Janji Pemulihan Tergenapi Khotbah Minggu 14 Desember 2025

1 December 2025

Minggu Adven 3 | Masa Adven
Stola Ungu

Bacaan 1: Yesaya 35 : 1 – 10
Mazmur: Mazmur 146 : 5 – 10
Bacaan 2: Yakobus 5 : 7 – 11
Bacaan 3: Matius 11 : 2 – 11

Tema Liturgis: Menanti Sang Jati dalam Bakti
Tema Khotbah: Janji Pemulihan Tergenapi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 35 : 1 – 10
Yesaya 35 berisikan kata-kata puitis yang kuat untuk menghibur orang-orang buangan Yehuda yang berduka, yang kehilangan bait suci, tanah, dan kedaulatan mereka. Penderitaan mereka dinyatakan dalam “tangan yang lemah lesu” (Ay. 3), “lutut yang goyah” (Ay. 3), “tawar hati” (Ay. 4), buta (Ay. 5), tuli (Ay. 5), lumpuh (Ay. 6), dan bisu (Ay. 6). “Tubuh” yang dibangun dalam Yesaya 35 telah sepenuhnya diliputi oleh keputus-asaan dan kelelahan. Kapasitas mereka yang dibutuhkan untuk bergerak melalui dunia ini telah berkurang. Orang-orang buangan merasakan kesedihan dalam tubuh mereka.

Kabar baiknya Allah Yakub tidak meninggalkan umat-Nya dalam keputus-asaan. Kesedihan mereka akan berakhir dan pada suatu hari nanti tubuh yang sakit akan menemukan kehidupan baru di dalam Allah (Ay. 10). Lidah-lidah yang bisu akan dilepaskan untuk menyanyikan lagu-lagu sukacita dan kebebasan. Lutut-lutut yang tadinya lemah akan berjalan sendiri menuju Sion. Hati-hati yang takut akan menatap masa depan dengan iman, harapan, dan keberanian, sementara kesedihan dan keluh kesah akan terus menjauh. Ini menggambarkan kedatangan zaman Mesias, saat Allah memulihkan ciptaan-Nya dan membawa umat-Nya kepada keselamatan.

Yakobus 5 : 7 – 11
Yakobus mendorong jemaat untuk bersabar dan bertekun dalam iman sampai kedatangan Tuhan, serta bagaimana seharusnya menyikapi penderitaan. Ia menggunakan analogi petani yang menanti hasil panen dengan sabar (Ay. 7-8). Ia juga mengingatkan jemaat untuk tidak bersungut-sungut agar tidak dihukum (Ay. 9). Yakobus menekankan pentingnya meneladani nabi-nabi sebagai contoh kesabaran dalam penderitaan dan mengingatkan kesetiaan Tuhan yang penuh belas kasihan (Ay. 10-11). Bacaan ini menguatkan pengharapan umat untuk tetap teguh menanti kedatangan Tuhan meskipun menghadapi penderitaan.

Seperti halnya jemaat saat itu dikuatkan untuk bersabar menanggung penderitaan, kita pun diingatkan akan hal yang sama. Kedatangan Tuhan yang kedua kali selain merupakan pengharapan yang memampukan dan menguatkan orang Kristen menghadapi dan menanggung penderitaan dengan sabar, juga membuka mata hati kita untuk melihat bahwa Allah Sang Hakim Maha Adil itu akan bertindak. Orang-orang jahat yang menyebabkan penderitaan pada sesama, keadilan Allah akan menghukum mereka. Sebaliknya orang-orang benar, yang sabar dan tekun menghadapi penderitaan yang dialaminya, keadilan Allah mendatangkan ketenteraman dan keselamatan bagi mereka.

Matius 11 : 2 – 11
Ketika Yohanes di dalam penjara mendengar tentang pekerjaan Kristus, ia menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:2-3). Mengapa ia menyuruh murid-muridnya bertanya demikian?

Yohanes mengutus murid-muridnya kepada Yesus dengan pertanyaan itu terutama bukan karena dirinya, melainkan demi para murid itu sendiri. Mereka itu lemah dalam pengetahuan dan gampang goyah dalam iman sehingga memerlukan pengajaran dan peneguhan. Selain itu, Yohanes selama ini sudah berusaha keras untuk menyerahkan murid-muridnya kepada Yesus (Yoh. 3:27-30), ia tahu bahwa waktu kematian dirinya sudah mendekat, maka ia mau agar murid-muridnya mengenal Yesus dengan lebih baik lagi, sehingga mereka percaya kepada-Nya dan segera mengikut Dia.

Jawaban Yesus memberikan sukacita yang memulihkan. Ia berkata: “Pergilah dan beritahukanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat. 11:4-6 TB2). Kata-kata itu bukan saja meneguhkan iman para murid, tetapi memberikan sukacita yang memulihkan bagi Yohanes. Karya yang dilakukan Yesus dan kata-kata yang diucapkan-Nya menyatakan siapa Dia.

Sesudah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes (Mat. 11:7-11). Dalam perkataan itu, kita melihat pujian yang tinggi dari Yesus terhadap Yohanes Pembaptis. Pujian itu bukan hanya menghidupkan kembali perasaan hormat kepada Yohanes, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pekerjaannya. Yesus menjelaskan bahwa Yohanes adalah nabi, bahkan lebih besar dari nabi (Mat. 11:9), dan dia adalah orang yang dinubuatkan para nabi akan menjadi pendahulu Kristus (Mat. 11:10). Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari Yohanes Pembabtis, kecuali Yesus sendiri (Mat. 11:11).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Yesaya menekankan pemulihan besar dari Allah akan datang, yang tergenapi secara sempurna dalam diri Yesus sekian ratus tahun kemudian. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai penggenapan janji pemulihan dan keselamatan dari Allah melalui apa yang dikerjakan-Nya. Dan pada masa Yakobus sampai dengan saat ini, dalam masa penantian ini, kita didorong untuk sabar meski dalam penderitaan dan waktu yang tidak pasti. Sebab, apa yang dinyatakan dalam Alkitab pastilah terjadi dan tergenapi.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pembukaan
Seorang anak kecil menanam biji bunga di taman. Setiap hari ia menyiraminya, tetapi ia merasa kecewa karena bunga itu tak kunjung tumbuh. Ibunya berkata, “Sabar, Nak. Kamu tidak melihat apa yang terjadi di bawah tanah. Akar-akarnya sedang bertumbuh dulu.” Suatu hari tumbuhlah tunas dan beberapa helai daun. Anak itu bertanya, ”Mengapa hanya daun-daun saja yang ada.” Ibunya mengatakan bahwa pada saatnya bunga itu akan tumbuh. Akhirnya, bunga itu bermekaran dengan indah.

Sudah 2000 tahun gereja bertanya mengenai artinya “kedatangan Tuhan sudah dekat”. Rasanya seolah-olah orang percaya ini hanya menunggu beberapa tahun saja sampai Kristus datang, tetapi ternyata tidak demikian. Nah, kita tidak perlu heran melihat kenyataan ini, karena kita melihat bahwa ada janji yang rupanya penggenapan langsung, tetapi ada janji yang harus ditunggu lebih lama bahkan sangat lama. Apakah Hawa berpikir dunia harus menunggu ribuan tahun sampai Sang Penebus, yang dijanjikan sejak kejatuhan manusia sampai Dia diutus? Atau Daud, mengenai 1.000 tahun selisih waktu sebelum Kristus berkorban, seperti yang dia nyatakan dalam Mazmur? Sama juga kalau kita bertanya kepada Yesaya mengenai semua nubuatan yang dia catat 500 tahun sebelum penggenapannya di dalam Kristus. Panjang sekali penantian ini terlebih jika kemudian masa ini dipenuhi dengan derita fisik dan pencobaan tiada henti.

Rasa-rasanya tidak relevan apabila kita membandingkan antara apa yang dinyatakan oleh Yakobus ketika ia menggunakan analogi petani yang menanti hasil panennya dengan sabar, terlebih ilustrasi anak kecil yang menantikan bunga tumbuh dan mekar, jika dihitung dalam waktu keduanya mungkin tidaklah sampai satu tahun. Masa penantian kedatangan Tuhan yang kedua, yang dinyatakan oleh Yakobus dengan kata “dekat” nyatanya sudah hampir 2000 tahun sejak Yokobus menulis suratnya. Jika demikian, apakah berarti apa yang dinyatakan dalam Alkitab itu tidak terjadi?

Isi
Israel berada di pembuangan Babel kurang lebih selama 48-50 tahun, dimulai dari Raja Nebukadnezar II yang menaklukkan Yerusalem pada tahun 587-586 SM dan berakhir ketika Koresy II mengizinkan pulang sekitar tahun 538-537 SM. Di dalam pembuangan itu digambarkan oleh Yesaya bahwa mereka dalam kondisi penuh penderitaan: ”tangan yang lemah lesu” (Ay. 3), ”lutut yang goyah” (Ay. 3), ”tawar hati” (Ay. 4), buta (Ay. 5), tuli (Ay. 5), lumpuh (Ay. 6), dan bisu (Ay. 6). ”Tubuh” yang dibangun dalam Yesaya 35 telah sepenuhnya diliputi oleh keputus-asaan dan kelelahan.

Janji pemulihan dinyatakan Allah melalui Yesaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya dalam keputus-asaan. Kesedihan mereka akan berakhir, dan pada suatu hari nanti tubuh yang sakit akan menemukan kehidupan baru di dalam Allah (Ay. 10). Lidah-lidah yang bisu akan dilepaskan untuk menyanyikan lagu-lagu sukacita dan kebebasan. Lutut-lutut yang lemah akan berjalan sendiri menuju Sion. Hati-hati yang takut akan menatap masa depan dengan iman, harapan, dan keberanian, sementara kesedihan dan keluh kesah akan terus menjauh. Ini menggambarkan kedatangan zaman Mesias, saat Allah memulihkan ciptaan-Nya dan membawa umat-Nya kepada keselamatan. Dan janji pemulihan itu sepenuhnya tergenapi dalam diri Yesus kurang lebih 536 tahun kemudian.

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kegenapan janji pemulihan dari Allah ketika murid-murid Yohanes bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:2-3). Yesus memberikan jawaban berdasar apa yang dikerjakan-Nya. Ia berkata: “Pergilah dan beritahukanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat. 11:4-6 TB2). Penggenapan janji pemulihan pada realitanya memang butuh puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun, namun janji Allah, janji pemulihan, keselamatan, kedatangan Kristus yang kedua, pastilah tergenapi, tidak akan diingkari.

Yakobus mengajak kita di tengah masa penantian ini untuk bersabar dan bertekun dalam iman sampai kedatangan Tuhan, serta bagaimana seharusnya menyikapi penderitaan. Ia mengingatkan jemaat untuk tidak bersungut-sungut dan saling mempersalahkan agar tidak dihukum (Ay. 9). Yakobus menekankan pentingnya meneladani nabi-nabi sebagai contoh kesabaran dalam penderitaan dan mengingatkan kesetiaan Tuhan yang penuh belas kasihan (Ay. 10-11). Bacaan ini menguatkan pengharapan umat untuk tetap teguh menanti kedatangan Tuhan meskipun menghadapi penderitaan.

Jemaat saat itu dikuatkan untuk bersabar menanggung penderitaan, kita pun diingatkan akan hal yang sama. Kedatangan Tuhan yang kedua kali selain merupakan pengharapan yang memampukan dan menguatkan orang Kristen menghadapi dan menanggung penderitaan dengan sabar, juga membuka mata hati kita untuk melihat bahwa Allah Sang Hakim Maha Adil itu akan bertindak. Bagi orang-orang jahat, yang menyebabkan penderitaan pada sesama, keadilan Allah akan menghukum mereka. Sebaliknya bagi orang-orang benar, yang sabar dan tekun menghadapi penderitaan yang dialaminya, keadilan Allah mendatangkan ketentraman dan keselamatan bagi mereka.

Penutup
Pada masa Adven ini, kita diajak untuk mempersiapkan hati menyambut kedatangan Tuhan. Pertama, kita perlu hidup dengan harapan, seperti Yesaya yang yakin akan pemulihan dari Allah terjadi bagi bangsa Israel. Kedua, kita dipanggil untuk sabar bahkan di tengah penderitaan sekalipun. Ketiga, kita harus menaruh iman pada Yesus sebagai penggenapan janji Allah. Sukacita kita di masa Adven adalah sukacita karena kita tahu bahwa Allah setia dan akan terus setia. Kita orang percaya, perlu hidup terus dalam kesadaran dan pengharapan bahwa Kristus akan datang kembali, karena walaupun kita menunggu lama, sudah terbukti bahwa Allah menepati janji-janji-Nya. Amin. [Sv].

 

Pujian: KJ. 76  Kau yang Lama Dinantikan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak) 

Pambuka
Bocah cilik nandur wiji kembang ing kebon. Saben dina dheweke nyirami kembang wau, nanging dheweke kuciwa amarga kembange ora thukul. Ibune kandha, “Sing sabar, Nak. Sampeyan ora weruh apa sing kedadeyan ing njero lemah. Oyode lagi thukul dhisik.” Sawijining dina tunas lan sawetara godhonge tuwuh. Bocahe takon, “Kok mung godhong?”. Ibune ngandika, ”yen wis wayahe kembang iku bakal tuwuh.” Pungkasane, kembang iku mekar kanthi sae.

Sampun 2.000 tahun anggenipun greja nggegilut bab “rawuhe Gusti Yesus wus cedak”. Kados-kados tiyang pitados punika anggenipun ngrantos rawuhipun Sang Kristus namung ing sawetara taun, ananging kasunyatanipun mboten mekaten. Kita mboten perlu gumun ningali kasunyatan punika, amargi kita sumerep yen wonten janji ingkang langsung kawujud, nanging ugi wonten janji ingkang kedah dipun rantos langkung dangu, malah dangu sanget. Punapa Hawa punika nggadhahi pikiran bilih donya punika kedah ngrantos ewonan taun ngantos Juruwilujeng ingkang dipun janji wiwit manungsa dawah ing dosa punika dipun utus? Utawi Dawud, bab 1.000 taun prabeda wekdal sakderengipun Sang Kristus dados kurban, kados ingkang kaserat ing Mazmur? Sami ugi nalika kita paring pitakenan dhateng Yesaya bab sedaya nubuatan ingkang piyambakipun catet 500 taun sakderengipun kawujud wonten ing Sang Kristus. Dawa sanget mangsa ngrantos punika, langkung-langkung bilih mangsa punika dipun kebaki kaliyan kasisahan sacara fisik lan pacoben tanpa pungkasan.

Bilih dipun raosaken, kados-kados mboten cocok bilih kita mbandingaken antawis punapa ingkang dipun wartosaken Yakobus nalika damel gambaran tiyang tani ingkang ngrantos mangsa panen kanthi sabar, punapa malih gambaran bocah ingkang ngrantos kembang tuwuh lan mekar, dipun itung-itung mestinipun mboten ngantos satunggal taun. Mangsa panganti rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih, ingkang kaserat ing Yakobus ngangge tembung “cedak” kasunyatanipun sampun 2.000 taun wiwit Yakobus nyerat layangipun. Bilih mekaten, punapa artosipun sedaya ingkang kaserat ing Kitab Suci punika mboten kalaksanan?

Isi
Bangsa Israel wonten ing Babel kirang langkung 48-50 taun, kawiwitan saking Raja Nebukadnezar II ingkang nelukaken Yerusalem ing taun 587-586 SM lan kapungkasan nalika Koresy II paring izin wangsul bangsa Israel ing taun 538-537 SM. Ing tanah pembuangan punika kagambaraken dening Yesaya bangsa Israel wonten ing kondisi kebak kasangsaran: “Tangan kang lemes lempe-lempe” (Ay. 3), “dhengkul kang theklok” (Ay. 3), “kuwatir atine” (Ay. 4), wutha (Ay. 5), budheg (Ay. 5), lumpuh (Ay. 6), bisu (Ay. 6). “Badan” ing Yesaya 35 punika sampun sayah sanget lan kados tanpa pangajeng-ajeng.

Janji pemulihan saking Gusti Allah lumantar Yesaya, bilih Gusti Allah mboten badhe nilar umatipun tanpa pangajeng-ajeng. Kasangsaran bakal sirna lan ing sawijining dinten mangke badan ingkang sakit punika bakal nampi gesang enggal ing Gusti Allah (Ay. 10). Ilat ingkang bisu bakal surak-surak ngidung kabingahan lan kamardikan. Dhengkul ingkang lemes bakal mlampah dhateng Sion. Manah ingkang ajrih bakal nyawang mangsa ngajeng kanthi pitados, kebak pangajeng-ajeng, lan kendel, sawetara manah sedhih lan kasisahan bakal nebih. Punika gambaran rawuhipun Sang Mesias, nalika Gusti Allah mulihaken sedaya titah lan nuntun umat-Ipun dhateng kawilujengan. Lan sedaya janji punika kawujud kanthi sampurna ing Gusti Yesus kinten-kinten 536 taun selajengipun.

Gusti Yesus nedahaken Panjenenganipun minangka pawujudan janji pamulihan saking Gusti Allah nalika para sakabatipun Yokanan unjuk pitakenan dhumateng Panjenenganipun, “Punapa Paduka punika ingkang pinasthi rawuh, punapa kawula sami kedah ngentosi sanesipun?” (Mat. 11:2-3). Gusti Yesus paring wangsulan adhedhasar punapa ingkang sampun dipun tindakaken. Panjenenganipun dhawuh, “Wis, padha mundhura, wartakna marang Yokanan apa kang kokrungu lan kokdeleng: wong picak padha ndeleng, wong lumpuh padha lumaku, wong lara budhugen padha kabirat najise, wong budheg padha krungu, wong mati padha katangekake lan wong mlarat padha kawartanan kabar kabungahan.” (Mat. 11:4-6). Ing kasunyatan, netepi janji pamulihan punika mbetahaken puluhan, atusan malah ewu taun, nanging janjinipun Allah: janji pamulihan, kawilujengan, rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih, mesthi bakal kawujud, mboten badhe ingkar.

Yakobus ngajak kita ing mangsa panganti-anti punika supados sabar lan tekun ing kapitadosan ngantos rawuhipun Gusti, sarta kados pundi kedahipun nanggepi kasangsaran. Piyambakipun ngelingaken pasamuwan supados mboten nggresah lan dakwa-dinakwa supados mboten dipun ukum (Ay. 9). Yakobus nandhesaken pentingipun nuladha para nabi minangka tuladha sabar sajroning nandhang kasangsaran lan ngelingi kasetyanipun Gusti Allah ingkang kebak welas asih (Ay. 10-11). Waosan punika ngiyataken pangajeng-ajengipun umat supados tetep tatag ngantos dumugi rawuhipun Gusti sanadyan ngadhepi kasangsaran.

Pasamuwan wekdal punika dipun kiyataken supados sabar nandhang kasangsaran, mekaten ugi kita sami. Rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih mboten namung dados pangajeng-ajeng ingkang ngiyataken tiyang Kristen anggenipun ngadepi lan nandhang kasangsaran kanthi sabar, nanging nggih ugi mbikak mripat manah kita ningali bilih Gusti Allah ingkang Maha Adil bakal tumindak. Tumrap tiyang ala, ingkang jalari kasangsaran marang tiyang sanes, kaadilanipun Gusti Allah bakal ngukum tiyang ala punika. Ing sisih sanes kangge tiyang mursid, ingkang sabar lan tekun ngadhepi kasangsaran ingkang dipun alami, kaadilanipun Gusti Allah ndadosaken katentreman lan kawilujengan.

Panutup
Ing sajroning mangsa Adven punika, kita dipun undang nyawisaken manah kita kangge nampi rawuhipun Gusti Yesus. Kaping sepisan, kita kedah gesang kebak ing pangajeng-ajeng, kadosdene Yesaya ingkang pitados bilih pamulihan saking Gusti Allah dhateng bangsa Israel badhe kalaksanan. Kaping kalih, kita dipun timbali supados sabar sanadyan ing satengah-tengahing kasangsaran. Kaping tiga, kita kedah nggadhahi iman kapitadosan bilih Gusti Yesus punika pawujudan janjinipun Gusti Allah. Kabingahan kita ing mangsa Adven inggih punika kabingahan awit kita nyumerepi bilih Gusti Allah punika setya lan tansah setya. Kita minangka tiyang pitados, kedah gesang tansah eling lan nggadhahi pangajeng-ajeng bilih Sang Kristus badhe rawuh malih, amargi sanadyan kita ngrantos dangu, sampun kabukten bilih Gusti Allah setya netepi janjinipun. Amin. [Sv].

 

Pamuji: KPJ. 231   Kados Pundi, Dhuh Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak