Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 52 : 7 – 10
Mazmur: Mazmur 98
Bacaan 2: Ibrani 1 : 1 – 4
Bacaan 3: Yohanes 1 : 1 – 14
Tema Liturgis: Memilih Kehidupan di Tengah Kematian
Tema Khotbah: Berani Menjadi Manusia
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 52 : 7 – 10
Perikop ini diberikan kepada bangsa Israel sebagai penghiburan dan janji kelepasan serta pengampunan ketika Israel berada di pembuangan Babilonia. Karena di sepanjang pembuangan, bangsa Israel meragukan kuasa Allah dan menganggap Allah tidak mampu menolong. Allah melalui Yesaya selanjutnya menyatakan bahwa pembuangan sejatinya bukanlah pengabaian terhadap umat-Nya tetapi penghakiman atas ketidaksetiaan mereka. Tetapi dalam situasi itu, Allah tetap menggenapi dua janji-Nya tentang pembebasan. Pembebasan yang pertama adalah pembebasan bangsa Israel dari Babilonia, melalui Koresh, raja Persia – Media sebagai pembebas dari pembuangan. Hanya saja, karena pembebasan tidak hanya bersifat politis tetapi juga spiritual, dimana bangsa Israel sudah terjebak dengan penyembahan berhala, maka pembebasan kedua hanya dapat diwujudkan melalui penebusan Sang Hamba yang memulihkan relasi dengan Tuhan. Ketidaksetiaan umat-Nya nyatanya tidak menggagalkan cinta Tuhan Allah kepada umat-Nya.
Hamba Allah inilah yang akan memulihkan Israel dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membawa kabar baik dan berita damai. Perikop ini diyakini menjadi kitab pengharapan akan Mesias, yang akan membawa berita damai, kabar baik tentang keberpihakan Allah pada umat-Nya (Sion), dimana Tuhan menuntun umat-Nya melalui tangan-Nya yang kudus dan apa yang dilakukan-Nya akan membawa sukacita, kegembiraan, dan sorak sorai bagi bangsa Israel. Ketidaksetiaan umat-Nya nyatanya tidak pernah menggagalkan cinta-Nya kepada umat.
Ibrani 1 : 1 – 4
Surat ini ditujukan kepada orang Ibrani yang sedang mengalami penganiayaan dan mulai ragu bahkan berencana meninggalkan imannya demi keselamatannya. Di tengah situasi tersebut, penulis merasa perlu meneguhkan umat bahwa kasih Allah terus dinyatakan kepada anak-anak-Nya. Ibrani mengisahkan bahwa kasih itu dinyatakan melalui perantaraan para Nabi dan perantaraan Anak-Nya, Yesus Kristus sebagai gambar wujud Allah dan cahaya kemuliaan Allah yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Ia rela meninggalkan tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari para malaikat, hadir menjadi sama seperti manusia dan berkorban demi penyucian dosa manusia, supaya manusia mengalami pembebasan dosa dan hidup kekal. Semua dilakukan semata-mata karena cinta-Nya kepada umat-Nya. Karena itu, Yesus unggul dari siapapun termasuk para malaikat, dan karena itu, penulis menantang pembaca untuk tetap setia meskipun dalam penganiayaan.
Yohanes 1 : 1 – 14
Yohanes memperkenalkan Kristus dalam perspektif-Nya. Cukup berbeda cara Yohanes memberitakan tentang Kristus dan pelayanan-Nya dibandingkan dengan Injil Sinoptik. Yohanes membuka suratnya dengan menyatakan, ”Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Maka Yesus adalah Allah yang ada jauh sebelum dunia dijadikan. Di bagian ayat yang lain ditekankan kembali melalui Yohanes 8:58, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.”
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dari pernyataan Yohanes itulah, kita bisa menyaksikan bahwa dalam Dia ada kehidupan dan terang Allah yang terus bercahaya bahkan kegelapan tidak akan mampu menguasainya. Apa yang disampaikan Yohanes menjadi penguat bagi umat yang sedang terombang ambing dengan ragam pemahaman dan penilaian tentang Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kelahiran Yesus Kristus menjadi cara Allah menyatakan kehadiran-Nya di sepanjang sejarah hidup manusia. Dengan kelahiran menjadi bukti tanda cinta-Nya kepada dunia. Allah memilih menjadi manusia dengan segala kerentanan, kerapuhan, bahkan berhadapan dengan keterbatasan melalui kematian. Seperti halnya kelahiran-Nya yang mengisahkan tentang sebuah perjuangan tentang kehidupan yang baru saja dimulai, kehadiran-Nya di tengah umat menunjukkan betapa Ia adalah Allah yang terus hadir memperjuangkan kehidupan kekal bagi siapa yang percaya kepada-Nya. Dengan jalan itulah, Allah menuntun dan memberkati umat-Nya dengan tuntunan tangan-Nya yang kudus, membawa sukacita, kegembiraan, dan sorak sorai bagi umat-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Berani menjadi manusia. Mungkin kita merasa bahwa selama ini kita tidak merasa takut menjadi manusia. Buktinya kita menjadi manusia. Tapi coba kita lihat diri kita. Jangan-jangan kita tidak berani menampilkan diri hanya karena kita merasa biasa – biasa saja. Kita tidak berani menyanyi, hanya karena suara kita tidak semerdu Krisdayanti atau Justin Bieber. Kita tidak berani melukis, hanya karena lukisan kita tidak sebaik Basuki Abdulah, Affandi. Kita tidak berani mencipta lagu hanya karena kita tidak sejenius Mozart, Beethoven. Kita tidak mau main basket hanya karena kita tidak bisa meloncat setinggi Michael Jordan. Kita sering merasa rata-rata, biasa saja, atau bahkan merasa tidak cukup baik. Perasaan itu melahirkan rasa takut dipandang rapuh, lemah, tidak berdaya, kecil dan tertolak. Seringkali ketakutan-ketakutan itu menjadikan kita berhenti menjadi manusia yang mengaktualisasi diri. Apa yang bisa kita pelajari dari cerita natal hari ini?
Isi
Dalam cerita natal, firman yang sebelumnya hanya dikenal melalui kata, cerita, dan bahasa itu tumbuh menjadi manusia (daging) dalam diri Yesus Kristus. Allah selama ini memperkenalkan diri dan dikenal melalui cerita, kata, bahasa, dan firman (logos) para nabi-nabi. Logos dalam bahasa Yunani dipahami sebagai hikmat. Logos itulah yang mewujud dalam ciptaan-Nya, menjadi tanda dan cara kehadiran-Nya di tengah umat-Nya. Demikianlah Yohanes memperkenalkan kelahiran Kristus dalam cara bertuturnya.
Selanjutnya, Ia yang tak terbatas, memilih menjadi manusia yang terbatas dalam hidup dan tubuh Sang Bayi. Kesaksian itulah yang dikisahkan kepada jemaat orang Ibrani, bahwa Yesus Kristus sebagai gambar wujud Allah dan cahaya kemuliaan Allah yang rela meninggalkan tempat yang tinggi, hadir menjadi sama seperti manusia, berdiam di antara manusia, hadir bersama memasuki kerapuhan manusiawi-Nya. Allah mengecilkan diri sedemikian rupa, supaya umat bisa mengenal-Nya. Ia mengosongkan diri supaya Sang Firman yang di dalam dan melalui-Nya segala sesuatu diciptakan itu, kini menjadi bagian dari ciptaan.
Menjadi manusia, Ia mengalami sukacita, tetapi juga kesedihan dan kemarahan. Ia juga merasakan sakit dan luka. Ia dipuja dan diikuti tetapi juga ditolak, disalahpahami, ditinggalkan, dan sendiri. Ia takut menghadapi penderitaan. Ia menantang penguasa tetapi juga menemani orang yang lemah dan berdosa. Kelahiran-Nya disambut pujian para malaikat, tetapi menjelang kematian-Nya di atas salib Ia merasa sendiri. Tentu saja sebagai Allah, Yesus menyadari menjadi manusia memang bukanlah situasi yang selalu menyenangkan. Tetapi Ia memilih dan berani menjadi manusia yang merangkul kerapuhan. Semuanya dilakukannya demi penyucian dosa manusia, supaya manusia dapat mengalami pembebasan dosa dan kehidupan kekal. Sebab rusaknya relasi umat dengan Allah yang disebabkan karena kebebalan hati umat, hanya bisa diwujudkan melalui penebusan Hamba Allah.
Kisah natal Yesus Kristus terjadi di tengah konteks kerusakan, ketakutan, dan kekerasan. Sampai hari inipun, kita juga masih mendiami bumi yang mengalami kerusakan karena budaya kematian yang membudaya di tengah hidup manusia. Keprihatinan ini dihayati St. Yohanes Paulus II yang dalam ensikliknya Evangelium Vitae (1995), mempopulerkan istilah Budaya Kehidupan VS Budaya Kematian. Ia menyatakan bahwa budaya kehidupan adalah sikap yang menghargai hidup sesama dan semesta, ditandai dengan kesukacitaan dan kegembiraan. Sedangkan berkebalikan dengan itu, budaya kematian adalah budaya yang tidak bersahabat dengan kehidupan, yang menempatkan manusia dan sesama pada posisi objek yang memusnahkan kehidupan itu sendiri. Budaya ini dibangun dari dosa. Dosa yang tidak hanya dimaknai sebagai rusaknya relasi antara manusia dengan Allah saja, tetapi juga rusaknya relasi antara manusia dengan alam/semesta dan sesamanya.
Dipacu oleh rasa kurang, ingin lebih dari yang lain, dan berhenti berkata cukup, menjadikan manusia tamak dan menjadikan dirinya sebagai pusat dari segalanya. Sesama dan semesta menjadi obyek demi terpuaskannya keinginan yang tak terbatas. Hal ini berdampak pada tiada berkesudahannya perdagangan manusia, kerusakan ekologis, kesenjangan hidup antara orang kaya dan miskin, kekerasan berbasis gender, rusaknya hutan sebagai rumah bagi masyarakat adat dan fauna, perang antara negara, suku dan agama yang menjadi tanda budaya kematian mengancam keselamatan dan kehidupan.
Pilihannya menjadi manusia yang terbatas, demi membahasakan diri-Nya sebagai sang sahabat bagi manusia yang juga mengalami kerapuhan dalam hidup. Kehadiran-Nya menyapa umat yang menghadapi ragam peristiwa dan dalam situasi tersebut sering kali mempertanyakan kehadiran Allah. Seperti halnya pengalaman bangsa Israel yang merasa diabaikan Allah di masa pembuangan. “Dimana Allah, dalam kesesakanku ?” Maka, Allah yang jauh dan transenden selanjutnya memperkenalkan, mendekatkan diri sebagai Allah yang imanen. Kehadiran Allah yang menghadirkan sikap gentar dan takjub, tetapi juga menciptakan rasa gemar dan karib. Allah yang sebelumnya dikenal melalui hikmat dan kata, tetapi saat ini menjadi manusia. Bukan Allah yang jauh tetapi Allah yang sedang berjuang bersama umat.
Berita kelahiran-Nya hari ini mengajak kita turut berjuang bersama Allah yang memilih menjadi manusia dan tidak berhenti memperjuangkan budaya kehidupan. Pilihannya untuk menjadi manusia penuh dengan resiko, lahir, menjadi manusia rapuh dan terbatas demi mewujudkan cinta-Nya kepada kita. Kristus terus memperjuangkan keselamatan dan kehidupan kekal semua ciptaan-Nya, maka kita dipanggil untuk menjadi perwujudan cinta Allah melalui pewartaan kabar Injil kepada semua makhluk dengan berani menjadi manusia seutuhnya.
Berani berkata cukup pada diri sendiri, merayakan hidup dengan gembira, berbagi dan menjadi pembawa berita damai dan kabar baik dimulai dari keseharian kita. Kalau ingin menyanyi, menyanyi saja, meskipun tidak profesional, jikalau bisa membebaskan gerak hati dari dalam. Jikalau ingin menari, menari saja jikalau mengurangi beban hati, yang penting sepenuh hati. Jikalau ingin melukis, melukis saja, jikalau itu bagian ekspresi. Jikalau ingin mencintai, mencintai saja, meski cinta kita tidak seperti Galih dan Ratna, Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta, tetapi penting untuk terus belajar bertumbuh melalui kasih dari hati. Mungkin dinilai tidak sempurna atau biasa-biasa saja, membuat kita kurang menghargai keunikan kita. Mari berani menjadi manusia dengan mengungkapkan diri, berani mencintai diri, karena Tuhan menjadi manusia supaya kita mengalami penebusan secara utuh.
Penutup
Bagaimana dengan situasi kini yang kita hadapi? Budaya kematian apa yang sedang kita hadapi di tengah keluarga, masyarakat, dan bumi? Kalau sedemikian kita dicintai Tuhan, maka kitapun harus belajar menyatakan cinta Tuhan melalui diri kita dengan belajar mengasihi, menyanyikan sukacita, menarikan perdamaian, membawa pengharapan, dan menebarkan damai. Berani menjadi manusia bahkan yang rapuh dan biasa, karena pada akhirnya yang perlu dirayakan adalah cinta Tuhan yang luar biasa. Bahwa di tengah potret buram kemanusiaan dan ribuan persoalan sosial serta kepahitan orang-orang kecil, Ia tidak lagi menyimak, mendengar ratapan kita dari sorga atau bersabda melalui para nabi-nabi-Nya, tetapi Ia menjadi manusia yang hadir, menyapa, dan merangkul keterbatasan kita dan berkata, ”Aku menyertaimu tanpa syarat, tanpa batas.” Mari terus berjuang mencintai, dimulai dari diri kita sendiri, sesama, dan bumi karena Tuhan memberi diri-Nya untuk mencintai kita. Amin. [NW].
Pujian: KJ. 81 O, Datanglah Imanuel
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wantun dados manungsa. Mbok menawi kita mboten ngrumaosi menawi kita ajrih dados manungsa. Toh, kita sampun dados manungsa. Nanging, cobi kita niti priksa kawontenan kita. Asring kita mboten wantun ngetingalaken kasagedan kita, awit kita rumaos biasa-biasa kemawon utawi malah rumaos asor? Kita mboten wantun nyanyi, awit rumaos bilih swanten kita mboten sae lan merdu kados dene Krisdayanti utawi Justin Bieber. Kita mboten wantun nggambar, awit gambar kita mboten sae kados dene Basuki Abdullah, Affandi. Kita mboten wantun ngarang lagu, awit kita rumaos mboten pinter kados dene Mozart lan Beethoven. Kita mboten purun olah raga basket, awit kita rumaos bilih kita mboten saged nlompat kados dene Michael Jordan. Kita asring rumaos biasa- biasa kemawon ugi rumaos mboten sae. Raos batos ingkang mekaten nglairaken pangraos kuwatos dipun anggep ringkih, mboten nggadhah daya kakiyatan, alit, lan dipun tampik. Asring raos batos ingkang mekaten ndadosaken kita kendel dados manungsa ingkang makarya. Punapa ingkang saged kita sinau saking cariyos natal dinten punika?
Isi
Saking cariyos natal, Sabda ingkang saderenipun namung dipun mangertosi saking ukara, cariyos, lan basa mawujud dados manungsa (daging) wonten ing Gusti Yesus Kristus. Gusti Allah ingkang nepangaken Sariranipun dipun tepang saking cariyos, ukara, basa, lan sabda (Logos) para Nabi lan utusan-Ipun. Logos wonten ing basa Yunani gadhahi artos kawilujengan. Ukara ingkang mawujud wonten titahipun dados pratandha lan cara rawuh-Ipun wonten ing satengahing umat. Mekaten caranipun Yokanan nyariosaken miyosipun Sang Kristus mawi caranipun.
Salajengipun, ingkang mboten winates, netepaken dhiri dados ingkang winates wonten ing gesang lan Sang Bayi. Paseksi punika ingkang kacariyosaken dening Pasamuwan Ibrani, inggih punika Gusti Yesus ingkang kagambaraken dados gambaripun Gusti Allah lan cahya kamulyanipun Allah ingkang karsa nilar papan ingkang mulya, dados sami kaliyan manungsa, nunggil wonten ing satengahing manungsa, rawuh minangka manungsa ingkang ringkih. Gusti Allah dados alit, ringkih, winates supados umat-Ipun saged tepang kaliyan Panjenenganipun. Gusti karsa ngothongaken Sariranipun supados Sang Sabda ing pundi sarana Panjenenganipun, sedaya katitahaken, lan sapunika manunggil kaliyan sedaya titah ingkang sanes.
Dados manungsa, Gusti ngalami kabingahan, nanging ugi kasisahan lan duka. Gusti ugi ngalami gerah lan tatu. Panjenenganipun dipun puja-puji nanging ugi dipun tampik, dipun salahmangertosi, dipun tilar, lan kijenan. Panjenganipun ajrih ngadhepi kasangsaran. Dipun abenajengkan kaliyan panguasa, nanging ugi dados mitra para tiyang alit lan tiyang dosa. Miyos-Ipun dipun sambut dening para malaikat, nanging wonten ing kajen salib tumuju dhateng sedhanipun, Gusti rumaos piyambakan. Tamtu minangka Gusti, Gusti Yesus ngrumaosi bilih dados manungsa sanes kawontenan ingkang bingahaken. Nanging Panjenenganipun karsa milih lan kendel dados manungsa ingkang ngrangkul karingkihan. Sedaya dipun lampahi supados manungsa kaapura, ngalami pangruwating dosa lan gesang langgeng. Awit, nyatanipun risakipun sesambetan umat kaliyan Gusti Allah punika namung saged katebus dening Abdinipun Allah.
Cariyos natal Gusti Yesus Kristus kalampahan wonten ing satengahing karisakan, raos ajrih, lan tumindak pasulayan. Ngantos dumugi dinten punika, kita taksih manggen wonten ing satengahing donya ingkang ngalami karisakan awit budaya pati ingkang ngoyot wonten satengahing gesang manungsa. Kaprihatosan punika dados pemanggihipun St. Yohanes Paulus 2 ingkang wonten ensiklik Evangelium Vitae, nyuraos bab Budaya Kehidupan vs Budaya Kematian. Budaya kehidupan ngemu artos pemanggih ingkang ngajeni gesangipun sesami lan bumi, ingkang dipun tandhani kaliyan kabingahan. Kosokwangsulanipun budaya kematian punika budaya ingkang mapananaken manungsa lan bumi dados objek ingkang lajeng ngrisak gesang punika piyambak. Budaya punika lair saking dosa. Dosa ingkang mboten namung dipun mangertosi dredahipun sesambetan manungsa kaliyan Gusti Allah, nanging ugi risakipun sesambetan manungsa kaliyan bumi lan sesami.
Awit manungsa tansah rumaos kirang, kepengin luwih lan kendel nyuraos cekap, ndadosaken manungsa dados serakah lan ngrumaosi dados punjering sedayanipun. Sesami lan bumi namung dados obyek supados pepinginanipun ingkang tanpa winates kinabulan. Oyoting dosa punika nglairaken tumindak perdagangan manungsa, risakipun bumi, tiyang alit ingkang sangsaya awrat gesangipun, kekerasan berbasis gender, risakipun wana minangka griya kangge masyarakat adat, tanduran lan sato kewan, paprangan ingkang nebihi budaya kehidupan.
Netepaken dados manungsa tamtunipun kebak resiko. Nanging, Gusti Yesus dados manungsa ingkang ringkih lan winates kangge ngetingalaken katresnan-Ipun kangge manungsa, saged ngaturaken dhiri minangka Sang Mitra kangge manungsa ingkang ngalami karingkihan wonten gesang. Rawuhipun dados manungsa kangge nyarengi manungsa ngadhepi mawarni-warni kahanan ingkang asring nangletaken rawuhipun Gusti. Kados dene lampahipun bangsa Israel ingkang ngrumaosi katilar lan kategakaken dening Gusti wonten ing pangawulan, nyuraos “Gusti wonten pundi ing kasrakatanku?”. Mila, lajeng Gusti ingkang tebih, transenden netepaken dhiri dados Gusti Allah ingkang imanen. Rawuhipun Gusti mboten namung kagambaran Gusti Allah ingkang ngrawuhaken raos takjub, nanging ugi rumaket. Gusti ingkang saderengipun dipun tepang sarana ukara lan pangertosan, nanging sapunika dados manungsa. Sanes Gusti Allah ingkang tebih, nanging Gusti Allah ingkang nunggil wonten ing satengahing umat.
Kita dipun timbali dados manungsa natal ingkang wantun dados manungsa ingkang wetah. Wantun nyuraos cekap dhateng dhiri, mahargya gesang kanthi bingah, andhum berkah, lan dados pawartos katentreman kawiwitan saking padintenan. Mila menawi kepingin nyanyi, senaosa mboten profesional, swawi ngluhuraken asmanipun Gusti menawi punika ndadosaken manah kita sangsaya mardika. Menawi pingin joged, menawi punika saged ngirangi kamomotan, ingkang wigati katindakaken kanthi temen. Menawi pingin nggambar, mboten usah kuwatos menawi punika perangan saking aktualisasi dhiri. Menawi pingin nresnani, senaosa katresnan kita mboten kados dene Galih lan Ratna, Romeo lan Juliet, Rama lan Shinta, nanging wigati menawi kita terus tuwuh sarana tulusing manah. Senaosa mboten sampurna utawi biasa, nanging samudayanipun endah wonten ing ngarsan-Ipun lan kagem kaluhuranipun Gusti. Mila, pawartos miyos-Ipun dinten punika nimbali kita supados wantun nresnani dhiri awit Gusti dados manungsa kangge panebusing dosa kita, ndherek nuladha timbalanipun Gusti dados manungsa, ingkang mboten kendel nindakaken budaya kehidupan.
Panutup
Kados pundi kaliyan situasi gesang ingkang kita adepi sapunika? Budaya kematian punapa ingkang saweg kita adhepi wonten ing gesang bebrayan, masyarakat, lan bumi? Menawi kita dipun tresnani Gusti kanthi sanget, kita tinimbalan sinau nglairaken katresnanipun Gusti, martosaken Injil (pawartos rahayu) lumantar dhiri pribadi, sinau nresnani, ngaliraken kabingahan, nglairaken katentreman, betha pangajeng-ajeng, mawartosaken katentreman dhateng sesami. Wantun dados manungsa, senaosa ringkih lan biasa. Awit ingkang perlu dipun mahargya inggih punika katresnanipun Gusti ingkang agung. Bilih natal kacariosaken wonten ing satengahing kahanan ingkang awrat, gegilutan sosial, saha rekasaning gesang tiyang alit, nanging pawartos rahayunipun, Gusti Allah mboten namung mireng, nggatosaken pangadhuh kita saking Kraton ingkang mulya lan paring sabda lumantar para Nabi, ananging Panjenenganipun karsa rawuh, nyapa, ngrengkuh winatesing dhiri kita lan nyuraos: ”Aku nganthi kowe tanpa wates, tanpa syarat.” Mila swawi kita gesang kanthi tresna tinresnan, kawiwitan saking dhiri kita pribadi, sesami, lan bumi awit Gusti sampun maringi Sariranipun kangge nresnani kita. Sugeng Natal! Amin. [NW].
Pamuji: KPJ. 220 Dinten Natal Dinten Adi