Mengalami Juru Selamat dengan Bersehati dan Menghormati Semesta Alam Khotbah Minggu 6 Januari 2019

Pembukaan Bulan Penciptaan / Epifani
Stola Putih

 

Bacaan 1 : Yesaya 60: 1-6
Bacaan 2 : Efesus 3: 1-12
Bacaan 3 : Matius 2:1-13

Tema Liturgis : Alam Ciptaan Tuhan Wujud Pemeliharaan Terhadap Umat-Nya
Tema Khotbah :Mengalami Juru Selamat dengan Bersehati dan MenghormatiSemesta Alam

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca/dipelajari saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 60:1-6 :

Yesaya 60 berpokok tentang perintah supaya umat Israel melakukan restorasi perbaikan kembali terhadap Sion dan melakukan transformasi perubahan mendasar sesuai kehendak Tuhan.“Bangkitlah, dan menjadi teranglah,” yang terdapat sebagai awalan Kitab Yesaya 60 ini merupakan perkataan berbentuk perintahsupaya umat Israel bangkit untuk membangun Yerusalem dan menjadi teladan nyata dalam hal keadilan.Pengertian ini bisa diperluas seturut tema liturgis kita, supaya para pembaca Kitab Yesaya 60 bangkit dan menjadi terang dalam kehidupan sehari-hari. Sementara yang disebutkan sebagai situasi kegelapan yang menutupi bumi dan kekelaman yang sedang melanda bangsa-bangsa, merupakan keadaan Yerusalem yang mengalami kerusakan hebat dan bangsa-bangsa yang mengalami situasi ketidakadilan serta kerusakan mental yang berat. Kegelapan bumi maupun kekelaman bangsa-bangsa pada Yesaya 60:2 dalam konteks tema liturgiskita saat ini bisa dimaknaiuntuk menyebut suasana kerusakan alam dan kerusakan sistem kehidupan di berbagai bidang. (Kata kunci: bangkitlah, menjadi teranglah, terang TUHAN, restorasi, transformasi)

Efesus 3: 1-12:

Tradisi rasuli dalam Perjanjian Baru adalah perutusan untuk pewartaan kabar baik kepada bangsa-bangsa(dicontohkan dalam teladan karya Rasul Paulus yang mewartakan Injil bagi orang Yahudi dan non Yahudi) dan juga bertujuan untuk memelihara semesta. Perikop Efesus 3:1-12 secara utuh menjelaskan bahwa pengikut Kristus memiliki tugas tugas rasuli mewartakan Injil kabar baiktermasuk melakukan kabar baik terhadap alam semestayang dalam Surat Efesus 3 disebut sebagai kekuatan kosmis (seturut Efesus bab 3 ayat 10). Ungkapan Efesus 3:10-11 : “…supaya sekarang oleh Jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita….” ini menunjuk kepada pewartaan Injil yang teramat penting bagi pemeliharaan alam kosmis. Pada ayat 10 disebutkan: pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga; ini menunjuk kepada penguasa-penguasa langit/penguasa-penguasa supernatural yang mengarah kepada struktur dan sistem alam semesta raya.Sehingga substansi Efesus 3:1-12 ini mengisyaratkan bahwa seluruh pengikut Kristus baik Yahudi maupun non-Yahudi  bertanggung jawab supaya berani dan penuh kepercayaan melaksanakan kehendak Allah dan tidak tawar hati ketika menghadapi berbagai tantangan untuk melaksanakan tugas perutusan termasuk dalam memelihara alam semesta sebagai bagian utuh penginjilan.(Kata kunci: Berita Injil, memberitakan, hikmat Allah, maksud abadi, jangan tawar hati)

Matius 2:1-13

Orang Majus adalah ahli perbintangan dari negeri Timur. Mereka adalah para ahli yang mendasarkan keahliannya kepada pengenalan jeli keadaan alam dan mengakrabi semesta, salah satunya dengan mengakrabi unsur alam yaitu bintang. Pertanda alam (berupa bintang) mereka kenali, mereka teliti, mereka akrabi.Orang Majus dapat bertemu dengan bayi Yesus, memberi persembahan kepada Juru Selamat, dan menyembah Dia di sebuah tempat di Betlehem karena mereka sungguh memperhatikan tanda alam yang berupapetunjuk bintang terangdengan mentaati peringatan dari Tuhan. (Kata kunci: orang-orang Majus dari Timur, bintang-Nya, menyembah Dia)

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Secara singkat benang merah ketiga bacaan tersebut dapat diterangkan dalam alur berikut:

Bangkit  Menjadi Terang → untuk melakukan keadilan  untuk mengabarkan Injil, mewartakan kabar baik untuk alam semesta (yang dalam Efesus 3: termasuk alam supernatural)  melihat teladan orang Majus (orang yang teliti dan telaten mengakrabi,mengenali, menghormati alam) yang dituntun oleh unsur alam (dengan pertanda terang bintang) untuk sowan, berjumpa bayi Yesus dan menyembah Dia.

Alur benang merah tersebut bila diperjelas bisa kita baca sebagai berikut:

Sangatlah penting bagi seluruh umat beriman untuk bangkit, menjadi terang, membangun kembali alam ciptaan Tuhan yang telah rusak supaya semesta menjadi pulih dan hidup sungguh berkeadilan. Usaha pembangunan kembali lingkungan yang semula rusak demi kehidupan yang berkeadilan (Yesaya 60:1-6) merupakan tugas perutusan pewartaan Injil yang utuh. Kita umat Kristen diutus dalam tugas rasuli sebagai murid Kristus untuk berani mengabarkan Injil bagi pemulihan alam semesta untuk pemeliharaan alam kosmis yang menjadikan alam semestaini menjadi berkat.Orang Majus yang mengakrabi dan menghormati alam semestamenjadi contoh bahwa mereka yang memperhatikan alam semesta dan kebijaksanaannya dipelihara oleh anugerah alam ciptaan Tuhan,dengan dituntun tanda bintang terang, sehingga mereka berhasil mencapai tujuannya untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus dan menyembah Dia.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sendiri sesuai konteks Jemaat) 

 

Mengasihi Alam Semesta untuk Menyembah Juru Selamat Dunia

Suatu hari ketika Fransiskus dari Asisi berkhotbah di Timur Laut Perugia Italia, terdengar kabar gempar seluruh kota karena seekor serigala buas membunuh beberapa orang perempuan dan laki-laki. Penduduk kota sangat takut. Fransiskus berkata kepada para pendengarnya,” Aku akan pergi dan berbicara dengan serigala itu.” Seluruh penduduk kota memanjat atap-atap rumah dan benteng kota untuk melihat bagaimana Fransiskus melakukannya. Dengan moncong berbusa, seekor serigala buas berlari ke arah Fransiskus. Fransiskus membuat tanda salib dan berkata,” Tunggu sebentar, Saudaraku, Serigala. Dalam nama Yesus, aku melarangmu melukaiku ataupun orang lain.” Serigala itu berhenti, menundukkan kepalanya, mulai mendengarkan, bahkan merebahkan diri di kaki Fransiskus sebagai tanda bahwa ia menaati perintahnya.

Ketika Fransiskus bercakap-cakap dengan burung pun,burung-burung menjadi sungguh bernyanyi memuji Allah. Serigala yang mengganggu kota menjadi taat dan turut perintah. Serigala yang marah menjadi jinak dan mengikut Fransiskus.Bergaul dengan satwa, berkomunikasi dengan semesta itulah kelebihan Fransiskus dari Asisi, seorang anak pedagang kaya raya yang menjadi miskin karena mengikut Kristus dan menjadi pewarta sabda bahagia, pekabar Injil, perestorasi iman yang total mempersembahkan hidupnyakepada Yesus (kisah lengkapnya dapat dibaca pada: Ben Alex, 2012, Fransiskus dari Asisi: Laki-laki yang memberikan Segalanya untuk Mengikut Yesus (Seri Pahlawan Iman), Jakarta: BPK Gunung Mulia).

Seperti kisah Fransiskus Asisi yang bersaudara ramah dan bersahabat karib dengan para mahkluk ciptaan Tuhan, Para Majus dapat berjumpa bahkan bisa takzim menyembah bayi Sang Juru Selamat,karena mereka dengan cermat memperhatikan tanda alam yang menuntunnya, yaitu bintang yang terang bersinar. Tanda alam dihayati sebagai petunjuk untuk datang menyembah Dia. Unsur alam dihormati sebagai jalan perjumpaan dengan Juru Selamatuntuk menyembah Sang Bayi. Alam yang sejatinya menjadi tanda kehadiran Sang Juru Selamat diakrabi diramahi menuntun Para Majus berjumpa Raja di atas segala raja.

Seperti Para Majus yang dituntun bintang terang untuk menyembah Dia, maka zaman ini pun kita diingatkan untuk menghormati kehidupan alam semesta sebagai pertanda kita sungguh menyembah Tuhan Yesus Kristus. Omong kosong saja orang mengaku menyembah Tuhan Sang Pencipta Kehidupan dan menyatakan iman kepada-Nya, apabila sama sekali tak menghormati semesta ciptaan-Nya. Seperti orang Majus, setiap orang yang menghormati alam dalam kerangka keselamatan demi menghormati Allah Sang Pencipta, sesungguhnya dipelihara dan dibimbing oleh kekuatan semesta untuk mengalami kehidupan, keselamatan, mengalami perjumpaan dan penyembahan sejati dengan Sang Juru Selamat.

Saudara-saudari umat beriman, apakah pemeliharaan dan keakraban dengan alam semesta masih menjadi bagian pokok perhatian kita ketika hidup menggereja? Apakah penghormatan kepada kelestarian alam semesta menjadi bagian yang utuh dalam hidup beriman untuk menyembah Dia? Sekali lagi, apakah kebijaksanaan yang bersumber pada pengenalan alam semesta masih ada menjadi bagian utuh kearifan kita dalam bergereja, dalam hidup beriman, atau justru kita melupakan dan membuangnya sehingga menjadikan kasih kita kepada alam semesta sebagai nyanyian omong kosong?  Lihatlah! Bacalah! Bahwa Para Majus yang mengakrabi kebijaksanaan dari kearifan alam sungguh dituntun oleh tanda bintang sehingga bisa datang menyembah Yesus Kristus Juru Selamat dunia!

Bangkit dan menjadi teranglah wahai umat Kristen! Setiap orang beriman, setiap kita orang percaya diutus untuk bangkit dalam kesadaran dan gerakan untuk bersungguh-sungguh menjadi terang bagi pemeliharaan alam semesta, demi mewujudkan keadilan dan keselamatan atas semua ciptaan. Setiap kita yang mengaku sebagai milik dan pengikut Kristus diutus untuk mewartakan kabar baik bagi semesta, dengan mengasihi semesta, di dalam perutusan merawat alam kehidupan supaya terjadi keselamatan kosmis. Keselamatan kemanusiaan yang utuh hanya bisa terjadi ketika alam semesta dirawat.

Kiranya semangat yang masih menggebu di awal Tahun Baru 2019 ini seharusnya menjadikan kita lebih bersungguh-sungguh dan lebih serius dalam melaksanakan perutusan kita mewartakan kabar baik, termasuk kabar baik bagi alam semesta. Kiranya renungan dan khotbah ini bukan hanya angin lalu bagi kita, melainkan mendorong gerak kita untuk tidak lagi bermain-main dengan kondisi lingkungan yang semakin rusak ini. Jangan kiranyasebagai umat beriman meremehkan pertanda alam melainkan mari kita bangkit dan menjadi terang dalamupaya menghormati dan merawat lingkungan hidup.

Kiranya memasuki tahun 2019 sekaligus memperingati bulan penciptaan sekarang,  perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang ditunjukkan melalui contoh sikap Para Majus yang memiliki sikap hormat, akrab, adab terhadap semesta mengilhami dan menginspirasi kita untuk bersungguh-sungguh mempergunakan waktu baru kesempatan hidup kita di tahun 2019 ini untuk lebih lagi bekerja keras untuk memperbaiki alam semesta. Menghormati semesta adalah tanda yang sungguh bahwa kita mencintai dan menyembah Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan akal budi.Seperti Para Majus yang bersungguh hati memberi persembahan emas, kemanyan, dan mur kepada Sang Bayi, selamat menyembah Dia dengan sungguh hati!Selamat mempersembahkan diri untuk kebaikan semesta kehidupan! Amin.

 

Nyanyian: KJ. 16:1&4; KJ. 19; KJ. 53; KJ. 58:4; Kidung Ria 45 “Semesta Bernyanyi”


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Ngajeni Alam Sarwa Tumitah Tandha Jati Manembah Gusti

Ing sawijining dina, nalika Fransiskus Asisi memucal ana ing laladan Timur Laut Perugia Italia, kaprungu kabar gempar ing saindenging kutha awit kedadean ana asu ajag kang mateni warganing kutha Perugia. Warganing kutha Perugia wedi banget. Fransiskus banjur paring dhawuh marang kang ngrungokake,” Aku bakal ngadhepi asu ajag kuwi.” Kabeh warganing kutha banjur menek munggah ing sak ndhuwuring  wuwungan omah lan lan benteng kutha supaya bisa nyawang anggoneFransiskus Asisi ngadhepi asu ajag kang nggegirisi mau. Tenan, kanthi congor kang kebak iler, ana siji asu ajag sing galak banget lumayu tumuju Fransiskus. Banjur Bapa Fransiskus Asisi nggawe tandha salib lan ngandika,” Mengko dhisik, mandhega Sedulurku, Asu Ajag. Ana ing Asma-Ne Gusti Yesus Kristus kowe dak prentah lan dak jaluk ojo nyilakani marang manungsa.” Asu Ajag kuwi mandheg jegreg. Alon-alon sirahe ndhingkluk, kupinge ipat-ipit tumuju marang Fransiskus, malah buntute banjur mobat-mabit. Asu Ajag kuwi rebah ana ing sikile Fransiskus dadi pratandha  Asu Ajag iku tunduk marang prentahe Rama Fransiskus Asisi.

Nalika Fransiskus jejagongan kaliyan peksi,peksi ramya saestu memuji ngluhuraken asmani- Pun Gusti.  Asu ajag ingkang damel geger dados taat lan manut prentahipun.Asu Ajag ingkang galak dados jinak lan ndherek Bapa Fransiskus.Kekancan kaliyan sato kewan, jejagongan kaliyan sedaya mahkluk punika kaunggulanipun Fransiskus Asisi.Fransiskus Asisi punika estunipun putranipun juragan sugih, dene Fransiskus dados mlarat awit nilaraken gesang kadonyan lan setya tuhu ndherek Gusti Yesus Kristus martosaken Injil, kangge mbangun iman. Fransiskus Asisi saestu total ngabdi dhumateng Gusti Yesus(cariyos ingkang jangkep saged dipun waos salah setunggalipun wonten buku: Ben Alex, 2012, Fransiskus dari Asisi: Laki-laki yang memberikan Segalanya untuk Mengikut Yesus (Seri Pahlawan Iman), Jakarta: BPK Gunung Mulia).

Kados dene cariyosipun Fransiskus Asisi ingkang kekancan lan akrab kaliyan sedaya mahkluk, sakestunipun tiyang Majus saged sowan sujud dhumateng Gusti Yesus Sang Juru Wilujeng,karana tiyang majus punika migatosaken kanthi cermat pratandhaning alam arupi bintang Timur ingkang padhang sumunar. Lintang ingkang nuntun lampahipun dados petunjukkangge saged sujud dhumateng Gusti Yesus. Para sedherek unsur alam ingkang dipun hormati tiyang Majus dados lantaran tiyang Majus seba sjud ing ngarsani-PunGusti Yesus Juru Selamat. Ing kawicaksanan kina, tumprap para wicaksana, alam sayektosipun sinengker dados pratandha gesang, punika trep kaliyan cariyos para Majus seba manembah dhateng Sang Mesih krana migatosaken estu kawicaksanan ingkang tuwuh saking pratandhaning alam.

Kados Para Majus ingkang dituntun lintang terang nalika manembah Panjenengani-Pun Gusti, pramila ing zaman punika kita diemutaken supados ngajeni, ngrimati, nggatosaken saestu alam semesta kanthi tumemen. Lan punika dados pratandha yekti bilih kita estu manembah dhumateng Gusti Yesus Kristus. Omong kosong kemawon tiyang ngakeni manembah Gusti ingkang nitahaken jagad menawi mboten ngajeni alam semesta ingkang dipun titahaken dening Gusti. Kados tiyang Majus, saben tiyang ingkang ngajeni alam semesta badhe karimat lan katuntun deningdayaning semesta tumprap kawilujenganing gesang, langkung-langkung kangge tandha prasetya manembah Gusti.

Pramila, Pasamuwan, punapa patrap ngrimati lan keakraban dhateng alam semesta taksih dados bagian utuh anggen kita gesang masamuwan? Punapa penghormatan dhumateng pelestarian alam semesta saestu dados pokok wonten gesang beriman kangge manembah Gusti? Sepisan malih, punapa kawicaksanan ingkang nyumber saking pengenalan alam semesta dados kearifan kita bergereja lan gesang beriman padintenan? Utawi kosokwangsulipun prekawis kearifan kawicaksanan ingkang tuwuh saking kasaenanipun alam semesta malah dipun supekaken lan dibucal, pramila ndadosaken  kawigatosan kita kangge kasaenanipun alam semesta naming dados nyanyian omong kosong?   Monggo dipirsani! Monggo diwaos! Trep bilih para Majus ingkang ngakrabi kearifan lan pratandha alam saestu dipun tuntun tandha lintang pramila saged sowan manembah ing ngarsanipun Bayi Yesus Kristus Juru Wilujeng wonten ing Betlehem, punika lak estu tuladha ingkang ngedab-edabi lan ngemutaken prekawis kearifan alam nggadhahi daya nuntun dhumateng kawilujengan!

He para wong pracaya: ngadeg lan dadia pepadhang! Pramila saben tiyang beriman, saben tiyang ingkang pitados dipun utus supados ngadeg gumregah supados sayektos dados pepadhang tumprap pangrimataning alam semestalan mujudaken keadilan kawilujengan kangge sedaya ciptaan, dados pepadhang tumprap bangsa-bangsa. Saben kita ingkang ngaku dados pandherekipun Gusti Yesus Kristus dipun utus martosaken kabar kabingahan inggih Injil kangge semesta. Srana nresnanibumi langit lan unsur semesta, supados kalampahana kawilujengan ing jagad. Neng bumi kaya neng swarga! Kawilujengan, keselamatan yang utuh, saged dumadi nalika alam semesta dipun rimati.

Mugi semangat ingkang makantar-kantar miwiti warsa enggal 2019 punika ndadosna kita langkung tumemen langkung serius nggatosaken kearifan lan ngrimati alam semesta.  Mugi renungan lan khotbah punikamboten kados angin nglowos kemawon kangge kita. Ananging satuhu nyurung kita supados mboten ngremehaken lan ndamel dolanan kaliyan kondisi lingkungan ingkang sangsaya rusak. Sumangga tangi dados pepadhang anggen sami menghormati lan merawat lingkungan hidup.

Mugi anggen kita mengeti bulan penciptaan sakpunika nyagedaken kita langkung manembah dhumateng Gusti Yesus. Tuladhanipun Para Majus ingkang nggadhahi patrap hormat lan kagungan adab dhumateng alam semesta mugi menginspirasi Pasamuwan supados sayektos langkung nyambut damel kangge memperbaiki keadaan alam semesta. Ngajeni alam titahipun Gusti dados setunggaling pratanda yekti bilih kita estu manembah Gusti kanthi gumolonging manah, gumolonging akal budi, gumolonging nyawa. Kadya Para Majus ingkang seba manembah Gusti misungsungaken emas, kemanyan, lan mur dhumateng Sang Bayi. Amin!

Kidung Pamuji: Kipas 115; KPK. 1:1; KPK. 5:1; KPK. 9; KPK. 17; KPK. 29

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •