Menyediakan Diri Untuk Tuhan Pakai Mewujudkan KaryaNya Khotbah Minggu 23 Desember 2018 (Adven IV)

Minggu Adven IV
Stola Ungu

Bacaan 1       : Mikha 5 : 1 – 4a.
Bacaan 2       : Ibrani 10 : 5 – 10.
Bacaan 3       : Lukas 1 : 39 – 45.

Tema Liturgis    :Meneguhkan Panggilan Untuk Menjadi Berkat.
Tema Khotbah : Menyediakan Diri Untuk Tuhan Pakai Mewujudkan KaryaNya.

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Mikha 5 : 1 – 4a
Betlehem yang dianggap terkecil diantara kaum Yehuda nyatanya akan menjadi saksi karya Allah yang besar. Di Betlehem itulah nabi Mikha menubuatkan akan menjadi tempat bangkitnya seseorang yang akan menjadi penguasa dan penyelamat bagi Israel. Mikha juga menjelaskan bahwa peristiwa ini sudah ada dalam skenario Allah sejak dahulu kala (Mik. 5 : 1). Artinya, bahwa penyelamatan atas umat Israel telah ada dalam rencana Allah. Dan Allah bisa memakai siapapun (termasuk Betlehem yang dianggap kota terkecil diantara kaum Yehuda) untuk mewujudkan rencana penyelamatan itu. Betlehem sebagai kota kecil itu memang tidak terkenal, tetapi juga bisa dipakai Allah untuk mewujudkan rencanaNya. Allah tetap memperhatikan “sesuatu” yang oleh manusia dianggap kecil dan kurang berarti.

Penyelamat Israel ini jelas sangat berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Dia akan memimpin dengan cara menggembalakan dan bukan dengan kekuasaannya. Terlebih lagi dia menggembalakan dengan menggunakan kekuatan Tuhan (Mik. 5 : 3). Kekuatan Tuhan memang tidak terbatas, tetapi pemimpin yang menggunakan kekuatan Tuhan berarti juga akan selalu bertindak sesuai kehendak Tuhan. Tidak hanya itu, pemimpin yang akan datang itu kebesarannya akan sampai ke ujung bumi dan bahkan menjadi damai sejahtera. Artinya, kepemimpinannya memang diharapkan semua orang dan menyejahterakan serta membawa orang pada keselamatan. Tentunya pemimpin seperti yang dinubuatkan oleh nabi Mikha ini hanya mengarah pada pribadi Sang Mesias. Tidak ada yang lain. Tampaknya Mesias tidak hanya ditonjolkan sisi penyelamatannya saja, tetapi juga sisi kekuasaannya sebagai seorang raja, namun tetap membawa kesejahteraan bagi yang dipimpin sebagaimana seorang gembala yang mengutamakan yang terbaik bagi domba gembalaannya.

Ibrani 10 : 5 – 10
Pembaharuan makna persembahan benar-benar ditekankan oleh penulis surat Ibrani. Dalam pemahaman Perjanjian Lama, persembahan merupakan unsur penting dalam setiap peribadahan. Persembahan yang berupa korban bakaran, korban penghapus dosa, dll benar-benar diperhatikan karena dengan semua persembahan itu manusia berharap bisa berdamai dengan Allah. Supaya Allah tidak marah kepada manusia karena dosa-dosanya dan juga memberikan pengampunanNya kepada manusia. Korban-korban persembahan itu biasanya menggunakan binatang. Ibr. 10 : 5 -7 mengutip dari Maz. 40 : 7 -9. Ada hal menarik yang patut diperhatikan bahwa dalam pemahaman Perjanjian Baru, persembahan yang benar, yang sempurna adalah Yesus yang telah mempersembahkan dirinya sebagai korban pendamaian manusia dengan Allah (Ibr. 10 : 5).

Keselamatan manusia bukan bergantung pada berbagai korban persembahan itu, tetapi pada persembahan yang sempurna, yaitu Tuhan Yesus sendiri. KehadiranNya ke dunia adalah untuk memberlakukan kehendak Allah BapaNya. Semua yang diperbuat adalah kehendak BapaNya. Karena persembahan Kristus itu sempurna, maka hanya terjadi satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10 : 9). Persembahan Kristus yang sempurna ini jugalah yang menguduskan semua orang yang percaya kepadaNya. Mereka tidak perlu lagi memberikan korban persembahan untuk menyelamatkan dirinya, seperti dalam pemahaman Perjanjian Lama. Korban persembahan yang sempurna itu tidak lagi menggunakan binatang, melainkan tubuh Kristus sendiri.

Lukas 1 : 39 – 45
Maria dan Elisabet adalah dua perempuan yang menyediakan diri dan tubuhnya untuk dipakai Allah mewujudkan pekerjaan penyelamatan bagi manusia. Maria dan Elisabet mempersembahkan rahim mereka untuk mengandung dan juga melahirkan bayi Yesus dan bayi Yohanes Pembabtis. Mereka berdua adalah pelaku karya penyelamatan Allah untuk manusia. Pada jaman itu perempuan bukanlah mahluk istimewa, bahkan bisa dikatakan sebagai “warga kelas dua”. Pada kenyataannya mereka (perempuan) juga bisa mempersembahkan tubuh mereka untuk dipakai Allah mewujudkan karya penyelamatan bagi manusia.

Maria memang mengandung dari Roh Kudus. Tetapi Elisabet ketika mengandung dan berjumpa dengan Maria yang mengunjunginya juga penuh dengan kuasa Roh Kudus (Luk. 1 : 41). Pengakuan bahwa Maria adalah “ibu Tuhanku”, merupakan karya Roh Kudus dalam diri Elisabet. Roh Kudus memberikan pengertian kepada Elisabet bahwa Maria juga dipakai Allah untuk sarana terwujudnya karya Allah. Bahkan Elisabet juga mengakui bahwa bayi dalam rahim Maria itu akan lebih “besar” dari pada bayi yang ada dalam rahimnya (sebutan “ibu Tuhanku”).

Demikian juga salam Elisabet yang menyatakan : “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”. Dengan gembira Elisabet menyambut kedatangan Maria. Demikian juga bagi Maria, apa yang dia lihat dalam diri Elisabet menunjukkan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh malaikat kepadanya. Apa yang menurut perhitungan manusia tidak mungkin, tetapi bagi Allah menjadi mungkin. Elisabet yang sudah berusia lanjut itu ternyata juga hamil atas kehendak dan kuasa Allah.

Elisabet juga mengatakan di Luk. 1 : 45 bahwa orang yang percaya kepada perkataan Allah menjadi berbahagia karena akan mengalami bahwa perkataan Allah itu benar. Tentunya hal ini juga ditujukan kepada Maria yang percaya bahwa perkataan Allah akan benar terjadi atas dirinya. Dalam hal ini tentunya Roh Kuduslah yang memberikan pengertian itu kepada Elisabet untuk mengatakannya.

Benang Merah Ketiga Bacaan
Kepedulian Allah untuk menyelamatkan manusia dilakukan dengan berbagai cara, termasuk hadir ke dunia dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus juga menyerahkan diri dan tubuhNya supaya semua orang yang percaya kepadaNya selamat.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)

SIAPAKAH AKU INI ?
(Nats : Lukas 1 : 43)

Pendahuluan
Siapakah aku ini, merupakan pertanyaan yang sering kali ditujukan pada diri sendiri dan mengandung unsur “melihat / menilai” pada diri sendiri (introspeksi). Pertanyaan itu biasanya dipertanyakan oleh seseorang yang merasa tidak layak (apapun keadaannya) untuk menerima atau menghadapi sesuatu yang dianggapnya besar dan luar biasa. Merasa tidak layak tidak selalu berarti minder, tetapi bisa juga merupakan kerendahan hati seseorang di saat menerima / menghadapi sesuatu yang besar atau sangat dihormati. Dia merasa tidak layak untuk menerimanya. Hal seperti itulah rupanya yang dihadapi oleh Elisabet ketika menerima perkunjungan Maria, sepupunya. Perkunjungan Maria disebut sebagai perkunjungan dari “ibu Tuhanku”.

Isi
Siapakah Elisabet itu ? Elisabet dan Zakharia, suaminya, sama-sama berasal dari keluarga imam. Zakhariapun seorang imam. Biasanya Zakharia setiap tahun bertugas 2 minggu di Bait Allah di Yerusalem. Sampai di hari tuanya Elisabet dan Zakharia tidak dikaruniai anak. Pada masa itu, ketiadaan anak dalam keluarga merupakan aib, khususnya bagi sang istri yaitu Elisabet. Meskipun demikian, tetapi Elisabet dan Zakharia tetap menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan. Sehingga, bisa dipahami ketika Elisabet mengandung di usia tuanya, apalagi ketika menerima perkunjungan Maria (ibu Tuhanku), dia benar-benar merasa tidak layak untuk menerimanya. Elisabet di tengah masyarakat dianggap sebelah mata karena tidak memiliki anak, kini menerima perkunjungan “Tuhan dan ibunya” yang berarti figur yang sangat dia hormati dan dia agungkan.

Perasaan tidak layak dalam diri Elisabet itu juga menjadikan dia peka dan dipakai oleh Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Melalui mulut Elisabet, Roh Kudus menyatakan bahwa “Anak” yang sedang dikandung oleh Maria bukanlah bayi sembarangan. Elisabet menyebutnya Tuhanku. Bayi dalam kandungan Maria itu adalah pribadi yang sangat besar, lebih besar dari bayi yang dikandung oleh Elisabet. Karenanya Elisabet menyebut Maria sebagai ibu Tuhanku. Tidak ada sedikitpun iri hati dalam diri Elisabet. Dia menyambut kedatangan Maria dengan sangat gembira karena Tuhannya hadir mengunjungi dia. Elisabet adalah perempuan pertama selain Maria yang mengetahui perihal kehamilan Maria dan siapa bayi yang dikandungnya. Roh Kudus yang berkarya dalam diri Elisabet bukan saja dalam hal kehamilannya, tetapi juga memampukan Elisabet berkata-kata sesuai yang dikehendaki Allah. Elisabet yang merasa tidak layak dihadapan Allah ini ternyata dipakai Allah untuk mewujudkan karyaNya, mengandung bayi yang akan menjadi pembuka jalan bagi karya Yesus Kristus, dan sekaligus Elisabet juga mewartakan kebenaran Allah melalui perkataannya.

Apa yang terjadi pada Elisabet dan Maria menjelaskan kepada kita bahwa Allah juga berkenan memakai siapapun yang Ia kehendaki dan menunjukkan kesediaannya dipakai oleh Allah untuk mewujudkan karyaNya. Elisabet dan Maria adalah perempuan “biasa” saja pada saat itu. Bahkan, untuk Elisabet mungkin dianggap sebelah mata karena tidak memiliki anak sampai di hari tuanya. Tetapi mereka sama-sama menerima hadiah istimewa dari Allah yang berupa kehamilan. Demikian juga Betlehem, kota terkecil di kaum Yehuda yang sepertinya tidak ada keistimewaannya. Kenyataannya juga Allah pakai untuk mewujudkan karya keselamatan bagi umat manusia (li. Bacaan 1). Sesuatu yang tampaknya kecil, tidak layak, ternyata juga diperhatikan dan dipakai oleh Allah untuk ambil bagian dalam karyaNya yang besar. Allah tidak membutuhkan nama besar. Allah lebih membutuhkan kesediaan untuk Allah pakai, apapun keadaannya. Seperti halnya Elisabet yang merasa tidak layak itu juga dipakai oleh Allah untuk berkata-kata menyatakan kebenaran Allah perihal kehamilan Maria.

Respon Elisabet atas salam dari Maria yang datang ke rumahnya sungguh luar biasa. Bayi yang ada dalam rahim Elisabet dikatakan “melonjak” dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus (Luk. 1 : 41). Mungkin yang dimaksud adalah rahim Elisabet itu mengalami “berkontraksi” karena kegembiraan yang besar dan tiba-tiba yang dialami Elisabet ketika mendapat perkunjungan Maria. Bisa dikatakan bahwa baik Elisabet maupun Maria telah mempersembahkan apa yang ada dalam diri mereka, yaitu rahim mereka untuk dipakai Allah mewujudkan karyaNya. Apapun resikonya, mereka bersedia mengandung bayi atas kehendak Allah. Kenyataannya justru orang-orang yang merasa tidak layak (seperti Elisabet), tetapi terbuka dan bersedia mempersembahkan hidupnya untuk karya keselamatan Allah, itulah yang dipilih oleh Allah. Elisabet dan Maria sama-sama pribadi yang rendah hati. Mereka merasa tidak layak untuk ambil bagian dalam karya Allah yang besar itu. Elisabet dan Maria telah memberikan persembahan yang sejati bagi Allah, yaitu hidup dan tubuh mereka (lih. bacaan 2).

Merasa tidak layak di hadapan Allah merupakan salah satu wujud kerendahan hati seseorang. Sebagaimana Elisabet yang mempertanyakan : siapakah aku ini, merupakan wujud pertanyaan untuk diri sendiri juga. Seseorang yang mempertanyakan semacam itu berarti juga menilai diri sendiri tentang keberadaannya di hadapan Allah atau di hadapan pihak yang dihadapi. Orang yang berani menilai diri sendiri dengan jujur seperti Elisabet pastilah orang yang bijaksana dan ternyata Roh Kudus juga berkarya dalam hidupnya. Orang-orang yang merasa tidak layak, jujur, tetapi tetap menyediakan diri dan tubuhnya dipakai Allah, merekalah yang dipilih Allah untuk ambil bagian dalam karyaNya. Dengan merasa tidak layak di hadapan Allah akan menjadikan seseorang semakin menghargai karya Allah dalam hidupnya.

Penutup
Elisabet dan juga Maria telah memberikan teladan kepada kita sekalian bahwa tidak ada orang yang terlalu hina di hadapan Allah. Allah juga berkenan memakai siapapun yang merasa tidak layak, tetapi tetap menyediakan diri dipakai Allah untuk mewujudkan karyaNya. Allah tidak memerlukan ketenaran dan nama besar, tetapi Allah membutuhkan kesediaan orang-orang yang rela mempersembahkan hidupnya untuk dipakai Allah ambil bagian dalam karya Allah. Pihak-pihak yang tampaknya kecil dan sederhana seperti kota kecil Betlehem, Elisabet yang tidak memiliki anak hingga hari tuanya, Maria yang hamil sebelum bersuami, tentunya juga merasa tidak layak untuk dipakai oleh Allah. Tetapi justru mereka inilah yang bersedia mempersembahkan apa yang ada pada mereka untuk ambil bagian dalam karya Allah. Allah tidak pernah menuntut apa yang tidak kita punya. Allah memakai apa yang kita punya dan apa yang kita bisa untuk ambil bagian dalam karya Allah.

Tokoh sebesar Yohanes Pembabtis (yang menjadi pembuka jalan dan membabtis Yesus Kristus) lahir dari seorang perempuan bernama Elisabet yang pernah merasa tidak layak dihadapan Tuhannya. Demikian juga Sang Juruslamat Yesus Kristus juga lahir dari seorang perempuan sederhana bernama Maria yang hamil sebelum bersuami, dan juga Yesus Kristus itu lahir di kandang di Betlehem (sebuah kota kecil yang tidak terkenal). Allah melibatkan mereka semua itu yang menurut ukuran manusia memang tidak layak, tidak istimewa untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Jadi, tidak ada orang yang terlalu hina untuk dipakai Allah. Yang Allah butuhkan hanya kesediaan dan kerelaan untuk dipakai oleh Allah. Jadi, bukan tidak mungkin jika Allah juga memakai kita untuk ambil bagian dalam karyaNya di tengah dunia ini, seperti halnya Allah memakai Elisabet dan Maria. Siapapun kita. Amin. (YM).

Nyanyian : Kidung Jemaat 363 : 1, 2, 4.

RANCANGAN KHOTBAH :Basa Jawi

SAPA TA AKU IKI ?
(Jejer : Lukas 1 : 43)

Pambuka
Sapa ta aku iki, asring dados pitakenan ingkang katujokaken dhateng dhiri pribadi ingkang ngemu teges ningali / mbiji dhateng badanipun piyambak (introspeksi). Adatipun pitakenan punika saking tiyang ingkang rumaos boten sembada (punapa kemawon kawontenanipun) kangge nampeni utawi ngadhepi prekawis ingkang dipun anggep ageng sanget lan ngedab-edabi. Rumaos boten sembada dereng tamtu ateges minder, ananging saged ugi wujuding raos andhap asor nalika nampeni / ngadhepi prekawis ingkang ageng utawi kinurmat. Piyambakipun rumaos boten sembada nampeni. Rupinipun inggih prekawis ingkang kados mekaten punika ingkang dipun alami dening Elisabet nalika dipun tuweni dening Maryam, sedherek misanipun. Anggenipun Maryam nuweni punika sinebut dados rawuhipun “ibune Gustiku”.

Isi
Sinten ta Elisabet punika ? Elisabet lan semahipun, Zakharia, punika sami-sami saking keturunan para imam. Zakharia ugi satunggaling imam. Adatipun, saben tahun Zakharia nindakaken jejibahan ing Pedaleman Suci ing Yerusalem 2 minggu dangunipun. Ngantos sami sepuh Elisabet lan Zakharia boten kaparingan putra. Nalika semanten, menawi wonten brayat ingkang boten kaparingan putra punika saestu dados aib, maliginipun tumrap pawestri, inggih punika Elisabet. Senadyan mekaten kawontenanipun, nanging Elisabet lan Zakharia inggih tansah dados tiyang ingkang ajrih asih dhumateng Gusti. Pramilo saged dipun mangertosi nalika Elisabet mbobot nalika sampun sepuh, punapa malih nalika dipun tuweni dening Maryam (ibu Gustiku), Elisabet saestu rumaos boten sembada nampeni. Ing satengahing masyarakat Elisabet boten kaanggep awit boten gadhah anak, lah samangke nampeni rawuhipun “Gusti lan ibunipun” ingkang ateges pribadi ingkang saestu kinurmat dan kapundhi.

Raos boten sembodo ingkang karaosaken dening Elisabet punika ugi ndadosaken Elisabet langkung peka lan kaagem dening Roh Suci kangge mbabaraken kayektenipun Allah. Lumantar lathinipun Elisabet, Roh Suci ngandika bilih “Bayi” ingkang dipun kandhut dening Maryam punika sanes bayi limrah. Elisabet ngaturi Gustiku. Bayi ingkang dipun kandhut dening Maryam punika saestu pribadi ingkang ageng sanget, langkung ageng tinimbang bayi ingkang dipun kandhut dening Elisabet. Pramilo lajeng Elisabet ngaturi Maryam kanthi panyebut ibu Gustiku. Boten wonten raos serik ing manahipun Elisabet. Elisabet nampeni rawuhipun Maryam kanthi bingah sanget awit Gustinipun rawuh lan nuweni Elisabet. Elisabet punika wanita wiwitan kejawi Maryam ingkang mangertos ing bab kandhutanipun Maryam lan sinten bayi ingkang dipun kandhut punika. Sang Roh Suci ingkang makarya ing Elisabet boten namung ing bab kandhutanipun kemawon, ananging ugi ndadosaken Elisabet saged wicanten miturut karsanipun Allah. Elisabet ingkang rumaos boten sembada ing ngarsanipun Allah punika nyatanipun ugi dipun agem dening Allah kangge mujudaken karyanipun, ngandhut bayi ingkang ing tembe badhe dados cucuk lampah tumrap karyanipun Gusti Yesus Kristus, lan Elisabet ugi martosaken kayektenipun Allah lumantar wicantenipun.

Punapa ingkang kelampahan dening Elisabet lan Maryam nedahaken dhumateng kita sami bilih Allah ugi karsa ngagem sinten kemawon ingkang kakersakaken lan cumadhang dipun agem dening Allah kangge mujudaken pakaryanipun. Elisabet lan Maryam inggih wanita “limrah” kemawon nalika semanten. Elisabet malah saged kirang dipun ajeni awit boten gadhah anak ngantos sepuh. Ananging kekalihipun sami-sami nampeni peparing ingkang mirunggan saking Allah awujud kandhutanipun. Mekaten ugi Betlehem, kitha ingkang paling alit ing tlatah Yehuda ingkang kados-kados boten wonten prekawis ingkang mirunggan ing ngrika. Nyatanipun Allah ugi karsa ngagem kangge mujudaken pakaryan milujengaken manungsa (mugi kapirsanan waosan 1). Punapa kemawon ingkang ketawisipun alit, boten sembada, nyatanipun ugi dipun gatosaken dening Allah lan dipun agem mujudaken pakaryanipun Allah ingkang ageng. Gusti Allah boten mbetahaken nami ingkang ageng lan misuwur. Allah langkung mbetahaken sinten kemawon ingkang cumadhang dipun agem dening Allah, kados pundi kemawon kawontenanipun. Kados dene Elisabet ingkang rumaos boten semdodo punika nyatanipun ugi dipun agem dening Allah supados wicanten ing bab kayektenipun Allah inggih punika bab kandhutanipun Maryam.

Responipun Elisabet tumrap salam ingkang kaucapaken dening Maryam nalika mlebet ing griyanipun Elisabet saestu ngedab-edabi. Jabang bayi ingkang wonten ing kandhutanipun Elisabet kacarios “nggronjal” lan Elisabet kapenuhan ing Roh Suci (Luk. 1 : 41). Saged ugi, punika tegesipun kandhutanipun Elisabet ngalami “kontraksi” awit saking bingahipun dipun tuweni dening Maryam. Kita saged mastani bilih Elisabet lan Maryam sampun misungsungaken punapa ingkang wonten ing badanipun, inggih punika kandhutanipun supados dipun agem dening Allah kangge mujudaken karyanipun. Punapa kemawon ingkang dados resikonipun, Elisabet lan Maryam cumadhang ngandhut bayi awit saking karsanipun Allah. Nyatanipun para tiyang ingkang rumaos boten sembada (kados dene Elisabet), ananging cumadhang misungsungaken gesangipun kangge pakaryanipun Allah, inggih tiyang kalawau ingkang dipun pilih dening Allah. Elisabet lan Maryam, kekalihipun pribadi ingkang andhap asor. Kekalihipun rumaos boten sembada ndherek ing pakaryanipun Allah ingkang ageng punika. Elisabet lan Maryam sampun ngaturaken pisungsung ingkang sejati kagem Allah, inggih punika gesang lan badanipun (mugi kapirsanan waosan 2).

Rumaos boten sembada ing ngarsanipun Allah dados satunggaling tenger tumrap tiyang ingkang andhap asor. Kados dene Elisabet ingkang gadhah pitakenan : sapa ta aku iki, estunipun ugi dados pitakenan kangge dhiri pribadi. Tiyang ingkang pitaken mekaten kalawau ateges ugi mbiji dhirinipun piyambak ing bab kawontenanipun ing ngarsanipun Allah utawi ing sangajenging tiyang ingkang dipun adhepi. Tiyang ingkang wantun mbiji dhirinipun piyambak kados dene Elisabet punika tamtu tiyang ingkang wicaksana lan Roh Suci ugi makarya ing gesangipun. Tiyang-tiyang ingkang rumaos boten sembada, bares, ananging tansah cumadhang menawi badanipun kaagem dening Allah, inggih tiyang-tiyang punika ingkang kapilih dening Allah dados rencang damelipun Allah. Kanthi rumaos boten sembada ing ngarsanipun Allah badhe ndadosaken tiyang punika langkung saged ngregeni lan ngurmati pakaryanipun Allah ing salebeting gesangipun.

Panutup
Elisabet lan ugi Maryam sampun paring tuladha dhumateng kita sedaya bilih estunipun boten wonten manungsa ingkang saestu asor ing ngarsanipun Allah. Allah ugi karenan ngagem sinten kemawon ingkang rumaos boten sembada, ananging tansah cumadhang dipun agem dening Allah kangge mujudaken pakaryanipun. Allah boten mbetahaken nami ingkang kesuwur, ananging Allah mbetahaken tiyang-tiyang ingkang cumadhang lan rila misungsungaken gesangipun supados dipun agem dening Allah kangge mujudaken karyanipun. Sinten kemawon ingkang ketawis alit lan prasaja kados dene Betlehem, kitha ingkang alit, Elisabet ingkang boten gadhah anak ngantos sepuh, Maryam ingkang ngandhut sakderengipun sesemahan, tamtunipun ugi rumaos boten sembada dipun agem dening Allah. Nyatanipun inggih para tiyang punika ingkang cumadhang misungsungaken punapa ingkang dipun gadhahi kangge ndherek ing pakaryanipun Allah. Gusti Allah boten nate nyuwun punapa ingkang kita boten gadhah. Gusti Allah ngagem punapa ingkang kita gadhahi kangge ndherek ing pakaryanipun Allah.

Tokoh ageng kados dene Yokanan Pembabtis (ingkang dados cucuk lampah tumrap pakaryanipun Gusti Yesus lan ugi ingkang mbabtis Gusti Yesus) lahir saking wanita ingkang asmanipun Elisabet ingkang nate rumaos boten sembada ing ngarsanipun Gusti. Mekaten ugi Sang Juruwilujeng Gusti Yesus Kristus ugi miyos saking wanita prasaja ingkang asmanipun Maryam ingkang ngandhut sakderengipun sesemahan, lan Yesus Kristus punika miyos ing kandhang ing Betlehem (kitha alit ingkang boten kesuwur). Gusti Allah karsa ngagem sinten kemawon ingkang miturut manungsa boten sembada, boten mirunggan, kangge ndherek lumebet ing pakaryanipun Allah. Boten wonten manungsa ingkang saestu asor kaagem dening Allah. Allah namung mbetahaken manungsa ingkang cumadhang lan rila dipun agem dening Allah. Sanes prekawis ingkang mokal menawi Allah ugi ngersakaken ngagem kita sami supados ndherek ing pakaryanipun ing satengahing donya punika, kados dene Allah ngagem Elisabet lan Maryam. Sinten kemawon kita punika. Amin. (YM).

Nyanyian : KPK. 187 : 1 – 4.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •