Antara Cerita, Cinta dan Derita Khotbah Minggu 3 Mei 2020

Minggu Paskah IV – Doa Syukur YBPK
Stola Putih

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 2 : 42 – 47
Bacaan 2         :
I Petrus 2 : 19 – 25
Bacaan 3         :
Yohanes 10 : 1 – 10

Tema Liturgis : Mengabarkan Kebangkitan Kristus sebagai Penggenapan Perjanjian Baru
Tema Khotbah: Antara Cerita, Cinta dan Derita

 

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 42 – 47

Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari Injil Lukas yang sama-sama ditujukan kepada Teofilus. Dari narasi dan ideologi yang disajikannya, kita bisa mengamati keberpihakan atau paling tidak tendensi positif Lukas terhadap pemerintahan Romawi. Lebih dari sekedar keberpihakan pada penguasa, tak jarang Lukas “menyerang” Yudaisme melalui narasi-narasinya. Lukas yang saat itu menulis di tengah penderitaan orang Kristen yang membaca Injilnya, berusaha menunjukkan bahwa pemerintah Romawi tidak turut bersalah dalam aniaya itu. Sebaliknya, bagi pembaca berlatarbelakang Romawi, Lukas menunjukkan bahwa komunitas Kristen adalah warga negara yang baik dan bahwa Kristus membawa keselamatan bagi segala bangsa. Pesan teologis Lukas ini tentu saja berseberangan dengan pemahaman soteriologi (keselamatan) Yudaisme, dimana mereka percaya bahwa keterpilihan dan keselamatan hanyalah dimiliki oleh umat pilihan YHWH saja.

Dalam bagian bacaan kita, Lukas sedang berkisah tentang kelanjutan kebangunan rohani yang dialami oleh 3000 orang lebih (ay. 41) akibat dari khotbah yang disampaikan Petrus saat Pentakosta. Dalam perikop ini (terutama ay.42), Lukas menggambarkan gereja mula-mula sebagai gereja yang:

  1. Tekun Belajar
    Belajar adalah aktivitas pertama dan utama yang dilakukan orang Kristen di gereja purba. Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang, tiba-tiba disatukan dalam sebuah panggilan dahsyat di hari Pentakosta. Euforia kebangunan rohani itu bisa segera pudar jika tidak ditindaklanjuti dengan kemauan untuk terus belajar dan pengajaran yang mereka terima adalah pengajaran rasuli.
  2. Tinggal dalam Persekutuan
    Salah satu mujizat Pentakosta adalah koinonia (persekutuan), dimana Roh Kudus mempersatukan ribuan orang beragam latar belakang itu dalam kasih persaudaraan. Sejak mula, esensi gereja bukanlah bangunan atau keseragaman namun justru keragaman dalam persekutuan.
  3. Memecah Roti
    Pemecahan roti yang dimaksud tentulah tidak merujuk pada eukaristi atau perjamuan sakramental yang kita pahami sekarang ini, namun pemecahan roti di sini tidak bisa dilepaskan dari pemahaman Yudaisme. Makan bukan aktivitas biasa bagi orang Yahudi, makan merupakan salah satu ritual kudus terutama jika berkat telah diucapkan di meja makan. Meja makan itu menjadi kudus dan makan menjadi sebuah ritual kudus. Sebab itulah, orang-orang yang ada di meja makan itu haruslah orang yang sama-sama tahir, sama-sama kudus. Dari sini kita bisa memahami mengapa Yesus dikritik saat Ia makan bersama-sama dengan orang yang dianggap berdosa. Masalahnya bukan hanya apa yang dimakan, namun juga dengan siapa mereka makan.  Jadi, ritual memecah roti bersama dalam gereja mula-mula adalah simbol penerimaan bagi semua orang percaya.
  4. Berdoa
    Yang membedakan gereja dengan komunitas lain adalah hubungannya dengan Kristus. Hubungan ini hanya bisa dirajut di dalam doa. Doa juga menunjukkan bahwa kekristenan saat itu tidak sama sekali memutuskan hubungannya dengan tradisi Yudaisme. Mengingat berdoa adalah kultus utama Yahudi.
    Penjelasan yang diberikan Lukas tentang gereja mula-mula ini bukanlah menunjukkan liturgi atau tata ibadah yang mereka lakukan dalam ibadah, namun fokus Lukas adalah untuk menunjukkan bagaimana komunitas Kristen merawat diri dan terus berkembang secara ritual dan spiritual.

I Petrus 2 : 19 – 25

Penindasan, penganiayaan dan fitnah adalah konteks utama yang dihadapi oleh orang Kristen penerima surat pertama Petrus ini. Orang-orang Kristen saat itu menjadi korban prasangka dan fitnah yang tak pernah terbukti. Banyak desas-desus yang dipercaya banyak orang tentang adanya orang Kristen sebagai komunitas yang suka berkumpul untuk makan daging anak-anak dan meminum darahnya. Belum lagi fitnah yang terstruktur, sistematis dan masif dari penguasa saat itu bahwa orang Kristenlah yang bertanggung jawab dalam kebakaran besar di Roma. Akibatnya mengerikan, banyak orang Kristen tak bersalah menjadi martir. Mereka menjumpai ajal dengan cara yang paling mengerikan. Ada yang mati dengan cara dicabik-cabik anjing liar, dilempar ke dalam api, digoreng hidup-hidup atau dengan berbagai cara lain yang tak kalah mengerikannya. Menjadi orang Kristen saat itu bukan hanya perkara keyakinan atau beragama, namun berarti meletakkan diri dalam bahaya.

Bagi mereka yang ada di bawah bayang maut akibat kepercayaannya pada Kristus, penulis menggunakan wibawa Petrus untuk menguatkan pembacanya. Penulis surat ini mengingatkan jemaat Kristen mula-mula saat itu tentang penderitaan yang lebih dulu dialami oleh Kristus. Bahwa dalam penderitaan-Nya, Yesus tak berbuat dosa, tak berbuat tipu daya, Ia tak membalas caci maki dan sama sekali tak mengancam. Dia hanya menyerahkan segala penderitaanNya kepada Sang Hakim Agung (ay. 22 – 23). Itu dilakukanNya oleh sebab Ia tahu benar bahwa penderitaan dan kematian yang ditanggungNya memberikan kehidupan dan kesembuhan bagi manusia (ay. 24). Demikianlah pengorbanan Yesus membawa para domba yang sesat itu pada Sang Pemelihara jiwa (ay. 25). Jika Yesus telah menderita, kini giliran orang Kristen saat itu untuk juga mengikuti jejak derita yang sama. Derita yang dimaksud penulis surat Petrus bukanlah sembarang derita, bukan derita yang menjadi konsekuensi dari kesalahan diri sendiri, namun yang dimaksudnya adalah derita karena Kristus (ay. 20-21). Penderitaan macam inilah yang layak disebut sebagai kasih karunia (ay. 19). Demikianlah penulis surat Petrus menempatkan komunitas Kristen mula-mula sebagai komunitas yang dibangun diatas jejak penderitaan Kristus, oleh sebab itu adalah kasih karunia jika mereka turut mencicipi derita oleh sebab Kristus.

Yohanes 10 : 1 – 10

Teks ini adalah bahan khas Yohanin (tidak ada di injil lainnya), meski gembala telah sering dipakai sebagai analogi yang menggambarkan TUHAN yang mengayomi umatNya dalam berbagai teks di Perjanjian Lama. Bagi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Yudea, gembala dan kawanan dombanya adalah pemandangan sehari-hari yang dapat dilihat dengan mudah. Gembala memang bukan pekerjaan yang bergengsi, sebaliknya dikenal sebagai pekerjaan kasar dan rendahan. Namun, menjadi seorang gembala yang baik itu tak mudah. Menjadi gembala perlu dedikasi total, karena pekerjaannya adalah menjaga kawanan domba siang-malam dari berbagai bahaya. Tidak seperti di Indonesia, dimana peternak membawa pulang rumput-rumputan untuk dimakan ternaknya. Di Palestina, hewannya-lah yang dibawa ke padang di dataran tinggi untuk merumput. Rumput sangat terbatas di pegunungan Yudea, karena itu kawanan besar domba harus terpencar-pencar untuk mencari makan. Tak jarang ada domba yang tersesat, atau bahkan terjatuh di jurang. Tugas gembala adalah memastikan domba-dombanya tak hilang. Resiko lainnya adalah ancaman predator yang hidup di dataran tinggi itu, anjing liar dan serigala adalah predator utama yang membahayakan domba-domba itu. Jika meleng sedikit, hilanglah domba-domba itu dimangsa. Selain predator alaminya, kawanan domba itu juga rentan dicuri oleh para perampok. Gembala adalah dia yang benar-benar harus sabar pada kelambanan, ketakutan dan kebodohan domba-domba yang mudah hilang dan tersesat itu. Sekaligus juga harus siap sedia untuk melawan serigala dan perampok yang membahayakan mereka.

Gembala haruslah seseorang yang memiliki mental dan fisik prima untuk terus siaga, berani dan sabar untuk mengenal semua domba kepunyaannya. Mengenal domba adalah sesuatu yang wajar bagi gembala saat itu, tidak seperti ternak di tempat lain yang biasanya diternak sebagai pedaging, domba di Palestina dipelihara untuk diambil bulunya. Jadi, kawanan domba itu bisa ada bersama-sama dengan gembala bertahun-tahun lamanya. Konon, gembala saat itu mampu memanggil kawanan dombanya dengan cara yang khas. Demikian pentingnya sosok gembala bagi kawanan domba, tak heran, sosok Tuhan seringkali digambarkan dengan analogi seorang gembala. Yohanes juga menarasikan bagaimana Yesus menggunakan analogi hubungan gembala  dan domba untuk menjelaskan karya-Nya.

Dia mengawali perumpamaan-Nya dengan menegaskan bahwa ada pintu yang benar untuk masuk ke dalam kandang domba. Orang yang tak masuk melalui pintu itu berarti ia adalah orang yang bermaksud jahat (ay. 1). Gembala itu akan masuk melalui jalan yang benar, ia akan dikenali oleh penjaga kandang dan juga domba-dombanya. Bahkan sang gembala mampu mengenal tiap domba sesuai namanya dan menuntun mereka semua keluar untuk mencari makan. Padang adalah tempat dimana tersedia makanan dan minuman bagi para domba, namun di sana ada banyak bahaya yang mengancam pula. Karena itu, posisi yang paling aman adalah di belakang sang gembala. Ay 2-4 berisi tentang gambaran relasi kedekatan gembala dan dombanya. Kontras dengan itu, ay. 5 menyatakan bahwa pada domba pastilah lari ketakutan jika mendengar suara yang tak dikenalnya.

Sayangnya, perumpamaan yang disampaikan Yesus dalam ay. 1-5 ini tak dapat dipahami oleh para pendengar-Nya (ay. 6). Karena itu Dia menjelaskan lebih lanjut, “Akulah pintu (yun. thura) ke domba-domba itu” (ay. 7). Yesus menyebut Diri-Nya sebagai pintu, nampaknya hal ini merujuk pada kandang-kandang musim dingin saat para domba tidak digembalakan di padang terbuka, melainkan dimasukkan ke kandang-kandang tembok di pinggiran desa. Tembok yang dibangun itu melindungi para domba dan pintu menjadi satu-satunya jalan untuk keluar dan masuk. Dalam hal ini, Yesus menempatkan Diri sebagai satu-satunya jalan bagi domba untuk masuk ke dalam kandang yang aman sekaligus sebagai satu-satunya jalan untuk keluar mendapatkan makanan dan minuman segar (ay. 9). Semua orang yang datang sebelum Yesus adalah pencuri dan perampok (ay. 8) yang membunuh dan membinasakan para domba rentan itu (ay. 10a).[1] Namun, Yesus datang untuk memberikan hidup yang berkelimpahan (ay. 10b). Teks kita diakhiri dengan dikotomi ini : perampok-binasa dan gembala-hidup berkelimpahan. Pilihan yang sangat jelas dan kontras, kini tergantung dari domba-domba itu, mampukah mereka mendengar dan mengenali suara Sang Gembala Agungnya.

Benang Merah Tiga Bacaan  :

Gereja dilahirkan dalam peristiwa pentakosta, yang memanggil ribuan orang untuk menyerahkan kepercayaannya pada Kristus yang telah mati dan bangkit itu. Sejak dari mulanya, perjalanan iman gereja tak pernah mudah. Mulai dari perbantahan hingga penganiayaan harus ditanggungnya. Namun, penderitaan bagi gereja dan orang percaya adalah kasih karunia karena itu berarti turut mencicipi penderitaan yang telah dialami Kristus (I Pet. 2:19-25). Namun Dia yang memang pernah merasakan derita itu tak tinggal diam. Kristus menjadikan Diri-Nya gembala bagi para domba yang mudah tersesat dan selalu ada dalam bahaya (Yoh. 10:1-10). Namun, para domba itu harus terus berlatih mengenali suara Sang Gembala dengan selalu ada dalam proses  belajar, tinggal dalam persekutuan, saling menerima dan ada dalam hubungan komunikasi melalui doa (Kis. 2:42-47).

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

ANTARA CERITA, CINTA DAN DERITA

Pendahuluan

Bumi Manusia, adalah novel bagian pertama dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satu masterpiece dari sastrawan luar biasa ini mengambil setting masa kolonial di Kota Surabaya. Tahun lalu, novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Secara garis besar, Bumi Manusia bercerita tentang cinta berbalut derita antara Minke, seorang Jawa keturunan ningrat yang punya kepandaian di atas rata-rata orang pribumi saat itu dengan Annelies Mellema, gadis indo cantik yang lahir dari seorang gundik Jawa. Cerita cinta mereka sudah cukup aneh karena perbedaan latar belakang yang sangat mencolok itu. Namun, bersama Nyai Ontosoroh, Ibu Annelis, mereka berjuang mempertahankan hak atas cinta. Masalahnya, derita tak dapat ditolak. Karena berbagai kesialan dan hukum yang tak berpihak pada pribumi yang terjajah Eropa kala itu, cerita cinta Minke dan Annelies berakhir derita.

Tentulah gelisah dan gugatan khas Pram sangat menggigit dalam karyanya ini. Namun, yang dapat membahani perenungan kita kali ini adalah betapa cinta dan derita seringkali berkelindan dalam sebuah cerita.

Isi

Cerita kesuksesan khotbah Petrus yang sedang diurapi Roh berlanjut dengan gambaran bagaimana gereja mula-mula merawat dan mengembangkan iman mereka. Gereja mula-mula bertumbuh dengan pesat, mereka terus menerus bertekun dalam pengajaran para rasul, selalu berada dalam persekutuan saudara seiman, belajar makan semeja sebagai lambang penerimaan satu dengan yang lainnya dan juga tekun dalam doa. Iman mereka semakin tumbuh dan berkembang, jumlah mereka pun senantiasa bertambah-tambah oleh sebab semakin banyak orang yang tertarik pada cara hidup dan iman mereka. Namun, cerita iman itu tak selalu mulus. Komunitas muda itu menimbulkan kecurigaan orang-orang di luar mereka. Desas-desus buruk dan kecurigaan tak berdasar yang ditujukan pada orang Kristen berdampak sangat negatif. Orang-orang Kristen tak hanya menerima cemoohan, namun juga aniaya dan bahkan pembunuhan yang sangat kejam. Mengikut jalan cinta Kristus bagi orang Kristen saat itu berarti jalan sengsara dan derita.

Mencintai Kristus memang tak otomatis kebal terhadap derita, karena cintaNya pun dibuktikan melalui derita. Oleh sebab itulah, surat pertama Petrus menguatkan semua orang percaya yang sedang menderita kala itu dengan mengingatkan mereka bahwa derita itu adalah kesempatan dan karunia. Ya… kesempatan dan karunia untuk turut merasakan derita yang telah lebih dahulu ditanggungNya. Dalam derita yang memang harus ditanggung itulah, Tuhan Yesus tak tinggal diam. Ia menyatakan Diri-Nya sebagai Gembala bagi para domba. Gembala yang siap sedia untuk memastikan para domba-Nya aman, baik dari kesesatan, terkaman hewan buas dan juga dari pencurian para perampok. Hubungan gembala-domba ini adalah hubungan dua arah. Memang Sang Gembala mengenal satu persatu domba gembalaan-Nya, namun para domba itu juga harus belajar untuk mengenali suara-Nya. Hanya dengan itulah, domba dapat selamat melewati derita yang harus dilaluinya.

Proses cerita, cinta dan derita adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai umat percaya. Sejak dini, seorang Kristen harus mulai dididik dalam cinta Kristus agar ia mampu dan tangguh menghadapi segala cerita hidup, termasuk deritanya. Hari ini, sebagai sebuah gereja yang adalah domba milik Kristus, kita diajak untuk bersyukur atas keberadaan YBPK. Yayasan Badan Pendidikan Kristen, sebagai wadah kesaksian kita dalam bidang pendidikan. Sebagai sebuah yayasan pendidikan kristen, YBPK mungkin sudah terlalu lama ada dalam kondisi “prihatin”. Jumlah murid yang terus menurun, fasilitas yang makin terbatas dan perkembangan SDM yang masih “seret”. Konon, YBPK pernah ada di masa jaya. Saat itu sekolah YBPK jadi sekolah primadona, namun itu sudah jadi cerita lama. Kini, mari bersama menyadari bahwa YBPK adalah kesempatan kita untuk bersaksi. Mari jatuh cinta lagi dengan YBPK, kita dukung sekolah-sekolah kita untuk mewarnai lebih banyak cerita hidup anak-anak kita agar mereka pun lebih mencintai Gembalanya.

Penutup

Saudara-saudara terkasih, cerita tentang cinta dan derita pastilah senantiasa berkelindan dalam hidup di bumi manusia ini. Betapapun berat derita yang sedang kita tanggung sekarang, percayalah cinta Sang Gembala senantiasa siaga memberi pertolongan. Selamat meneruskan cerita hidup, kiranya cinta-Nya tetap mampu kita hayati meski ada dalam derita. Amin. (Rhe)

 

Pujian :  KJ.  389  “Besarlah Kasih Bapaku”


RANCANGAN KHOTBAH : BASA JAWI

Pambuka

Bumi Manusia, buku cariyos (novel) perangan sepisan saking tetralogi bukunipun Pramoedya Ananta Toer. Punika salah setunggaling masterpiece (pakaryan agung) saking juru carita (sastrawan) ingkang pinunjul punika mendhet papan cariyos mangsa kolonial ing kitha Surabaya. Taun kepengker, novel punika dipun dadosaken film kanthi lamat ingkang sami. Cekakipun, Bumi Manusia punika nyariyosaken perkawis asmara ingkang ginubet kasangsaran antawisipun Minke kaliyan Annelies Mellema. Minke punika satunggaling tiyang Jawi turunan ningrat ingkang gadhahi kapinteran nglangkungi tiyang pribumi. Dene Annelies Mellema, punika satunggaling prawan indo ingkang ayu ingkang lair saking satunggaling gundik Jawi. Cariyos katresnanipun tiyang kalih punika kawastanan aneh karana kawontenanipun ingkang benten sanget. Nanging sinarengan Nyai Ontosoroh, ibunipun Annelis, tiyang kalih punika mbudidaya ngukuhi kekarepan utawi hak asmaranipun. Perkawisipun, kasangsaran boten saged dipun tampik, karana apesing lelampahan lan pranatan ingkang boten mbelani tiyang pribumi ingkang kajajah dening Eropa nalika semanten. Cariyos asmaranipun Minke lan Annelies kapungkasan kanthi panandhang sangsara.

Tamtu raos koneng lan gugatanipun Pramoedya punika kraos sanget ing seratanipun punika. Nanging, ingkang dados reraosan kita samangke inggih punika saiba asmara lan kasangsaran tumpang tindhih ing salebeting cariyos.

Isi

Cariyos kasiling kotbahipun Petrus ingkang jinebadan dening Roh Suci kabacutaken gegambaran bab kados pundi greja ingkang wiwitan lan ningkataken imanipun warga pasamuwan. Greja wiwitan punika tuwuh ngrembaka, para warga kanthi tekun netepi piwulangipun para rasul, tansah tetunggilan ing sasedherek tunggal pitados, sinau kembul bujana minangka pralambang anggenipun sami sangkul-sinangkul sarta sregep ing pandonga. Imanipun saya tuwuh lan kukuh, cacahipun saya kathah awit saking kathahipun tiyang ingkang kepencut dhateng tatananing gesang lan imanipun warga pasamuwan. Nanging, cariyos bab iman punika boten tansah sempulur. Pakempalan anem punika nuwuhaken raos sujana (curiga) saking tiyang-tiyang ing sajawining pakempalan. Rerasanan awon lan sujana tanpa dhasar ingkang katujokaken dhateng tiyang Kristen punika temahanipun boten sekeca. Tiyang-tiyang Kristen punika boten namung dipun poyoki, nanging ugi dipun aniaya lan malah dipun pejahi kanthi bengis. Ndherek margining katresnanipun Sang Kristus nalika samanten menggahing tiyang Kristen ateges ngambah margi rekaos lan sangsara.

Nresnani Sang Kristus pancen boten mesthi madal sakathahing kasangsaran, awit sih katresnanipun Gusti ugi kabuktekaken lumantar kasangsaran. Pramila saking punika, layangipun Petrus ingkang kapisan punika nyantosakaken sadaya tiyang pitados ingkang saweg nandhang sangsara kala samanten srana ngengetaken bilih kasangsaran punika satunggaling wewenang lan kanugrahan. Maknanipun, wewengan lan kanugrahan punika ateges ndherek ngraosaken kasangsaran ingkang sampun dipun sanggi langkung rumiyin. Wonten ing kasangsaran ingkang pancen kedah dipun sanggi punika Gusti Yesus boten kendel. Gusti Yesus mratelakaken Panjenenganipun minangka Pangen tumrap para menda. Pangen ingkang tansah siaga ngreksa para menda saking bebaya, saking margi ingkang nyasar, saking kewan galak lan ugi saking maling lan rampog. Sesambetanipun Pangen lan menda punika imbal sesambetan kekalihipun. Pancen Sang Pangen wanuh mendanipun satunggal baka satunggal, nanging para menda ugi kedah tepang/ apal dhateng swantening Pangenipun. Inggih namung srana makaten, menda saged slamet saking kasangsaran ingkang kedah dipun lampahi.

Lampahing cariyos sih katresnan lan kasangsaran punika perangan ingkang dhatan pinisah ing salebeting gesang kita minangka tiyang pitados. Wiwit wiwitan tiyang Kristen punika kedah dipun wulangi wonten ing sih katresnanipun Sang Kristus supados kwagang lan tanggon ngadhepi lelampahaning gesang, kalebet kasangsaranipun. Dinten punika, minangka greja utawi menda kagunganipun Sang Kristus, kita dipun ajak saos sokur tumrap wontenipun YBPK. Yayasan Badan Pendidikan Kristen dados wahana paseksi kita ing babagan pasinaon. Minangka Yayasan Pendidikan Kristen, YBPK mbokmenawi sampun kedangon ngalami kaprihatosan. Cacahing muridipun saya suda, prabotipun saya winates lan indhak-indhakaning SDM (guru-gurunipun) saya seret. Swau YBPK nate ngalami jaya, nalika dados papan pasinaon ingkang utami, nanging punika samangke kantun cariyosipun. Samangke sumangga kita nyadhari bilih YBPK punika dados wewengan paseksi kita. Sumangga kita nresnani kanthi nyata dhateng YBPK, kita sengkuyung sekolah-sekolah, kita ngreksa daya pigesanganing anak-anak kita supados sami langkung tresna dhateng pangenipun.

Panutup

Para kinasih, cariyos bab sih katresnan lan kasangsaran tamtu silih gumantos wonten pigesangan Bumi Manusia punika. Sanajan awrat kasangsaran ingkang kita sanggi sapunika, sami pitadosa dhumateng sih katresnanipun Sang Pangen ingkang tansah siaga paring pitulungan. Sugeng nglajengaken lampahing cariyos pigesangan, mugi sih katresnanipun Gusti tetep saged kita ayati nadyan wonten kasangsaran. Amin. [terj. st]

Pamuji : KPJ.  68   “Allah Maasih”


Catatan:

[1]Tentu ini  tak merujuk pada nabi-nabi yang mendahului Yesus, namun nampaknya kalimat ini ditujukan secara spesifik kepada Jemaat Yohanin yang menghadapi gnostisisme yang mengombang-ambingkan iman mereka saat itu. Jadi, bagian ini mengingatkan mereka tentang siapa seharusnya yang menjadi gembala mereka dan suara siapa yang seharusnya mereka dengar.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •