Menyala GKJW-ku! Khotbah HUT-94 GKJW 11 Desember 2025

25 November 2025

HUT Ke–94 GKJW
Stola Putih

Bacaan 1: Rut 1 : 6 – 18
Mazmur: Mazmur 146 : 5 – 10
Bacaan 2: 2 Petrus 3 : 1 – 10
Bacaan 3: 

Tema Liturgis: Menyala GKJW-ku!
Tema Khotbah: Menyala GKJW-ku!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Rut 1 : 6 – 18
Bermula dari seorang yang berasal dari Betlehem-Yehuda yang bernama Elimelekh dan istrinya, yang bernama Naomi, serta kedua anak lelakinya, yaitu Mahlon dan Kilyon. Mereka meninggalkan tanah Israel dan pergi untuk menetap di tanah Moab karena kelaparan menimpa Israel. Ketika berada di Moab, Elimelekh mati. Kemudian kedua anak lelakinya menikah dengan perempuan Moab, yaitu Orpa dan Rut. Mereka pun tinggal di sana kurang lebih selama sepuluh tahun, lalu meninggal pula Mahlon dan Kilyon. Maka hanya ada Naomi dengan dua menantunya, Orpa dan Rut.

Naomi memutuskan untuk kembali ke tanah Israel, sebab ia mendengar bahwa Tuhan telah menghapus kelaparan dari tanah Israel. Dalam perjalanan menuju ke Israel, Naomi meminta para menantunya untuk pulang ke tempat mereka masing-masing. Umumnya, pada zaman Israel kuno, ketika seorang suami meninggal dan tidak memiliki anak, maka salah seorang saudaranya akan menikahi istrinya yang sudah janda tersebut. Selanjutnya anak-anak yang mereka lahirkan akan dianggap sebagai anak-anak saudaranya yang meninggal itu supaya namanya tidak terhapus. Namun dalam kisah Naomi, ia sudah tidak lagi memiliki anak laki-laki, dan nampaknya tidak akan memilikinya lagi. Oleh karena Naomi melihat tidak ada kemungkinan perkawinan bagi mereka dengan anak keturunan Naomi, maka Naomi meminta mereka untuk melanjutkan hidup mereka dengan kembali ke tempat ibu mereka masing-masing. Naomi menunjukkan kasihnya dengan sungguh-sungguh memikirkan masa depan para menantunya, dengan melepaskan mereka untuk kembali ke tempat mereka masing-masing untuk melanjutkan hidup. Ia berharap Tuhan menyertai hidup kedua menantunya, sehingga mereka mendapatkan ketentraman dalam pernikahannya yang kedua kali di tempat mereka masing-masing. Maka, Orpa pun pulang ke tempatnya, sedangkan Rut tetap menemani Naomi pulang ke tanah Israel. Apalagi kondisi Naomi sedang tidak baik-baik saja. Ia mengalami kedukaan yang berat bahkan hingga ‘seperti orang yang putus asa’ (Ay. 20-21).

Rut dan Naomi memiliki relasi menantu dan mertua yang terjalin dengan baik dan rukun. Rut begitu mengasihi dan setia menemani Naomi, sehingga Naomi pun merasakan kebaikan hati Rut. Dengan kata lain, Naomi merasakan penyertaan Tuhan melalui kehadiran Rut, seorang perempuan Moab. Begitu pula dengan Rut yang mengalami penyertaan Tuhan dalam kehidupannya bersama dengan Naomi. Hingga Rut memutuskan untuk meletakkan kesetiannya pada Allah Israel yang dikenalnya melalui kehidupan Naomi dan keluarganya. Rut menunjukkan bakti dan kasihnya dengan tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia menyatukan dirinya dengan Naomi dan mengikat dirinya dengan sumpah akan setia hingga akhir hayatnya, sebagaimana yang ia nyatakan pada Naomi: “…kemana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

Tuhan Allah pun memperhatikan Rut dan memberkatinya. Selanjutnya, Rut menikah dengan Boas, kerabat Elimelekh, dan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang diberinya nama Obed. Anak inilah nanti yang menjadi kakek raja Daud.

2 Petrus 3 : 1 – 10
Petrus memperhatikan bahwa keberadaan para pengajar atau guru palsu menghimpit dan menekan kehidupan umat Kristen. Pada pasal 2, Petrus menunjukkan bagaimana kehidupan dan cara kerja para guru palsu. Keberadaan mereka ini selalu ada dari masa ke masa. Pada masa yang lebih lampau, ada nabi-nabi palsu. Sedangkan pada masa Petrus menuliskan surat ini, yaitu sekitar tahun 60-63 M, terdapat guru-guru palsu. Para guru palsu mengejar keuntungan dengan memberikan cerita atau ajaran yang tidak benar. Hidup orang-orang yang percaya pada apa yang mereka ajarkan dikuasai oleh hawa nafsu. Sedangkan orang-orang yang bertahan dengan cara hidup yang benar harus hidup menderita di tengah-tengah cara hidup mereka yang tidak benar dan dikuasai hawa nafsu.

Pada pasal 3, Petrus memperingatkan para pembacanya agar memperhatikan cara hidup mereka supaya tidak terhasut oleh guru-guru palsu yang menyesatkan. Petrus berusaha untuk meneguhkan para pembaca supaya tidak goyah dalam iman dan perbuatan yang benar. Petrus menekankan perlunya kewaspadaan sebagai suatu keharusan mengingat hari Tuhan yang semakin dekat. Dalam keadaan seperti itu, banyak orang mudah dibingungkan oleh situasi-situasi yang memang diciptakan supaya orang menjadi ragu kepada Tuhan. Dengan sengaja para guru palsu memberi pernyataan yang membingungkan, seperti mempertanyakan kedatangan Tuhan yang dianggap tidak akan datang, sebab dari sejak dulu segala sesuatu tetap seperti semula.

Petrus, sebagai salah satu rasul yang telah menjadi bagian salah satu saksi Yesus dimuliakan di atas gunung, dengan sungguh menyatakan bahwa Tuhan akan datang. Kedatangan-Nya tidak dapat diduga saat dan waktunya oleh manusia. Oleh karena itu, cara terbaik yang dapat manusia lakukan adalah tidak tergoyahkan dengan ajaran-ajaran sesat yang menggiring pada pemuasan hawa nafsu semata, melainkan tetap setia pada Tuhan di tengah segala penderitaan dan penantian akan kedatangan-Nya. 

Benang Merah Dua Bacaan:

  1. Perjalanan hidup manusia akan mengalami berbagai masa yang berbeda-beda. Contohnya, Naomi dan Rut pernah mengalami keadaan hidup yang baik bersama dengan keluarganya. Namun juga berganti dengan situasi duka karena anak-anak Naomi atau suami dan ipar Rut meninggal dunia. Naomi pernah meninggalkan tanah Israel dengan tangan yang penuh, namun harus kembali dengan tangan yang kosong, dengan duka yang dalam.
  2. Orang-orang yang percaya pada Tuhan dari masa ke masa juga menghadapi tantangan yang menawarkan berbagai ajaran, paham, atau cara hidup. Contohnya pada masa rasul Petrus menuliskan suratnya, ada guru-guru palsu yang mencoba mempertanyakan janji kedatangan Kristus kembali. Mereka hendak menggoyahkan iman pada Kristus.

Kedua hal di atas menyoroti bagaimana para orang yang percaya pada Tuhan, dari masa Perjanjian Lama hingga masa Perjanjian Baru, berusaha tetap menjaga diri dalam kesetiaan imannya dan meneguhkan hati dalam cara hidup yang benar dan penuh kasih.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
94 tahun GKJW. Menyala GKJW-ku!! 94 tahun adalah waktu yang panjang dalam hidup seorang manusia. Bila ia menikah dan memiliki keturunan, maka dalam 94 tahun ia telah mengalami masa menjadi anak, remaja, pemuda, dewasa, menjadi orang tua, menjadi simbah, menjadi buyut, bahkan menjadi canggah. Dalam 94 tahun telah lahir tiga generasi, bahkan bisa lebih. Itu berarti ia telah mengalami berbagai peristiwa kehidupan. Begitu pula dengan GKJW. Sejak tahun 1931 hingga 2025 ada berbagai peristiwa kehidupan yang mewarnai kehidupan GKJW.

GKJW ikut mengalami masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, hingga ikut mengalami situasi krisis ketika tentara Jepang menduduki Indonesia. Lalu muncul ajakan untuk pro-Jepang dan GKJW teguh untuk setia pada Indonesia. Hingga GKJW juga merasakan ketegangan peristiwa tahun 1965-1966 yang dikaitkan dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia. GKJW pun berada di tengah-tengah situasi krisis ekonomi dan politik pada masa reformasi, bahkan beberapa jemaat di GKJW, seperti kala itu calon jemaat Sidotopo dan jemaat Situbondo menjadi sasaran kekerasan kelompok tertentu. Sampai pada saat dunia mengalami pandemi Covid-19, GKJW juga ikut bergumul di dalamnya. Bagaimana gereja dapat tetap menjalankan fungsinya dalam pelayanan dan persekutuan, hingga bagaimana gereja berpulih pasca pandemi. Secara cepat GKJW harus dapat menggunakan teknologi seluas mungkin. Saat ini, GKJW pun ikut bergumul di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang mempercepat berbagai trend kehidupan dan mengubah cara hidup banyak orang, termasuk warga GKJW.

Dalam tubuh GKJW juga terjadi dinamika pelayanan dan persekutuan. GKJW yang awalnya hanya terdiri dari delapan Majelis Daerah bertumbuh menjadi lima belas Majelis Daerah. Dari beberapa jemaat, berkembang hingga 181 jemaat pada tahun 2025 ini. Tantangan dari dalam tubuh GKJW sendiri pun besar, mulai dari trust issue warga jemaat pada gereja karena tragedi kesalahan investasi yang dilakukan oleh GKJW, hingga tantangan membangun pelayanan dan persekutuan pada Gen-Z, atau pada anak masa kini. Oleh karena itu, 94 tahun tidak bisa hanya berbicara tentang bagaimana organisasi gereja bertahan, melainkan juga mengenai pribadi-pribadi warga jemaat yang terus bertumbuh dan bertahan hidup dalam berbagai situasi perkembangan zaman.

Isi
Sepanjang manusia hidup, sepanjang itu pula manusia mengalami pergumulan, dan sepanjang itu pulalah manusia memiliki pengharapan. Dari masa ke masa tantangan kehidupan manusia tidak pernah berhenti. Manusia mengalami kegembiraan dan kepedihan, pertemuan dan perpisahan, permasalahan dan penyelesaian. Maka di sepanjang itu pulalah manusia terus belajar dan berkembang. Begitu pula yang terjadi dengan seluruh umat Tuhan dari masa ke masa.

Sebagaimana kehidupan Naomi dan Rut menunjukkan kisah yang singkat namun dalam, bagaimana mereka bertahan di tengah dinamika kehidupannya. Naomi bersama suaminya, Elimelekh, dan dua putranya: Mahlon dan Kilyon, keluar dari tanah dan lingkungan hidupnya karena kelaparan menimpa Israel. Mereka pindah ke tanah Moab dengan pengharapan mendapatkan kehidupan yang baik. Namun di Moab, Elimelekh mati, meninggalkan Naomi dan dua putranya. Lalu menikahlah Mahlon dan Kilyon dengan perempuan Moab yang bernama Orpa dan Rut. Mereka pun merawat keluarga yang dibangunnya sebaik mungkin, dengan harapan keluarga ini dapat lestari dan bahagia. Namun setelah beberapa waktu, matilah Mahlon dan Kilyon. Hanya tinggal Naomi, sang ibu mertua, dengan dua menantunya Orpa dan Rut. Hal ini menimbulkan duka yang mendalam pada Naomi karena kehilangan orang-orang yang dicintainya, suami dan dua anaknya.

Naomi mengalami situasi duka yang dalam. Ia bahkan tidak mau lagi dipanggil Naomi, tetapi Mara yang berarti pahit, sebab ia merasa hidupnya sungguh pahit. Dalam situasi yang berat ini, Naomi tetap setia kepada Allahnya dan bangsanya, maka ia pun memilih pulang ke Israel dan melepaskan para menantunya supaya mereka kembali ke tempatnya masing-masing untuk melanjutkan kehidupannya dengan baik. Orpa kembali ke ibunya, namun Rut tetap bersikukuh menemani Naomi. Rut mau ikut Naomi pulang ke Israel. Rut mau menjadi bagian dari bangsa Israel, bahkan Rut menerima Allah-nya Naomi, yaitu Allah bangsa Israel, untuk menjadi Allahnya. Rut begitu mengasihi Naomi dan dengan setia menemani Naomi pada saat-saat yang berat ini, sehingga Naomi pun merasakan kebaikan hati Rut. Naomi pun dapat merasakan kasih dan kekuatan dari Tuhan melalui kehadiran dan perhatian Rut. Begitu pula dengan Rut yang telah hidup bersama dengan Naomi, juga ketika keluarga ini berada di tengah situasi duka yang dalam. Rut juga merasakan penyertaan Tuhan yang dikenalnya dalam kehidupannya bersama dengan Naomi. Oleh karena itulah, Rut memutuskan untuk meletakkan kesetiannya pada Allah Israel. Kasih dengan penuh kesetiaan yang ditunjukkan oleh Rut pada Naomi dan iman pada Allah menuntunnya kepada kehidupan yang semakin baik, bahkan menjadi jalan berkat bagi anak cucunya. Melalui Rut, lahirlah Obed yang menjadi nenek moyang Daud.

Kehidupan penuh tantangan tidak berhenti pada zaman Rut. Kehidupan penuh tantangan terus berlanjut dan dialami oleh orang-orang Kristen pada zaman rasul Petrus. Mereka menghadapi tantangan berupa banyaknya ajaran-ajaran, paham, ajakan yang mempertanyakan Kristus sebagai Juruselamat beserta dengan janji-Nya. Banyak guru-guru palsu yang berusaha menggoyahkan iman orang-orang Kristen kala itu. Maka, Petrus dengan penuh kehati-hatian dan ketekunan, memberi peringatan dan nasihat kepada orang-orang Kristen para pembaca suratnya untuk tetap percaya kepada Kristus. Petrus mendorong mereka untuk tetap teguh beriman di tengah berbagai ajaran dan paham yang membingungkan dan menyesatkan orang. Petrus juga menunjukkan kenyataan bahwa penantian orang-orang Kristen pada hadirnya Kristus bisa terasa sangat lama. Tidak ada yang tahu kapan Kristus akan datang untuk kedua kalinya. Tetapi apapun yang terjadi, Petrus menekankan untuk tetap setia pada Kristus dan tetap melakukan cara hidup yang benar dan penuh kasih. Itulah cara terbaik untuk bertahan di tengah tantangan kehidupan.

Penutup
Saat ini adalah masa hidup kita, GKJW. Tantangan yang GKJW hadapi belum akan berhenti, namun GKJW harus terus bertahan. GKJW secara organisasi sedang berbenah dan akan terus berbenah dalam segala hal. Bagaimanapun juga perkembangan hidup dengan dukungan teknologi menuntut manusia terus belajar dan ikut berubah. Tentu GKJW juga terus belajar dan berkembang. Seperti Petrus yang menasihatkan para pembacanya untuk waspada terhadap ajaran-ajaran palsu dan setia pada Kristus, maka tidak mungkin bisa dilakukan jika para pembaca surat Petrus tidak belajar untuk tahu mana ajaran palsu dan mana yang benar. Oleh karena itu, bukankah dengan terus belajar dan berkembang adalah cara GKJW menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan yang telah menumbuhkan GKJW di bumi ini dan yang telah melengkapi GKJW dengan paraga yang berakal budi dan berhati mulia.

GKJW secara organisme adalah kita semua, warga gereja, yang dekat dengan beragam situasi yang menggembirakan maupun yang mendukakakan. Situasi ini bukan hanya terjadi pada individu warga jemaat, namun juga bisa dialami dalam persekutuan. Maka tidak ada cara lain, selain yang dilakukan oleh Rut dan Naomi. Setia dalam iman kepada Tuhan dan hadir memberi perhatian, apalagi pada saat-saat yang kelam. Itu berarti GKJW, yaitu kita semua: majelis jemaat maupun warga jemaat, sangkul sinangkul setia hadir dan memberi perhatian dalam kehidupan kita bersama, juga sesama di sekitar kita. Sehingga setiap orang, setiap jemaat, maupun lingkungan di sekitar kita dapat merasakan kehadiran Tuhan melalui GKJW, melalui kita semua. Penyertaan Tuhan atas GKJW pun juga dapat dirasakan melalui kehidupan bersama ini. Selamat ulang tahun GKJW. Menyala gerejaku!! [MT].

 

Pujian: KJ. 252  Batu Penjuru Greja

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
94 taun GKJW. Menyala GKJW-ku!! Ing pigesanganipun manungsa, 94 taun punika wekdal ingkang lami. Ing yuswa 94 taun, manungsa sampun nglampahi dados lare alit, remaja, nem-neman, tiyang sepuh, simbah, buyut, ugi saged ngantos canggah. Wonten tiga ngantos sekawan generasi ing 94 taun. Bab punika ngemu teges bilih ing yuswa 94 taun, manungsa sampun nglampahi werni-wernining prekawis ing pigesangan. Mekaten ugi GKJW ingkang sampun yuswa 94 taun.

Wiwit tahun 1931 ngantos 2025, GKJW nglampahi maneka warni prekawis. GKJW nate ndherek nglampahi mangsa Indonesia ngupadi kamardikan, ngantos nglampahi krisis nalika tentara Jepang njajah Indonesia. Ing tengah suasana ingkang mekaten, wonten kelompok ingkang ngajak GKJW supados paring dukungan kangge Jepang, ananging GKJW kanthi tatag setya dhumateng bangsa Indonesia. Saksampunipun Indonesia mardika, GKJW ugi ndherek ngraosaken kasisahan ing satengahing peristiwa 1965/1966, ingkang dipun kaitaken kaliyan kawontenanipun Partai Komunis Indonesia. GKJW ugi wonten ing satengah-tengahipun krisis ekonomi lan politik ing mangsa reformasi. Tahun 1996 calon pasamuwan Sidotopo lan pasamuwan Situbondo dipun risak dening salah satunggaling kelompok masyarakat. Mboten namung punika, GKJW ugi nglampahi prekawis sesarengan tiyang sadonya nalika pandemi Covid-19. GKJW kedah ngupadi cara supados saged paring peladosan, ugi saged nindakaken persekutuan. Mekaten ugi nalika pasca pandemi, GKJW kedah ngupadi pamulihan persekutuan. Ing mangsa pandemi punika, GKJW kedah saged ngagem teknologi kanthi tumemen. Ing dinten punika, GKJW ugi nggadhahi penggalih ing satengahing teknologi ingkang sansaya maju lan ndadosaken ewah-ewahan ing gesanging manungsa, kalebet warganing pasamuwan.

Ing salebeting GKJW ugi tansah wonten prekawis ing peladosan lan patunggilan. GKJW ingkang wiwitan namung wonten 8 Majelis Daerah, mekar dados 15 Majelis Daerah, lan tuwuh ngantos 181 pasamuwan ing tahun 2025 punika. Tantangan ing salebeting GKJW ugi ageng, wonten krisis kepercayaan saking warganing pasamuwan tumrap pradataning pasamuwan ing Majelis Jemaat ngantos Majelis Agung amargi musibah salah investasi; ngantos tantangan mbangun peladosan lan patunggilan kangge Gen-Z, utawi kangge lare sapunika. Pramila, GKJW ing yuswa 94 taun tamtu mboten saged namung nggalih bab kados pundi GKJW sacara organisasi saged jejeg, ananging ugi kados pundi saged paring kawigatosan kangge warga pasamuwan supados sansaya tuwuh lan tatag ing satengahing perkembangan zaman punika.

Isi
Salampahing gesanging manungsa tansah ngalami prekawis lan tantangan, ananging ugi tansah wonten pikajengan. Manungsa ngalami kabingahan ugi kasisahan, kepanggihan ugi kapethatan, prekawis ugi pangluwaran. Pramila, ing salampahing gesang manungsa tansah sinau lan tuwuh pangertosanipun. Mekaten ugi ingkang dipun lampahi dening sedaya umatipun Gusti ing saben mangsa.

Kados pigesanganipun Naomi lan Rut ingkang singkat nanging ngemu teges. Naomi lan semahipun, Elimelekh, sarta putranipun kekalih, Mahlon lan Kilyon, medal saking tanah Israel tumuju tanah Moab supados pikantuk pigesangan ingkang sae. Ananging ing tanah Moab, Elimelekh seda. Salajengipun Mahlon lan Kilyon sami omah-omah kaliyan tiyang Moab, inggih punika Orpa lan Rut. Emanipun, watara sedasa taun, Mahlon lan Kilyon seda. Naomi sedhih sanget kapethatan katresnan dening tiyang-tiyang ingkang dipun tresnani.

Naomi ngraosaken kasedhihan ingkang sanget. Piyambakipun ngantos mboten kersa dipun timbali kanthi nami Naomi, ananging Mara ingkang ateges pait, amargi piyambakipun ngraosaken gesang ingkang pait sanget. Ing satengahing suasana ingkang awrat mekaten, Naomi tansah setya tuhu dhumateng Gusti Allah lan bangsanipun. Mila piyambakipun wangsul ing Israel lan para mantunipun dipun utus wangsul ing griyanipun piyambak-piyambak supados Orpa lan Rut saged nglajengaken gesang kanthi sae. Orpa wangsul tumuju griyanipun, ananging Rut mboten purun wangsul. Rut tetep ndherek Naomi ing pundi kemawon Naomi mlampah.

Rut kanthi tulusing manah anggenipun nresnani Naomi. Rut ngancani Naomi wangsul tumuju Israel, punapa malih nalika Naomi wonten ing kahanan ingkang peteng awit kasedhihan ingkang sanget. Wonten ing mriku, Naomi ngraosaken katresnanipun Gusti Allah lumantar saking katresnanipun Rut. Mekaten ugi Rut saged ngraosaken katresnan lan kakiyatan saking Gusti Allah lumantar Naomi nalika Rut gesang sesarengan Naomi lan brayatipun. Kanthi mekaten, Rut pitados lan ndherek nyembah Gusti Allah, Gustinipun Naomi, Gustinipun bangsa Israel. Katresnan ingkang dipun tindakaken dening Rut tumrap Naomi, ugi kasetyan imanipun Rut dhumateng Gusti Allah, dipun berkahi Gusti. Saking Rut mangke badhe lair Obed, ingkang dados nenek moyangipun Prabu Daud.

Pigesangan ingkang kathah tantangan ugi dipun alami dening tiyang-tiyang Kristen ing zamanipun Rasul Petrus. Para tiyang Kristen ngadhepi maneka warni ajaran ingkang mboten pitados dhumateng Yesus Kristus. Kathah guru-guru palsu ingkang ngupadi supados tiyang Kristen pethat kapitadosanipun. Mila, Rasul Petrus kanthi tumemen mulang supados para tiyang Kristen setya tuhu dhumateng Gusti Yesus Kristus. Mboten perlu bingung, amargi Gusti Yesus Kristus saestu Juruwilujeng lan badhe netepi prajanjinipun, inggih punika rawuh malih ingkang kaping kalih. Kangge ngrantos rawuhipun Sang Kristus, para umat kedah tansah setya tuhu lan tumindhak ingkang leres lan becik ing satengahing werna-wernining prekawis gesang.

Panutup
Sapunika GKJW ugi ngadhepi werna-wernining tantangan. GKJW sacara organisasi saweg berbenah diri. Teknologi ingkang sarwa maju lan rikat, ndadosaken GKJW ugi kedah sinau lan tuwuh. Kados Petrus ingkang mulang lumantar seratipun supados para tiyang Kristen ngati-ati saking piwulang-piwulang ingkang klentu lan kedah setya dhumateng Sang Kristus, mila para tiyang Kristen kedah sinau supados ngertos pundi ingkang klentu lan leres. Mekaten ugi GKJW, kedah sinau maneka warni supados ngertos tantangan punapa ingkang dipun adepi ing zaman ingkang sarwa cepet punika. Namung kanthi mekaten, GKJW saged nedahaken kasetyanipun dhumateng Gusti ingkang sampun nuwuhaken GKJW ing bumi punika, sarta ingkang sampun maringi GKJW tiyang-tiyang ingkang wasis.

Sacara organisme, GKJW punika kita sedaya. Kita gampil ngraosaken bingah, nanging ugi raket kaliyan kasisahan. Mila kita sinau saking Rut lan Naomi, ingkang tansah setya paring katresnan tumrap setunggal lan sanesipun. Lumantar katresnan punika, setunggal lan sanesipun ngraosaken katresnanipun Gusti Allah. Bab punika nedahaken bilih kita ugi kedah sangkul sinangkul rawuh lan paring kawigatosan tumrap setunggal lan sanesipun. Matemah kita saged ngraosaken katresnanipun Gusti lumantar GKJW. GKJW ugi saged ngraosaken pitulunganipun Gusti lumantar kita sedaya. Sugeng mengeti ambal warsa ingkang kaping 94 tahun GKJW. Menyala GKJW-ku!! [MT].

 

Pamuji: KPJ. 338  Greja Prasasat Baita

Renungan Harian

Renungan Harian Anak