Minggu Adven 4 | Masa Adven
Stola Ungu
Bacaan 1: Yesaya 7 : 10 – 16
Mazmur: Mazmur 80 : 1 – 8, 18 – 20
Bacaan 2: Roma 1 : 1 – 7
Bacaan 3: Matius 1 : 18 – 25
Tema Liturgis: Menanti Sang Jati dalam Bakti
Tema Kotbah: Sang Jati : Nama-Nya Yesus, Sang Imanuel
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 7 : 10 – 16 : Pemberitaan mengenai Imanuel
Yesaya adalah nabi besar di Yehuda atau Israel Selatan yang dipanggil menjadi nabi pada tahun 746 SM, tahun wafatnya raja Uzia dari Yehuda (Yes. 6:1). Dia melayani pada zaman raja Yotam (745-742 SM), Ahas (741—726 SM) dan Hizkia (725-697 SM). Masa itu merupakan masa gonjang-gannjing secara sosial, politik, ekonomi, baik secara internasional maupun nasional di Israel.
Konteks Yesaya 7:10-16 dimulai saat Asyur semakin menjadi ancaman bangsa-bangsa di Asia Barat Daya, maka raja Pekah dari Israel Utara atau Samaria bersama raja Rezin dari Aram berniat membentuk koalisi untuk melawan Asyur. Karena raja Ahas dari Yehuda tidak mau mengikuti koalisi itu maka mereka mengepung Yerusalem. Perang ini terkenal dengan nama perang Syro Ephrayim pada tahun 734-733 SM. Usaha Rezin dan Pekah gagal, bahkan pada tahun 732 SM, raja Tiglatpileser dari Asyur menduduki tanah Aram, Israel Utara bagian Utara dan Timur, menyisakan daerah Efrayim.
Pada saat itu Yesaya bernubuat lagi kepada Raja Ahas (743-727 SM) bahwa Tuhan menawarkan tanda supaya Ahas percaya pada wahyu pertama dari dunia orang mati maupun dari tempat tinggi yang di atas (Ay. 11). Tetapi dengan bangganya Ahas menolak tawaran itu dengan alasan dia tidak mau mencobai Tuhan (Ay. 12). Hal itu sungguh melelahkan Tuhan, karena Ahas mengggunakan alasan atas nama hukum agama (Kel. 17:7), atas nama Tuhan, atas nama agama, namun sebenarnya karena ia sudah mempunyai rencana dan skema sendiri. Dia tidak ingin percaya akan keselamatan di luar akalnya dan skemanya. Bukankah Tuhan sendiri yang menawarkan, bahkan begitu luasnya tanda tersebut dapat diambil?
Walaupun demikian Tuhan sendiri tetap akan memberikan tanda. Tuhan tidak merubah rencana agung-Nya. “Sesungguhnya seorang perempuan muda (dalam bahasa Iberani ha alma) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel.” (Bahasa Ibrani, artinya Allah beserta kita). Ha-alma artinya perempuan muda, bisa perawan, bisa bukan perawan atau telah bersuami. Karena itu, dalam tafsir Yahudi ada berbagai tafsiran. Ada yang menafsirkan perempuan muda itu adalah isteri Yesaya, ada yang menafsirkan istri raja Ahas, sehingga anak yang dilahirkan adalah Hizkia. Kedua tafsiran ini kurang tepat, sebab anak Yesaya dan Hizkia saat itu sudah lahir dan besar. Ada yang menafsirkan perempuan muda yang saleh, siapa saja yang pada saat itu hadir di depan nabi Yesaya dan raja Ahas. Yang menarik, ketika para ulama Yahudi menerjemahkan Kitabnya itu ke dalam bahasa Yunani, yaitu Septuaginta pada 200 tahun sebelum kedatangan Tuhan Yesus, ha-alma itu diterjemahkan partenos, dalam bahasa Yunani artinya perempuan muda perawan, dan menjadikan nubuat itu melambung jauh menjadi nubuatan Mesianis, Sang Imanuel Sejati (Yes. 8:8,10). Maka tidak heran jikalau para penulis Injil memahami dan mengetrapkannya dalam kelahiran Tuhan Yesus yang lahir dari perawan Maria.
Karena ketidaktaatannya, Raja Ahas, istananya, bahkan rumah Daud atau keluarga besar Daud akan menerima petaka, namun berbahagialah yang taat dan jujur dalam memegang janji Tuhan, mereka menerima penyertaan dan keselamatan Tuhan.
Roma 1 : 1 – 7 : Salam dan Panggilan menjadi Milik Kristus
Walaupun judulnya salam, namun di sini bukan sekedar salam basa-basi biasa, melainkan sebagaimana dalam tulisan-tulisan Paulus lainnya, juga penuh dengan gagasan-gagasan besar yang berisi tema-tema besar yang penuh makna.
Setelah salamnya, pertama-tama di sini Paulus menjelaskan siapa dirinya, yaitu seorang hamba Kristus yang dipanggil menjadi rasul atau utusan Yesus Kristus, yang dikuduskan atau dikhususkan untuk memberitakan Injil. Kedua, ia menjelaskan tentang apakah Injil atau berita sukacita itu, yaitu tentang kedatangan Kerajaan Allah di dalam Yesus, yang telah dijanjikan oleh para nabi dan Kitab-kitab Suci sejak jauh sebelumnya. Ketiga, tentang siapa Yesus Kristus, sifat ilahi-Nya dan manusiawi-Nya. Sifat ilahi-Nya ialah Anak Allah yang Maha Kuasa, yang bangkit dari antara orang mati, Tuhan kita. Keempat, siapakah Kristen atau orang-orang yang dipanggil menjadi milik Kristus itu.
Khususnya tentang orang-orang Kristen ini jumlahnya masih sangat kecil yang harus hidup di kota besar Roma sebagai pusat pemerintahan dengan penduduk yang beraneka ragam secara etnis, adat budaya, dan kepercayaan, sosial ekonomi, status politik, dan aliran pemikiran filsafat. Mereka muncul belakangan dengan ajaran dan sikap hidup yang dipandang “aneh” oleh masyarakat dan pemerintah. Karena itu sering dicurigai, dikucilkan, didiskriminasi, didiskreditkan, bahkan dianiaya hingga tewas oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Perlakuan yang demikian itu dapat menjadikan mereka menarik diri dari masyarakat, memusuhi masyarakat, dan menjadi eksklusif.
Di tengah konteks tersebut, Rasul Paulus tidak memungkiri bahwa mereka memang berbeda dengan orang-orang Roma lainnya. Perbedaannya mereka dipanggil oleh Kristus, telah disapa oleh Firman-Nya dan mereka merespons dengan hidup menurut panggilan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan, yang dikuduskan oleh-Nya, artinya disendirikan untuk menjadi milik Tuhan sendiri. Mereka bukan milik dunia lagi, bukan milik dirinya sendiri, melainkan hidupnya untuk Tuhan, yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk menjadi pemberita sukacita, berbagi kehidupan, dan menjadi berkat. Dari sinilah muncul istilah kuriake dan kurakion untuk mereka, artinya milik Kurios (Tuhan).
Matius 1 : 18 – 25 : Kelahiran Yesus Kristus dan Arti Nama-Nya
Yusuf sungguh-sungguh berada di dalam kesesakan dan kebimbangan. Dia sudah bertunangan dengan Maria dan Maria mengandung seorang bayi yang dia tidak pernah bersetubuh dengannya. Di satu sisi ia tetap percaya bahwa Maria adalah perempuan yang setia dan saleh. Namun di sisi lain, bagaimana ia bisa mengandung? Untuk konteks budaya dan kepercayaan Yahudi resikonya besar sekali. Setelah direnungkan dalam-dalam ia mengambil keputusan untuk meninggalkan Maria secara diam-diam.
Namun di dalam mimpinya, ia dijumpai malaikat Tuhan yang memberitakan supaya ia tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya, sebab anak yang dikandung itu bukan karena keinginan manusia dan daging, melainkan dari Roh Kudus. Maka supaya engkau menamakannya Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Genaplah apa yang telah dinubuatkan nabi: “Sesungguhnya anak dara (Bahasa Yunani: partenos) itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan “Imanuel” yang berarti Allah meneyertai kita.” (Ay. 23). Berbeda dengan Raja Ahas, Yusuf tidak ngotot dengan pikiran dan skema rencananya sendiri, melainkan menaati semua perintah Tuhan.
Nama itu menyatakan jati diri Tuhan Yesus tentang siapakah Dia, mengapa dan untuk apa Ia datang ke dunia. Pertama, Dia bukan berasal dari dunia ini, bukan berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan, Sang Sumber, Pemelihara, dan Tujuan Hidup (Ayb. 33:4; Maz. 104:30; Ayb. 34:14; Maz. 139:7; Yes. 63:10). Roh Kudus (ruah ha kodesh (bhs Ibrani), ruah kudsha (bhs Aram), jelas bukan malaikat Jibril, melainkan Tuhan, kuasa yang maha tinggi itu sendiri. Berarti secara asali Yesus dikandung oleh Tuhan sendiri. Kedua, nama Yesus (bhs Yunani Yehoshua, bhs Ibrani: Yeshua), artinya Yahweh Penyelamat, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Yoh. 1:11; Luk. 2:10). Penyelamatan dari dosa ini sebagai dasar pemulihan manusia seutuhnya (1 Yoh. 2:2, 24, 25). Ketiga, Imanuel: Tuhan beserta kita berasal dari nubuat nabi Yesaya yang pada waktu itu telah dipenuhi ternyata mengalami pemenuhan kesejatiannya di dalam kelahiran Yesus. Dia bukan hanya Juru Selamat, melainkan juga menyatakan Tuhan beserta kita, Tuhan berada di tengah kita sejajar dengan Yohanes 1:14, untuk menebus, menyucikan, dan memulihkan kehidupan kita.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Nama adalah jati diri, nabi Yesaya telah menubuatkan kedatangan Sang Imanuel dan karena nama Yesus Sang Imanuel, kita menjadi milik-Nya yang dikuduskan, untuk memberitakan sukacita, berbagi kehidupan, dan menjadi berkat.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Bagi orang Timur, termasuk Indonesia, betapa pentingnya makna sebuah nama. Dengan nama orang mengungkapkan sejarah masa lalunya, harapan ke masa depannya, dan panggilan hidupnya. Karena itu, tidak heran orang tua merenung berhari-hari untuk memberi nama kepada anaknya. Sebagai eyang berapa kali saya diminta memberi nama pada cucu-cucu. Bahkan ketika masih kecil dan remaja, berapa kali saya diundang “slametan” penggantian nama teman saya, karena namanya yang lama dipandang membawa sial. Nama dapat membentuk motivasi, kesadaran diri, karakter, dan jati diri.
Di zaman perkembangan teknologi informatika sekarang ini, nama-nama menjadi sulit-sulit karena diambil dari berbagai bahasa di dunia, sehingga sering menjadi tertawaan ketika membaptis anak dengan pengucapannya yang asing, tidak tepat atau lucu. Lebih celaka lagi ketika orang asal comot saja nama-nama itu dari berbagai bahasa, kedengaran indah, global atau internasional, tetapi tidak tahu artinya.
Kembali kepada Alkitab, ternyata hampir semua nama-nama dalam Alkitab mempunyai makna. Bahkan Tuhan sendiri sering memberikan nama dengan makna, mengganti nama manusia, misalnya dari Abram menjadi Abraham, dari Yakub menjadi Israel dengan makna yang baru. Saat ini kita akan merenungkan nama yang diberikan kepada Juru Selamat kita yang sangat berdampak pada jati diri kita.
Isi
Imanuel, Nubuat tentang Penyertaan Tuhan di Tengah Kesesakan
Nubuat kelahiran Imanuel ini muncul pada masa raja Ahas yang memerintah di Yehuda pada tahun 741-726 SM. Pada masa itu, kerajaan Yehuda mengalami masa kemelut dan gonjang-ganjing secara sosial, politik, ekonomi, baik secara internasional maupun nasional. Berawal dari kerajaan Asyur yang makin menjadi ancaman bagi bangsa-bangsa di Asia Barat Daya, maka raja Pekah dari Israel Utara atau Samaria bersama raja Rezin dari Aram berniat membentuk koalisi untuk melawan Asyur. Karena raja Ahas dari Yehuda tidak mau mengikuti koalisi itu maka mereka mengepung Yerusalem. Perang ini terkenal dengan nama perang Syro Ephrayim pada tahun 734-733 SM. Usaha Rezin dan Pekah gagal, bahkan pada tahun 732 SM, raja Tiglatpileser dari Asyur menduduki tanah Aram, Israel Utara bagian Utara dan Timur, menyisakan daerah Efrayim.
Di tengah kemelut itu, nabi Yesaya bernubuat lagi kepada raja Ahas bahwa sebagai tanda penyertaan-Nya, Tuhan menawarkan tanda dari dunia orang mati maupun dari tempat tinggi yang di atas (Ay. 11). Tetapi dengan bangganya Ahas menolak tawaran itu dengan alasan dia tidak mau mencobai Tuhan (Ay. 12). Hal itu sungguh melelahkan Tuhan. Karena Ahas mengggunakan alasan atas nama hukum agama (Kel. 17:7), atas nama Tuhan, atas nama agama, padahal sebenarnya karena ia sudah mempunyai rencana dan skema sendiri. Dia tidak ingin percaya akan keselamatan di luar akalnya dan skemanya itu. Sebab, bukankah Tuhan sendiri yang menawarkan, bahkan begitu luasnya tanda tersebut dapat diambil?
Walaupun demikian Tuhan sendiri tetap memberikan tanda. Tuhan tidak merubah rencana agung-Nya. “Sesungguhnya seorang perempuan muda (bahasa Ibrani: ha alma) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel.” (Bahasa Ibrani, artinya Allah beserta kita). Ha-alma artinya perempuan muda, bisa perawan, bisa bukan perawan atau telah bersuami. Perempuan muda itu ada yang menafsirkan istri Yesaya, ada yang menafsirkan istri raja Ahas, sehingga anak yang dilahirkan adalah Hizkia. Namun tafsiran ini tidak tepat, karena Syear Yasyub dan anak Yesaya yang lain serta Hizkia sudah lahir dan besar. Ada yang menafsirkan perempuan muda yang saleh siapa saja yang pada saat itu hadir di depan nabi Yesaya dan raja Ahas. Karena ketidak- percayaan raja Ahas, Yehuda dilanda kemelut dan kesesakan, namun berbahagialah yang percaya terhadap penyertaan Tuhan, karena mereka mendapatkan keselamatan di tengah kesesakan.
Yang menarik, ketika para ulama Yahudi menerjemahkan Kitabnya itu ke dalam Bahasa Yunani, yaitu Septuaginta pada 200 tahun sebelum kedatangan Tuhan Yesus, ha-alma itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani partenos, artinya anak dara atau perempuan muda perawan.
Jauh melampaui zaman Yesaya, di tengah kesesakan dan kebimbangan Yusuf karena kandungan Maria, ketika malaikat Tuhan menjumpainya dalam mimpinya supaya menerima Maria karena dia mengandung bukan dari keinginan manusia dan daging, melainkan dari Roh Kudus, Roh Allah yang Maha Tinggi sendiri, Yusuf memercayai dan menaatinya. Anak dara (bhs Yunani: partenos) itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki supaya menamakan Dia Yesus. Genaplah yang dinubuatkan nabi (Yes. 7:14) “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita.”
Nama itu menyatakan jati diri Tuhan Yesus tentang siapakah Dia, mengapa dan untuk apa Ia datang ke dunia. Pertama, Dia bukan berasal dari dunia ini, bukan berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan, Sang Sumber, Pemelihara, dan Tujuan Hidup (Ayb. 33:4; Maz. 104:30; Ayb. 34:14; Maz. 139:7; Yes. 63:10). Roh Kudus (ruah ha kodesh (bhs Ibrani), ruah kudsha (bhs Aram), jelas bukan malaikat Jibril, melainkan Tuhan, Kuasa yang maha tinggi sendiri. Berarti secara asali Yesus dikandung oleh Tuhan sendiri. Kedua, Nama Yesus (bhs Yunani: Yehoshua, bhs Ibrani: Yeshua), artinya Yahweh Penyelamat, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Yoh. 1:11; Luk. 2:10). Penyelamatan dari dosa ini sebagai dasar pemulihan manusia seutuhnya (1 Yoh. 2:2, 24, 25). Ketiga, Imanuel: Tuhan beserta kita berasal dari nubuat Nabi Yesaya ternyata mengalami pemenuhan kesejatiannya di dalam kelahiran Yesus. Dia bukan hanya Juru Selamat, melainkan juga menyatakan Tuhan beserta kita, Tuhan berada di tengah kita sejajar dengan Yohanes 1:14 untuk menebus, menyucikan, dan memulihkan kehidupan kita.
Berbeda dengan Raja Ahas, jikalau Raja Ahas dengan alasan hukum agama atau Tuhan, ia menolak tanda dari Tuhan karena lebih percaya pada perhitungan dan skema akalnya sendiri, Yusuf di tengah kesesakan dan kebimbangannya karena kandungan Maria tunangannya, ia percaya terhadap Firman-Nya dan menaatinya walaupun dengan resiko apapun. Kepercayaan dan ketaatan Yusuf dan Maria ini sungguh menjadi berkat yang besar, tidak hanya bagi keluarga Yusuf dan Maria sendiri, tetapi bagi seluruh manusia, bahkan alam semesta ini. Betapa sering kita lebih bersikap seperti Raja Ahas ini daripada seperti Yusuf, atau bahkan ingin mengatur Tuhan supaya sesuai dengan nalar dan skema rencana kita, yang muaranya membawa petaka bukan hanya kepada kita sendiri, tetapi juga lingkungan kita.
Umat Milik Kristus Menyambut Sang Jati dengan Bakti
Saudaraku kekasih, saya kira tidak ada dari antara kita yang tidak mempunyai nama. Nama-nama yang indah dan bermakna itu mungkin berlatar belakang masa lalu, harapan masa depan, tokoh idola atau berisi misi hidup kita. Nama itu telah membentuk pribadi, karakter, dan jati diri (identitas) kita masing-masing.
Namun yang lebih agung dan mulia serta membedakan dengan masyarakat Roma yang sangat majemuk itu, bahwa karena iman dan ketaatan orang-orang Kristen kepada Yesus Sang Imanuel, dalam salam suratnya, Paulus menyebut mereka milik Kristus. Dari sinilah muncul istilah kuriake dan kurakion untuk mereka, artinya milik Kurios (Tuhan). Bahkan sebelum itu, kata Kristen telah muncul di Antiokhia (Kis. 11:26). Kata Kristen yang semula sering digunakan untuk mendiskreditkan para pengikut Kristus mendapatkan maknanya yang begitu dalam oleh orang-orang Kristen tersebut. Pertama, orang-orang telah menerima dan percaya kepada Yesus Kristus Sang Jati, Sang Hakiki, Sumber Kebenaran, dan Sumber Makna Kehidupan. Sang Jati telah menebus dosa mereka, menyucikan, dan memulihkan mereka sebagai gambar Allah yang mencerminkan Allah dalam hidupnya. Sang Jati berkehendak tinggal di dalam hatinya, menuntun angan dan pikirannya, mengalir melalui kata dan perbuatannya, mewarnai jati dirinya, seperti kata Paulus, “aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20). Kedua, orang-orang yang dipanggil, disendirikan untuk menjadi milik Tuhan sendiri. Mereka bukan milik dunia lagi, bukan milik dirinya sendiri, melainkan hidup matinya ditentukan dan untuk Tuhan. Sehingga Paulus menyatakan “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil. 1:21). Ketiga, menjadi milik Kristus berarti hidup bersama Kristus, dihisabkan dan dilibatkan ke dalam misi Kristus menjadi pemberita sukacita, berbagi kehidupan, dan menjadi berkat.
Mungkin dari antara kita ada yang memandang: ah, tampaknya begitu muluk, begitu idealnya sehingga sulit tergapai (utopis). Memang begitu tinggi dan agung kasih karunia Tuhan bagi kita. Karena itu, Tuhan juga memberi standard kualitas hidup yang tinggi yang melebihi rata-rata orang dalam kehidupan kita. Sehingga tidak heran, ketika ada orang Kristen berperilaku menyimpang atau terperosok ke dalam tindakan kriminal, segera orang-orang menyeletuk: “orang Kristen kok begitu!” Tetapi ketika melakukan perbuatan baik, itu dianggap biasa, sudah semestinya. Oleh karena itu, jangan kecewa dan putus asa, malahan makin lebih giatlah dalam melakukan segala yang baik. Sebab semua itu justru menunjukkan betapa tingginya harapan dan penghargaan mereka kepada kita.
Penutup
Sang Jati telah datang, berkehendak mengisi dan mendasari jati diri kita sebagai milik-Nya. Marilah kita sambut dengan penuh syukur, sukacita, tulus, ikhlas dan terbuka menyediakan hati supaya Dia berkenan tinggal dan merajai hati kita serta memimpin angan dan pikiran kita, mengalirkan kuasa-Nya melalui kata dan perbuatan kita. Amin. [BRU].
Pujian: KJ. 81 O, Datanglah Imanuel
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Para sadherek kinasih, tumrap kita tiyang Indonesia, iba wigatinipun artos satunggaling nami. Kanthi nami, tiyang nyatakaken sejarah dinten kepengkeripun, pangajeng-ajeng dinten ngajeng, tuwin timbalan gesangipun. Mila mboten aneh menawi rikala anakipun utawi wayahipun lair kathah tiyang sepuh ingkang sawetawis dangunipun ngolak-alik pikiran lan pangangen-angenipun ngupadi nami ingkang sae lan mulyakaken kangge anakipun. Nami saged mangun motivasi, sifat, miwah jati diri. Mila mboten aneh menawi wonten tiyang-tiyang ingkang ngrebah naminipun karana nami ingkang lami kaanggep murugaken sial.
Elokipun ing zaman teknologi informasi punika karana sangsaya kabikakipun sesambetan kaliyan marupi-rupining bangsa lan basa, nami-nami dados kraos sangsaya angel dipun ucapaken karana kapendhet saking basa utawi bangsa sanes. Asring dados gegujengan rikala anak kababtis pangucapanipun mboten trep, wagu tur lucu. Langkung cilaka malih menawi tiyang “asal comot” kemawon nami saking basa manca, tanpa mangertos artosipun.
Ing Kitab Suci, pranyata meh sedaya nami-nami nggadhahi artos. Malahan Gusti Allah piyambak paring nami, ngrebah nami contonipun Abram dados Abraham, Yakub dados Israel karana ngersakaken makna ingkang enggal. Mekaten ugi, ing wekdal punika kita sami ngraosaken asma ingkang kaparingaken dhumateng Juru Wilujeng kita ingkang ageng sanget dampakipun tumrap nami-nami lan jati diri kita.
Isi
Imanuel, Pameca bab Panunggiling Gusti Allah ing Sak Tengahing Karupekan
Pameca bab lairipun Imanuel punika muncul kala zamanipun Sang Prabu Akhas, raja Kraton Yehuda tahun 741-726 SM (Sakderengipun Sang Mesih). Ing wekdal punika krajan Yehuda ngalami kemelut, gonjang-ganjing sosial, politik, ekonomi sacara nasional lan internasional. Kawiwitan munculipun krajan Asyur minangka ancaman enggal tumrap bangsa-bangsa ing sakiwa tengenipun, Sang Prabu Pekah saking Israel Ler utawi Samaria sesarengan kaliyan Sang Prabu Rezin saking Aram niyat sekuthon nglawan Asyur. Karana Sang Prabu Akhas saking Yehuda (Israel Kidul) mboten purun ndherek ing sekuthon punika, mila lajeng krajan Yehuda kinepung wakul binaya mangap. Perang punika kasebat perang Syro Ephrayim kala tahun 734-733 SM. Upayanipun Sang Prabu Rezin lan Pekah gagal, ing tahun 732 SM Sang Prabu Tiglatpileser saking Asyur ngebroki Tanah Aram, Israel Ler, nyisakaken Tanah Ephrayim.
Ing sak tengahing sindhung-riwut kemelut punika Nabi Yesaya muncul malih nglantaraken pangandikanipun Gusti dhumateng Sang Prabu Akhas, bilih minangka pratandha pangreksanipun Gusti, Sang Prabu Akhas saged nyuwun pratandha punapa kemawon saking jagading tiyang pejah ing ngandhap utawi saking nginggil (Ay. 11). Nanging Sang Prabu Akhas nolak, kanthi pawadan saraking agami, bilih piyambakipun mboten badhe nyobi dhumateng Yehuwah (Ay. 12). Bab punika saestu damel sayahing tiyang tuwin Gusti Allah (Ay. 13). Karana saestunipun panolaking Sang Prabu Akhas punika namung dhapur pawadan, awit piyambakipun sampun nggadhahi rancangan miwah skemanipun piyambak. Piyambakipun mboten pitados dhumateng kawilujengan ingkang mboten nyeceki pikirananipun piyambak. Sabab, rak estunipun Gusti Allah piyambak sampun ngajangi, malahan sanget wiyar tebanipun ingkang saged kapendhet saking pundi kemawon.
Sanadyan ta mekaten, Gusti Allah tetep maringi pratandha. Panjenenganipun mboten ngrebah rancanganipun. “Lah sang kenya (Ibrani: ha alma) badhe nggarbini saha badhe mbabar putra kakung sarta badhe ngasmakaken putranipun wau Imanuel…” (artosipun Allah nunggil lan kita). Ha-alma: saged ateges perawan, saged ugi sanes perawan utawi sampun nggadhahi semah. Mila sang kenya punika, wonten ingkang nafsiraken semahipun nabi Yesaya, wonten ingkang ngartosaken garwanipun Sang Prabu Akhas, anakipun ateges Hizkia. Tafsiran punika kaanggep kirang trep karana Syear Yasyub (Ay. 3) lan anakipun Nabi Yesaya sanesipun sarta Hizkia anakipun Akhas sampun lair malah sampun ageng. Wonten ingkang nafsiraken kenya punika tiyang estri mursid sinten kemawon ingkang wekdal punika prapta ing ngajengipun Akhas lan Yesaya. Ingkang narik kawigatosan, nalika para ulama Yahudi nerjemahaken kitabipun dhateng basa Yunani kirang langkung 200 taun sakderengipun lairipun Gusti Yesus, inggih punika Kitab Septuaginta, ha-alma punika katerjemahaken partenos, artosipun kenya prawan.
Tebih nglangkungi zamanipun Nabi Yesaya, sayektinipun pameca punika kapenuhan ing lairipun Gusti Yesus. Ing saktengahing karupekan miwah keraguanipun Yusuf karana kandhutanipun Maryam, malaekating Allah ndhatengi Yusuf ing pangimpen ingkang martosaken bilih anak ingkang dipun kandhut dening Maryam punika sanes saking pikajenging manungsa utawi kedagingan, nanging karana Sang Roh Suci, Rohing Allah ingkang Mahaluhur piyambak. “Sarta Maryam bakal mbabar putra kakung, iku namakna Yesus awit iya iku kang bakal ngluwari bangsane saka dosane, bab iku anggone kelakon supaya kayektenana apa kang kapangandikakake dening Pangeran lumantar nabi: “Lah sang kenya (basa Yunani: partenos) bakal nggarbini sarta mbabar putra kakung, kang asmane bakal sinebut Imanuel, tegese: Gusti Allah nunggil kalawan kita.” (Mat. 22:23; Yes. 7:14).
Asma punika nyatakaken jati dhirinipun Gusti Yesus: Sinten ta Panjenenganipun punika, Kenging punapa lan kangge punapa Panjenganipun rawuh ing jagad. Wosipun: 1. Asaling Panjenenganipun sanes saking jagad punika, ananging saking ngaluhur, saking Yehuwah Allah piyambak, Sang Sumber, Pangreksa miwah tujuaning gesanging sarwa tumitah (Ayb. 33:4; Jab. 104:30; Ayb. 34:14; Jab. 139:7; Yes. 63:10). Roh Kudus (Ibrani: ruah ha kodesh) utawi (Aram: ruah kudsha), jelas sanes malaekat Jibril, ananging Yehuwah Allah, Panguwaos ingkang Mahaluhur piyambak. Ateges sacara asali Gusti Yesus kinandhut, dening Gusti Allah piyambak. 2. Asma Yesus (basa Yunani) saking Yehoshua, Yeshua (basa Ibrani), tegesipun Yehuwah Sang Juru Wilujeng, karana inggih Panjenenganipun ingkang milujengaken manungsa saking dosa (Yoh. 1:11; Luk. 2:10). Kawilujengan saking dosa punika minangka dhasar pamulihanipun manungsa sakwetahipun (1 Yoh. 2:2, 24, 25). 3. Imanuel: Gusti nunggil kalawan kita, pamecanipun Nabi Yesaya punika sejatinipun kapenuhan sacara estu-estu, wetah inggih ing lairipun Gusti Yesus. Panjenenganipun mboten namung Juru Wilujeng kemawon, nanging ugi ingkang nyatakaken bilih Gusti Allah nunggil kaliyan kita. Gusti Allah wonten ing tengah kita cundhuk kaliyan Yokanan 1:14, kangge nebus, nucekaken, lan mulihaken gesang kita.
Benten kaliyan Sang Prabu Akhas ingkang pawadan saraking agami nolak pratandha saking Gusti karana langkung pitados dhumateng etung-etungan pikiran lan skemanipun piyambak, Yusuf pitados dhumateng pangandikanipun Gusti saha nindakaken kanthi taat sanadyan ngadepi resiko kadosa punapa kemawon. Kapitadosan miwah ketaatanipun Yusuf lan Maryam ambeta berkah ageng, mboten namung kangge brayatipun Yusuf lan Maryam, ananging ugi sedaya manungsa lan alam donya punika.
Iba asringipun ing pagesangan saben dinten kita langkung asikep lan tumindak kadosdene Akhas katimbang Yusuf lan Maryam. Malahan kepingin ngatur Gusti Allah supados manut pangangen-angen lan pikiran kita, rancangan-rancangan kita. Pungkasanipun kita anjog ing karupekan lan kasangsaran, mboten namung dhiri kita piyambak, nanging ugi lingkungan kiwa tengen kita.
Umat Kagunganipun Gusti Mapag Sang Jati kanthi Bekti
Sedherek kinasih, kula kinten mboten wonten satunggal tiyang kemawon ing antawis kita ingkang mboten gadhah nami. Nami-nami kita ingkang endah miwah ngemu artos, mbokmenawi kapendhet saking sejarah dinten kepengker, pangajeng-ajeng dinten ngajeng, misi gesang, utawi paraga idola. Nami-nami kita punika sampun mangun pribadi, sifat miwah jati dhiri kita piyambak-piyambak.
Nanging ingkang langkung agung, ingkang mbentenaken tiyang-tiyang Kristen ing Roma kaliyan masyarakat sakiwa tengenipun ingkang maneka warni, inggih punika iman lan ketaatanipun tiyang-tiyang Kristen punika dhumateng Gusti Yesus Sang Imanuel, ingkang ing salam seratipun Paulus nyebat tiyang-tiyang punika minangka kagunganipun Sang Kristus. Inggih saking ngriki muncul sebatan kuriake, kurakion, ingkang artosipun kagunganipun Kurios. Malahan ing Antiokhia, tiyang-tiyang punika sampun kasebat Kristen (LPR. 11:26). Pancen, tembung Kristen wiwitanipun asring kaginakaken kangge ngucilaken lan nyenyamah tiyang-tiyang pendherekipun Sang Kristus ingkang nampi paukuman awrat sinalib dumugi seda punika. Ananging saklajengipun katampi dening tiyang-tiyang punika lan kaparingan artos: Sepisan, tiyang-tiyang ingkang sampun nampi lan pitados dhumateng Yesus Kristus, Sang Jati, Sang Sumbering Kayekten miwah gesang ingkang sampun nebus dosa, nucekaken miwah mulihaken gesangipun minangka gambaring Allah. Panjenenganipun ngersakaken dedalem ing manahipun, ngasta pangangen-angen lan pikiranipun, sumrambahipun mili lumantar pitembungan sarta tumindakipun. Saengga Rasul Paulus paseksi: “Nanging kula gesang, namung kemawon sanes kula piyambak malih ingkang gesang, namung Sang Kristus ingkang gesang wonten ing kula.” (Gal. 2:20). Kaping kalihipun, tiyang-tiyang ingkang katimbalan punika kapiji dados kagunganipun Gusti piyambak. Tiyang-tiyang punika sanes gadhahanipun jagad malih, sanes gadhahanipun dhirinipun piyambak, ananging pejah lan gesangipun katamtokaken lan sumaos dhumateng Gusti. Mila Rasul Paulus paseksi: “Awit mungguh ing aku urip iku Sang Kristus, dene mati iku kabegjan.” (Fil. 1:21). Kaping tiga, minangka kagunganipun Sang Kristus ateges gesang sesarengan Sang Kristus, kalebetaken lan kalibataken ing misinipun Sang Kristus ndherek ngundangaken pawartos rahajeng, mbagi gesang tentrem rahayu miwah dados berkah.
Mbokmenawi saking antawis kita wonten ingkang ngandika, ”wah kok dhuwur lan melip banget ya?” Pancen saestu inggil, agung, lan lebet sanget sih lan kanugrahaning Gusti dhumateng kita. Mila Gusti ugi maringi standard utawi ukuran ingkang inggil nglangkungi wradining tiyang tumrap kualitasing gesang kita. Saengga mboten aneh menawi nalika wonten tiyang Kristen tumindak nyimpang utawi kedlarung tumindak kriminal contonipun, lajeng tiyang-tiyang sami rerasan, “wong Kristen kok kaya ngono!”. Nanging nalika nindakaken kasaenan, sampun kaanggep limrah, sampun sakmesthinipun! Sedaya punika sampun ngantos ndadosaken kuciwa lan semplah, nanging malah mbereg kita nindakaken ingkang langkung sae malih. Awit sedaya punika nedahaken inggilipun pangajeng-ajeng lan pangajining tiyang dhumateng gesang kita.
Panutup
Sang Jati sampun prapta, ngersaken ngisi lan dhasari jati dhiri kita minangka kagunganipun. Mila sumangga kita tampi kanthi suka sukur, tulus, ekhlas nyawisaken manah supados Panjenenganipun dedalem, ngasta pangangen-angen lan pikiran sarta nyunaraken cahya-Nipun lumantar pitembungan lan tumindak kita. Amin. [BRU].
Pamuji: KPJ. 87 Neng Kasa Ngumandang Asma