Kahadiran Kristus Sebagai Juruselamat Menandai Era Anugerah Khotbah Natal 25 Desember 2018

Bacaan 1         : Yesaya 62:6-12
Bacaan 2         : Titus 3 :4-7
Bacaan 3         : Lukas 2:8-20

Tema Liturgis : Kristus hadir dan menjadi dasar hidup
Tema Khotbah: Kahadiran Kristus sebagai Juruselamat menandai era anugerah

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 62:6-12

Yesaya 62:6-12, satu bagian dari bagian besar Yesaya 56:1- 66:24 dan merupakan bagian ketiga (Trito-Yesaya) dari seluruh kitab Yesaya, bernada optimistis (berpengharapan, yakin, riang). Bagian besar itu merupakan kumpulan peringatan dan janji bagi umat Allah pada era setelah pembuangan dari Babel. Dengan kata lain, di dalam Yesaya 62:6-12, umat TUHAN sedang berada di tanah perjanjian, selepas bertahun-tahun terbuang di negeri asing. Pada era baru itu, sedang berada di negeri sendiri, ungkapan-ungkapan imannya menjadi serbapositif.

Nada optimistis dari dalam kitab Trito-Yesaya, yang juga tercantum di dalam Yesaya 62:6-12, adalah bahwa TUHAN yang adalah Roh sangat bersungguh-sungguh mengupayakan kesejahteraan, berupa panen gandum yang bukan hanya melimpah, tapi juga aman dari penjarah hasil panen dari pihak luar negeri – Yesaya 62:8-9.

Di samping itu, nada optimistis umat pilihan TUHAN adalah adanya berita sukacita, bahwa ‘keselamatan’ mereka ‘datang’ – Yesaya 62:11. Isi dari keselamatan yang dihayati sangat penting adalah pemulihan predikatnya sebagai bangsa yang kudus, orang tebusan TUHAN, dan ‘yang dicari’, serta ‘kota yang tidak ditinggalkan – Yesaya 62:12.

Titus 3 :4-7

Ketaatan orang percaya kepada Allah, juga terhadap penguasa di dunia, bukanlah sebuah prestasi kebajikan seseorang yang perlu dipuji-diunggulkan, bukanlah pula merupakan beban penderitaan yang harus ditanggungnya dengan sedih hati. Dengan kata lain, tidaklah pada tempatnya, manusia menjadi tinggi hati atau berputus asa. Sebab, anugerah Allah mengawali dan menyempurnakan segala hal.

Perikop penutup dari kitab Titus, khususnya Titus 3:4-7, menandaskan pesan penting, bahwa orang percaya, kini, sedang berada di dalam era anugerah atau era rahmat TUHAN – Titus 3:5. Segalanya diringankan-Nya. Segalanya menyukacitakan umat-Nya. Karena, perihal pembaruan hidup yang selalu saja menjebak manusia ke dalam ketinggihatian (merasa dirinya berhasil-gemilang lebih awal) atau sebaliknya keputusasaan (merasa diri sendiri terus-menerus gagal) tidaklah relevan dibawa-bawa terus di dalam kehidupan orang percaya.

Ketimbang berkepanjangan berada di dalam jebakan ajaran moral yang menghabiskan energi, dipicu oleh kebanggaan diri atau rendah diri, lebih baik menjalani hidup berpengharapan – Titus 3:7, bahwa masa depan pasti cerah, karena anugerah Allah.

Lukas 2:8-20

Seruan ‘…Jangan takut,..[ada] kesukaan besar…’ – Lukas 2:9, yang merupakan inti kabar baik bagi manusia yang terpinggirkan nasibnya, adalah salah satu kekhasan Injil Lukas yang tidak terdapat di dalam kedua Injil sinoptis lainnya [Matius, Markus]. Bagi / di dalam Lukas, inti kabar baik terutama harus sampai kepada wong cilik yang gigih berjuang dengan caranya sendiri yang khas. Antara lain, kekhasan perjuangannya bersikap optimis (berpengharapan, yakin, riang). Wong cilik itu, para gembala, tidak gentar menghadapi tantangan hidupnya, alam (malam hari, di padang, gembalaan).

Sebagaimana gembala selazimnya, tidak ada alasan untuk merasa takut dan gentar. Gembala penjaga kawanan domba gembalaan di padang bukanlah seorang diri, melainkan bersama gembala lainnya – Lukas 2:8. Juga, binatang, anjing penjaga, lazim pula dibawa di dalam rombongan para gembala – bandingkan Ayub 30:1. Para gembala ternak, walaupun tinggal di kemah sebagai penginapannya – Kid.1:8, namun para gembala membawa perlengkapan seperti tongkat dan gada – Mazmur 23:4. Lengkap. Hidup berkelompok. Mereka membawa perlengkapan perlindungan diri dan perlindungan bagi binatang piaraannya. Walaupun tugas menggembala adalah tugas yang berat dan berbahaya – Kejadian 31:38-40; I Samuel 17:34-36; Yesaya 31:4; Yohanes 10:10-12, namun tugas menggembala dilakukan baik oleh para lelaki maupun wanita – Keluaran 2:16. Di samping itu, tugas menggembala dilakukan juga baik oleh orang berusia dewasa maupun oleh orang muda – I Samuel 16:11-12. Jadi, tugas menggembala adalah tugas yang cukup umum diemban di dalam masyarakat Israel-Alkitab. Kalau pun ada, faktor keberanian dan ketakutan adalah sesuatu yang biasa. Menjadi petarung demi membela binatang piaraannya adalah juga merupakan bagian dari pekerjaan seorang gembala – Amos 3:12.

Walaupun demikian, disebutkan di dalam Lukas 2:9, bahwa para gembala benar-benar berhadapan dengan kemuliaan Allah, yang terlihat pada kecemerlangan seorang utusan Allah, yakni Malaekat-Nya. Para gembala mengalami suasana ‘sangat ketakutan’, rasa takut-rasa ngeri – Lukas 2:9. Kehadiran Dia Yang Mahakudus dan Mahakuasa di tengah kehidupan keseharian membuat manusia takut walaupun terpesona juga, merasa ngeri namun memperhatikan juga cahaya kemuliaan itu. Dan yang pasti, mereka mendengarkan-memperhatikan pesan-suara yang disampaikan dan dipahami oleh mereka, yang ‘hanyalah’ sebagai para gembala. Perihal takut sekaligus kagum itu disebut ‘ajrih-asih’ (Jawa = takut-kagum-tertarik). Atau istilah lainnya disebut Tremendum et Fascinant (bahasa Latin, ‘tremendus’ = hebat, dahsyat, menggentarkan; ‘et’ = dan; Fascinatio = hal mempesonakan; pesona). Pengalaman batin atau pengalaman religius yang khas terhadap Dia Yang Kudus itu telah dialami oleh para gembala.

Pengalaman batin, bahwa TUHAN Allah, Yang Mahatinggi, menyapa manusia dalam kehidupan sehari-harinya, merupakan anugerah besar bagi manusia. Pengalaman itulah dasar yang sangat kuat bagi kehidupan manusia sebagai umat Allah. Bahwa kehidupan sehari-hari mungkin saja menderita, susah, namun tetap bersukacita. Sedih tapi bernyanyi juga.

Benang Merah Tiga Bacaan

Kahadiran Kristus sebagai Juruselamat menandai zaman atau era anugerah atau era rahmat bagi bangsa-bangsa. Era anugerah atau era rahmat itu terdiri atas lima hal.

Pertama, ketakutan versi para gembala – Lukas 2:10, teratasi; pengabaian umat Tuhan – Yesaya 6:12, diubah menjadi pengudusan – Yesaya 62:12; keterlantaran, pengusiran, dan kebinasaan – Yesaya 6:12 – 13a, diubah menjadi ketertebusan – Yesaya 62:12; keterabaian, seperti kota yang ditinggalkan – Yesaya 6:11-12, diubah menjadi keteladanan, ‘yang dicari’ – Yesaya 62:12.

Kedua, TUHAN bersungguh-sungguh, ‘bersumpah’ – Yesaya 62:8, menyelamatkan umat-Nya. TUHAN mengkondisikan begitu rupa dengan kuasa-Nya, sehingga penghisapan dan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan asing tertanggulangi – Yesaya 62:8-9.

Ketiga, kemuliaan, yang malahan menyilaukan dan menakutkan, menyisihkan dan mengasingkan wong cilik, diubah-Nya menjadi perlindungan dan rasa aman-nyaman (‘lampin-palungan’ – Lukas 2:12,16) bagi orang-orang yang rentan.

Keempat, waktu pemberlakuan tahun-rahmat adalah hari ini – Lukas 2:15. Zaman now. Pada zaman now, hal-hal kecil, wong cilik, justru menjadi penting. Orang yang berstatus sosial ‘rendah’ pun menjadi ‘orang penting’. Tanpa mereka hadir, keluarga menjadi tidak harmonis [bandingkan peran penting asisten keluarga, baby sitter, petugas kebersihan kota]. Pada era zaman now, kebijakan publik menjadi populer dan menarik karena berpihak pada hal-hal sederhana, hal-hal lokal dipublikasikan secara global [bandingkan ide tentang globalisasi]. Tugas menggembala, atau tugas melayani, justru semakin penting, semakin berpengaruh – Lukas 2:18,19.

Kelima, kelahiran itu bermujizat. Era anugerah atau zaman penuh rahmat itu bermujizat. Kelahiran Sang Juruselamat itu bermujizat. Istilah di dalam surat Titus 3:5 ‘permandian kelahiran kembali’ itu bermujizat. Tidak ada orang yang terlalu tua, alias kadaluwarsa, atau terlalu dini alias prematur untuk diperbarui hidupnya. Pembaharuan hidup bukanlah kemustahilan. Kemurahan-Nya belaka menciptakan segalanya menjadi semakin bersih, gemilang.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Kita tentu mengenal istilah amnesti pajak, pengampunan bagi subjek wajib pajak. Pengampunan itu diberikan oleh Pemerintah berdasar Undang-Undang nomor 11 tahun 2016. Itu berarti kesempatan bertobat bagi subjek wajib pajak. Dengan kebijakan amnesti pajak, maka subjek wajib pajak berkesempatan untuk ‘lahir baru’ sebagai subjek yang bertanggung jawab membayar pajak, sebagai warga negara republik. Kewajiban membayar pajak dalam jumlah yang seharusnya dibayar secara ajeg dari waktu ke waktu, kalau pun ternyata pernah lalai dan tidak persis jumlahnya serta tidak ajeg dibayarkannya, padahal telah berlangsung selama bertahun-tahun, kondisi itu dinetralkan, diputihkan oleh Pemerintah. Pemutihan hutang merupakan kebijakan baru, dalam kehidupan bermasyarakat. Batas waktunya adalah tahun 2015, lalu, tahun berikutnya, khususnya tahun 2016, adalah pemberian kesempatan baru untuk memulai hidup yang baru sebagai subjek wajib pajak. Seluruh tahun 2016, bahkan berakhir hingga 31 Maret 2017, adalah kesempatan bagi subjek wajib pajak memulai lembaran hidup yang baru sebagai warga negara, khususnya dalam hal menunaikan kewajiban membayar pajak. Kelalaian pada waktu yang lalu diputihkan. Sejak 31 Maret 2017 dimulai babak terbaru bagi wajib pajak. Bersamaan dengan itu, setiap warga negara Republik Indonesia berhak memiliki kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), seukuran KTP (Kartu Tanda Penduduk).

Berdasar kartu NPWP, seterusnya, setiap subjek wajib pajak secara resmi memiliki hak yang jelas sebagai pemilik negeri merdekanya, republik (kekuasaan di tangan rakyat).

Dengan demikian, peran penting amnesti pajak adalah pemberian kesempatan bagi warga negara, secara nasional, apapun musabab kelalaiannya memenuhi kewajiban membayar pajak, agar menghitung sendiri seberapa besar kewajiban harus dibayar, seberapa banyak hartanya, seberapa besar pendapatan pertahun. Sejak April 2017 dan seterusnya subjek wajib pajak, yang adalah subjek pemilik negeri, telah memenuhi kewajiban sekaligus menegaskan dirinya sebagai pemilik hak untuk mendapat pelayanan terbaik dari Pemerintah Republik Indonesia (bandingkan, antara lain: https://www.youtube.com/watch?v=3RXYNtFWTXA)

Yang menarik adalah ide tentang kesempatan memperbaiki diri, kesempatan berubah agar benar-benar berubah menjadi pemegang hak dan setia memenuhi kewajiban, khususnya bagi setiap subjek wajib pajak. Supaya benar-benar berubah-membaik, dibutuhkan seorang penguasa yang baik hati, yang sedemikian bijak, sehingga penguasa itu lebih memilih mengampuni kelalaian warga negara dari pada menghukumnya secara langsung. Era baru dimulai babak baru. Dan, babak baru itu adalah pengampunan. Tidak serta-merta dijatuhkan sanksi atau hukuman atau denda. Melainkan diputihkan dari sanksi, setelah dihitung secara persis dan diketahui serta disadari secara persis oleh subjek pengemban kewajiban, yang juga sekaligus sebagai pemilik hak.

Dalam sebuah sistem pemerintahan sebuah negara, pemberlakuan amnesti pajak menjadi tanda pemberlakuan prinsip anugerah (=hadiah, karunia, pemberian). Pihak berwenang boleh dan sah jika dia menjatuhkan hukuman. Namun, sebaliknya, pihak yang sama itu boleh dan sah jika dia menghapus hukuman. Penghapusan hukuman itulah salah satu gagasan dasar dari istilah ‘anugerah’. Contohnya, Presiden Nelson Mandella, di Afrika Selatan. Dia memberlakukan pengampunan kepada para pelanggar Hak Azasi Manusia, asalkan para pelanggar HAM itu dengan rendah hati berkenan diusut pelanggarannya secara hukum formal. Sampai dengan tahap akhir proses hukum formal berlangsung, diputuskan oleh pengadilan seberapa besar / berat hukuman bagi pelanggar HAM. Selebihnya, Presiden Nelson Mandella secara resmi memberi pengampunan kepada para pelanggar HAM tersebut. (Kisah pengampunan versi Afrika Selatan terdapat di dalam buku yang ditulis oleh Desmond Tutu, Tiada Masa Depan tanpa Pengampunan: Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan, terjemahan (Solo-Indonesia: Ciscore, 2001)

Di Indonesia, mirip dengan kisah pengampunan di Afrika Selatan itu, dibuat kebijakan baru tahun 2015 – 2017, yaitu kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Dan, yang menarik adalah bahwa pendapatan negara, khusus dari tax amnesty mencapai Rp 107 trilyun lebih. Menurut penegasan Menteri Keuangan Republik Indonesia, kebijakan baru berupa tax amnesty itu benar-benar baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. (Tentang penjelasan rincinya, periksa http://setkab.go.id/defisit-apbnp-2016-rp-307-triliun-tax-amnesty-sumbang-pendapatan-negara-rp-107-triliun/)

Isi

Natal Tuhan Yesus Kristus dirayakan oleh banyak orang di seluruh dunia, hari ini. Sang Juruselamat Dunia sedang terlahir di bumi. Dia membawa Kabar Baik yang dirindukan oleh manusia di mana pun. Ialah kabar baik tentang pengampunan alias dimulai-Nya Zaman Anugerah yang sedang diberlakukan-Nya – didorong-Nya agar mewujud di dalam sejarah bangsa manusia.

Era anugerah itu, yang terdiri atas 5 hal, bersifat maju berkelanjutan. Dimulai sejak Natal pada waktu lampau, bergulir terus, mewujud terus, dengan berbagai bentuknya, hingga dewasa ini.

Pertama, ketakutan seperti yang dialami oleh para gembala – Lukas 2:10, teratasi sudah. Ketakutan yang khas wong cilik adalah ketakutan terhadap penganiayaan atau segala bentuk penindasan oleh pihak yang sedang berkuasa. Biasanya, semakin besar kekuasaan seseorang, dia juga cenderung sewenang-wenang. Menurutnya, kalau saja semua bentuk kekuasaan (misalnya: kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan yudikatif) dapat dikuasai hanya oleh satu orang saja, atau sekelompok kecil orang-orang berkuasa, maka penguasa segala kekuasaan itu semakin cenderung bersikap sewenang-wenang. Karena, dipikirnya, semua kekuasaan yang disandangnya bisa kapan saja dipergunakan untuk membenarkan diri sendiri. Dirinya sendiri tidak akan dapat dinyatakan bersalah oleh dirinya sendiri. Dengan demikian, diri sendiri selalu dibenarkan dan dinyatakan baik.

Sementara itu, orang lain, selain diri sendiri, bisa dengan mudah dipandang rendah dan direndahkan. Orang lain, dengan demikian, berada pada posisi serba berbahaya, serba merasa terancam keselamatannya saat berhadapan dengan sang penguasa. Apa lagi ditambah dengan faktor keterbatasan wawasan. Keterbatasan mereka yang berstatus sosial rendah akan membuatnya semakin direndahkan. Walaupun para ahli ilmu pendidikan telah mengingatkan, bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan sama martabatnya, namun peringatan itu tidak bisa dirasakan positif bagi orang yang dipandang rendah oleh orang lain. Pengalaman wong cilik membuktikan, bahwa nasib mereka sebagai wong cilik adalah dijadikan korban.

Jangan takut! Begitulah pesan malaekat TUHAN kepada para gembala di padang yang sedang menjaga kawanan hewan piaraannya. Era baru, zaman yang baru, sedang diberlakukan sejak hari Natal Yesus Kristus. Karenanya, jangan takut! Kalau pun seseorang pernah merasa dirinya rendah, bersalah, pelanggar-hukum, atau lalai memenuhi kewajiban, hanya tahu menuntut hak, maka pada era baru, zaman yang baru, diumumkan kepada khalayak, bahwa pengampunan sedang hendak diberlakukan. Terutama pengampunan diberlakukan bagi mereka yang dengan sadar dan rendah hati bersedia menilai dirinya sendiri: apakah dia bersalah, bersalah apa, dan bersediakah berendah hati memohon untuk dibebaskan dari hukuman, jika jawabnya bersedia, maka pengampunan diberlakukan. Sebaliknya, jika orang lebih memilih menolak berendah hati, alias memberontak, maka selayaknya mereka mendapat hukuman sebagai pemberontak.

Kalau dipositifkan, maka ungkapan ‘jangan takut’ berarti: sikap batin yang merasa terlantar atau terabaikan – Yesaya 6:12, diubah oleh TUHAN menjadi pengudusan dan dijadikan sosok teladan ‘yang dicari’ – Yesaya 62:12. Dengan cara itu, seseorang ditempatkan sebagai subjek. Suaranya, usulnya, aspirasinya atau tuntutannya, benar-benar didengar dan berpengaruh pada pihak lain. Begitulah suara kesaksian para gembala, sebagai penerima kabar baik, didengar oleh setiap orang yang hadir di seputar bayi Yesus. Kesaksian para gembala bahkan disimpan baik-baik di dalam hati Ibu Maria.

Ternyata kabar baik bagi wong cilik seperti para gembala, yang pada dasarnya adalah seorang subjek, yang benar-benar mampu bersaksi dengan baik, dimulai dari pengangkatan martabatnya, pemberian pengalaman berjumpa / dijumpai oleh Tuhan Allah di dalam konteks pekerjaan sehari-harinya. Pengalaman dilingkupi kemuliaan Yang Ilahi, yang membuatnya gentar tapi juga sangat menyemangatinya, telah mengangkat harkat dan martabat gembala binatang piaraan menjadi ‘gembala hati’ bagi setiap orang yang sedang mendengarkan kabar baik yang dibawanya, disaksikannya. Pengalaman pencerahan dialami oleh para gembala. Pengalaman ‘manunggaling kawula lan Gusti’ (kebersatuan antara abdi dan tuan) dialami oleh para gembala.

Kedua, TUHAN bersungguh-sungguh, ‘bersumpah’ – Yesaya 62:8 untuk menyelamatkan umat-Nya. TUHAN mengkondisikan begitu rupa dengan kuasa-Nya, sehingga penghisapan dan penindasan oleh kekuatan bangsa asing tertanggulangi – Yesaya 62:8-9. Dengan demikian, umat TUHAN berkesempatan untuk menjadi subjek yang bermartabat sebagai pemilik atas negeri pemberian TUHAN kepadanya. TUHAN memerdekakan umat-Nya dari penindasan kekuasaan lain (bangsa asing) yang sewenang-wenang. TUHAN memerdekakan.

Persis pada kesadaran pemerdekaan atau pembebasan itulah, misalnya, bangsa Indonesia menegaskan dalam kesadaran-religiusnya sebagai bangsa Indonesia yang religius. Ditegaskannya, bahwa kemerdekaan Indonesia, sebagaimana kemerdekaan setiap bangsa, adalah haknya, maka tidak absah sekiranya bangsa lain menjajah bangsa lainnya apapun bentuknya. Dan, perjuangan untuk menjadi sebuah bangsa yang bermartabat, yang merdeka dan berdaulat, telah diberkati oleh TUHAN. Penjajahan atas bangsa Indonesia pun, kiranya, dengan serius dipandang oleh TUHAN sebagai penghinaan martabat manusia sebagai sesama ciptaan yang berharga di hadapan-Nya; kalau ungkapan di dalam Yesaya 62, keseriusan TUHAN itu diungkapkan dengan istilah ‘bersumpah’. TUHAN merahmati bangsa Indonesia. TUHAN tidak berkenan pada penjajahan (periksa penegasan Alinea ke-3 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945).

Pada gilirannya, dalam perjuangan yang panjang untuk mengisi kemerdekaannya, tentu saja, diupayakan berbagai langkah pemerdekaan martabat bangsa Indonesia, dari terjajah, dari statusnya sebagai objek kebaikan hati pihak lain, diupayakan pemerdekaan secara istimewa, yakni dorongan khusus, pengampunan dan pemberian kesempatan untuk memulai babak baru sejarah hidupnya sebagai subjek pemilik negeri merdeka. Adapun salah satu bentuk penegakan martabat rakyat Indonesia, pada tahun 2015-2017 dipancangkan tonggak sejarah baru, yakni pengampunan pajak bagi subjek wajib pajak. Dalam hal ini, kita sebagai bangsa Indonesia patutlah bersyukur. Era anugerah terus-menerus terterjemahkan secara nyata.

Ketiga, kemuliaan, yang berpotensi menyilaukan dan menakutkan, menyisihkan dan mengasingkan wong cilik, diubah menjadi perlindungan dan rasa aman-nyaman (simbolnya: ‘lampin-palungan’ – Lukas 2:12,16). Bagi orang-orang yang rentan status sosialnya (tumpang karang di pekarangan orang lain, penyewa yang terbatasi waktunya) atau kondisi (fisiknya, kesehatannya, perekonomiannya), mereka itu rentan, sekali terusir oleh pemilik harta, maka martabat sebagai penumpang, nunut, pengutang, benar-benar terancam keamanannya dan kenyamanannya.

Orang berutang, kalau sadar bahwa dia sedang berutang, apa lagi berjumlah sangat besar, pada saat diketahui status berutangnya, mereka menjadi rentan (lemah, rapuh, ringkih). Pengutang itu, kalau sebenarnya dia kaya, hartanya banyak disimpan di Bank tertentu di dalam negeri atau di luar negeri, yang tidak atau belum pernah dilaporkan kepada Pemerintah Indonesia, berarti mereka pelanggar ketentuan hukum perpajakan. Seorang pelanggar sepantasnya langsung diproses pengadilan. Semakin panjang rentang waktu pelanggarannya, semakin lama hukuman bisa ditimpakan padanya. Pada posisi itu, seorang pelanggar ketentuan hukum perpajakan berada dalam posisi rentan (lemah, rapuh, ringkih).

Namun, pada saat seseorang yang rentan diampuni dan diberi kesempatan untuk bangkit dari kerentanannya, maka respon bersyukurnya menjadi syukur yang sangat besar. Sebagai contoh dalam hal tax amnesty di Indonesia pada kurun waktu 2015-2017, jumlah pemasukan dana dari subjek wajib pajak pada tahun 2016, khusus dari penerimaan pembayaran tax amnesty sebesar Rp 107 Trilyun, dari Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2016 berjumlah Rp 307 Trilyun. (Tentang penjelasan rincinya, periksa http://setkab.go.id/defisit-apbnp-2016-rp-307-triliun-tax-amnesty-sumbang-pendapatan-negara-rp-107-triliun/). Angka tersebut hanyalah sebagai gambaran, betapa positif respon subjek wajib pajak menerima pengampunan dan menerima kesempatan baru untuk memperbaiki diri, untuk mengangkat martabatnya sebagai pemilik negeri yang juga tahu bersyukur secara khusus. Dalam batas tertentu, boleh dikatakan, bahwa bangsa Indonesia tahu bersyukur, justru pada saat diperlakukan sebagai subjek yang diampuni, diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan martabatnya sendiri.

Keempat, waktu pemberlakuan tahun-rahmat adalah hari ini – Lukas 2:15. Zaman now. Ia bukanlah glorifikasi (mengagung-agungkan) masa lalu betapapun masa lalu itu serba hebat; ia juga bukanlah sekadar mimpi masa depan yang tinggi hati lalu menyepelekan prestasi sederhana yang sedang bersemi dan bertumbuh pada masa kini. Ungkapan kesaksian orang-orang yang hidup kekiniannya sedang berada di pinggiran-panggung sejarah pun, yakni para gembala, sedang berpengaruh terhadap sikap orang-orang yang mendengarkannya – Lukas 2:18,19.

Yang dipentingkan adalah hari ini. Perbaikan dilakukan dimulai pada hari ini. Pertobatan dimulai pada hari ini. Apresiasi diberikan pada prestasi sederhana pun pada hari ini. Bahkan kalau sesekali orang tua zaman old harus belajar kepada anak-anak zaman now, terimalah sebagai kabar baik. Usah dianggap orang muda berbuat tidak sopan kepada orang tua, melainkan dianggap saja sebagai berkah. Kalau diumpamakan tanaman, apa yang ditanam baik oleh orang tua, kini telah bertumbuh dengan baik pula. Mereka telah mewarisi kebaikan orang tuanya, mampu menolong orang tua dan berbaik hati kepada orang tua. Diperlakukan demikian, orang tua menerima saja dengan sikap happy (berbahagia).

Kelima, proses kelahiran ciptaan baru yang bermujizat, bagaikan kelahiran Sang Juruselamat, merupakan anugerah atau rahmat. Dengan demikian, sejarah pemurnian dan pembersihan hidup sedang diberlakukan. Istilah Titus 3:5 adalah proses ‘permandian kelahiran kembali’. Bayi murni sedang dilahirkan. Generasi murni sedang dilahirkan. Keluarga yang telah bertahun-tahun menjalani hidup perkawinan juga terus dimurnikan. Bangsa Indonesia pun sedang menempuh gaya berbangsa yang baru, dengan dicanangkannya pengampunan pajak.

Tidak ada orang yang terlalu tua, alias kadaluwarsa, atau terlalu dini alias prematur untuk diperbarui hidupnya. Pembaharuan hidup bukanlah sesuatu yang mustahil bagi siapapun, kapanpun. Kemurahan-Nya belaka, berupa kesediaan-Nya untuk menerima-memproses-menjadikan embrio baru yang murni-bersih, sampai terlahir bayi atau generasi yang baru, menjadikan pembaharuan hidup benar-benar terjadi, nyata.

Dalam hal contoh tax amnesty yang sangat bersejarah, yang bahkan mungkin belum pernah terjadi sejak dan selama Republik Indonesia berdiri sampai dengan tahun 2015-2017, rakyat Indonesia secara nyata dan bersama-sama, memasuki era baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mungkin pembaruan yang satu ini, yang bersifat bersama-sama diberlakukan serentak bagi seluruh rakyat, melalui ketetapan hukum formal berupa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016, layak disebut sebagai kelahiran kembali bangsa Indonesia. Walaupun mungkin tidak sampai mencapai angka 100 persen keterlibakan setiap subjek pemilik negeri Indonesia, namun secara batin, pengumpulan dana sampai Rp 107 Trilyun lebih dalam waktu kurang lebih selama satu tahun, itu merupakan catatan sejarah kelahiran baru bangsa Indonesia. Itulah semacam Kebangkitan Nasional Indonesia pada zaman now.

Penutup

Berbahagialah setiap bangsa, setiap keluarga, atau setiap pribadi yang yakin, setia, dan bersungguh-sungguh bersyukur karena mereka berada di dalam proses dihadirkan – dilahirkan oleh TUHAN Sang Pencipta Sejarah menuju pembaruan Kerajaan-Nya, yang didahului dan ditandai dengan kesediaan untuk dimurnikan, dibersihkan, dan dikuduskan di dalam naungan anugerah-rahmat TUHAN. Amin.

Nyanyian: KJ. 450

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti Yesus Kristus,

Kita tamtu sampun mireng utawi pirsa babagan amnesti pajak (tax amnesty). Punika wujud pangapunten tumrap ‘subjek wajib pajak’ ingkang kaparingaken dening Pemerintah adhedhasar Undang-Undang nomer 11 tahun 2016. Tumrap ‘subjek wajib pajak’ amnesti pajak ateges satunggaling kalonggaran kinen ‘mratobat’. Lantaran amnesti pajak punika, ‘subjek wajib pajak’ kasagedaken ‘lair anyar’ pinangka paraga ingkang atanggel jawab ngaturi pajeg dhateng sang nata agung, pinangka warga negari Republik Indonesia. Kuwajiban ngaturi pajeg ingkang yektosipun ageng sanget, maligenipun tumrap subjek wajib pajak ingkang dereng memenuhi kewajiban ngaturi pajeg matahun-tahun saderengipun 2015 ngantos pungkasan tahun 2015, sauger dipun itung kanthi teliti lan jujur saha dipun serat kanthi cetha, nunten dipun putihaken dening Pemerintah. Lajeng, wiwit tahun 2017, sasampunipun 31 Maret 2017, saben ‘subjek wajib pajak’ badhe kanthi jujur lan ajeg ngaturi pajeg dhateng Pemerintah.

Nyarengi kebijakan amnesti pajak punika, peran penting-ipun NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) saya mindhak penting. NPPW dados dokumen penting kadosdene Kartu Tanda Penduduk (KTP) tumrap rakyat Indonesia, tumrap subjek wajib pajak.

Werdinipun amnesti pajak inggih punika pinangka kanugrahan lan kalodhangan tumrap subjek wajib pajak saindenging Nusantara. Saben tiyang pinangka subjek wajib pajak kaparingan kalonggaran ngetang piyambak gunggungipun tunggakanipun piyambak ingkang mesthinipun kabayar dhateng Pemerintah. Lirwanipun kedah kaetang piyambak: pinten kaskayanipun, pinten pendapatan salebeting setahun. Lajeng, adhedhasar ketentuan resmi saking Pemerintah, kagunggung piyambak kewajiban ingkang kalirwakaken dening warga negara. Menawi sampun kawiwitan ing tahun 2016 mbayar pajeg, salajengipun, kawiwitan April 2017 subjek wajib pajak mesthi ngaturi pajeg kados samesthinipun ingkang sampun kaserat piyambak dening ‘subjek wajib pajak’ (Babagan pengampunan pajak punika, prayogi ugi kapirsanan ing internet, mawi alamat: https://www.youtube.com/watch?v=3RXYNtFWTXA)

Ingkang nengsemaken inggih punika reraosan babagan kalodhangan tumrap rakyat murih gesang cara enggal. Ingkang kaangkah inggih punika saestu saged-a gesang ingkang enggal, ingkang sae. Saged-a saben tiyang pinangka ‘subjek wajib pajak’ nuhoni ngaturi pajeg pinangka kuwajiban. Malah boten kaanggep awrat, nanging malah kepara katindakaken kanthi lila legawa, lahir batos. Ing bab punika, kabetahaken Pamarentah ingkang berbudi, wicaksana, lantip ing panggraita, nunten Pamarentah langkung nengenaken paring pangapunten tumrap rakyat nadyan mbalela. Boten kumedah-kedah paring paukuman. Nanging malah paring kalonggaran murih mratobat saking margi ingkang lepat. Ingkang makaten punika saestu prakawis ingkang enggal. Zaman enggal kawiwitan mawi lakon enggal, inggih punika paring kalonggaran murih sami gumregah. Pinanggiha kalepatan, boten dipun ukum utawi dipun dhendha sanalika. Nanging ingkang lepat wau malah dipun putih-aken sadaya tunggakan / tanggelan. Tamtu kemawon, saben ‘subjek wajib pajak’ kedah ngetang lan nyerat saestu, kanthi patitis tanggelanipun. Zaman enggal kawiwitan lampahan enggal, inggih punika paring pangapunten.

Ing Indonesia, amnesti pajak dados pratandha kelampahipun sih rahmat pinangka paugeran ingkang wigatos. Estunipun, Pamarentah wenang paring paukuman. Nanging, kosokwangsulipun, Pamarentah malah kepara paring pangluwaran. Pangluwaran punika satunggaling wujud sih rahmat ing jagading pamarentahan negari. Punika kadosdene cariyos sejarah enggal ingkang kagelar ing Afrika Selatan kawiwitan tahun 1990-an. Nalika punika Nelson Mandella mimpang salebeting Pemilu Afrika Selatan, 27 April 1994. Wiwit punika, Presiden Nelson Mandella miwiti paring pangapunten tumrap pelanggar HAM, sinten kemawon, ingkang purun dipun proses pengadilan, tumrap tumindakipun ingkang kamitegan mejahi rakyat sipil kanthi warni-warni panyiksa ngantos kathah rakyat ing Afrika Selatan dados kurban. Para Pelanggar Hak Azasi Manusia wajib ngakeni salah dan dosanipun ing sangajenging Jaksa lan Hakim. Dene menawi sampun cetha lan tlesih saestu, salajengipun, Presiden Mandella pinangka Pamarentah Afrika Selatan paring pangapunten. Wong luput disepura. Boten sacara pribadi. Nanging sacara nasional (Babagan caririyos sejarah pangapunten ing Afrika Selatan punika katiti-priksa-a ugi buku ingkang kaserat dening Desmond Tutu, Tiada Masa Depan tanpa Pengampunan: Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan, terjemahan (Solo-Indonesia: Ciscore, 2001).

Ing Indonesia, pangapunten ugi kaparingaken dening Pamarentah, mawi paugeran Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2016, tumrap rakyat ingkang sampun mataun-taun boten kanthi tlesih ngakeni pinten barang darbekipun ingkang mesthinipun wajib ngaturi pajeg dhateng Pamarentah. Memper kaliyan lelampahan ing Afrika Selatan wau, ing Indonesia kawibawarakaken bab amnesti pajak utawi Pengampunan Pajak. Menggah titi mangsanipun, inggih punika wiwit tahun pinten-a kemawon ngantos pungkasan tahun 2015.

Isi

Natal-ipun Gusti Yesus Kristus kapahargya dening tiyang kathah ing sajagad, ugi ngantos dinten punika. Sang Juruwilujenging jagad saweg miyos ing bumi. Panjenenganipun ngasta pawartos rahayu ingkang tinengga dening tiyang kathah ing sajagad, inggih punika bilih mangsa kababaring sih rahmad saweg kawujudaken ing satengahing bebrayan.

Zaman anugerah utawi mangsa kababaring sih rahmad, ingkang ngemu suraos 5 prakawis, punika maujud terus, bersinambung wiwit Natal-ipun Sang Kristus ngantos zaman kita samangke, zaman now.

Sepisan, raos ajrih kados ingkang kaalaman dening para pangon – Lukas 2:10, kagantos raos tatag. Wong cilik kalurawan saking raos was sumelang lan kuwatos. Para priyagung kasinungan manah kebak pangapura ingkang tulus. Patrap ambegsiya, karana sadaya kekuasaan dipun regem dening pemimpin tunggal, kagantos sistem pembagian kekuasaan: legislatif, eksekutif, yudikatif. Lan malih, sistem pembagian kekuasaan punika dipun tuhoni. Saya mindhak maju, warganing masyarakat saya mindhak sadhar, bilih manungsa punika winates. Pramila sampun ngantos sadaya kewenangan dipun emban dening satunggal priyantun. Punapa malih menawi sacara nyata kepentingan-ipun wong cilik dipun gatosaken kanthi saestu, punika ingkang murugaken wong cilik kaayoman. Langkung-langkung, menawi para priyagung bermurah hati, paring pangapura dhateng warga negara ingkang lepat, punika saestu sae.

Aja wedi! Makatan kadhawuhaken dening malaekatipun Gusti. Punika ateges zaman ingkang enggal saweg kagelar, kawiwitan. Dhawuh pambuka ing zaman anugerah inggih punika: ‘Aja wedi!’ Sanadyan sakawit ajrih, nanging ing zaman enggal, pangapunten dipun andharaken awujud Undang-Undang lajeng Pemerintah utawi lembaga eksekutif dalan jajaran–ipun ngetog karosan murih sadaya warga negara sami wantun lan purun jujur ngakeni sadaya kaskayanipun. Ugi sami-a wantun membayar harga tumrap pelanggaran-ipun. Sauger tiyang sami wantun lan purun bares lan legawa, zaman enggal punika saweg kababar.

Menawi katembungaken sacara positif, ‘Ditatag atimu! Ngadeg-a pinangka satria..’ Raos-pangraos pinangka umat ingkang boten kanggep – Yesaya 6:12, nunten kagantos raos bombong pinangka umat pepijen ingkang pantes tinuladha, ingkang dipun padosi – Yesaya 62:12. Pawartos rahayu ‘Aja padha wedi! punika mapanaken umat pinangka subjek ingkang saestu diperhitungkan kehadirannya dan suaranya. Kadosdene para pangon kagatosaken paseksinipun dening para tiyang ingkang sami sapejagong ing kandhang Betlehem, ugi paseksi wau dipun simpen kanthi permati dening Ibu Maryam.

Bab ingkang alit dipun gemeni. Punika tundhanipun saged dados ageng. Bab ingkang sepele dipun gemeni, dipun wiwiti saking langkah pertama klayan ajeg, wusananipun dados berkah ingkang ageng. Contonipun pemasukan saking tax amnesty saindenging Indonesia, tahun 2016, gunggungipun Rp 107 Trilyun langkung. Punika sukses ingkang pantes tinuladha.

Kaping kalih, sadaya sukses punika etukipun utawi pinangkanipun saking Gusti Allah. Panjenenganipun milujengaken umatipun kanthi supaos – Yesaya 62:8. Ingkang pinurih: umat kagunganipun Gusti Allah nunten sami saged dados subjek pribadi mardika ingkang bermartabat, ugi masyarakat mardika-bermartabat.

Roh-mardika punika ugi ingkang rumasuk ing manahipun bangsa Indonesia, wiwit zaman proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Dipun yakini dening bangsa Indonesia, bilih kamardikanipun bangsa Indonesia punika wujud kanugrahan saking Gusti Allah (kacundhukna suraosipun Alinea 3 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945). Bangsa Indonesia mardika, rakyat Indonesia mardika, wong Indonesia mardika. Kamardikan punika berkah agung saking Gusti Allah, inggih Gustining Kamardikan. Panjenenganipun boten karenan tumrap pangawulan ing antawisipun manungsa.

Ing titiwancinipun, ing rerangken perjuangan mengisi kemerdekaan, bangsa Indonesia mbudidaya murih saben wong Indonesia ingkang diwasa, samya sembada kagungan hak lan sembada ugi netepi kewajiban klayan manah bingah. Bayarlah pajak. Penuhilah kewajiban. Milikilah martabat sebagai bangsa merdeka. Satunggaling pambudidaya saking Pamarentah awujud pengampunan pajak tumrap subjek wajib pajak. Punika pambudidaya ingkang saestu enggal ing babagan sistem hukum publik ing Indonesia.

Kita asaos syukur dhumateng Gusti Allah. Awit dene bangsa Indonesia kaparingan kesempatan miwiti malih nedahaken martabat dan harkat-ipun pinangka bangsa mardika yeyasanipun Gusti Allah-ing kamardikan.

Kaping tiga, kamulyan, ingkang malah ngantos blerengi lan ngajrih-ajrihi, menyisihkan lan nyebrataken wong cilik, kadadosaken perlindungan dalah rasa aman (simbolipun ‘gedhong-pamakanan’ – Lukas 2:12, 16). Tumrap para tiyang ingkang rentan status sosial-ipun (kadosdene: tumpang karang ing pekaranganipun ngasanes, nyewa pondhokan ingkang winates waktunipun), utawi tiyang ingkang ringkih (badanipun, kesehatanipun, perekonomian-ipun), punika kawastanan ringkih, terancam keamanan dalam kenyamanan-ipun.

Tiyang ingkang kedah mbayar tanggelanipun, punapa malih menawi tanggelanipun ageng gunggungipun, nalika kapirsanan status berhutang-ipun, tiyang wau dados rentan (ringkih, rapuh). Awit, kanthi makaten, subjek wajib pajak pancen lajeng saged dipun bekta dhateng pengadilan lan dipun proses sacara hukum, malah saged dipun tahan, lan mesthi badhe saged dipun kunjara. Saya mindhak dangu rentang waktu anggenipun katalompen, badhe saya mindhak kathah paukuman-ipun, sae denda utawi dipun kunjara mataun-tahun. Ing kawontenan makaten, subjek wajib pajak punika wau dados saya mindhak rentan.

Nanging, nalika tiyang ingkang rentan dipun apura lan dipun paringi kesempatan murih saged gumregah malih, mesthinipun lajeng gumregah asaos syukur kanthi saestu. Pinangka conto babagan tax amnesty ing Indonesia, 2015-2017, jumlah pemasukan dana saking sujek wajib pajak ing tahun 2016 ngantos saged ngempal Rp 107 Triliun. Tahun 2016 punika gunggung Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN 2016) gunggungipun Rp 307 triliun. Angka kalawau namung saderma gegambaran, saestu sae tanggapanipun subjek wajib pajak nampeni pengampunan lan kesempatan enggal murih saged memperbaiki diri, murih martabat-ipun kajunjung dhuwur. Kanthi makaten tetela, bilih yektosipun bangsa Indonesia tahu bersyukur kanthi saestu nalika drajatipun kaangkat malih sarana pangapunten, sarana kaparingan kesempatan memperbaiki diri.

Kaping sekawan, Tahun Rahmad punika kawiwitan ing dina iki – Lukas 2:15. Zaman now. Tahun Rahmad punika sanes nggunggung-nggunggung masa lalu sanadyan masa lalu punika sae; Tahun Rahmad punika ugi boten ateges ngremehaken prestasi sederhana ingkang saweg tuwuh. Kababaring paseksinipun para saksi-iman saged ugi namung prasaja, kadosdene para pangon ing pajagongan ing Betlehem, nanging paseksi punika dipun gatosaken dening ngasanes – Lukas 2:18,19.

Ingkang baku inggih punika ‘ing dina iki’. Perbaikan dipun wiwiti ‘ing dina iki’. Pamratobat ugi dipun wiwiti ing dina iki. Mbombong raos-pangraosipun sesami katindakna ing dina iki. Malah ugi sae, menawi generasi old (para tiyang sepuh) kedah sinau dhateng para putra-wayah zaman now. Katampia bab punika pinangka berkah saking Gusti.

Kaping gangsal, proses kelahiran-ipun titah enggal ingkang kebak mujizat, kadya kababaring Sang Juruwilung, punika pinangka kanugrahan utawi pinangka sih rahmad. Sadhengah prakawis ingkang luhur-mulya-suci pinangkanipun saking Gusti Allah Sang Pamarta, pinangka peparing, nugraha, sih rahmad. Kamangka, proses ingkang kebak kaelokan punika saweg kababar ing salebeting sejarah gesangipun umat ingkang kaenggalaken gesangipun sarana ‘padusan kalairan kapindho’ – Titus 3:5. Bayi ingkang murni saweg kalairaken. Generasi ingkang murni saweg kababaraken. Makaten ugi brayat-brayat kita: brayat ingkang sampun gesang kanthi rukun mataun-taun, punika ugi dipun dadosaken murni saben dinten dening penguwaosing katresnanipun Gusti. Bangsa Indonesia, makaten ugi, saweg ngalami sejarah berbangsa ingkang enggal lantaran pengampunan tumrap subjek wajib pajak. Mujizat punika saestu-estu dados berkah mirunggan saking Gusti Allah tumrah dhateng bangsa Indonesia.

Boten wonten tembung ‘terlalu tua’ utawi ‘prematur’ menggah Gusti anggenipun paring mujizat wujud gesang enggal. Menggah Gusti Allah boten wonten prakawis ingkang mustahil. Gusti Allah ingkang Mahamirah tansah kepareng ing penggalih nampi-memproses-mbabaraken embrio ingkang enggal tur murni-suci-lan resik.

Ing babagan tax amnesty ingkang saestu bersejarahistimewa tumrap Indonesia, lan dereng nate wonten saderengipun tahun 2015-2017, rakyat Indonesia sacara nyata dan sesarengan, saweg lumebet ing zaman enggal. Saged ugi pembaruan wujud tax amnesty punika dereng ngantos kalampahan kanthi waradin, artosipun taksih wonten warga negara ingkang dereng nuhoni wajibipun ngaturi pajeg dhateng sang nata agung. Wosipun, bangsa Indonesia anggenipun lahir baru saestu taksih wujud bayi ingkang taksih alit sanget. Ewasemanten, kita asaos syukur, dene punapa kita, bangsa Indonesia katangekaken malih dening Gusti Allah, dilahirkan baru dening panguwaos lan katresnanipun Gusti Allah. Inggih punika wujudipun KELAHIRAN BARU Indonesia ing zaman now.

Panutup

Rahayu para bangsa, keluarga, ugi saben pribadi ingkang kumandel, setyatuhu, lan kanthi saestu tumemen asaos syukur, amargi sami rumaos kalairaken enggal dening Gusti Allah ingkang Mahakawasa. Panjenenganipun kepareng yasa sejarah enggal inggih punika pambanguning kratonipun Allah ingkang saya mindhak wewah lan wetah. Proses punika kalampahan adhedhasar sih rahmad ingkang pinangkanipun saking Gusti Allah Sang Pamarta. Amin.

Pamuji: KPJ 125:1-3

 

Bagikan Entri Ini: