Hidup Dalam Mata Iman yang Terbuka Khotbah Minggu 26 April 2020

Minggu Paskah III
Stola Putih

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 2 : 14a, 36 – 41
Bacaan 2         :
I Petrus 1 : 3 – 9
Bacaan 3         :
Lukas 24 : 13 – 35

Tema Liturgis : Mengabarkan Kebangkitan Kristus sebagai Penggenapan Perjanjian Baru
Tema Khotbah:
Hidup dalam Mata Iman yang Terbuka

 

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Kisah Para Rasul 2 : 14a, 22 – 32

Yesus dari Nazaret, Dialah Mesias, Dialah Kristus. Mesias adalah istilah Ibrani, dan Kristus adalah istilah Yunani, keduanya berarti Yang Diurapi. Yesus dari Nazaret yang disalibkan oleh banyak orang itu, Ialah Tuhan dan Kristus. Dalam khotbah Petrus untuk semua orang Yahudi dan semua penduduk Yerusalem tersebut, seruan untuk bertobat dan memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus menjadi seruan penting. Dengan kuasa Roh Kudus, Petrus dimampukan menyampaikan khotbahnya. Perkataan Petrus mengguncang dan menikam perasaan banyak orang, mereka menyadari dan menyesali perbuatan mereka yang menyalibkan Yesus, padahal Yesus tidak pernah berbuat salah. Dan hari itu pula, ada kira-kira 3000 orang yang menerima perkataan Petrus lalu bertobat dan memberi diri dibaptis.

I Petrus 1 : 3 – 9

Kekhasan surat I Petrus ini adalah sangat pastoral, untuk menyemangati orang-orang Kristen di Asia Kecil yang hidup sebagai pendatang di tengah-tengah tetangga mereka yang kafir. Perikop ini menyemangati mereka menghadapi masalah real dan krisis yang menyerang mereka sehari-hari. Membangkitkan perasaan umat untuk senantiasa berpengharapan dan bertekun. Pertobatan yang mereka lakukan, berbalik dari kekafiran pada akhirnya menuntun mereka berhadapan dengan pencobaan. Jemaat dikuatkan, belajar dari Kristus yang juga menderita tetapi dimuliakan, sebetulnya demikianlah pencobaan yang mereka alami setelah pertobatan sebenarnya mengantar mereka kepada kemuliaan. Jemaat diajak untuk bertekun dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Kristus. Iman Kristen yang baru, jauh lebih berharga daripada emas. Tetapi seperti emas, iman dimasukkan ke dalam api dan hanya terbukti sejati bila sudah diuji dalam api tersebut.

Lukas 24 : 13 – 35

Situasi di Yerusalem sedang diliputi duka mendalam, ditambah lagi kebingungan yang dialami para murid sesudah peristiwa Yesus mati disalibkan lalu dikuburkan. Dalam perikop ini, hanya satu dari kedua orang murid yang disebutkan namanya, yakni Kleopas. Kedua murid itu sedih oleh kematian Yesus dan mereka heran bahwa ada kejadian yang menggoyahkan dunia mereka tetapi tidak diketahui oleh peziarah lain. Ketika Yesus bersama mereka sepanjang perjalanan itu, ada komunikasi yang terjadi dan mereka sama sekali tidak mengenali Yesus. Kedua murid diliputi ketegangan, kebuntuan pikiran dan keputusasaan. Mata mereka tertutup dan tidak dapat mengenali Yesus. Cerita seputar kesedihan dan peristiwa-peristiwa yang belum lama terjadi bersama dengan Dia menjadi topik sepanjang perjalanan mereka. Dan pada akhirnya kedua murid membujuk Yesus supaya mau tinggal bersama mereka.

Sewaktu Kleopas dan temannya mengadakan makan malam dengan “orang asing” itu, barulah mata mereka terbuka. Itulah Yesus! Yesus yang mati disalib untuk pengampunan dosa. Yesus yang bangkit dari kubur mengalahkan maut dan hidup kembali untuk menjamin surga bagi orang percaya yang mengikut Dia. Pengenalan akan Yesus yang bangkit, datang dalam peristiwa “pemecahan roti”. Perubahan kesadaran dialami kedua murid, dari keputusasaan karena kematian Kristus, menuju keimanan akan kebangkitan-Nya. Wajah Sang Guru lenyap, tetapi Sang Guru itu tinggal bersama mereka, tersembunyi dalam pemecahan roti yang telah membuka mata mereka untuk mengenal Dia. Budi tercerahkan, hati terkobarkan untuk menceritakan Kristus yang bangkit.

Benang Merah Tiga Bacaan

Beriman kepada Kristus yang bangkit, membawa kita pada hidup yang tetap berpengharapan sekalipun di tengah keputusasaan, bersyukur di tengah penderitaan, bersukacita di tengah ancaman. Itulah keistimewaan menjadi orang yang beriman kepada Kristus.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan

Bulan Mei 2019 kemarin, saya baru saja kena serangan Bel Palsy, yang diserang saraf ke 7, bagian wajah lumpuh. Tepatnya bagian wajah saya yang kiri, akibatnya saya tidak bisa mengernyitkan alis, tersenyum/tertawa, mata tidak bisa berkedip. Jika mata ini sudah terbuka maka akan sulit untuk menutup. Jika sudah menutup untuk membukanya tidak bisa otomatis seperti biasanya, harus dibantu tangan. Tenaga kesehatan menyarankan supaya selama kurang lebih seminggu sampai dua minggu mata saya ditutup pakai tisu untuk menghindari kotoran/debu masuk. Saya merasa menjadi orang yang kurang jeli atau kurang awas. Pakai kaos kadang kebalik, baca tulisan harus dekat (kalau agak jauh jadinya “blawur” atau kabur), kadang “kejeduk” pintu kalau mau ke dapur. Kondisi tersebut sungguh menyiksa saya, apalagi makan dan ngomong juga mengalami kesulitan. Konsultasi dan terapi dengan dokter dan fisioterapis selama dua bulan pada akhirnya membuat saya sembuh. Bulan Juli 2019 ketika saya berulang tahun ke-32 saya benar-benar pulih, ah sungguh menjadi salah satu kado terindah di ulang tahun saya. Sekarang wajah saya sudah pulih, sudah tidak “mencor separo” lagi, makan dan ngomong lancar, senyum sudah tidak “perot”, penglihatan kembali normal dan jelas, alis dan dahi sudah bisa dikernyitkan lagi, mau bukti? Boleh kok mengundang saya untuk melayani, hehehehe……

Isi

Bapak, ibu, dan saudara terkasih, terhalangnya pandangan mata kita, bukan saja bisa dialami secara fisik tetapi juga bisa dialami secara spiritual. Bisa saja seseorang sudah terlibat aktif dalam pelayanan di gereja, aktif beribadah, tetapi mata hati masih gelap dan tertutup. Hal ini disebabkan karena memiliki harapan dan fokus yang keliru/salah. Sama seperti di bacaan Lukas, disangkanya Yesus adalah Mesianik Yahudi, yang akan membuat Israel menjadi jaya seperti pada masa pemerintahan Daud. Pikiran dan pengertian mereka tertutup oleh kebenaran mereka sendiri, sehingga karya Allah dalam Kristus tidak mampu membuat mereka percaya dan mengalami pembaharuan hidup. Mata batin mereka terbuka tatkala mengalami peristiwa makan bersama dengan Yesus, mereka menyadari bahwa mereka baru saja mengalami perjumpaan dengan Kristus. Mata arti harfiahnya adalah indera untuk melihat, sementara yang dimaksud di Lukas ini adalah arti kiasan, yaitu mata dalam artian kesanggupan untuk mengerti. Mata batin mereka terbuka, yaitu kesanggupan hati/batin mereka untuk mengerti karya Allah dalam Kristus. Penerangan batin atau pencerahan iman dialami mereka, dan merekapun menceritakan kepada kesebelas murid yang lain.

Bapak, ibu dan saudara, kalau kita mau jujur, perjalanan kehidupan kita seringkali diwarnai dengan berbagai macam kekecewaan batin yang sebenarnya berasal dari gambaran keliru kita mengenai apa dan siapa tumpuan harapan hidup kita. Misalnya saja: ada yang menjadikan kekayaan dunia sebagai tumpuan satu-satunya dalam kehidupan, akibatnya ketika kekayaan itu pergi dari hidupnya, ia menjadi orang yang merana, kecewa sepanjang hidup karena harus hidup dalam keadaan kekurangan, hidup dalam kemiskinan dan mereka seperti orang yang tidak ber-Tuhan. Ada yang menjadikan salah satu anggota keluarga yang kebetulan menjadi orang berpengaruh di daerahnya menjadi tumpuan dan harapan hidup. Ketika tiba saatnya saudaranya mati, mereka ibarat kerbau yang kehilangan tanduk, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, yang jadi tempat pertama mereka meminta pertolongan, kecewa terhadap keluarga besar karena tidak se-respek almarhum, dsb. Orang menjadi tidak tahan berhadapan dengan penderitaan dan kesulitan karena ada sesuatu yang keliru tentang siapa tumpuan dan harapan hidupnya.  Apa dan siapa tumpuan hidup pengikut Kristus hanya satu, yaitu Yesus Kristus itu sendiri, tiada yang lain. Iman kepada Kristus yang bangkit sungguh berharga, lebih berharga dari emas menurut bacaan di            I Petrus.

Sebagai para pengikut-Nya, kita belajar dari Petrus yang dengan bersemangat dan bersukacita mewartakan keselamatan dalam Kristus sehingga banyak jiwa yang dimenangkan (bacaan Kisah Para Rasul). Kesediaan kita untuk terus menyaksikan Kristus di tengah dunia, hidup dengan berlandaskan kasih, pengharapan, keadilan, kebaikan menjadi gaya hidup kekristenan kita, dan sebagai wujud bahwa kita hidup dengan mata batin yang terbuka. Kemampuan memahami kebenaran yang dinyatakan Allah dalam Kristus, terus kita hayati dalam keseharian melalui sikap hidup kita. Kebenaran dari Allah yang terus kita pancarkan sekalipun berhadapan dengan tantangan. Jangan pernah ada kata mundur!

Penutup

Keputusasaan yang tak berkesudahan, kekecewaan yang tiada hilang, jiwa merana yang tak kunjung mereda, kebencian yang tak kunjung padam, kegamangan yang berlarut-larut, penyakit yang bisa merabunkan mata rohani kita. Sebagai pengikut-Nya, panggilan kita adalah hidup dalam penghayatan menyaksikan kebenaran Allah. Beriman kepada Kristus yang bangkit, Ia yang meneguhkan hati kita di saat topan melanda, meneduhkan batin kita di saat angin bergelora, menguatkan kita di saat penderitaan datang menimpa. Milikilah hati yang terbuka di hadapan Tuhan, supaya tidak ada selubung dalam diri kita, hidup kita menjadi bermakna bagi siapa saja karena kita hidup dengan mata iman yang terbuka. Kidung Ria No 18, Hatiku terbuka untuk-Mu Tuhan, selidiki nyatakan segala perkara, singkapkan semua yang terselubung, supaya kulayak di hadapan-Mu Tuhan. GBUs. Amin. (YE).

Pujian  : KJ. 340   “Hai Bangkit Bagi Yesus”

 

RANCANGAN KHOTBAH  :  Basa Jawi

Pambuka

Bapak, ibu lan para sadherek kinasih, wulan Mei 2019 kepengker, kula punika kenging serangan Bel Palsy, inggih punika sakit ingkang  dadosaken saraf kapitu lumpuh. Saperangan wajah kula punika lumpuh, mliginipun ingkang sisih kiwa. Kula mboten saged ngernyitaken alis, mesem utawi ngguyu mboten saged, mripat boten saged damel kethip. Manawi mripat sampun mbikak, mila ewet nutup, manawi sampun nutup, ewet mbikak, kedah dipunbantu dening tangan, kangge proses mbikak nutupipun mripat punika. Tenaga kesehatan/dokter paring saran supados sawetawis seminggu ngantos kalih minggu, mripat kiwa punika katutup dening tisu, tindakan antisipatif supados lebu/rereged mboten saged mlebet. Lan kula nindakaken saran dokter punika. Wusananipun kula ngrumaosi bilih pandangan mripat punika blawur, kula rumaos bilih kula punika dados kirang jeli, kirang awas. Ndamel kaos kadang kwalik, ingkang kedahipun cap punika wonten wingking lha malah kula salap ngajeng, manawi badhe dateng pawon kadang kejeduk kori medal, kangge maos seratan utawi pesan masuk ing HP kedah celak mripat. Kahanan ingkang kados makaten ndadosaken batin kula punika nggih trenyuh, wonten saklebeting batos punika, “Isih enom kok wis blawur, biyen kuping kejojoh cutton-bud, saiki mripat, lambe pisan, ora kenek gawe mangan, angel gawe ngomong, rai kok dadi penceng separo, wes lengkap tenan”. Lajeng kula punika konsultasi lan terapi kaliyan paraga/ahli kesehatan, wajah punika dipun sinar, dipun pijeti, latihan wicantenan, latihan ngernyitaken alis, lan sakpiturutipun. Wusananipun mbetahaken wekdal 2 wulan, wajah kula saged pulih malih, saged saras. Wulan Juli 2019 dados kado ingkang endah karana kula sampun waras, wajah sampun mboten mencor separo malih, mesem sampun mboten perot, ngguyu sampun mboten menclek, mripat dados normal/ningali saged cetha/jelas, perangan alis lan bathuk sampun saged dipun-kernyitaken, pengin bukti? Saged kok paring undangan paladosan, hehehe…  Kula punika saestu maturnuwun dhumateng Gusti.

Isi

Bapak, ibu lan para sadherek, prakawis blawur/rabun paningalan kita, boten namung kadadosan sacara fisik, nanging ugi saged kadadosan sacara spiritual. Saged kemawon tiyang punika aktif wonten ing paladosan satengah-tengahing pasamuwan, seken ngabekti, nanging paningal batinipun taksih peteng lan katutup. Inggih karana nggadahi pangajeng-ajeng lan fokus ingkang klentu. Kados ta waosan kita ing Lukas, ing pemanggihipun tiyang kekalih ingkang lumampah ing Emaus, Gusti Yesus punika dipun kinten Mesias miturut pangertosan Yahudi, ingkang badhe ndadosaken Israel dados jaya kados ta nalika pemerintahanipun Sang Prabu Daud. Pemanggih lan pangertosan sakabat kekalih punika katutup dening kayekten miturut pamanggihipun piyambak, matemah anggenipun Gusti Allah makarya wonten ing Sang Kristus punika mboten saged ndadosaken kekalihipun pitados lan nampeni ewah-ewahan gesang/pembaharuan gesang. Mripat batinipun kabikak nalika nindakaken bujono sesarengan kaliyan Gusti Yesus. Wusananipun para sakabat kekalih punika sadar bilih sampun pinanggih kaliyan Sang Kristus.  Mripat ingkang sacara arti harfiah ingih punika indera kagem ningali, nanging ingkang dipun maksud wonten ing Injil Lukas punika artos kiasan, inggih punika mripat ingkang sagah mangertos. Mripat batin kekalihipun punika kabikak, inggih punika batin ingkang sagah ningali, ngramesi, mangertos pakaryanipun Allah ing Sang Kristus. Batin wusananipun dados padhang, iman dados tercerahkan lan sakabat kalih punika saged mangertosi lajeng nyariosaken prakawis endah, bilih Gusti Yesus sampun wungu. Gusti sampun ngatingal dhateng Kleopas lan sakabat satunggalipun, lan dhateng sakabat sanesipun.

Bapak, ibu lan para sadherek, manawi kita purun jujur, lampahing gesang kita punika asring ngraosaken kuciwaning manah. Raos kuciwa punika pinangkanipun saking gambaran ingkang klentu bab sinten lan punapa ingkang dados tumpuan pangajeng-ajeng gesang kita. Contonipun : wonten tiyang ingkang ndadosaken raja brana punika dados tumpuan utami ing gesangipun, matemah nalika raja brana punika ical saking gesangipun, piyambakipun dados tiyang ingkang merana batinipun, kuciwa nglampahi gesang karana kedah gesang kanthi pas-pasan, malah kacingkrangan. Gesang ingkang kados makaten ndadosaken gesangipun keranta-ranta kados tiyang ingkang mboten nggadhahi Gusti. Wonten malih tiyang ingkang ndadosaken salah satunggal sadherekipun dados tumpuan gesangipun, ingkang kaleresan dados tiyang berpengaruh ing daerahipun. Nanging nalika sadherekipun punika tinimbalan, sak sampunipun sedherekipun punika seda, tiyang punika dados tiyang ingkang kados ta kebo ingkang kecalan sungunipun, mboten wonten malih ingkang saged dipun bangga-aken, mboten wonten malih tiyang ingkang saged dados papan pangungsen lan papan damel nyuwun pitulungan, kuciwa tumrap brayat ageng ingkang katilar karana respek ipun mboten sami kaliyan almarhum, lsp.

Manungsa dados mboten tahan ngadepi samukawis panandhang, reribet karana wonten prakawis ingkang klentu bab sinten lan punapa ingkang dados tumpuan lan pangajeng-ajeng ing gesangipun. Kangge kita para pitados, “Sinten lan punapa ingkang dados tumpuan pangajeng-ajeng kita?” Inggih punika namung Gusti Yesus piyambak, sanes lintunipun. Iman dhateng Sang Kristus ingkang sampun wungu, punika ingkang saestu wigati, aji, langkung aji tinimbang emas miturut waosan kita ing I Petrus.

Tumrap kita para pandherekipun Sang Kristus, kita saged sinau saking Rasul Petrus bilih piyambakipun nggadahi semangat ingkang kebak kabingahan martosaken kabar kawilujengan ing Sang Kristus matemah kathah tiyang ingkang nampeni karahayon (waosan kita ing Lelakone Para Rasul). Mekatena ugi kangge kita, kita kedah sagah martosaken Sang Kristus ing satengah-tengahing jagad, inggih punika gesang ingkang adhedasar katresnan, kebak pangajeng-ajeng, nindakaken prekawis ingkang adil, mujudnyataaken kayekten. Sedaya punika dados gaya gesang kita para pitados. Punika dados ciri wancinipun tiyang ingkang gesang klayan mripat batin ingkang tinarbuka. Kasagedan mangertosi kayekten ingkang dipuntindakaken dening Sang Rama wonten ing Sang Kristus, kedah kita hayati wonten gesang padintenan lumantar sikap gesang kita. Kayekten saking Gusti Allah ingkang kita wujudnyataaken, sanajan to ngadhepi maneka warni tantangan. Sampun ngantos mundur!

Panutup

Mupus utawi putus asa ingkang kedlarung-dlarung, kuciwaning manah ingkang mboten saged ical, raos gething ingkang dereng saged sirna, was sumelang ingkang taksih ngoyot, mangga kita pirsani manah kita, manawi taksih wonten prakawis-prakawis ingkang makaten, punika sejatosipun penyakit iman ingkang saged ndadosaken mripat iman kita blawur, ndadosaken kita kewetan ningali lan ngraosaken sih katresnanipun Sang Kristus. Kangge kita para umat-Ipun, Gusti Allah nimbali kita supados gesang kita punika gesang ingkang nggadhahi kasagedan martosaken kayektening Gusti Allah. Iman ing Sang Kristus ingkang sampun wungu, ndadosaken kita jejeg nalika wonten angin lesus/angin ribut, ndadosaken kita tatag nalika nglampahi panandhang pacoben ingkang mawarna-warni. Nggadhahana manah ingkang tinarbuka ing ngarsaNipun Gusti, supados boten wonten selubung ing manah kita. Gesang kita dadosa berkah dhateng sintena kemawon karana gesang kita inggih punika gesang kanthi mripat iman ingkang tinarbuka, kados pepujian ing Kidung Ria 18, “Hatiku terbuka untuk-Mu Tuhan, selidiki nyatakan segala perkara, singkapkan semua yang terselubung, supaya kulayak di hadapan-Mu Tuhan”. Gusti tansah mberkahi kita sedaya. Amin. (YE).

Pamuji : KPJ. 267   “Pamarta Kula Agesang”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •