam tentu saja menjadikannya banyak belajar dan bergelut dengan Allah yang telah memilih Israel sebagai umat pilihan. Namun demikian bukan berarti bahwa Yeremia selalu mulus-mulus saja dalam memenuhi tugas keimamannya itu sebab jika kita membaca pasal-pasal dalam kitab ini maka kita juga melihat bagaimana Yeremia sempat berputusasa bahkan tidak percaya diri (Yer. 1:6 dll).

Memang ada beberapa tema utama yang selalu menjadi sorotan kitab Yeremia antara lain: paham Yeremia tentang Allah, tegurannya kepada penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel, permasalahan moral dan etika Israel, tantangan nabi-nabi palsu yang membelokkan iman Israel dari Allah. Selain itu, harapan pemulihan Israel juga menjadi bagian yang tidak kalah banyaknya dalam kitab ini. Demikian juga dalam pasal 31 ini, harapan pemulihan umat Allah sedang kembali disuarakan oleh Yeremia. Menariknya pemulihan umat Israel itu dimulai dengan pemahamannya tentang Allah yaitu bahwa Allah adalah Allah segala kaum keluarga Israel (Yer. 31:1). Mengapa demikian? Patut diduga bahwa karena lamanya waktu pembuangan dan percampuran penyembahan kepada ilah-ilah lain sehingga umat Israel lupa bahwa Allah yang memanggil nenek-moyang mereka keluar dari tanah perbudakan adalah Allah yang patut disembah. Di sisi lain karena percampuran dengan bangsa-bangsa lain sehingga menjadikan suku-suku Israel kehilangan kekerabatan dan kekeluargaan dengan sesama bangsa. Jadi, cukup beralasan jika pemulihan Israel ini dimulai dengan kembali mendeklarasikan bahwa Allah adalah sesembahan Israel. Sebagai sesama penyembah Allah yang sama maka semua kaum dan golongan Israel adalah satu keluarga.

Setelah deklarasi tentang diri Allah maka pemulihan Israel sebagai suatu bangsa dilanjutkan lagi dengan kasih Allah yang kekal bagi umat pilihan ini (ay 2-3). Artinya selain menyatukan berbagai suku Israel, Allah adalah setia dalam kasih-Nya kepada umat pilihan. Dan kasih-Nya itu tetap sama, baik kepada nenek-moyang mereka maupun generasi Israel dimana Yeremia hidup. Berdasarkan sifat kasih Allah yang kekal itulah maka Allah seterusnya akan membangun kembali umat Israel yang tercerai-berai dalam pembuangan itu (ay. 4). Bahkan Allah menjanjikan bahwa Israel akan kembali ke tanah perjanjian dan menjalankan aktivitas sebagaimana mereka sebelum mengalami pembuangan yaitu dengan bercocok tanam (ay. 5) dan juga menyembah Allah di gunung Allah yaitu Sion (ay. 6).

Kolose 3 : 1 – 4

Sebagai kitab yang ditujukan kepada persekutuan yaitu jemaat maka Kolose banyak berbicara tentang pokok-pokok iman dan juga membangun kehidupan bersama sebagai satu persekutuan. Sebagai pokok ajaran kita melihat bagaimana Kolose kembali menekankan peran Yesus Kristus sebagai pembaharu hidup sehingga setiap orang yang percaya kepada Yesus selalu diundang untuk memiliki tatanan hidup yang baru juga. Tatanan hidup baru itu adalah berkaitan dengan perubahan pola pikir dan juga pola perilaku.

Kolose 3:1-4, merupakan bagian dari perubahan pola pikir yang juga diharapkan mampu mengubah pola perilaku setiap orang percaya. Perubahan pola pikir yang dimaksudkan oleh Kolose adalah orientasi hidup orang percaya haruslah selalu kepada Yesus Kristus. Ayat 1 misalnya memberikan analogi perubahan pola pikir yang diarahkan kepada Yesus dengan kata “di atas.” Jika ini dilanjutkan tentunya berlawanan dengan “di bawah.” Namun bukan hanya perubahan orientasi saja yang ditekankan oleh Kolose karena di dalam perikop ini juga disertai dengan alasan mengapa harus mengubah orientasi yaitu karena kebangkitan Kristus (ay. 1). Jadi menurut surat Kolose, kebangkitan Kristus itu juga menjadikan orang percaya dibangkitkan. Dibangkitkan bukan berarti bahwa orang percaya dulu raganya mati tetapi karena ingin menekankan perbedaan hidup mereka ketika sebelum mengenal Allah dan sesudah mengenal Allah. Jadi yang dimaksud “dibangkitkan” dalam kebangkitan Kristus adalah bahwa melalui kebangkitan Kristus, orang yang dulu tidak mengerti dan mengenal Allah kini kembali mengenal dan mengerti siapa Allah. Pengenalan akan Allah itulah kebangkitan.

Karena pengenalan akan Allah adalah kebangkitan maka Kolose menyerukan supaya seluruh kehidupan yang kita jalani ini hanya dipergunakan sebagai bagian untuk semakin mengenal Allah. Kolose tidak bermaksud mengajak orang percaya meninggalkan bumi tetapi saat hidup di bumi ini maka setiap orang percaya selalu mengarahkan sikap dan pikirannya kepada upaya semakin mengenal lekat Allah. Pengenalan akan Allah itulah yang nantinya tergenapi ketika Kristus menyatakan diri kelak dalam kemulian-Nya  saat akhir zaman (ay. 4).

Matius 28 : 1 – 10

Secara naratif, Matius 28 adalah satu kesatuan kisah yang dimulai dari pasal 26 yang mencakup tiga babak penting yaitu: penangkapan Yesus, penyaliban Yesus dan kebangkitan Yesus. Jika dibaca mulai pasal 26 maka kita melihat setiap babak selalu diselingi dengan nubuat, nasehat dan bahkan peringatan keras kepada para murid. Sebagai sebuah kisah tentu saja ada tokoh utama dalam ketiga babak tersebut. Tiga tokoh utama dalam ketiga babak tersebut yaitu: Yesus Kristus, Allah, pemuka agama. Masing-masing tokoh ini memainkan peran dan memiliki andil dalam semua babak tersebut. Ketiga tokoh utama ini selalu digambarkan sedang berkonflik. Misalnya kita lihat pemuka agama berkonflik dengan Yesus karena menganggap Yesus sebagai mesias palsu. Demikian juga Allah ditampilkan seolah berkonflik dengan Yesus karena dianggap meninggalkan Yesus yang mengalami kesengsaraan sendiri.

Selain tiga tokoh utama tersebut tentu saja ada pemeran tambahan, misalnya: Yudas Iskariot, Petrus atau juga murid-murid lainnya termasuk para perempuan yang selalu mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya. Para pemeran tambahan itu tidak lebih penting dari para pemeran utama. Lihatlah misalnya dalam perisitiwa penangkapan, peran imam-imam menjadi menonjol karena memerintahkan seromobongan pasukan bersenjata lengkap yang diantarkan oleh Yudas Iskariot menemui Yesus di taman Getsemani (26:47). Demikian juga dengan peran Allah dalam perisitiwa penyaliban Yesus ketika Yesus mati maka ada sebuah tanda ajaib yaitu terbelahnya tabir Bait Suci dan perisitiwa lainnya yang menunjukkan kehadiran Allah. Sejauh ini maka dapatlah disimpulkan bahwa mulai dari perisitiwa penangkapan sampai peristiwa kebangkitan, Injil Matius memberikan gambaran konflik-konflik antara Yesus dengan para pengikut-Nya dan juga para penentang-Nya yaitu para pemuka agama dan bahkan dengan Allah sendiri.

Sampai kepada puncak kisah dalam Injil Matius yang terdapat dalam pasal 28 maka kita menemui kembali peran Allah dalam keseluruhan kisah hidup Yesus Kristus. Perikop kita ini dimulai dengan moment menggugah yaitu adanya gempa bumi yang hebat dan hadirnya seorang malaikat Tuhan. Setelah itu dilanjutkan dengan sebuah konflik kecil yaitu ketakutan para perempuan yang datang ke kubur itu dengan malaikat yang dikisahkah berwajah bagaikan kilat dan pakainnya bagaikan salju. Secara naratif, kisah tersebut menjadi pembuka atas pesan utama yang hendak disampaikan oleh tokoh utama yaitu Allah. Peran Allah dapat kita lihat dari ayat 6 dengan kata “bangkit” yang dalam bahasa Yunani egeiro yang merupakan kata kerja pasif yang juga dapat diartikan dengan kata “ada yang membangkitkan/ bangkit karena ada pihak lain yang melakukan.” Memang dalam terjemahan LAI kata yang dipergunakan adalah “bangkit” sehingga peran pihak di luar Yesus tidak terlalu terasa. Namun kata egeiro oleh Jack Dean Kingsbury (ahli PB dalam bukunya Matthew as Story) disebut sebagai “pasif ilahi” yaitu bahwa perisitiwa kebangkitan dalam ayat 6 ini sebagai partisipasi Allah yang membangkitkan Yesus dari kematian. Dari makna inilah maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati sebenarnya ingin menunjukkan kesatuan diri ilahi Yesus dengan Allah yang menjadikan tubuh jasamani-Nya mendapatkan kekuatan dan mengalami kebangkitan dari kematian. Dengan kata lain, Yesus Kristus yang bangkit adalah Yesus Kristus yang sepenuhnya manusiawi yang menyatu dalam keilahian Allah yang tidak lagi dikuasai kefanaan.

Peran Allah dalam kebangkitan ini sejatinya juga ingin menunjukkan keberpihakan Allah kepada Yesus yang dimusuhi dan berkonflik dengan pemuka agama dan juga dengan para murid-Nya. Artinya, Allah ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah benar sehingga kematian-Nya bukanlah menunjukkan kekalahan atas konflik yang terjadi dengan orang Israel yang memberikan hukuman karena dianggap sebagai nabi palsu atau mesias palsu sebagaimana yang mereka tuduhkan dalam proses peradilan sampai penghukuman-Nya di kayu salib. Pembangkitan Yesus dengan memberikan ruang keterlibatan Allah ingin menegaskan kembali bahwa Yesus sebenarnya adalah Allah itu sendiri yang bersedia menderita dalam kesetiaan-Nya sebagai hamba demi penebusan bagi dunia.

Dari pemaknaan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah penyatuan diri-Nya dengan Allah; penyatuan tubuh badani-Nya dengan keilahiaan-Nya maka mari kita melihat bagaimana kesatuan Allah dan Yesus dalam kebangkitan-Nya itu konsisten ditampilkan oleh Injil Matius dalam kisah kebangkitan-Nya. Kita melihat bahwa ada tokoh yang menjadi pewarta kebangkitan Yesus yaitu malaikat Tuhan (ay 2). Tanda alam yang menyertai kebangkitan-Nya juga mirip dengan kejadian kematian-Nya yaitu terjadinya gempa (Mat 27:51). Sebutan malaikat Tuhan juga ingin menampilkan peran Allah dalam peristiwa kebangkitan ini. Demikian juga dengan gempa bumi yang hebat juga menunjukkan kehadiran Allah dalam perisitwa kebangkitan sebagaimana kehadiran Allah dalam kematian Yesus Kristus. Peristiwa ini mendahului penampakan Yesus kepada para perempuan yang pulang dari kubur. Saat diperjalanan pulang itulah maka Yesus menjumpai para perempuan itu. Reaksi para perempuan adalah mendekat, memeluk kaki Yesus dan menyembah-Nya (ay 9). Sungguh reaksi yang berbeda dengan yang terjadi saat di kubur tadi sebab ketika mereka di kubur yang ada adalah ketakutan (ay 5).

Perjumpaan Yesus yang bangkit dengan perempuan itu disertai sebuah perintah kepada para perempuan tersebut yaitu memberitakan kebangkitan-Nya. Menariknya, yang harus mendapat kabar kebangkitan itu disebut Yesus sebagai “saudara-saudara-Ku.” Tentu yang dimaksud dengan “saudara-saudara” adalah para murid yang selalu bersama dengan Yesus sejak sebelum peristiwa penangkapan sampai peristiwa penghukuman-Nya. Berita kebangkitan kepada para murid ini dipertegas lagi dengan frase berikutnya yaitu: “supaya mereka pergi ke Galilea.” Penyebutan Galilea ini kembali mengulang tempat sebelum Yesus ditangkap dalam Matius 27: 53. Apa makna sebutan “saudara-saudara” bagi para murid? Tentu saja makna sebutan itu adalah undangan keakraban dan perdamaian antara Yesus dengan para murid. Perdamaian ini sangat penting dan ingin menegaskan kembali akan makna kebangkitan Kristus yang memperbaiki relasi-Nya dengan para murid sebab setelah Yesus ditangkap para murid meninggalkan Yesus dan pergi menyelamatkan dirinya masing-masing.

Benang Merah Tiga Bacaan :

Kasih Allah kepada umat-Nya tetap dan kekal berlaku sepanjang zaman. Karena kasih Allah itu pulalah, Tuhan Yesus Kristus yang matipun dibangkitkan kembali. Dalam bingkai kasih Allah yang kekal maka kebangkitan Tuhan Yesus memiliki makna pendamaian yaitu:

  1. Kebangkitan Tuhan Yesus adalah pendamaian kemanusiaan-Nya dengan keilahan-Nya. Dalam arti Allah menunjukkan keberpihakan-Nya kepada Tuhan Yesus Kristus.
  2. Kebangkitan Tuhan Yesus menjadi pendamaian bagi Tuhan Yesus dan para murid yang tercerai-berai. Di dalam kebangkitan itulah maka para murid yang telah terpisah-pisah kini disatukan kembali sebagai saudara.
  3. Karena kebangkitan Tuhan Yesus adalah pendamaian dengan para murid maka pendamaian itu juga berlaku kepada semua orang percaya. Setiap orang percaya telah dibangkitkan bersama kebangkitan-Nya. Oleh sebab itulah setiap orang percaya diundang untuk mewartakan kebangkitan Kristus melalui kehidupan yang senantiasa diarahkan kepada kebangkitan Tuhan Yesus itu.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Demi Sebuah Simpati?

(nyanyikan refrein lagu “Pamer Bojo” atau lagu Didi Kempot yang lainnya… dan perhatikan respons jemaat apakah mereka ikut menyanyi atau diam karena tidak tahu lagu ini?)

Dudu klambi anyar sing neng jero lemarimu
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku…

Apakah ada yang belum kenal atau mengetahui lagu tadi?

Fenomena Godfather of Broken Heart tentu menjadi fenomena yang menarik untuk kita cermati. Ya, sebuah gelar yang diberikan oleh sosial media kepada Didi Kempot selaku penyanyi sekaligus pencipta lagu dengan spesialis lagu-lagu sedih. Tentu saja sosial media memiliki peran penting dalam men-viral-kan lagu-lagu Didi Kempot tersebut. Menariknya, lagu-lagu sedih dan kesendirian dinikmati dan dijogeti. Malah supaya lebih seru, jogetan itu ditambahi lagi “cendol dawet,” “hake-hake” atau yel-yel spontan lainnya. Fenomena ini menujukkan bahwa kesedihan dapat dinikmati. Kesedihan tidak hanya diekspresikan tunggal dengan menangis dan mengurung diri.

Begitu terikatnya syair lagu Didi Kempot dengan para penggemarnya yang menyebut diri Sahabat Ambyar, menjadikan para penggemarnya merasa emosinya terwakili oleh syair lagu atau paling tidak melalui musiknya yang asyik itu. Disinilah lagu-lagu sedih, melankolis Didi Kempot dianggap mewakili perasaan masyarakat. Lagu-lagu itu menjadi katarsis emosi para pendengarnya. Sisi emosi dimainkan untuk menarik simpati banyak orang. Semakin sedih, semakin menderita, semakin tersiksa isi lagu itu semakin menarik minat. Dalam bahasa lain, fenomena Sahabat Ambyar tersebut sedang memainkan logika melancolia (logika melas dan sedih) untuk menarik simpati.

Superhero yang Tidak Sakti?

Kondisi emosi para murid Tuhan Yesus jelas saja sedih karena Tuhan Yesus mati. Namun kesedihan itu belum tentu karena perasaan kehilangan orang yang dikasihi. Bisa saja kesedihan itu karena kecewa kepada sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi musuh tanpa perlawanan. Seumpama sedang menonton film super hero, tentu saja penonton kecewa ketika jagoannya mati tanpa perlawanan. Andai saja Tuhan Yesus melakukan perlawanan sengit, gigih berjuang dan ngotot tingkat dewa mungkin penonton akan sedikit bersimpatik kepada Tuhan Yesus atau setidaknya mereka akan terhibur. Masalahnya dalam kisah sebelum kematian Tuhan Yesus, gambaran perjuangan sebagaimana yang diharapkan oleh penonton tidak ada. Dia ditangkap menurut saja, disidang dengan sewenang-wenang tidak membela diri bahkan saat disalibpun tidak ada perlawanan berarti. Jiwa jagoannya hilang dan bahkan tidak kelihatan sama sekali.

Padahal ketika awal pelayanannya sampai masuk ke Yerusalem sungguh jagoan ini luar biasa. Bukan hanya perkara mujizat dari yang mustahil menjadi mungkin tetapi juga ajarannya yang radikal menyuarakan masyarakat yang terpinggirkan dan yang selama ini ditindas. Lalu mengapa saat mengalami puncak “peperangan” yang sebenarnya, Tuhan Yesus sang jagoan itu tidak melakukan perlawanan? Mosok jagoan kalahan? Mosok jagoan kok ga sakti? Penonton kecewa. Penonton marah dan akhirnya tidak lagi mengidolakan sang tokoh. Mereka tercerai-berai bersama rasa kecewanya.

Saudara terkasih dalam Tuhan,

Sikap Tuhan Yesus yang diam tanpa perlawanan sebagaimana jagoan dalam film-film superhero itu tidak lepas dari peristiwa Getsemani. Andai tidak ada peristiwa Getsemani bisa saja Tuhan Yesus tampil dalam keperkasaan dan kuasa ilahi-Nya. Justru karena peristiwa Getsemani itulah Tuhan Yesus jauh lebih tenang, matang dan memaknai kembali panggilan-Nya. Ada apa dengan peristiwa Getsemani? Peristiwa Getsemani sejatinya menjadikan Tuhan Yesus selesai dengan diri-Nya sendiri. Artinya karena Tuhan Yesus selesai dengan diri-Nya sendiri maka Tuhan Yesus tidak lagi mencoba membela diri, tidak juga melawan orang yang memusuhi-Nya. Luapan sikap dari orang yang selesai dengan diri-Nya sendiri adalah tenang dan berfokus kepada Allah yang mengutus-Nya. Fokus orang yang selesai dengan diri sendiri bukan eksistensi, popularitas, pujian dan sanjungan bagi dirinya tetapi ketertundukan dan kesetiaan kepada Tuhan Allah yang mengutusnya.

Kisah Tuhan Yesus yang mati tanpa perlawanan, apakah juga bagian dari strategi menarik simpati? Di sinilah mari kita melihat dengan lebih teliti. Ketika membaca kisah kematian Tuhan Yesus maka kita mengetahui bahwa ada orang-orang yang bersimpati kepada-Nya. Dalam Matius 27:55, yang bersimpati itu disebut “banyak perempuan.” Memang perempuan kalau sudah berhubungan dengan emosi selalu lebih peka. Demikian juga dengan saat kebangkitan-Nya, kita juga melihat bahwa para perempuan juga yang tampil. Matius 28:1, juga menyebutkan bahwa yang datang ke kubur Tuhan Yesus itu adalah perempuan yaitu duet Maria (Maria Magdalena dan Maria yang lain). Apakah dua perempuan itu datang ke kubur Tuhan Yesus karena simpati? Mungkin saja iya, rasa sedih karena kehilangan orang yang dikasihi bisa jadi yang menggerakkan mereka di hari pertama minggu itu untuk datang ke kubur Tuhan Yesus pada pagi-pagi benar sebelum fajar menyingsing. Lalu kemana orang banyak termasuk para murid laki-laki yang selama ini bersama-sama dengan Yesus? Mereka pergi menyelamatkan diri dengan membawa rasa sedih dan kecewa karena Tuhan Yesus yang dianggap kalah. Sungguhkan Tuhan Yesus kalah?

Semua Belum Berakhir

Ternyata, Tuhan Yesus belum kalah karena pada hari pertama minggu itu Dia bangkit dari kamatian. Di sinilah kita melihat bahwa perjuangan Tuhan Yesus bukan mengalahkan orang lain tetapi perjuangan Tuhan Yesus adalah mengalahkan kematian. Musuh yang selama ini memusuhi bahkan membunuh-Nya bukanlah musuh sebenarnya karena musuh yang sebenarnya adalah kematian. Maka, perjuangan yang dilakukan Tuhan Yesus bukanlah perjuangan melawan fisik, bukan dengan debat membela diri tetapi perjuangan melawan sebuah kuasa yang meniadakan kehidupan. Karena itu cukup beralasan mengapa Tuhan Yesus tidak melakukan perlawanan fisik dan berdebat sengit sebab jika jalan itu yang ditempuh oleh Tuhan Yesus maka akan memunculkan kekerasan lainnya. Dan saat kekerasan itu muncul maka kematian juga yang akan dituai. Korban berjatuhan dan jelas itu bukan sebuah perjuangan yang ditempuh oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berjuang melawan kematian supaya ada kehidupan dan untuk memperjuangkan kehidupan tidak bisa dengan meniadakan kehidupan yang lainnya. Jadi Tuhan Yesus seumpama digambarkan sebagai superhero bukan seperti superhero lainnya yang mengalahkan kejahatan dengan jalan membunuh yang jahat tetapi melawan kejahatan dengan memberikan kehidupan.

Supaya memberi kehidupan itulah maka kita melihat bahwa Tuhan Yesus tidak sendirian. Dalam kematian-Nya, Tuhan Yesus tidak pura-pura kalah dan mati tetapi memang benar-benar kalah dan mati. Yang kalah adalah kematian dalam tubuh-Nya yang fana. Karena itulah saat bangkit sesungguhnya yang dimenangkan adalah kehidupan dan dalam kebangkitan itulah kemanusiaan dan keilahian-Nya menyatu kembali. Kebangkitan-Nya adalah kemenangan tanpa ada yang dikalahkan selain kematian itu sendiri. Apakah Tuhan Yesus bangkit sendiri? Jika kematian-Nya dijalani sendiri maka dalam kebangkitan-Nya justru keilahian-Nya menjadikan tubuh fana-Nya dibangkitkan kembali. Di sinilah kita bisa simpulkan bahwa dalam kebangkitan Tuhan Yesus justru Allah yang seolah meninggalkan-Nya saat mengalami siksa dan kematian hadir dan membela-Nya. Hal itu dapat kita lihat dari tanda-tanda yang ada sesaat sebelum kebangkitan-Nya, adanya gempa dahsyat, adanya malaikat Tuhan adalah bentuk dari kehadiran Allah dalam jasad Yesus yang telah mati tetapi bangkit lagi. Kebangkitan Tuhan Yesus menjadi moment dimana Allah menyatu dengan kemanusiaan Yesus.

Babak Baru…

Saat Tuhan Yesus bangkit babak baru dimulai lagi. Layar yang sudah tertutup ditarik ke atas lagi karena kini ada kisah baru. Kisah itu adalah undangan Tuhan Yesus untuk menyatukan para murid-Nya yang tercerai-berai. Galilea adalah tempat dimana para murid yang tercerai-berai itu diundang untuk kembali berkumpul. Berkumpul bukan sekadar reuni para penonton yang sakit hati tetapi berkumpul sebagai saudara-saudara Tuhan Yesus dan saudara bagi sesamanya. Jadi disinilah makna kedua dari kebangkitan Tuhan Yesus yaitu mengadakan pendamaian dengan sesama. Undangan pendamaian itu tidak lepas dari sifat Allah Sang Pendamai sebagaimana yang dimaknai oleh umat Israel sejak zaman nabi Yeremia dalam bacaan kitab Yeremia 31:1-6. Allah yang kasih setianya kekal menjadikan semua orang pilihan kembali disatukan sebagai satu keluarga. Hanya Allah sajalah yang patut di sembah dan karena menyembah Allah yang sama itulah maka setiap umat diajak kembali untuk menjadikan bagian yang lainnya sebagai keluarga.

Undangan pendamaian dalam kebangkitan Kristus menjadikan kita kini bersedia menjadi satu keluarga dan hanya Allah saja yang menjadi sesembahan masing-masing anggota keluarga itu. Pemulihan umat sebagai satu keluarga itu pulalah yang terus disuarakan sebagai babak baru dalam kehidupan persekutuan. Persekutuan kita akan menjadi tempat untuk saling menguatkan, meneguhkan, memperhatikan dan bersedia berbagi sehingga pemulihan yang sebenarnya sebagai satu keluarga dapat terjadi.

Akhirnya,

Hari ini kita merayakan perisitiwa Tuhan Yesus yang bangkit mengalahkan kematian. Bukan hanya sekadar mengalahkan kematian tetapi Tuhan Yesus menawarkan kehidupan bagi semua orang. Sebab, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian adalah wujud menyatukannya kembali kemanusiaan dan keilahian-Nya. Kebangkitan Tuhan Yesus juga sebuah undangan pendamaian dengan para murid untuk menjadi satu keluarga yang saling menguatkan. Kebangkitan Tuhan Yesus menjadikan kehidupan setiap orang percaya dibangkitkan karena kehidupan sudah diberikan dari kuasa kebangkitan Tuhan Yesus itu. Karena itulah kehidupan kita saat ini diundang untuk tetap terarah kepada Tuhan Yesus saja bukan kepada diri sendiri atau segala  permasalahan yang kita sedang hadapi (Kolose 3:1-14). Lalu bagaimana sikap kita orang-orang percaya yang telah dibangkitkan-Nya? Bersediakah kita berdamai dengan sesama kita? Bersediakan kita berdamai dengan orang yang memusuhi kita? Ataukah kita terlarut dalam kesedihan dan kekuatiran kita saja?

Mari kita belajar dari perjuangan Tuhan Yesus supaya kita dapat hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya itu. Hal pertama yang kita perlukan adalah: berdamailah dengan diri sendiri yaitu kita harus selesai dengan diri sendiri sehingga fokus hidup kita adalah kepada kehendak Tuhan saja. Kedua, mari kita membawa kehidupan kepada semua ciptaan. Paling tidak kita tiada meniadakan kehidupan karena memang Kristus yang bangkit memberikan kehidupan. Mari pergunakan perkataan, perbuatan dan segala keputusan kita sebagai pribadi maupun gereja, supaya menjadi pewarta kehidupan bagi semua ciptaan. Hidup anda sedih, tawar dan ga asyik? Mari ingat kembali Tuhan Yesus yang telah menang dan mari dijogedti saja sebagaimana Sahabat Ambyar. Selamat Paskah, Tuhan memberkati. (to2k).

 

Pujian :  KJ. 189    “Yerusalem”


RANCANGAN KHOTBAH : BASA JAWI

 Pados Pangalembana?

(Panjenengan kidungaken kekidungan “Pamer Bojo” utawi kagantos kekidungan sanesipun ingkang dipun anggit dening Didi Kempot. Kados pundi pangraosipun pasamuwan? Punapa dherek ngidung utawi wonten ingkang dereng pirsa kekidungan punika?)

Dudu klambi anyar sing neng jero lemarimu
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku…

Ing antawisipun panjenengan punapa wonten ingkang dereng pirsa kekidungan punika?

Fenomena Godfather of Broken Heart estunipun dados fenomena ingkang elok lan saged kita graita kanthi estu. Fenomena punika dipun paringaken dumateng salah satunggalipun penyanyi lan ugi pencipta lagu ingkang kathah-kathaipun kekidunganipun punika ngemu teges sedih. Enggih, penyanyi punika kaparingan asma Didi Kempot. Ingkang maringi gelar punika ugi sosial media (sosmed). Mboten namung maringi gelar kemawon, sosmed nggadahi peran ingkang utami murih dadosaken kekidunganipun Didi Kempot punika viral. Elokipun, kekidungan ingkang ngemu teges sedih punika malah dipun jogedti. Supados jejogedtanipun sansaya gayeng malah dipun tambahi senggakkan mawi ukara cendol dawet, hake-hake lan senggakkan spontan sanesipun. Raos sedih mboten namung saged dipun tangisi nanging ugi malah saged ndadosaken tiyang sanes jejogedan.

Awit kekidunganipun Didi Kempot punika nresep sanget dumateng para penggemaripun ingkang kasebut Sahabat Ambyar, ndadosaken para penggemar punika rumaos dipun wakili raosipun manah ingkang ugi nandang sedih lan nelangsa. Pramila mboten salah bilih lagu-lagu sedihipun Didi Kempot punika dipun anggep makili emosinipun masyarakat. Lagu-lagu punika dados katarsis emosi inggih punika sarana ngluntahaken emosi ingkang kapendem ing manahipun penggemar Didi Kempot. Nalika kekidungan punika sansaya sedih dipun anggep sansaya makili emosi penggemar lan dipun gandrungi. Pramila fenomena Sabahat Ambrar punika kawastanan logika melancholia  awit sisi melankolis punika ingkang dipun gugah.

 Super Hero yang Tidak Sakti?

Rasa-pangrasanipun para sekabatipun Gusti Yesus nandang sedih awit dipun tilar seda Gusti Yesus. Ananging kasedihan punika dereng tamtu awit Gusti seda saged ugi karena para sekabat kuciwa dumateng Gusti Yesus ingkang dipun anggep mboten hebat nalika angadepi para mengsahipun lan mboten purun nglawan. Kados dene mirsani film super hero, tamtu penonton sami kuciwa awit jagoanipun seda tanpa nglawan. Umpaminipun Gusti Yesus punika purun tanding, ngotot anggenipun mbela diri tamtu punika sekedhik paring panglipur lan nedahaken jiwa pahlawanipun. Awit, ing perangan carios sak derengipun Gusti Yesus dipun pejahi babagan carios ingkang makaten punika mboten wonten. Nalika Gusti Yesus dipun cepeng, dipun siksa, dipun kunjara sami mendel mawon mboten nglawan punika ingkang dadosaken para sekabat sami kuciwa.

Punapa malih bilih kita niti-pirsa wiwitan lelampahan Gusti Yesus saestu nedahaken kehebatan lan jiwa prawiranipun. Mboten namung mujizat saking perkawis mustahil saged kelaksanan anangin piwucalipun ugi maedap-edapi tumrah anggen lelabuh dumateng sedaya tiyang ingkang kasia-sia lan dipun mengsahi masyarakatipun. Ananging kenging punapa nalika perang-tanding ingkang samestinipun Gusti saged nglawan malah mendel kemawon? Mosok jagoan kalahan? Mosok jagoan mboten sakti? Penonton tamtu kuciwa. Penonton sami nepsu lan malah koncatan katresnanipun dumateng jagoanipun. Pramila sedaya tiyang sami nilaraken Gusti kanthi raos kuciwa ingkang sanget.

Para sedherek kinasihipun Gusti,

Bilih kita teliti kanthi estu sababipun Gusti Yesus namung mendel mboten kersa perang-tanding estunipun krana prastawa ing taman Getsemani. Umpami mboten wonten prastawa Getsemani saged kemawon Gusti Yesus mbuktekaken kedigdayan lan kuwaosipun minangka Gusti. Srana prastawa Getsemani, Gusti Yesus sak mangke anteng, lerem lan sansaya menep anggenipun nampeni timbalanipun wontening ing alam donya. Wonten prastawa punapa ing Getsemani? Getsemani dados underanipun prastawa bilih Gusti Yesus sampung rampung kaliyan diri pribadinipun. Punika ngemu teges bilih sak bibaranipun prastawa Getsemani, Gusti Yesus mboten mbujeng pikajengipun piyambak lan mboten badhe lawan-tanding kaliyan tiyang ingkang mengsahi dirinipun. Wujudipun sikap piyantun ingkang sampun rampung kaliyan dirinipun pribadi wanci katingal saking kahanan gesang ingkang mboten grusa-grusu nanging sansaya lerem lan namung tumemen mandeng dumateng Gusti Allah kemawon. Kanthi makaten gesangipun tiyang ingkang sampun rampung kaliyan dirinipun pribadi mboten mbujeng pangalembana, kalenggahan, kasuwuran lan ugi pepujen ingkang katujokaken dumateng dirinipun ananging gesang ingkang tansah cumudhuk lan setya tuhu dumateng kersanipun Gusti tumrap gesangipun pribadi.

Dereng Purna….

Babagan sedanipun Gusti Yesus ingkang tanpa perang-tanding punika ngemu pamrih pados simpatinipun tiyang kathah? Bilih kanthi titis kita sinaoni lelampahanipun Gusti Yesus ingkang mboten sumedya perang-tanding punika wanci andadosaken tiyang kathah nggadahi raos welas dumateng Gusti. Matius 27:55 nyebuataken bilih para tiyang ingkang welas dumateng Gusti punika kasebut “tiyang estri.” Kedhah kita akeni bilih tiyang estri punika menawi gegayutan kaliyan rasa-pangrasa langkung sensitive, mekaten ugi nalika wungunipun Gusti Yesus, kita ningali kekalih tiyang estri ingkang saweg nggadahi welas dumateng Gusti. Matius 28:1 nedahaken bilih piyantun ingkang rawuh wonten ing pasareanipun Gusti Yesus nalika dinten kaping sepisan wanci enjang inggih piyantun estri inggih punika duet Maria. Maria Magdalena lan Maria sanesipun. Punapa Maria kekalih punika sowan pasareanipun Gusti awit raos welas? Saged ugi, raos sedih ingkang karaosaken dening piyantun estri punika ingkang nuntun kekalihipun sowan marek dhateng pasarean. Lajeng wonten pundi para piyantun kakung inggih punika para sekabatipun Gusti Yesus? Sedaya sami kocar-kacir ngudi kaslametanipun piyambak-piyambak kanthi raos sedih lan kuciwa awit nganggep bilih Gusti Yesus sampun kawon. Punapa estu Gusti Yesus sak mangke sampun kawon?

Katitik, Gusti Yesus dereng estu kawon karena wonten ing dinten kaping sepisan minggu punika Gusti Yesus wungu malih saking antawisipun tiyang pejah. Saking perkawis punika kita sinau bilih perjuanganipun Gusti Yesus punika sanes ngawonaken tiyang sanes nanging ngawonaken panguwasanipun pati. Pramila perjuanganipun Gusti Yesus punika sanes nglawan tiyang sanes tata-cara fisik, sanes perjuangan mawi eyel-eyelan kaliyan tiyang nanging perjuanganipun Gusti Yesus punika perjuangan nglawan panguwaos ingkang nyingkiraken pigesangan. Pramila saged kita tampi bilih Gusti Yesus mboten kersa nglawan, mboten kersa debat awit bilih sedaya punika dipun lampahi dening Gusti Yesus tamtu ndadosaken tiyang sanes ingkang dados kurban tumraping kekerasan. Lan nalika kekerasan punika ingkang dipun tempuh tamtu wonten ingkang koncatan gesang malah kedlarung ing pati. Gusti Yesus ngawonaken pati supados sedaya tiyang nampi gesang ingkang kedah kalampahan kanthi paring pigesangan dumateng sedaya tiyang. Pramila, Gusti Yesus umpami superhero sanes superhero ingkang ngawonaken kadurjanan srana mejahi nanging nglawan kadurjanan srana paring gesang.

Murih paring gesang punika kita saget ningali bilih perjuanganipun Gusti Yesus punika mboten dipun lamaphi piyambak. Nalika pejah, Gusti Yesus estu-estu pejah ananging ingkang pejah lan kawon punika badan kajasmanenipun. Pramila nalika wungu, sak mangke Gusti Yesus nampi kamulyan awit kamanungsan lan kamulyanipun Allah nunggil ing badan satunggal inggih punika Gusti Yesus. Pramila wonten ing wungunipun Gusti punika ingkang dipun unggulaken pigesangan lan srana wungunipun Gusti Yesus punika sak mangke manunggal antawis kamanungsan lan  kamulyanipun Allah. Wungunipun Gusti Yesus dadosaken pigesangan pinunjul katimbang pati. Punapa Gusti Yesus wungu krana dayanipun kamanungsan? Bilih sedanipun dipun lampahi piyambak nanging nalika wungu kamulyanipun Gusti Allah ingkang nunggil ing badanipun ingkang winates punika. Pramila wungunipun Gusti Yesus punika nedahaken bilih Gusti Yesus mboten piyambakan ananging dipun tunggil kaliyan Gusti Allah. Kahanan punika saged kita tinggali saking pratanda ingkang kelampahan nalika Gusti Yesus wungu inggih punika wonten lindu ingkang maedap-edapi kados dene nalika Panjenenganipun seda. Wungunipun Gusti Yesus nedahaken manunggalipun kawula lan Gusti ing Sariranipun Gusti tata kamanungsan. Gusti lan manungsa jumbuh wonten ing wungunipun punika.

Babak Enggal

Wungunipun Gusti Yesus nandhani perangan gesang enggal. Layar ingkang sawek katutup sakmangke dipun buka malih awit wonten cariyos ingkang enggal. Prakawis enggal inggih punika undanganipun Gusti Yesus kagem sedaya siswa lan sekabatanipun ingkang saweg mrenca-mrenca. Galilea dados panggenan ingkang nedahaken nyatunggilipun para sakabat kaliyan Gusti Yesus awit ing Galilea punika Gusti Yesus paring ulem dumateng sedaya siswanipun. Pakempalan ing Galilea mboten namung reuni nanging makempal minangka para sedherekipun Gusti Yesus lan sedherek kagem sesami. Pramila wungunipun Gusti Yesus ngemu teges kaping kalih inggih punika timbalan nyatunggil kaliyan sesami. Ulemanipun Gusti ingkang mekaten punika awit Gusti kita punika Gusti ingkang welas asih lan tresnanipun tansah langgeng kados dene ingkang sampun dipun raosaken umat Israel kados dene wonten ing Yeremia 31:1-6. Kasetyan lan katresnanipun Gusti Allah dumateng umat piniji nyatunggilaken malih sedaya umat piniji dados satunggal brayat ingkang nampeni kamulyan lan nyatunggil menembah ing ngarasanipun Gusti Allah. Awit manembah dumateng Gusti ingkang satunggal punika dadosaken sedaya umat katunggilaken dados satunggal brayat.

Uleman supados katunggilaken kaliyan sesami underanipun inggih punika wungunipun Gusti Yesus ingkang dadosaken sedaya titah dados satunggil minangka brayat. Nyatunggilaken patunggilan punika ingkang kedah dipun lampahi dening sedaya umat pramila pasamuwan ugi katimbalan supados saged dados satunggal brayat ingkang sumedya tresna-tinresnan, nyengkuyung ing sadengah bot-repot lan ingkang tansah mujudaken patunggilan ingkang sampun dipun tunggilaken dening Allah.

Pungkasanipun…

Dinten punika kita sami mahargya lan mengeti bilih Gusti Yesus ingkang seda sak mangke sampun wungu ngawonaken pati. Malah mboten namung ngawonaken pati nanging ugi paring gesang dumateng sedaya tiyang pitados. Pramila, wungunipun Gusti Yesus saking pati dados wujudipun manunggaling kamanungsanipun Gusti kaliyan kamulyanipun Allah. Dene teges sanesipun inggih punika bilih wungunipun Gusti Yesus nyatunggilaken malih para sakabatipun Gusti dados satunggal brayat ingkang saweg tuwuh ing katresnan. Lan, wungunipun Gusti Yesus ngemu tegesi inggih punika paring gesang enggal dumateng sedaya tiyang pitados. Pramila wungunipun Gusti Yesus sak mangke paring ulem dumateng kita supados pigesangan kita sansaya tumemen lan namung mandeng dumateng Gusti Allah ing sadengah kahanan lan pakaryan kita (Kolose 3:1-4). Kadospundi sakmangke kahanan gesang kita tiyang pitados, punapa kita sumadya gesang sesrawungan kaliyan tiyang sanes malah ingkang mengsahi kita? Punapa gesang kita sak mangke sansaya nedahaken gesang ingkang kebak kabingahan lan karaharjan? Utawi malah kita taksih asring kadlarung ing kasedihan lan kakunjura ing sadengah panandang ingkang kataman dumateng gesang kita?

Sumangga kita sami sinau saking perjuanganipun Gusti Yesus supados kita saged gesang ing salebetipun kuwaos wungunipun Gusti. Perangan wiwitan ingkang kita betahaken inggih punika sumedya gesang rukun kaliyan diri kita piyambak inggih punika gesang kanthi ikhlas lan tulus awit sedaya sampun rampung. Pramila gesang kita namung tumuju nindhakaken kersanipun Gusti Allah kemawon. Kaping loro, sumangga gesang kita gelaraken pigesangan srana anggen kita sumadya paring gesang dumateng sedaya titah. Sak mboten-mbotenipun, kita mboten “mejahai” titah sanes mligi sedherek kita piyambak lantaran wicantenan, tingkah-polah lan ugi keputusan-keputusan kita mawi tata pribadi lan pasamuwan. Punapa gesang panjenengan taksih sedih, suwung lan mboten asyik? Sumannga emut malih bilih Gusti Yesus ingkang sampun wungu punika sampun ngluwari gesang kita saking pati. Pramila sumangga nglampahi gesang ingkang asyik lan kita jogeti kemawon kados dene Sahabat Ambyar. Sugeng Mahargya Dinten Paskah. Gusti Yesus mberkahi kita sedaya. Amin. (to2k).

 

Pamuji  :  KPJ.  255    “Gusti Sampun Wungu”

 

Bagikan Entri Ini:

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •