Berbagai Upaya Tuhan Untuk Menyelamatkan UmatNya Khotbah Minggu 13 Januari 2019

Bulan Penciptaan/ Baptisan Yesus
Stola Putih
.

 

Bacaan 1       : Yesaya 43 : 1 – 7.
Bacaan 2       : Kisah Para Rasul 8 : 14 – 17.
Bacaan 3       : Lukas 3 : 15 – 17, 21 – 22.

Tema Liturgis   :“Alam Ciptaan Tuhan Wujud Pemeliharaan terhadap UmatNya”.
Tema Khotbah :  “Berbagai Upaya Tuhan Untuk Menyelamatkan UmatNya”.

 

Keterangan Bacaan.
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).

Yesaya 43 : 1 – 7.

Allah memanggil Israel dengan namanya (ayat 1), menunjukkan bahwa Israel itu spesial di hadapan Allah, dan Allah mengenalnya. Apapun yang telah dialami oleh Israel, Allah tetaplah pelindung dan penebus mereka. Dalam kesulitan apapun, Allah tetap menyertai Israel. Tetapi jika Israel menghadapi berbagai persoalan sendirian (tanpa Tuhan), mereka akan hanyut (ayat 2) atau binasa. Bersama Allah, Israel akan selamat. Melewati apipun tidak akan hangus atau terbakar (ayat 2). Peran Allah sebagai penebus bagi Israel bukan hanya akan terjadi nanti, tetapi juga pada saat itu.

Apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya ini sekaligus memberikan pengharapan bagi Israel yang berada dalam pembuangan. Di ayat 6, 7 dinyatakan bahwa pada saatnya Allah akan mengumpulkan mereka (bangsa Israel) dari keterserakan. Allah juga mengingatkan bahwa semua ciptaan Allah, semua yang Dia bentuk dan Dia jadikan itu adalah untuk kemuliaan nama Allah. Janji penyertaan yang Allah berikan itu juga karena Allah menganggap Israel begitu berharga dimataNya (ayat 4). Apapun keadaan Israel, Allah tetap menganggap istimewa dan berharga. Ini sungguh anugerah yang luar biasa bagi Israel. Dan hanya Allah penebus bagi Israel.

Kisah Para Rasul 8 : 14 – 17.

Kedatangan Petrus dan Yohanes ke tanah Samaria bukanlah bersoalan kecil. Mengingat mereka berdua adalah orang Yahudi. Orang Yahudi dikenal memusuhi orang Samaria, bahkan tidak mau melewati tanah orang Samaria. Tanah Samaria dikenal sebagai tempat orang kafir. Sehingga hal yang luar biasa juga apabila dikatakan tanah Samaria telah menerima firman Allah (ayat 14). Petrus dan Yohanes yang telah dikuasai oleh Roh Kudus tidak “melanggengkan” permusuhan itu, sehingga merekapun bersedia mendatangi tanah Samaria untuk pemberitaan firman Allah.

Dimanapun nama Tuhan Yesus diwartakan, dan diterima oleh orang lain, maka Roh Kudus juga akan dicurah atas mereka. Roh Kudus adalah Roh Allah yang dinyatakan atas manusia. Siapapun yang menerima Tuhan Yesus, artinya juga akan diperlengkapi dengan kehadiran Roh Kudus dalam dirinya  yang memberikan kekuatan. Maka kekuatan yang dimiliki seseorang itu bukan lagi kekuatan yang berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari kekuatan dan kuasa Allah.

Keberadaan Kristus dalam diri seseorang tidaklah bisa dipisahkan dari keberadaan Roh Kudus dalam diri orang tersebut. Siapapun yang menerima Kristus berarti juga menerima kehadiran Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kuduslah yang akan menguasai dan mengatur hidupnya.

Lukas 3 : 15 – 17, 21 – 22.

Di saat Yohanes Pembabtis mulai berkarya, bangsa Israel sudah sekitar 400 tahun mengalami hidup tanpa kehadiran nabi. Mereka sangat menantikan kehadiran Mesias yang dipercaya akan memberikan pembebasan dan penebusan bagi mereka. Oleh karena itu ketika Yohanes Pembabtis menunjukkan tanda-tanda seorang nabi, banyak orang bertanya apakah dia itu Mesias yang mereka nantikan. Tetapi Yohanes pembabtis menjawab bahwa dirinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kuasa Sang Mesias yang akan datang (ayat 15, 16). Dia sangat tidak layak di hadapan Sang Mesias itu.

Salah satu hal yang dikerjakan Yohanes Pembabtis adalah membabtis. Babtisan Yohanes Pembabtis adalah babtisan pertobatan. Yesuspun menerima babtisan Yohanes Pembabtis. Babtisan ini menandai awal karya Yesus di tengah umat manusia. Yesus yang dibabtis bukanlah menerima babtis pertobatan, karena sesungguhnya Dia tidak berdosa. Babtisan itu lebih merupakan kesediaannya menerima pengakuan dosa umat manusia, dan rela menggantikan mereka menanggung dosa-dosanya. Peristiwa babtisan tidaklah terlepas dari karya Roh Kudus. Pada peristiwa babtisan Yesus, terjadilah keajaiban berupa langit terbuka dan Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasNya. Demikian juga ada suara dari langit yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekasih. Pada peristiwa itu juga jelas nampak kesatuan Allah sebagai Bapa, Anak / Yesus Kristus dan Roh Kudus. Tak terpisahkan. Dalam peristiwa babtisan, kuasa Bapa, Anak / Yesus kristus dan Roh Kudus (Trinitas) itu dinyatakan.

Benang Merah Tiga Bacaan.

Kuasa Allah yang melampaui segala ciptaan itu juga Ia gunakan untuk memelihara, melindungi, menebus, dan menyelamatkan umatNya.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.

SEBUAH PENGAKUAN.
(Nats : Lukas 3 : 22b)

 

Pendahuluan

Betapa pentingnya sebuah pengakuan bagi manusia. Pengakuan diperlukan untuk bisa dikenal orang lain, untuk menumbuhkan rasa percaya diri, untuk memulai sebuah karya, untuk bisa dipercaya oleh pihak lain, dsb. Peristiwa babtisan juga bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pengakuan. Pengakuan bahwa seseorang telah menjadi milik Kristus  (warga Kerajaan Allah) dan menjadi warga salah satu gereja (denominasi). Peristiwa babtis sebagai sebuah pengakuan ini memang penting, tetapi tidak boleh berhenti hanya pada pengakuan saja. Setelah itu dituntut adanya karya, sebagai bukti nyata atas pengakuan yang telah diterima. Babtis menjadi salah satu pengakuan awal karya seseorang sebagai warga kerajaan Allah dan warga gereja. Apapun yang dilakukan seseorang, itu bisa menjadi bukti nyata dari pengakuan yang telah diberikan.

Isi

Sebelum memulai karyaNya, peristiwa babtisan oleh Yohanes Pembabtis menjadi peristiwa yang amat penting bagi Yesus. Yohanes Pembabtis banyak membabtis orang. Oleh karena itu wajarlah jika banyak orang yang mempertanyakan apakah Yohanes Pembabtis itu adalah Mesias yang mereka tunggu kedatangannya. Saat itu sudah 400 tahun tidak ada nabi yang berkarya di tengah bangsa Israel. Sebagian dari mereka mungkin juga merasa bahwa Allah sudah “berpaling” dari Israel, atau Israel bukan lagi umat kesayanganNya. Sehingga wajarlah jika banyak orang mempertanyakan tentang apa yang diperbuat Yohanes Pembabtis. Karena selain membabtis, Yohanes Pembabtis juga mengajar tentang kerajaan Allah, bahkan berani menegor dengan keras orang-orang yang menurutnya melakukan perbuatan yang tidak benar.

Babtisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembabtis merupakan babtisan pertobatan. Oleh karena itu, sebelum menerima babtis, banyak diantara mereka yang telah menerima pengajaran moral dari Yohanes Pembabtis tentang bagaimana hidup benar di hadapan Allah. Mereka menyadari kesalahan dan dosa-dosanya serta mendapat tuntunan untuk hidup benar sesuai kehendak Allah. Dengan demikian maka babtisan itu juga merupakan sebuah pengakuan atas pembaharuan hidup mereka.

Berbeda dengan babtisan Yesus yang meskipun itu juga dilakukan oleh Yohanes Pembabtis. Yesus tidak perlu melakukan pertobatan karena memang tidak melakukan dosa. Dia tidak perlu ditegor atas perbuatanNya, karena tidak pernah melakukan kesalahan di hadapan Allah. Dia juga tidak perlu mendapatkan pengajaran yang berupa tuntunan moral karena Dialah sumber kebenaran dan kebaikan. Itulah sebabnya Yohanes Pembabtis merasa tidak layak untuk membabtisNya. Bahkan di Luk 3 : 16, Yohanes mengakui di hadapan orang banyak bahwa apa yang dia lakukan tidaklah sebanding dengan kuasa Sang Mesias. Perasaan tidak layak itu juga diakuinya dalam kalimat yang menyatakan bahwa membuka tali kasutNya-pun, dia tidak layak. Namun demikian peristiwa babtisan itu tetap diminta oleh Yesus sebelum Dia memulai karya pelayananNya. Babtisan itu bagi Yesus lebih berarti sebuah pengakuan atas kesediaanNya memberikan penebusan dosa bagi manusia dan menanggung dosa-dosa mereka. Hal itu segera Dia wujudkan dalam karya-karyaNya. (lih. bacaan 1).

Pengakuan dari orang banyak bahwa Yesus telah dibabtis akan memudahkan untuk meyakinkan banyak orang bahwa Yesus adalah “bagian” dari mereka. Yesus adalah manusia sejati seperti mereka yang juga mengikuti tradisi sebagaimana dilakukan orang-orang Yahudi pada umumnya saat itu. Peristiwa babtisan Yesus ini ternyata juga disaksikan banyak orang dan  telah mendapatkan pengakuan dari Allah Bapa. Sebagaimana tertulis dalam Luk. 3 : 21,22, bahwa saat babtisan itu tiba-tiba langit terbuka, turunlah Roh Kudus dan disertai suara : “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Pernyataan ini merupakan sebuah pengakuan pada ke-ilahi-an Yesus. Jelas sekali, Allah (suara dari langit) mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Allah juga berkenan kepada Yesus. Tidak diragukan lagi bahwa apapun kuasa yang ada dalam diri Yesus merupakan kuasa Allah. Kasih yang ada pada diri Yesus juga adalah kasih Allah. Pribadi Yesus adalah pribadi Allah. Pengakuan ini bukan dari manusia saja, bahwa Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus adalah satu. Hal ini jelas nyata dalam peristiwa babtisan Yesus itu.

Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah semakin jelas menunjukkan bahwa Yesus memang berbeda dari Yohanes Pembabtis. Yesus juga di satu sisi bukanlah manusia biasa seperti pada umumnya, meskipun Dia melakukan berbagai tradisi Yahudi seperti sunat, dll. Demikian juga halnya dengan babtis. Orang-orang yang akan Dia selamatkan itu perlu diyakinkan dan mengakui ke-Yahudi-an Yesus, karena mereka sangat memegang teguh keyakinan bahwa Mesias hanya akan datang dari orang Yahudi / bangsa Israel. Itulah perlunya orang banyak yakin dan mengakui bahwa Yesus juga orang Yahudi. Pemahaman mereka saat itu baru terbatas pada pemahaman bahwa Mesias yang datang itu memang hanya untuk bangsa Israel saja. Tetapi sebenarnya karya penyelamatan Allah adalah untuk semua umat. Bahkan bangsa yang selama ini dianggap sebagai bangsa kafir-pun, seperti orang-orang Samaria, juga menjadi obyek dari karya keselamatan Mesias (lih. bacaan 2).

Jelaslah bagi kita kini, bahwa peristiwa babtisan bukan sekedar tradisi kristiani. Dalam peristiwa babtisan itulah jelas dinyatakan dan diwujudkan kesatuan dari Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Itulah sebabnya seseorang yang dibabtis selalu dibabtis dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Baik itu babtisan anak maupun babtis dewasa (babtis pertobatan). Keduanya sama-sama mengungkapkan adanya pengakuan bahwa peristiwa babtisan itu terjadi karena kuasa Allah yang adalah Bapa, Putra/Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Babtisan itu sekaligus juga menjadi sebuah pengakuan bahwa seseorang telah menjadi warga kerajaan Allah yang telah diselamatkan oleh Allah, sekaligus pengakuan menjadi warga gereja tertentu yang dipakai Allah untuk memberikan penyadaran dan  tuntunan hidup benar sesuai kehendak Allah.  Jadi, peristiwa babtisan memanglah peristiwa besar bagi iman kristiani kita.

Penutup.

Kesatuan pribadi Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus tetap diakui dan dijunjung tinggi oleh semua umat Allah terbukti dengan selalu adanya peristiwa babtis. Dimanapun ada babtisan, maka disitu dan saat itu juga ada pengakuan tentang keberadaan dan kesatuan pribadi Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Dimanapun seseorang dibabtis, di gereja apapun seseorang dibabtis, dan oleh siapapun seseorang dibabtis, asalkan dibabtis dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus, maka itu merupakan karya Allah. Karya Allah yang berusaha ingin menyelamatkan umatNya.  Babtisan itu juga dilandasi oleh pengakuan pada ke-maha-kuasaan Allah dan ke-Esa-an Allah. Babtisan adalah karya Allah. Dogtrin tentang Trinitas juga dihayati dalam peristiwa babtisan itu. Peristiwa babtisan Yesus ingin menunjukkan kepada orang banyak tentang kesatuan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus, serta pengakuan bahwa segala perbuatan Yesus adalah yang berkenan di hadapan Allah. Oleh karenanya tak perlu ada yang meragukannya. Amin. (YM).

 

Nyanyian  : Kidung Jemaat 242 : 1, 2, 3.

RANCANGAN KHOTBAH :Basa Jawi.

PANGAKEN
(Jejer : Lukas 3 : 21, 22)

Pambuka

Pangaken, puniko saestu prekawis ingkang wigati tumrap manungsa. Pangaken kabetahaken supados saged dipun tepangi dening tiyang sanes, supados nuwuhaken kapitadosan dhateng dhiri pribadi (percaya diri), kangge miwiti nyambut damel, supados kapitados asanes, lsp. Babtisan ugi saged dipun  wastani satunggaling wujud pangaken. Pangaken bilih tiyang ingkang sampun kababtis punika sampun dados kagunganipun Sang Kristus (warganing kratonipun Allah) lan ugi dados warga salah satunggaling greja (denominasi). Babtis dados satunggaling pengaken punika saestu wigati, ananging boten pareng kandheg namung ing pangaken kemawon. Saksampunipun punika ugi kedah wonten tumindak, ingkang dados bukti nyata saking pangaken ingkang sampun katampi. Babtis dados wiwitaning pakaryanipun manungsa selaku warganing kratonipun Allah lan warganing greja. Punopo ingkang katindakaken dening manungsa, puniko saged dados bukti nyata saking pangaken ingkang sampun kaparingaken.

Isi

Sakderengipun miwiti pakaryanipun, babtisan ingkang katindakaken dening Yokanan Pambabtis saestu prekawis ingkang wigati tumrap Gusti Yesus. Yokanan Pambabtis pancen mbabtis tiyang kathah. Pramila lajeng kathah tiyang ingkang sami pitaken, punopo Yokanan Pambabtis punika Sang Mesih ingkang sampun dipun rantos rawuhipun. Nalika semanten sampun watawis  400 tahun boten wonten nabi ingkang makarya ing satengahing bangsa Israel.  Sawetawis bangsa Israel saged ugi wonten ingkang rumaos bilih Allah sampun nyingkur dhateng Israel, utawi Israel sampun boten dados umat kinasih. Pramilo inggih sampun sakmesthinipun menawi kathah tiyang ingkang sami pitaken ing bab pakaryanipun Yokanan Pambabtis. Awit, kejawi mbabtis, Yokanan Pambabtis ugi mucal bab kratoning Allah, lan wantun ngengetaken para tiyang ingkang patrapipun boten leres.

Babtisan ingkang katindakaken dening Yokanan Pambabtis punika awujud babtis pamratobat. Pramilo, sakderengipun sami nampeni babtis, kathah para tiyang ingkang sami nampeni piwucal bab moral saking Yokanan Pambabtis inggih punika bab kados pundi gesang ingkang leres ing ngarsanipun Allah. Tiyang-tiyang kolowau sami ngrumaosi ing bab kalepatanipun lan ugi dosa-dosanipun, sarta nampeni tuntunan gesang ingkang leres miturut pangrehipun Allah. Kanthi mekaten pramilo babtisan punika ugi dados pangaken ing bab gesang enggal.

Punika benten kaliyan babtis ingkang katampi dening Gusti Yesus, senadyan ugi katindakaken dening Yokanan Pambabtis. Gusti Yesus boten prelu nindakaken pamratobat awit pancen boten nindakaken dosa. Panjenenganipun boten prelu kaengetaken ing bab tumindakipun, awit pancen boten nate nindakaken kalepatan ing ngarsanipun Allah. Panjenenganipun ugi boten prelu nampi piwucal ing bab tuntunan moral awit Panjenenganipun puniko etuking kayekten lan kesaenan. Awit saking puniko, Yokanan Pambabtis rumaos boten sembada kangge mbabtis Gusti Yesus. Ing Lukas 3 : 16, Yokanan Pambabtis ngakeni ing sangajenging tiyang kathah bilih punopo ingkang katindakaken puniko boten timbang kaliyan panguwaosipun Sang Mesih. Manah ingkang rumaos boten sembada puniko dipun akeni kanthi ukara ingkang mratelakaken bilih nguculi ageme trumpah kemawon ugi boten patut. Ewa semanten Gusti Yesus tetep nyuwun kababtis dening Yokanan Pambabtis sakderengipun Gusti Yesus miwiti pakaryanipun. Tumrap Gusti Yesus, babtisan puniko satunggaling pangaken ing bab Panjenengane cumadhang paring pangruwating dosa tumrap manungsa lan nanggel dosa-dosaning manungsa. Bab puniko badhe enggal kawujudaken salebeting pakaryanipun. (Mugi mirsani waosan 1).

Pangaken saking tiyang kathah bilih Gusti Yesus sampun kababtis, ndadosaken langkung gampil ndadosaken tiyang sami pitados bilih Gusti Yesus puniko inggih “salah satunggal” saking antawisipun para tiyang puniko.Gusti Yesus puniko manungsa sejati kados dene para tiyang sanes ingkang ugi nindakaken adat /tradisi ingkang katindakaken dening limrahipun para tiyang Yahudi. Babtisan tumrap Gusti Yesus puniko katindakaken ing sangajenging tiyang kathah lan ugi nampi pangaken saking Allah Sang Rama. Kados  ingkang kaserat ing Luk. 3 : 21, 22, bilih nalika Gusti Yesus kababtis, langit tumuli piyak, Roh Suci tumedhak kanthi wontenipun swanten saking langit : “Sira iku PutraningSun kang Sun-kasihi, kang dadi keparenging panggalihingSun.” Pratelan puniko nedahaken satunggaling pangaken bilih Gusti Yesus puniko Allah. Cetha sanget, bilih Allah (swanten saking langit) ngakeni bilih Gusti Yesus puniko Putranipun Allah, lan Allah ugi karenan ing Panjenenganipun. Boten mangu-mangu malih, kita sami pitados bilih panguwaosipun Gusti Yesus puniko inggih panguwaosipun Allah. Katresnan ingkang wonten ing Panjenenganipun ugi katresnanipun Allah. Pribadinipun Gusti Yesus inggih pribadinipun Allah. Pangaken puniko boten namung saking manungsa kemawon, bilih Allah Sang Rama, Gusti Yesus Kristus lan Sang Roh Suci puniko satunggal. Prekawis puniko saestu nyata ing babtisanipun Gusti Yesus.

Pangaken bilih Gusti Yesus puniko Putranipun Allah cetha nedahaken bilih Gusti Yesus puniko pancen benten kaliyan Yokanan Pambabtis. Ing sasisih Gusti Yesus sanes manungsa salimrahipun, senadyan Panjenenganipun nindakaken samukawis adatipun tiyang Yahudi kados dene sunat, lsp. Mekaten ugi ing bab babtis. Para tiyang ingkang badhe kawilujengaken puniko ugi kedah pitados lan ngakeni ing bab ke-Yahudi-anipun Gusti Yesus.Para tiyang Yahudi ngukuhi kapitadosan bilih Sang Mesih namung badhe rawuh saking trahipun tiyang Yahudi / bangsa Israel. Pramilo saestu wigati menawi para tiyang kathah puniko sami pitados lan ngakeni bilih Gusti Yesus puniko ugi tiyang Yahudi. Pangertosanipun tiyang kathah naliko semanten inggih winates ing bab pangertosan bilih Sang Mesih puniko pancen badhe rawuh namung kangge bangsa Israel kemawon. Ananging, estunipun pakaryan bab kawilujengan saking Allah puniko inggih kangge sedaya umat. Bangsa ingkang dipun anggep bangsa kapir, kados dene bangsa Samaria, ugi kawilujengaken dening Sang Mesih. (mugi mirsani waosan 2).

Cetha tumrap kita samangke, bilih babtisan puniko boten namung tradisi kristiani. Ing babtisan puniko ugi cetha kapratelakaken lan kawujudaken patunggilanipun Allah Sang Rama, Yesus Kristus lan Roh Suci. Milo saking puniko sinten kemawon ingkang kababtis tamtu kababtis ing dalem Asmanipun Allah Sang Rama, Yesus Kristus lan Roh Suci. Sae puniko babtisan lare, mekaten ugi babtisan dewasa (pamratobat). Kekalihipun sami-sami mratelakaken pangaken bilih babtisan puniko katindakaaken awit saking panguwaosipun Allah, inggih puniko Sang Rama, Sang Putra / Gusti Yesus Kristus, lan Roh Suci. Babtisan puniko inggih dados pangaken bilih tiyang ingkang sampun kababtis sampun dados warga kratoning Allah ingkang sampun kawilujengaken dening Allah, lan ugi pangaken dados warga salah satunggiling greja, ingkang ugi kaagem dening Allah kangge ngengetaken lan paring tuntunan gesang ingkang leres miturut karsanipun Allah. Babtisan, pancen saestu prekawis ingkang ageng tumrap iman kristiani kita.

Panutup

Nyatunggilipun pribadi Allah Sang Rama, Yesus Kristus lan Roh Suci tansah dipun akeni lan kaluhuraken dening sedaya umatipun Allah kabukti kanthi tansah wontenipun babtisan. Ing pundi kemawon wonten babtisan, lah ing ngriku lan ing wekdal puniko ugi wonten pangaken ing bab nyatunggilipun pribadi Allah Sang Rama, Yesus Kristus lan Roh Suci. Ing pundi kemawon tiyang puniko kababtis, ing greja punopo kemawon tiyang puniko kababtis, waton kababtis ing Dalem Asmanipun Allah Sang Rama, Yesus Kristus lan Roh Suci, punikoinggih pakaryanipun Allah. Pakaryanipun Allah ingkang paring kawilujengan dhateng umat kagunganipun. Babtisan puniko ugi adhedhasar pangaken ing bab panguwaosipun Allah lan patunggilanipun Allah. Babtisan puniko pakaryanipun Allah. Dogtrin bab Trinitas ugi dipun ayati ing salebeting babtisan. Babtisanipun Gusti Yesus nedahaken dhateng tiyang kathah bab patunggilanipun Allah Sang Rama, Gusti Yesus Kristus lan Roh Suci, sarta pangaken bilih sedaya pakaryanipun Gusti Yesus punika saestu karenan ing ngarsanipun Allah. Pramilo, kedahipun boten wonten tiyang ingkang mangu-mangu malih ing bab puniko.  Amin.  (YM).

 

Pamuji : Kidung Pasamuwan Jawa 78 : 1, 3.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •