Hidup Ini Adalah Kesempatan Khotbah Malam Natal 24 Desember 2018

Bacaan 1: Yesaya 9 : 1-6
Bacaan 2: Titus  2 : 11-15
Bacaan 3: Lukas  2 : 1-14

Tema Liturgis : Kristus Hadir dan Menjadi Dasar Hidup
Tema Khotbah :Hidup ini Adalah Kesempatan

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 9 : 1-6

Bacaan pertama ini  adalah nubuatan nabi Yesaya yang  memberikan gambaran tentang sebuah harapan yang telah lama dinanti-nantikan dan perlahan-lahan mulai nampak, yaitu datangnya seorang Raja Damai.

  • Ayat 1-2
    Bangsa Israel ( Yehuda dan Israel Utara ) hidup dalam kegelapan yang besar di negeri kekelaman, Mereka digambarkan seolah-olah sudah  “mati” sebab berpaling dari        Allah dan minta petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal. Namun dalam perikop ini, mereka digambarkan telah melihat datangnya terang yang besar. Terang itu menembus kegelapan dan menerangi seluruh lingkungan dan manusia baik secara lahir maupun batin,   sehingga menimbulkan kehidupan yang baru yang penuh sukacita besar dan            sorak sorai yang mengusir kesunyian. Mereka bersorak sorai dihadapan Tuhan    sebab batin dan hati mereka telah “diterangi”  sehingga bisa           “melihat“ kebenaran Tuhan. Kesukaan besar yang dirasakan oleh seluruh umat digambarkan dan dihubungkan dengan pesta panen yang besar dan pesta kemenangan perang yang gemilang.
  • Ayat 3-5
    Ada 3 sebab yang membuat bangsa itu mengalami kesukaan besar yaitu :

    • Ayat 3
      Allah akan membebaskan bangsa itu dari kuk penindasan bangsa Asyur  (bd Yes 10 : 24-27), kuk yang berat dan menekan diatas pundak mereka akan dipatahkan dengan cara yang ajaib, “seperti pada hari kekalahan Midian” pada zaman Gideon ( Hak 6 : 9 dan Hak 8 : 3-6 ),
    • Ayat 4
      Adanya kelepasan yang penuh. Tidak akan ada lagi musuh, segala alat perang akan dibakar habis, sepatu tentara yang berderap-derap untuk maju perang , serta jubah perang yang berlumuran darah ( karena pertumpahan darah dalam peperagan ) tidak akan ada lagi.
    • Ayat 5
      Ada kelahiran seorang anak laki-laki “ yang diberikan Tuhan kepada kita”. Dia disebut : Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
    • Ayat 6
      Menjelaskan suasana damai sejahtera yang dibawa oleh kehadiran anak tersebut.

Titus 2 : 11-15

Paulus memberi nasihat kepada Titus (sebagai orang-orang yang telah menerima  Kasih karunia dan keselamatan yang sudah nyata) untuk menjaga kehidupannya sebagaimana hidup orang yang telah diselamatkan . Hidup  orang yang  telah diselamatkan adalah hidup yang :

  • Meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi.
  • Hidup bijaksana, adil dan beribadah.
  • Menantikan penggenapan pengharapan di dalalam Juru Selamat kita Yesus Kristus yang telah membebaskan kita dari segala kejahatan.

Selain itu Titus juga ditugasi untuk mewartakan ,menasihati dan meyakinkan orang  akan Kasih Karunia Allah yang telah menyelamatkan semua manusia itu dengan teguh/gigih, dan penuh wibawa.

Lukas 2 : 1- 14

Kelahiran Yesus yang sudah dinubuatkan lama sekali oleh nabi Yesaya terjadi bersamaan dengan sensus penduduk di wilayah Palestina. Pada saat itu kaisar  Roma bernama Agustus. Sensus ini dilakukan setiap 14 tahun sekali dan dimaksudkan untuk kepentingan pemungutan pajak dan diluar penduduk Palestina sensus juga untuk memperoleh calon-calon wajib militer.

Berita tentang kelahiran Yesus pertama kali diberikan kepada para gembala di padang efrata yang sedang menggembalakan domba-dombanya.Menarik untuk diperhatikan, mengapa info kabar kesukaan dari Yang Maha Tinggi itu pertama-tama disampaikan kepada para gembala.

Hal tersebut mengisyaratkan kepedulian Allah terhadap orang-orang yang sering terpinggirkan, kaum kecil, tidak punya pengaruh di masyarakat , orang-orang yang sederhana. Para gembala adalah simbol orang-orang yang demikian.

Pewartaan kepada para gembala ini juga mengacu pada sebutan Yesus yang dikenal kemudian. Yesus disebut sebagai “Gembala Yang Baik “ ( Yoh 10 : 11 ). Gembala Yang  Baik tidak mengutamakan keselamatan dirinya sendiri, tetapi keselamatan yang digembalakannya.Demikianlah yang dilakukan Yesus di dalam dunia.

Benang Merah Tiga Bacaan

Kehadiran Allah sudah semestinya diwartakan oleh semua umat percaya. Pewartaan itu tidak melulu disampaikan dengan kata-kata, seperti yang dilakukan oleh Yesaya dan para gembala, tapi juga melalui tindakan nyata seperti nasihat Paulus kepada Titus. Allah mempercayakan tugas pewartaan ini, tanpa melihat latar belakang kehidupan si pewarta. Gembala yang tidak memiliki tempat dalam masyarakat juga diberi tugas mulia ini oleh Tuhan.

 

RANCANGAN KHOTBAH : BAHASA INDONESIA
(Ini hanya rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat )

Pengantar

(Jemaat terlebih dahulu diajak untuk menyanyikan lagu “Hidup ini adalah Kesempatan”).

Setahun belakangan ini  ( tahun 2017 ) lagu “ Hidup ini adalah Kesempatan” menjadi viral, lagu ini dinyanyikan oleh beberapa orang,ada yang solo, duo,dan Paduan Suara.Selain syairnya indah, nada/melodinya juga sangat sederhana. Lagu ini digubah oleh seorang Pendeta yang kehilangan anaknya dalam usia yang  masih sangat muda. Ketika diberi kesempatan Tuhan untuk hidup, anak ini dikenal sebagai anak yang sangat aktif dalam kegiatan di gerejanya. Dia memiliki banyak talenta yang dipergunakan untuk pelayanan di gerejanya. Dari kehidupan anak tercinta inilah akhirnya si ayah terinspirasi untuk menggubah lagu “ Hidup ini Adalah Kesempatan“.

Isi

Tidak banyak orang menyadari bahwa hidup pemberian Tuhan ini adalah sebuah kesempatan. Ada yang merasa bahwa hidupnya adalah sebuah kecelakaan, ada yang merasa bahwa hidupnya hanya sekedar mengalir seperti air, ada yang merasa hidupnya biasa saja tidak ada yang istimewa. Bagaimana sdr-sdr menghayati hidup ini? Sebagai apa?

Dari ketiga bacaan kita pada hari ini, kita ditolong untuk melihat bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan. Pada bacaan yang pertama, Yesaya dipilih ( diberi kesempatan ) oleh Tuhan untuk menjadi nabi. Kesempatan ini dipakai Yesaya dengan sangat baik, untuk menegor dan menyampaikan kehendak Tuhan kepada bangsa Israel pada masa itu. Ia benar-benar dipakai Tuhan untuk menyadarkan bangsa Israel yang menggantungkan diri dan keselamatannya kepada bangsa yang dianggap besar.

Secara khusus dalam perikop pertama yang kita baca, Yesaya menyampaikan nubuat lahirnya seorang anak yang dinatikan membawa pembebasan. Nubuat yang disampaikan Yesaya ini kemudian dirujuk oleh penulis-penulis di Perjanjian Baru untuk menggambarkan kelahiran Yesus sang Mesias. Yesaya menjelaskan siapa dan bagaimanakah Raja Damai/ Mesias  yang akan datang/ lahir ke dalam dunia ini. Sang Raja Damai itu akan menerangi hati dan kehidupan semua orang, sehingga menciptakan kehidupan baru dan sukacita besar.

Tidak hanya Yesaya yang mewartakan berita pembebasan, namun para gembala dalam bacaan kita yang ketiga juga dipakai Tuhan sebagai pewarta kabar besar yang menggembirakan ini. Para gembala merupakan simbol orang-orang yang terpinggirkan di dalam masyarakat sebab mereka dianggap tidak memiliki kedudukan yang penting. Namun, Tuhan justru memberikan kabar keselamatan terlebih dulu kepada kaum gembala. Dan pada akhirnya para gembala juga dengan rela dan senang hati menyambut kemudian mewartakan kabar itu kepada orang lain (Luk 2 : 18).

Apa yang dilakukan gembala ini dapat menjadi teladan di dalam kehidupan kita. Kadang ada orang-orang yang merasa bahwa tugas untuk mewartakan berita pembebasan dan kehadiran Tuhan hanya untuk orang-orang tertentu saja, yang dianggap mampu yang dianggap pantas. Apa yang terjadi dan dilakukan para gembala seharusnya menolong kita untuk sadar bahwa tugas itu diberikan Tuhan kepada semua orang percaya. Tidak tergantung bagaimana latar belakang kehidupan kita. Yang penting seperti para gembala yang mau menerima dan mewartakannya dengan sukacita.

Pewartaan tentang kehadiran Allah dan berita pembebasan itu tidak sekedar dilakukan melalui kata-kata saja. Bacaan kita yang kedua menolong kita melihat bahwa pewartaan itu bukan sekedar bicara. Dalam bacaan yang kedua, Paulus menasihatkan kepada Titus untuk menjaga kehidupannya tetap kudus di hadapan Tuhan. Melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan Tuhan dan menjauhi hal-hal yang jahat yang tidak diperkenankan Tuhan. Kemudian, dalam ayat 15, nasihat itu ditutup Paulus dengan kalimat “beritakanlah semuanya itu”. Dengan demikian, kita melihat bahwa yang dimaksudkan Paulus dalam pemberitaan itu tidak bisa sekedar dikatakan, tetapi juga harus dinyatakan dan dilakukan.

Penutup

Pada malam Natal ini, kita kembali diingatkan bahwa hidup ini bukan sesuatu yang biasa tanpa ada maknanya. Semestinya, hidup ini kita maknai dengan sungguh-sungguh. Yesaya, para gembala, Paulus dan Titus telah memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan ini dengan baik untuk mewartakan dan menyatakan kehendak dan kehadiran Tuhan.

Sekarang, pertanyaannya kepada kita para umat yang mengaku percaya. Apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan kesempatan hidup pemberian Tuhan itu dengan baik? Kita manfaatkan untuk apa dan siapa kesempatan hidup kita ini?

Nyanyian        : KJ 120 : 1-3

RANCANGAN KHOTBAH        :Basa Jawi

Pambuka

Minangka pambuka, Pasamuwan kaajak memuji “ Hidup ini Adalah Kesempatan “. Setahun kepengker ( 2017 ) lagu “ Hidup ini Adalah Kesempatan “ dados populer ing kalangan sederek Kristen. Kapujekaken patrap solo, duo, ugi arupi Paduan Suara. Anjawi syair lagunipun elok, melodinipun prasaja sanget. Gampil dipun mangertosi. Lagu menika kaanggit dening Pendhita ingkang katilar anakipun nalika anak taksih timur sanget, awit kacilakan lalu lintas. Bapakipun anak menika nggenipun nyuraos, bab nalikaning anak menika taksih sugeng, anakipun aktif ing kegiatan greja. Anak menika nggadhahi kesagedan multitalenta lan ingkang nengsemaken bapakipun tumrap anak menika, sedaya kesagedanipun anak kalawau dipunengge peladosan ing greja. Bapakipun ngraosaken kanthi lebet bab kiprahipun si anak. Bagda anak menika katimbalan dening Gusti, bapakipun nunten nggadahi pepinginan nganggit lagu mawi irah-irahan “Hidup ini Adalah Kesempatan”

Isi

Mboten sedaya tiyang ngrumaosi bilih gesang peparingipun Gusti menika minangka setunggiling wewengan. Maneka warni penganggepipun tiyang bab artosing gesang. Wonten sawetawis tiyang mastani bilih gesang punika satunggaling kacilakan. Tiyang ingkang mekaten menika, gesangipun tansah ngraosaken sedih. Wonten sawetawis tiyang mastani bilih gesang menika pinda toya ingkang mili, tegesipun mengalir/ngentir kemawon.Wonten sawetawis tiyang mastani gesang menika limrah kemawoh, mboten wonten ingkang istimewa. Wonten sawetawis tiyang mastani gesang menika pinda tiyang ingkang mampir ngombe, tegesipun namung sakwetawis. Tumrap para sedherek pasamuwan, kados pundi pemanggihipun bab gesang punika?

Saking tigang waosan kita ing nginggil, kita kabiantu mangertosi bab gesang menika minangka wewengan (hidup ini adalah kesempatan). Wonten ing waosan wiwitan, Yesaya dipunpiji (dipunparingi wewengan) dening Gusti dados nabi utusanipun. Wewengan menika dipun ginakaken dening Yesaya kanthi saestu, inggih menika paring pitutur minangka lantaran kersanipun Gusti ingkang katujokaken dumateng bangsa Israel kala semanten. Yesaya estu-estu dipun agem Gusti kangge ngemutaken bangsa Israel ingkang sampun kedlarung ngandelaken kekiyatanipun bangsa sanes ingkang dipunanggep digdaya.

Sacara maligi ing waosan ingkang wiwitan (Yesaya 9 : 1-6), minangka pameca bab wiyosipun bab jabang bayi ingkang dipunantu-antu badhe paring pangentasan saking sedhengah karibedanipun bangsa Israel. Nunten ing tembenipun, pameca ingkang lantaran Yesaya menika dados rujukan dening tiyang-tiyang pitados ing Prajanjian Anyar kangge nggambaraken bab wiyosipun Yesus sinebat Sang Mesih. Nabi Yesaya ing seratipun menika nerangaken bab sinten lan kados pundi Ratuning Katentreman/ Sang Mesih ingkang badhe rawuh/ miyos ing donya menika. Ratuning Katentreman menika ingkang badhe madhangi manah dalasan gesangipun saben tiyang, matemah ngalami gesang enggal ingkang kebak kabingahan.

Mboten namung nabi Yesaya ingkang martosaken pawartos bingah, nanging ugi ing Lukas 2: 18 para pangen inggih nglantaraken pawartos bingah. Para pangen merlambangaken tiyang-tiyang/ golongan ingkang sok dipun sepelekaken. Awit dipun anggep pedamelan pangen menika pedamelanipun tiyang ingkang pendidikanipun asor. Ananging, pranyata Gusti malah maringaken pawartos bingah bab kawilujenganipun jagad dateng pangen punika. Para pangen ingkang nampi kabar bingah menika nyambeti klayan sigrak/ rerikatan, martosaken dateng tiyang.

Ingkang dipuntindakaken para pangen menika, saged dados tuladha ing gesang kita. Kathah tiyang nggadahi penganggep bilih martosaken Injil (pawartos bingah) menika namung tugasipun sawetawis tiyang kemawon, ingkang dipunanggep mumpuni kemawon, sanes tugasipun sedaya tiyang. Mestinipun, ingkang dipun tindakaken para pangen menika, mbiyantu kita dados sadar bab tugas ingkang dipun paringaken dening Gusti dateng saben tiyang pitados, mboten gumantung saking latar belakang kita. Ingkang perlu kita gatosaken, para pangen kalawau sami sagah nampi lan purun martosaken kanthi sukarena.

Pawartos bab kersanipun Gusti anggenipun mitulungi kita menika, mboten ngamungaken bab pitembungan kemawon. Wonten ing waosan ingkang kaping kalih (Titus 2:11-15), martosaken kabar bingah menika mboten namung sacara lisan. Ing waosan Titus menika, Rasul Paulus paring pitungkas dumateng Titus supados tetep njagi gesangipun tansah suci wonten ing ngarsanipun Gusti. Nindakaken perkawis-perkawis ingkang ndadosaken Gusti rena ing galih. Nunten ing ayat 15, pitungkasipun Rasul Paulus menika dipunpungkasi kanthi tembung “iku kabeh wartak-wartakna”. Kanthi mekaten, kita sami mangertos ingkang dipunkersakaken Rasul Paulus anggenipun martosaken menika mboten cekap namung dipunwicantenaken ananging kedah dipunwedaraken, dipuntindakaken.

Penutup

Ing dinten ngajengaken riyadin Natal punika, kita kaemutaken bab gesang punika peparingipun Gusti. Gesang punika wonten tegesipun. Mila, kita ginakaken kanthi saestu. Yesaya, para pangen, Paulus lan Titus sampun kacihna yen saestu ngginakaken kesempatan ingkang dipunparingaken Gusti dateng piyambakipun kanthi sae, inggih menika martosaken lan mujudaken kersanipun Gusti.

Pramila samangke tuwuh pitakenan dumateng kita sedaya. Menapa kita sedaya minangka umat kagunganipun Gusti sampun estu-estu ngginakaken wewengan peparengipun Gusti dumateng kita kanthi tumemen? Kangge menapa kesempatan (wewengan) peparingipun Gusti ing gesang kita? Lan kangge sinten?

Pamuji: KPJ. 212 : 1-3

 

Bagikan Entri Ini:

  • 6
    Shares