Malam Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 6
Mazmur: Mazmur 96
Bacaan 2: Titus 2 : 11 – 15
Bacaan 3: Lukas 2 : 1 – 14
Tema Liturgis: Memilih Kehidupan di Tengah Budaya Kematian
Tema Khotbah: Terang yang Lahir dari Pinggiran: Misi Keselamatan untuk Dunia
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 9 : 1 – 6
Yesaya 9:1-6 secara sederhana berbicara tentang konteks penderitaan Israel yang tengah mengalami ancaman-penindasan, khususnya dari Asyur. Bagian ini muncul setelah gambaran kesuraman dalam pasal sebelumnya menggambarkan murka Allah atas dosa umat-Nya. Namun, teks ini memberikan harapan yang istimewa, sebuah terang besar akan bersinar di tengah kegelapan, khususnya dalam wilayah-wilayah yang paling terdampak invasi asing (Zebulon dan Naftali). Di tengah penderitaan akibat ketidaktaatan dan konsekuensi geopolitik, Allah menunjukkan bahwa pembaruan itu akan datang dari daerah yang paling terabaikan! Dalam konteks ini, terang yang dimaksud bukan sekedar pembebasan secara politis, melainkan kehadiran Allah akan membawa pembaruan total.
Selanjutnya, paparan tentang terang yang besar merupakan metafora yang kerap digunakan untuk menggambarkan kehadiran dan karya penyelamatan Allah (bdk. Yes. 9:2). Terang ini menjadi sebuah simbol atau lambang hilangnya kegelapan dosa, penindasan, dan penderitaan! Sukacita yang digambarkan dalam Yesaya 9:3 mengacu pada sukacita pada saat panen, sebuah simbol kelimpahan dan pemeliharaan Allah. Dalam tradisi Israel, panen selalu dipandang sebagai anugerah Tuhan, dan kemenangan atas lawan sering dirayakan seperti perayaan panen. Penggunaan gambaran ini menandakan bahwa penyelamatan Allah bukan hanya bersifat rohani, melainkan juga menyentuh aspek kehidupan yang paling mendasar, pemulihan dan kelimpahan bagi umat yang telah lama hidup dalam tekanan.
Yesaya 9:6 menulis dengan memperkenalkan ‘seorang anak yang lahir’ sebagai pembawa terang. Anak ini digambarkan dengan gelar-gelar yang sangat agung: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Gelar-gelar yang disematkan pada ‘anak’ menunjukkan gelar yang melampaui figur manusia biasa, menunjukkan karakter ‘mesianik’ dari raja yang akan datang, yang memerintah dengan keadilan dan damai. Dalam konteks Perjanjian Lama, gelar-gelar ini mengacu pada harapan akan seorang raja dari keturunan Daud yang akan memulihkan tatanan Allah di dunia. (Catatan: Tafsiran Kekristenan melihat nubuat ini dalam kehadiran Yesus Kristus yang kehadiran-Nya membawa terang dan damai sejati bagi dunia).
Titus 2 : 11 – 15
Surat Titus ditulis oleh Paulus dalam rangka memberikan arahan kepada Titus, seorang sahabat, anak didik, sekaligus pemimpin gereja di Kreta. Arahan tersebut berfokus tentang pengajaran yang sehat dan kehidupan Kristen yang mencerminkan iman. Paulus menekankan pentingnya anugerah Allah yang membawa keselamatan dan transformasi hidup bagi orang percaya. Paulus dalam Titus 2:11 menekankan bahwa kasih karunia Allah telah nyata melalui inkarnasi, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Penggunaan kata Yunani ἐπεφάνη mengacu pada manifestasi kasih karunia yang terlihat jelas dalam Kristus. Kasih karunia ini bersifat universal, ditawarkan kepada semua manusia tanpa memandang latar belakang, namun harus diterima melalui iman. Kasih karunia Allah bersifat proaktif, bukan karena manusia layak, tetapi karena Allah mengasihi manusia. Hal ini mengoreksi pandangan legalistik yang mengutamakan usaha manusia daripada anugerah Allah.
Selanjunya Paulus menegaskan dalam tulisannya bahwa kasih karunia Allah bukan hanya menyelamatkan, melainkan juga mendidik (Yun: παιδεύουσα, paideuousa). Dalam hal ini kasih karunia dimaknai sebagai kekuatan melatih diri untuk meninggalkan dosa dan menjalani hidup yang semakin mengarah pada kehendak Allah. Titus 2:12 setidaknya memaparkan tiga aspek yang dibentuk oleh kasih karunia: (1) meninggalkan dosa, menolak segala bentuk kefasikan, kejahatan, dan segala keinginan duniawi, seperti egoisme, materialisme, dan hedonisme, (2) hidup bijaksana, pengendalian diri dalam kehidupan pribadi, (3) adil dan taat dalam peribadahan, berelasi dengan sesama secara adil dan berelasi dengan Allah melalui penyembahan yang benar. Secara praktis, kehidupan yang dipimpin oleh kasih karunia adalah kehidupan yang mencerminkan perubahan nyata, baik secara personal, sosial, maupun spiritual.
Dalam Titus 2:13, Paulus memperkenalkan tentang pengharapan eskatologis, yakni kedatangan kembali Kristus. Pengharapan yang tentunya tidak bersifat pasif, melainkan pengharapan aktif yang mendorong orang percaya untuk hidup kudus sambil menantikan penggenapan janji Allah. Pengharapan ini adalah inti dari iman Kristen yang memberikan kekuatan untuk bertahan dalam kehidupan sambil berfokus pada janji kehidupan kekal. Dalam memaparkan pengharapan eskatologis, Paulus menunjukkan bagaimana kasih Kristus diwujudkan, bukan sekedar dalam konsep dan wacana (bdk. Tit. 2:14). Hal ini menandaskan bahwa kehidupan orang percaya seharusnya menyatakan respons terhadap karya Kristus dengan cara hidup kudus dan produktif dalam melakukan kebaikan sebagai bukti nyata dari iman yang hidup.
Dan pada akhirnya Paulus memberikan perintah dan penguatan kepada Titus untuk mengajar dengan tanpa rasa takut (bdk. Tit. 2:15). Pesan ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan rohani yang kuat dalam menjaga kemurnian ajaran. Paulus menegaskan kepada Titus bahwa seorang pemimpin dipanggil untuk berani menyampaikan kebenaran dan menjadi teladan integritas ajaran.
Lukas 2 : 1 – 14
Lukas 2:1-14 dimulai dengan narasi tentang sensus yang diadakan oleh Kaisar Agustus sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria (Ay. 1-2). Konteks historis yang demikian ini menunjukkan pengaruh kuat kekuasaan Romawi pada kehidupan orang Yahudi. Lukas secara sengaja menampilkan detail kronologi ini tentunya bukan sekedar menjadi sebuah cerita, melainkan Lukas sedang menekankan bahwa kelahiran Yesus benar-benar menyapa dalam inkarnasi Allah ke dalam dunia manusia (Inkarnasi: tindakan Allah yang aktif mendekati manusia, melalui kelahiran Yesus, Allah menunjukkan bahwa keselamatan bukan lagi konsep abstrak, melainkan hadir secara konkret dalam kehidupan). Betlehem ditonjolkan oleh Lukas sebagai tempat kelahiran Allah yang berinkarnasi, selain merujuk pada pemenuhan nubuat Perjanjian Lama (bdk. Mikha 5:2) juga ingin menunjukkan bahwa Betlehem sebagai kota kecil yang tidak dianggap penting dan tempat ini dipilih Allah sebagai tempat lahirnya Sang Mesias. Hal ini menunjukkan pola karya Allah yang berkarya melalui hal kecil dan sederhana, bahkan sering kali tidak dianggap ada!
Tulisan Lukas semakin terlihat tentang keberpihakannya terhadap yang asing dan terpinggirkan melalui bahasa dan simbol-simbol yang ditegaskan. Lukas 2:6-7 menjelaskan bahwa Yesus yang merupakan inkarnasi Allah yang menyapa manusia lahir di palungan, sebuah tempat rendah yang jauh dari kata mewah. Bagian ini cukup kontras dengan harapan Mesias yang datang dalam kemegahan. Kelahiran-Nya di palungan mengajarkan bahwa Allah ‘merendahkan diri’ untuk masuk ke dalam dunia manusia, menjangkau semua orang, termasuk mereka yang termarjinalkan. Yesus, Sang Raja, tidak dilahirkan di istana, melainkan dalam kondisi sederhana, menunjukkan solidaritas Allah dengan umat manusia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk penderitaan dan kesederhanaan. Palungan sekaligus menjadi sebuah simbol bahwa umat kepunyaan-Nya layaknya domba yang mengecap dan merasakan makanan yang ada di dalam palungan, yakni ‘mengecap’ Yesus dalam kehidupan.
Selanjutnya, Lukas semakin kentara dalam keberpihakannya kepada yang rendah dan terpinggirkan dalam Lukas 2:8-14. Lukas menuliskan bahwa kabar sukacita ini pertama kali diumumkan kepada para gembala yang pada saat itu dianggap sebagai kelas sosial rendah dan sering dianggap sebelah mata. Hal ini menegaskan bahwa inkarnasi Allah dalam dunia manusia adalah kabar baik bagi semua orang, terutama bagi mereka yang dianggap rendah oleh dunia. Para gembala menjadi simbol bahwa keselamatan dalam Kristus tidak bergantung pada status sosial, melainkan diberikan kepada semua manusia tanpa diskriminasi. Dengan menjadikan gembala sebagai saksi pertama, Lukas menandaskan bahwa kabar baik ini melampaui batas-batas etnis dan sosial. Secara sederhana Lukas dalam tulisannya ingin memberikan penekanan bahwa Allah merangkul orang-orang yang terpinggirkan dan mengangkat mereka dalam kasih karunia-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Terang yang lahir dari pinggiran adalah pernyataan kasih Allah yang menembus batas ‘kegelapan’ untuk membawa harapan dan pemulihan bagi dunia. Dalam karya-Nya, Allah tidak memilih kemegahan atau keistimewaan dunia, tetapi menyatakan diri-Nya melalui kesederhanaan, yang terabaikan, dan yang terpinggirkan. Terang ini tidak hanya menghapus kegelapan dosa dan penderitaan, tetapi juga sebuah undangan untuk mengalami pembaruan hidup. Allah menyapa dalam kelembutan dan kerendahan hati, menjangkau mereka yang dilupakan dan memperlihatkan bahwa keselamatan tidak bergantung pada status atau kekuatan manusia, melainkan pada anugerah-Nya semata. Terang ini adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam kasih karunia, sukacita, dan pengharapan, sekaligus menjadi saksi nyata misi keselamatan Allah bagi dunia.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Perayaan Natal selalu identik dengan alunan pujian yang membawa kedamaian, menghangatkan, dan menenangkan hati. Salah satu pujian yang begitu khas dalam perayaan malam Natal adalah “O Holy Night.”
O Holy night! The stars are brightly shining
It is the night of our dear Savior’s birth
Long lay the world in sin and error pining
‘Til He appeared and the soul felt its worth
A thrill of hope the weary world rejoices
For yonder breaks a new and glorious morn
Fall on your knees; O hear the Angel voices!
O night divine, O night when Christ was born
O night, O Holy night, O night divine
Ketika mencermati bagian lirik “A thrill of hope, the weary world rejoices, for yonder breaks a new and glorious morn.” Bagian ini menggambarkan dunia yang letih, penuh dengan kegelapan, dan ketidakpastian, yang tiba-tiba dipenuhi dengan harapan karena Sang Terang telah lahir! Dunia yang penuh kelelahan, ketidakadilan, dan penindasan, lantas dipenuhi dengan harapan baru karena Sang Juruselamat telah datang, lagu ini tidak hanya bercerita tentang sukacita natal, melainkan juga berbicara tentang misi Allah yang berkarya atas kehidupan manusia dari kegelapan menuju terang!
Nyanyian “O Holy Night” menegaskan bahwa kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah, melainkan kehadiran terang yang menghibur dan memulihkan dunia yang letih. Dan perlu diketahui bahwa Terang itu tidak muncul di pusat kekuasaan atau kemegahan dunia, melainkan lahir dari pinggiran, dari tempat kecil dan sederhana yang sering diabaikan oleh banyak orang. Kelahiran Yesus menjadi simbol kehadiran Allah yang berpihak kepada mereka yang terpinggirkan, membawa harapan bagi semua yang hidup dalam kegelapan.
Isi
Bacaan Yesaya 9:1-6 menegaskan tentang keberpihakan Allah kepada mereka yang terpinggirkan dan terabaikan. Dalam konteks penderitaan Israel yang ada dalam penindasan, Allah tidak datang dalam kekuasaan yang sering ditunjukkan dunia, namun justru memilih jalan pembaruan dari daerah yang dilupakan dan diabaikan (Zebulon dan Naftali). Figur Mesias yang digambarkan sebagai ‘anak yang lahir’ dengan gelar-gelar agung menegaskan bahwa keselamatan Allah datang dengan cara yang penuh kelembutan dan kasih, merangkul mereka yang paling rendah dan menghadirkan damai yang sejati.
Semakin jelas ketika melihat dalam Lukas 2:1-14 yang memberikan pengajaran tentang keselamatan Allah yang datang untuk mereka yang terpinggirkan, terabaikan, dan sering dianggap sebelah mata oleh dunia. Ada beberapa point menarik dari teks Lukas ini untuk bersama dicermati berkaitan dengan hal tersebut:
Betlehem: Tempat Pinggiran Kelahiran Yesus Kristus
Lukas menuliskan Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus, sebuah tempat kecil yang tidak dianggap penting. Hal ini menjadi sebuah simbol bahwa kehadiran Allah sampai pada hal yang kecil dan sederhana, bahkan yang sering kali tidak dihargai dan dianggap ada! Simbol Betlehem menunjukkan bahwa keselamatan tidak terbatas pada hal yang besar, megah, dan istimewa, melainkan hadir dalam kesederhanaan bahkan keterbatasan. Sebuah panggilan dalam penghayatan Natal untuk terus menghargai dan memperhatikan ‘mereka’ yang mungkin dianggap tidak penting dan terpinggirkan dalam kehidupan.
Palungan: Tempat Makan – Tempat Kelahiran Yesus Kristus
Palungan sebagai tempat makan domba, menjadi simbol mendalam dalam kelahiran Yesus Kristus dalam Injil Lukas. Kelahiran-Nya di palungan memberikan pesan agar umat milik-Nya benar-benar mampu “merasakan” kehadiran Kristus dalam hidup, seperti domba yang makan di palungan untuk bertahan hidup, demikian juga umat dipanggil untuk “makan-nggayemi tentang Yesus Kristus” dan menjadikan-Nya sebagai bagian dari hidup untuk semakin mengenal kasih dan kehendak-Nya.
Gembala: Terpinggirkan Namun Diberi Peran Utama
Kabar sukacita pertama kali disampaikan kepada para gembala, kelompok yang terpinggirkan dan sering dianggap rendah dalam masyarakat. Pemilihan para gembala sebagai penerima pertama berita kelahiran Yesus menegaskan bahwa keselamatan yang dibawa oleh Kristus bukan hanya untuk orang-orang berstatus sosial tinggi, tetapi juga bagi mereka yang terabaikan. Kabar baik ini menembus batasan sosial dan etnis, menegaskan bahwa Allah melihat setiap orang dengan nilai yang sama, dan memberikan mereka tempat dalam rencana keselamatan-Nya. Bagian ini adalah pengingat bagi umat untuk merangkul mereka yang terpinggirkan dalam kehidupan, karena dalam pandangan Allah, mereka sangat berharga.
Ketiga simbol di atas menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak terbatasi oleh apapun. Allah hadir di tengah-tengah yang sederhana dan terpinggirkan, membawa kabar sukacita yang dapat menyentuh semua orang, terutama mereka yang sering dilupakan.
Senada dengan pesan Lukas, Paulus dalam tulisannya kepada Titus menjelaskan bahwa kasih karunia Allah dinyatakan melalui Yesus Kristus untuk semua orang tanpa terkecuali. Kasih karunia itu bukan hanya menyelamatkan, namun juga mendidik umat untuk meninggalkan dosa dan hidup dalam kebenaran serta ketaatan. Panggilan untuk merespons karya Kristus merupakan cerminan hidup yang memancarkan kasih, terutama kepada mereka yang diabaikan.
Penutup
Natal adalah tentang terang yang lahir dari pinggiran, terang yang datang melalui kesederhanaan dan kerendahan hati. Allah memilih hal yang kecil, rendah, dan sederhana untuk menyatakan kelahiran Sang Juruselamat. Terang yang lahir itu adalah harapan bagi dunia, dan Allah memanggil umat untuk menjadi bagian dari misi-Nya, membawa terang kepada mereka yang hidup dalam beban pergumulan, kesepian, dan kehilangan.
Mother Teresa pernah mengatakan, “Not all of us can do great things, but we can do small things with great love.” Natal mengajarkan bahwa kasih Allah nyata melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar. Selamat merayakan Natal dalam kesederhanaan, selamat merengkuh mereka yang terabaikan, seperti Yesus yang menyapa dunia dalam cinta-Nya. Amin. [gus].
Pujian: KJ. 94 Hai Kota Mungil Betlehem
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Pahargyan Natal punika caket kaliyan pepujian ingkang maringi kahanan tentrem lan ayeming manah. Salah satunggaling pujian ingkang asring dipun pujekaken ing salebeting pahargyan Natal nggih punika “O Holy Night.”
O Holy night! The stars are brightly shining
It is the night of our dear Savior’s birth
Long lay the world in sin and error pining
‘Til He appeared and the soul felt its worth
A thrill of hope the weary world rejoices
For yonder breaks a new and glorious morn
Fall on your knees; O hear the Angel voices!
O night divine, O night when Christ was born
O night, O Holy night, O night divine
Nalika nggatosaken salah satunggaling gatra ing pujian punika “A thrill of hope, the weary world rejoices, for yonder breaks a new and glorious morn.” Bab punika paring gambaran bilih kahanan alam donya ingkang semplah, lungkrah, lan lumebet ing pepeteng, dumadakan kaparingan pangajeng-ajeng, awit Pepadhang Sejati sampun miyos-mbabar ing alam donya. Alam donya ingkang semplah lan kebag momotan saha prekawis, lajeng kebag kaliyan pangajeng-ajeng enggal, awit Sang Juru Wilujeng sampun rawuh, perlu kawuningan pujian punika ateges mboten namung nyariosaken suka-bingahing natal kemawon, ananging ugi nyariosaken bab pangangkahing Gusti Allah ingkang makarya ing gesanging manungsa, gesang saking pepeteng tumuju ing pepadhang!
Pepujian “O Holy Night” mbabaraken bilih miyosing Sang Yesus Kristus mboten namung babagan ingkang kaserat minangka sejarah, ananging miyosing Gusti Yesus punika wujud rawuhing Sang Pepadhang ingkang paring panglipuran saha pamulihan tumrap kahanan ndonya ingkang samplah lan dhawah! Lan perlu kawuningan bilih Pepadhang punika mboten mbabar ing punjering kahanan ndonya ingkang agung, kebag panguwasa, saha ngedab-edabi, ananging miyos saking papan pinggiran, papan ingkang alit saha prasaja ingkang asring dipun lirwakaken dening kathah tiyang. Miyosing Sang Kristus minangka tandha rawuhing Gusti Allah ingkang ngrengkuh saha ngayomi para tiyang ingkang dipun sisihaken, lan estu ngasta pangajeng-ajeng kagem sedaya ingkang gesang ing salebeting pepeteng.
Isi
Yesaya 9:1-6 nyariosaken bab pangayomaning Gusti Allah ingkang ngrengkuh saben tiyang ingkang dipun sisihaken lan dipun lirwakaken. Ing babagan kasangsaraning Israel ingkang nampeni panindhes, Gusti Allah mboten rawuh ing babagan panguwasa kados dene ingkang asring dipun sipati ing alam donya, ananging Gusti Allah miji margi sanes ingkang enggal lumantar papan ingkang asring dipun sisihaken lan dipun lirwakaken (Zebulon lan Naftali). Mesias ingkang dipun gambaraken minangka ‘putra kang miyos’ kanthi gelar ingkang adi, paring pemanggih bilih kawilujengan ingkang pinangkanipun saking Gusti Allah punika mbabar lan rawuh kanthi cara ingkang kebag katresnan saha alusing budi, ngrengkuh sedaya ingkang asor lan mbabaraken tentrem ingkang sejati.
Tansaya cetha menawi mirsani Injil Lukas 2:1-14, ingkang paring piwucal bab kawilujengan kagem sedaya tiyang mliginipun ingkang dipun sisihaken, dipun lirwakaken, lan asring dipun asoraken dening paningalaning donya. Wonten waosan punika kaserat bab-bab ingkang wigati ingkang perlu sesarengan dipun sipati sesambetan kaliyan babagan kawilujengan punika:
Betlehem: Papan Pinggiran, Miyosing Gusti Yesus Kristus
Lukas kanthi cetha nyariosaken babagan Betlehem minangka papan dununging Gusti Yesus Kristus miyos ing alam ndonya, satunggal papan alit ingkang dipun raosaken mboten wigati! Bab punika dados tandha bilih babaring Gusti Allah punika ngrengkuh perangan ingkang alit lan prasaja, linuwih samubarang ingkang asring mboten dipun regani saha mboten dipun anggep wonten ing gesang! Betlehem nedahaken bilih kawilujengan punika mboten winates babagan ingkang adi, kasuwur, lan ngedab-edabi, ananging ugi mbabar nyata ing salebeting gesang ingkang prasaja, ugi ing bab ingkang sarwa winates. Salah satunggaling timbalan ing salebeting pahargyan natal punika ngantag para kagunganipun Gusti supados nggayuh lan ngupaya pigesangan ingkang tansah nggatosaken ‘liyan’ ingkang mbok bilih dipun anggep mboten wigati lan dipun sisihaken ing salebeting gesang.
Palungan: Papan Pamakanan – Papan Miyosing Gusti Yesus Kristus
Palungan ingkang dipun agem minangka papan pamakanan menda, dados tandha ingkang wigati sesambetan miyosing Gusti Yesus Kristus miturut Injil Lukas. Miyosipun Gusti ing ‘palungan’ paring pangatag supados para umat kagunganipun Gusti estu ‘ngraosaken’ rawuhipun Sang Kristus ing salebeting gesang, kados dene menda ingkang nedha ing palungan supados saged nglajengaken gesang, ugi mekaten para umat dipun timbali supados “dhahar -nggayemi babagan Gusti Yesus Kristus” lan ndadosaken bab punika lantaran tansaya wanuh lan ngener kaliyan sih katresnan lan karsanipun Gusti.
Para Pangon: Dipun sisihaken Naning Nampi Ingkang Utami
Pawartos suka-bingah miturut Injil Lukas ing wiwitan dipun babaraken tumrap para pangon, para tiyang ingkang kawastanan tiyang pinggiran lan asor ing satengahing masyarakat. Para pangon dipun piji nampeni pawartos punika sakderengipun para tiyang sanes wanuh, estu nedahaken bilih kawilujengan ingkang wonten ing Sang Kristus punika mboten namung kagem tiyang ingkang drajadipun inggil, ananging ugi kagem para tiyang ingkang asring dipun lirwakaken lan para tiyang punika ingkang utami. Bab punika nedahaken bilih Gusti Allah nguningani saben tiyang kanthi drajad ingkang sami, lan maringi saben tiyang papan ing salebeting rancangan kawilujengan. Babagan punika dados pangenget tumrap kita sami supados ugi saged ngrengkuh sok sintena ingkang kasisihaken ing satengahing gesang, awit para tiyang kalawau aji ing ngarsanipun Gusti.
Lumantar babagan ingkang sampun dipun babaraken estu nedahaken bilih kawilujenganipun Gusti Allah punika mboten winates kaliyan punapa! Gusti Allah mbabar ing satengahing kahanan ingkang prasaja lan tumrap ingkang kasisihaken. Gusti Allah mbabaraken kabar kabingahan kagem saben tiyang, mliginipun para tiyang ingkang asring dipun lirwakaken.
Sesambetan kaliyan piwucaling Injil Lukas, Paulus ugi paring pangatag lumantar serat kagem Titus bilih sih rahmating Gusti Allah punika kababar nyata lumantar Gusti Yesus Kristus kagem saben tiyang! Sih rahmat punika mboten namung milujengaken, ananging ugi ngatag lan paring piwucal supados para pandherekipun Gusti Yesus estu nilar dosa lan nglampahi gesang ing salebeting kayekten lan kasetyan. Timbalan adi saperlu mangsuli pakaryaning Sang Kristus punika wujud nyata gesang ingkang nyunaraken katresnan, mligi kagem para tiyang ingkang asring dipun lirwakaken.
Panutup
Natal punika babagan ‘pepadhang’ ingkang miyos saking papan pinggirian, pepadhang ingkang rawuh lumantar kahanan ingkang prasaja ugi andhap asoring manah. Gusti Allah miji babagan ingkang alit, asor, lan prasaja saperlu mbabaraken miyosipun Sang Juru Wilujeng. Pepadhang ingkang sampun mbabar punika minangka pangajeng-ajeng kagem kahanan alam ndonya, lan Gusti Allah nimbali para umat kagungan-Ipun supados saged ugi mujudaken karsa lan pakaryan-Ipun, mbabaraken pepadhang kagem saben tiyang ingkang ngalami momotan, prekawis, sepi, lan kelangan ing salebeting gesang.
Teresa paring dhawuh, “Not all of us can do great things, but we can do small things with great love.” Bab punika paring piwucal bilih katresananipun Gusti Allah punika nyata lumantar tumindak alit ingkang kadhasaran kanthi tresna ingkang adi. Sugeng mahargya natal kanthi prasaja, sugeng ngrengkuh sesami ingkang kalirwakaken kados dene Gusti Yesus ingkang ngayomi ndonya kanthi tresanan-Ipun. Amin. [gus].
Pamuji: KPJ. 228 Ing Betlehem Kang Tan Aji