Mengasihi Khotbah Kamis Putih 9 April 2020

Kamis Putih
Stola Putih

Bacaan 1         :  Keluaran 12 : 1 – 4, 11 – 14
Bacaan 2         : 
1 Korintus 11 : 23 – 26
Bacaan 3         : 
Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35

Tema Liturgis :  Penyerahan Diri sebagai Wujud Ketaatan untuk Melakukan Kehendak Tuhan
Tema Khotbah
: Mengasihi

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 12 : 1 – 4, 11 – 14

  • Pokok ajaran Kristen didasarkan pada pribadi dan karya Yesus Kristus. Penumpahan darah-Nya adalah yang terpenting untuk tujuan-Nya datang ke dunia : Karena Allah tidak mengirimkan Anak ke dalam dunia untuk menghakimi dunia, tetapi agar dunia bisa diselamatkan melalui Dia” ( 3:17). “… Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr. 9:22).
  • Sejak Taman Eden, Tuhan telah mempersiapkan dunia untuk menerima pesan tentang darah Kristus. Keluaran dan perayaan Paskah Yahudi adalah bayangan dari karya Kristus di kayu salib.
    • Tuhan membuat acara yang paling signifikan dalam sejarah Yahudi dengan menetapkan penanggalan baru, kalender agama yang dibuat khusus untuk orang Ibrani. Kalender baru ini akan secara signifikan berbeda dari kalender Mesir. Acara ini menandai awal resmi dari lahirnya bangsa Yahudi.
      Catatan kaki : Nama asli Bulan adalah Abib dan berlangsung dari pertengahan Maret hingga pertengahan April. Setelah masa pembuangan, nama bulan diubah menjadi Nisan. “Tahun Baru” perayaan Rosh Hashanah adalah perkembangan kemudian dalam sejarah Yahudi. Hal ini terjadi pada musim gugur dan merupakan awal tahun sipil Yahudi.
    • Apa yang dilakukan ? Mempersiapkan anak domba setahun tidak bercacat yang akan disimpan selama empat hari sebelum disembelih pada waktu senja dan darahnya di oleskan pada ambang pintu rumah
    • Bagaimana prosesnya? Harus dipanggang cepat dan dimakan seluruhnya pada malam itu dengan tergesa-gesa dan sisa makannya harus dibakar. Dan ketika malam perjamuan para peserta harus berpakaian lengkap seperti hendak bepergian.
    • Mengapa harus diambang pintu rumah? Akan ada hukuman atas Mesir. Setiap rumah yang tidak ditandai dengan darah anak domba akan menderita penghakiman. Penghakiman itu adalah kematian semua anak sulung. Allah karena itu akan “melewati” rumah-rumah di mana darah ditorehkan. Acara ini akan selamanya dikenal sebagai “Paskah” dan harus dirayakan turun temurun. Alasannya jelas : akulah TUHAN.

1 Korintus 11 : 23 – 26

  • Pelayanan Perjamuan Kudus sekarang adalah peringatan untuk mengenang peristiwa masa lalu, kematian Yesus Kristus pada hari Jumat. Perjamuan Kudus dilaksanakan dalam pengharapan menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua, “ Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (ay. 26). Perjamuan Kudus yang berlangsung saat ini berada di antara dua peristiwa : masa lalu – kematian Yesus Kristus dan masa depan – kedatangan Yesus Kristus. Ini berarti di dalam perjamuan Kudus, orang percaya merayakan kehidupan dari dan dengan Yesus Kristus yang bangkit.
  • Perhatikan lima hal khusus ini:
    • Pertama: Paulus di ayat 23 mengatakan demikian, “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan,”.  Paulus, tidak menerima perintah (mandatum) Yesus untuk melaksanakan perjamuan – sebelum pertobatannya, itu baru ia terima sesudah bertobat dan mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.
    • Kedua: Paulus merujuk urutan pelayanan perjamuan Yesus dengan murid-muridnya di ruang atas, “pada malam waktu Ia diserahkan” yakni mengucap syukur, membagikan roti kemudian anggur (ay. 24-25).
    • Ketiga : perjamuan di masa lalu ini dibawa terus ke masa depan (dihadirkan kembali/dilaksanakan-berulang-ulang) “perbuatlah ini”.
    • Keempat : makna kehadiran Yesus dalam perjamuan Kudus, “Menjadi peringatan akan Aku!” Artinya Yesus Kristus menjadi tujuan, bukan obyek yang dikenang tetapi subyek. Kenangan akan Kristus, menghadirkan bukan hanya penghayatan penderitaan salib,  kematian tetapi juga sukacita kebangkitannya seperti dituliskan Ibrani 12 : 2, “Ia telah menderita kematian di kayu salib, tetapi Ia menerima kehinaan salib itu seakan-akan bukan apa-apa. Ia melakukannya karena sukacita yang disediakan bagi-Nya. Dan sekarang Dia duduk di tempat yang paling terhormat di surga”.
    • Kelima : bahwa perjamuan Kudus adalah ucapan syukur akan karya penebusan Yesus Kristus yang membawa berkat pengampunan dan menghantar janji kehidupan kekal bagi mereka yang melaksanakannya (ay. 25).

Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35

  • Yohanes 13:1-17 mencatat peristiwa khusus yang dilakukan Yesus untuk murid-muridnya di ruang atas sebuah rumah, tempat mereka merayakan Paskah. Pada waktu itu Yesus mempersiapkan para murid untuk kematian-Nya dan memberitahu pekerjaan yang akan mereka lakukan setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Di ruang atas inilah Yesus memberikan tiga hal yang penting dilaksanakan oleh para pengikut-Nya.
    1. Kerendahan hati
      1. Ayat 1 – 3 menekankan apa yang “diketahui” Yesus : a) saat-Nya sudah tiba (bdk.Yoh 2:4. ; 5:25 ; 7:6 ; 7:30 ; 8:20) dan b) Ia datang dari Bapa dan setelah melakukan pekerjaan Bapa, Ia akan kembali kepada Bapa.
      2. Ayat 4 – 6 memberi penekanan tentang apa yang “dilakukan” oleh Yesus : kebenaran Firman Allah nampak dalam tindakan kasih.
      3. Yesus adalah Penguasa Sejati (Ayat 3), namun Dia menempatkan diri sebagai seorang hamba; (lihat Luk 22 : 24-27) Dia memiliki segala sesuatu di genggaman tangan-Nya, namun Ia memilih mengambil lap pembersih; Dia Tuhan dan Guru (ayat 14), namun Ia merendahkan diri dan membasuh kaki murid-muridnya.
      4. Kerendahan hati tumbuh dari hubungan yang benar dengan Bapa dan tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri- sama sekali. Teladan Kristus kerendahan hati tidak lahir dari kemiskinan, tetapi dari kekayaan-Nya (Bdk. 2 Kor 8:9). Yesus memberikan contoh/keteladanan pribadi yang rendah hati dalam melayani untuk ditiru oleh semua pengikut-Nya (ayat 13-16).
    2. Kekudusan
      1. Ada perbedaan antara “union” (=persatuan) dan “communion” (=persekutuan). Petrus menjadi milik Kristus dipersatukan oleh iman, tetapi dosa dapat mematahkan “persekutuan” dengan-Nya. Ketika kita membiarkan Kristus mengkuduskan kita, maka kita berada dalam persekutuan dengan-Nya, menikmati kehadiran dan kuasa-Nya.
      2. Ketika kita diselamatkan, kita dicuci seluruhnya/mandi ( 1 Kor 6: 9-11; Titus 3: 5-6); ketika kita mengaku dosa kita sehari-hari kepada Tuhan kita mengalami kaki kita dicuci oleh firman Allah dan kami berjalan, berbicara, bertindak dalam keadaan bersih. (Yoh 15 : 3, 1 Yoh 1 :5-10, Ef 5 : 25-26)
      3. Kita berkomitmen setiap hari untuk Firman-Nya, membiarkan Roh Kudus untuk memeriksa hati kita ( 4:12), Dan kemudian mengaku dosa kita, kita menjaga kaki kami bersih, sehingga untuk berbicara dan terus berjalan dalam terang. (Mazmur 119: 9) Ini adalah pembersihan sehari-hari yang membuat orang percaya tetap dalam persekutuan (communion) dengan Kristus.
      4. Banyak orang percaya mengulangi kesalahan Petrus (ayat 9) yang ingin berulang kali diselamatkan (-Baptis/mandi), padahal yang mereka butuhkan adalah pembersihan kaki, bagian dari kita yang datang ke dalam kontak sehari-hari dengan dunia.
    3. Kebahagiaan
      1. Ayat 17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Ketika kita rendah hati melayani orang lain, berjalan dengan kekudusan Allah dan tindakannya diterangi Firman-Nya, orang percaya mengalami kebahagiaan yang tidak terbatas mengatasi keadaan apapun di dunia.
      2. Kita dapat mulai meniru/meneladani kehidupan Kristus : mengasihi Allah dengan menjaga kekudusan dalam kehidupan sehari-hari, melayani orang lain dengan rendah hati, mengekspresikan kehidupan yang penuh sukacita karena diperbaharui oleh Firman Allah dalam praktek kehidupan
  • Ayat 31b-35 berkaitan dengan waktu pemenuhan Anak Manusia dipermuliakan. Yesus mengatakan kepada Petrus “seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi” (ay. 33). (lihat juga Yoh 7:33-36;8:21-24), maksudnya bahwa waktu kematian Yesus telah dekat, dan catatan yang sama seperti di awal perikop 13:1 juga ditegaskan lagi pada ayat 34-35 : Semua diawali dengan kasih Yesus yang mendalam kepada murid-muridnya, demikian Ia memberikan “perintah baru” untuk saling mengasihi karena itulah bukti sejati bahwa mereka murid-murid Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan :

Bangsa Israel atas perintah Tuhan menandai peristiwa di mana mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Tahun baru (diawali bulan Nissan) bagi mereka menjadi titik pijak masa depan yang baru menjadi umat milik kepunyaan Tuhan Allah. Mereka bukan lagi budak orang Mesir, bukan budak dari keinginan hawa nafsu mereka. Mereka adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan Tuhan dan dijadikan umat pilihan-Nya yang bermasa depan.

Perintah mengingat dan merayakan karya penyelamatan Tuhan dalam hidup orang percaya juga dinyatakan oleh Paulus saat meneruskan perintah melaksanakan perjamuan yang ia terima dari Yesus yang bangkit bagi jemaat Korintus. Bukan hanya menekankan pentingnya persiapan dan syarat-syarat mengikuti perjamuan yang kudus ini,  tetapi makna dari perjamuan kudus itu sendiri yang membawa perubahan arah hidup orang percaya : dari hidup yang hanya melayani kepentingan diri menjadi hidup untuk melayani sesama dan mewujudkan persekutuan yang hidup dalam kasih Kristus.

Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa (Yoh. 13:1). Yesus menyadari “waktu” dimana Dia kemudian mempersiapkan diri dan termasuk juga mempersiapkan para pengikutNya untuk dapat mengambil bagian dalam melaksanakan misi Allah ini. Ia mengkuduskan mereka dan memberi perintah serta keteladanan nyata tindakan kasih yang menjadi ciri utama bahwa mereka adalah murid-murid-Nya.

Kamis Putih – Maundy Thursday diambil dari serapan kata bahasa latin: mandatum (=perintah-amanat). Merujuk kepada kisah Injil Yohanes 13:34; dimana Yesus mengatakan, “Aku memberikan perintah (mandatum) baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Perintah ini menjadi penutup dari narasi Yesus yang merendahkan diri mencuci kaki murid-muridNya; Ia yang adalah Tuhan dan Guru yang mengajar dan memberikan keteladanan sempurna mengasihi tanpa pamrih (ay. 14).

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan

Mengapa Peringatan Paskah (Israel), Perjamuan malam Yesus (Paulus + Injil sinopsis), dan saling membasuh kaki saudara (Yohanes) menjadi sesuatu yang wajib dilakukan oleh orang percaya ?

Mengapa “saling mengasihi” harus menjadi sesuatu hal yang diperintahkan? Tidakkah itu berjalan secara alamiah seiring dengan hubungan yang semakin baik di antara kedua belah pihak yang berjalan bersama dan bukankah mengasihi itu bukan sesuatu hal yang dapat dipaksakan?

Dan mengapa Yesus menyebut bahwa ini adalah suatu perintah baru, padahal di Perjanjian lama sudah ada perintah untuk mengasihi Tuhan Allah (Ul 6:5) dan mengasihi sesama seperti dirimu sendiri (Im 19:18)?

Isi

Kebanyakan dari kita tidak suka mendengar kata perintah, terlebih jika diperintah oleh orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Perintah membuat kita tidak bebas memilih bersikap dan berbuat menurut kehendak dan kemauan kita sendiri. Taurat pun juga menyiratkan persoalan demikian : bahwa kehidupan adalah sebuah pilihan dan semoga kita memilih yang tepat. “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, “(Ul 30:19).

Seperti halnya orang Israel yang harus memperhatikan dan melaksanakan perintah (=amalan) untuk merayakan Paskah, demikian juga orang Kristen juga harus memperhatikan dan melakukan Perjamuan Kudus sebagai ungkapan rasa syukur atas karya penyelamatan Allah yang dalam Kristus Yesus. Bahwa dengan memperhatikan dan melaksanakan perintah ini orang percaya senantiasa terhubung dengan Yesus Kristus, Tuhan dan Gurunya serta tahu bagaimana menjalani kehidupannya sebagai pengikut-pengikutNya.

Motivasi dan alasan memperingati perjamuan Kudus

Sebagian orang percaya memahami akan ada konsekuensi buruk yang akan kita tanggung bilamana kita mengabaikannya, sebagian lagi positif melihat bahwa melakukan perintah ini merupakan sesuatu yang masuk akal oleh mereka yang bermoral. Ada juga yang mengatakan ini membawa kita kepada mutu kehidupan yang lebih tinggi dan membuat peradaban dunia menjadi baik. Ada juga yang beranggapan gak usah ditanyakan, cukup dilakukan saja karena ini bagian dari perjanjian Tuhan dengan umat milikNya.

Sebagian kelompok ada yang meyakini bahwa dengan melakukan perintah ini, kita mengidentifikasi dan bergabung dengan persekutuan Kristen yang lebih luas. Ada yang mengatakan ini perayaan sukacita, menyenangkan dan mempererat jalinan persaudaraan. Apapun alasan dan motivasi kita melakukan perintah ini yang terlebih penting, menurut penulis Injil adalah perbuatan/tindakan yang konkret daripada sekedar paham. Dan melakukan tindakan kasih-mengasihi kepada sesama/tetangga dimana kita tinggal bersama dengan mereka jauh lebih baik dari keyakinan yang ada di dalam hati. Perintah saling mengasihi adalah pendekatan/ciri khas orang Kristen menjalani hidup kudus di tengah dunia ini.

Sebuah Perintah baru

Berbedanya dengan Perjanjian Lama, meskipun penulis Alkitab menggambarkan Tuhan Allah dan karya-Nya secara anthromorfisme– seperti halnya manusia dan tindakan manusia : marah, cemburu, sabar, berjalan, menghukum, berfirman dll; Perjanjian Baru memberikan kesaksian tunggal atas FIRMAN ALLAH YANG HIDUP yakni Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri yang menjelma sebagai subyek dan tujuan dari kasih itu sendiri. Bahwa pengenalan akan Allah yang benar di dalam diri Yesus Kristus itulah membuat tindakan kasih itu menjadi betul-betul baru dan sempurna.

Penutup 

Perjamuan Kudus adalah perintah dan juga wasiat dari Yesus Kristus yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang percaya (Kristen). Disebut perintah karena Yesus Kristus yang bangkit itu Tuhan kita yang punya otoritas atas kehidupan kita dan disebut wasiat karena ini juga permintaan dari Guru sejati yang kita kasihi dan hormati.

Perjamuan Kudus bukalah sebuah pilihan atau sekedar nasehat yang terserah kita mau melakukannya atau tidak sehingga kita akhirnya tidak mempersiapkan diri dengan baik dalam mengikutinya seperti : tidak ikut persiapan (cawisan) dan datang terlambat bahkan lupa membawa persembahan. Namun begitu kita juga tidak harus datang ke meja perjamuan dengan ketakutan dan gemetar karena merasa berdosa dan tidak layaknya kita, tetapi justru dalam perjamuan Kudus kita merayakan sukacita penebusan Yesus Kristus yang membawa pengampunan dosa dan janji kehidupan kekal kepada kita orang berdosa ini. (PY)

 

Pujian :  KJ. 164   “Di Larut Malam yang Gelap”


RANCANGAN KHOTBAH: BASA JAWI

Pambuka

Geneya pahargyan Paskah (Israel), Bujana “Suci” (Paulus + sinopsis), lan ngwisuhi suku sadherek (Yokhanan) punika dados perkawis ingkang wajib ditindakaken dening tiyang pitados?

Geneya “tresna-tinresnanana” dados pepakon? Miturut unen-unen Jawi, “Tresna punika jalaran saka kulina”. Tegese tuwuh ngrembaka karana asring pinangih lan kathah perkawis ingkang sami nyecegi ing penggalih. Punapa saged katresnan punika ditrapake kanthi peksan dados pepakon?

Perkawis punapa dene Gusti Yesus mastani punika pepakon enggal, kamangka wonten ing Taurat pepakon punika sampun wonten; nresnani Gusti Allah (Pangandharing Toret 6:5) lan nresnani sapepadha kados badan piyambak (Kaimaman 19:18)?

Isi

Kepireng tembung “prentah” punika raosipun mboten sekeca ing talingan, punapa malih menawi kita diprentahi dening tiyang sanes kedah nindakaken perkawis ingkang mboten kita remeni. Wontenipun aturan ndadosaken kita mboten saged bebas milih lan nglampahi punapa ingkang dados pikajeng kita. Toret ugi kadosipun nggelaraken bilih gesang punika  pilihan lan mugi-mugi kita milih gesang, “Langit lan bumi padha dakgawe seksi lawananmu ing dina iki; urip lan pati wus dakgelar ana ing ngarepmu, apadene berkah lan laknat. Kang iku kowe miliha urip, (PT. 30:19).

Kados dene tiyang Israel ingkang kedah nggatosaken lan nindakaken pengetan Paskah minangka pepakon (amalan), mekaten kanggenipun tiyang Kristen wajib nyawisaken lan nindakaken Bujana Suci minangka pangucap sokur mengeti pakaryan kawilujenganipun Gusti Allah wonten ing Sang Kristus Yesus. Sabab kanthi mekaten tiyang Kristen tansah nunggil kaliyan Gusti Yesus Kristus, Bendara lan Gurunipun sarta nyumerepi kados pundi anggenipun nindakaken gesang dados para pandherekipun.

 Dasar lan Sebab Nindakaken Pengetan Bujana “Suci”

Sawetawis tiyang Kristen gadhah keyakinan bilih piyambakipun badhe ketaman perkawis ala menawi nglirwakaken timbalan bujananipun Gusti, sanesipun ningali bilih pepakon punika sae lan pepakon punika saged dinalar kanggenipun tiyang wicaksana. Wonten malih tiyang Kristen ingkang pitados bilih srana nindakaken/ndherek bujana gesangipun sangsaya mindhak aji lan linuwih. Ananging wonten sawetawis ngendikan, “Ora usah tekon, dilakoni wae, diimani, iku ngono  wis dadi pềrangan prasetyanipun Gusti Allah tumrap para umat kagunganipun.”

Wonten sapontho nggadhah pangertosan bilih kanthi nindakaken pengetan bujana kita katitik dados pandherekipun Gusti lan tinunggilaken ing pasamuwanipun kang suci ing donya. Sanesipun kelompok mastani punika pahargyan kabungahan, sukarena iman lan ngraketaken paseduluran ana ing Sang Kristus. Punapa mawon ingkang dados dhasar lan sebab nindakaken pengetan punika ingkang langkung wigati inggih punika tumindak nyata ingkang kababar katimbang namung kawruh. Nindakaken katresnan, kasaenan dhateng sapepadha/tonggo tepalih ingkang manggen ing sakiwo tengen kita langkung utami tinimbang keyakinan sae ing salebeting dadha. Pepaken tresna-tinresnanana punika gaya hidup, lakunipun tiyang Kristen gesang kanthi prasojo ing alam donya.

Pepakon Anyar

Bedanipun kaliyan pangertosan ing Prajanjian Lami, sinaosa seratan kitab PL sampun paring gambaran Gusti Allah lan pakaryaNipun kados dene manungsa lan pandamele (anthropomorfisme) : sengit, duka, sedhih, mlampah, jumeneng, ngandika; ewasemanten Prajanjian Enggal namung paring paseksen tunggal bab SABDANIPUN ALLAH INGKANG GESANG inggih punika Sang Kristus Yesus. Gusti Allah ingkang tedhak manjalma dados manungsa awit saking katresnanipun dateng manungsa. Bilih pangwruh dhateng Gusti Allah lan Sang Kristus Yesus punika njalari katresnan punika dados pepakon enggal lan laku ingkang sampurna.

Panutup

Bujana Suci dipuntindakaken dening pasamuwan awit punika ketetapan/pitedah saking Gusti Yesus Kristus. Panjenenganipun Gusti kita ingkang wungu saking antawisipun tiyang pejah, ingkang kagungan pangwaos tumrap gesang kita-umat tebusan-Nya. Bujana suci punika sinebut wasiat, awit punika pamundhutipun Guru kita ingkang kita tresnani lan kita pundhi. Punapa ingkang dados wasiatipun sakderengipun Panjenenganipun seda sampun tamtu badhe kita estokaken kanthi sung urmat lan klayan katresnan.

Bujana Suci punika sanes pilihan utawi pitutur/piweling remeh ingkang gumantung niatan kita ndherek utawi mboten. Karana punika kita asring mboten nderek pacawisan kanthi sakmesthinipun, duginipun telat lan supe mbekta pisungsung.

Ewasemanten Bujana Suci sampun ngantos diwastani perkawis ingkang ngukumi kita, ingkang murugaken kita anggenipun ndherek bujana kanthi muwun lan kedosan ageng. Bujana Suci punika pahargyan sokur peparingipun Gusti dhateng pasamuwan ingkang dipun tresnani awit panjenenganipun sampun nindakaken pakaryan kawilujengan dhateng jagad, ngruwat dosa lan piala kita saha maringi kita prasetyan gesang langgeng. (PY).

 

Pamuji : KPJ. 254   “Gusti Neng Taman Getsemane”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •