Khotbah Jumat Agung 14 April 2017

PERJAMUAN KUDUS JUMAT AGUNG
STOLA UNGU

 

Bacaan 1           : Yesaya 53: 1-12
Bacaan 2           : Ibrani 10:16-25
Bacaan 3           : Yohanes 19:28-37

Tema Liturgis    :“Bersandar kepada Allah dalam Kesesakan”
Tema Khotbah  : “Ini aku Tuhan, Jadilah Kehendak-Mu…”

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca diatas mimbar, cukup dibaca saat sebelum khotbah sebagai refrensi)

Yesaya 53: 1 – 12

Ayat 1-4 dalam bacaan ini berceritera tentang seorang hamba Tuhan (ebed YHWH). Memang dalam pasal 53 sebutan itu tidak secara eksplisit tertulis, namun sejatinya “ia” dalam perikop ini adalah menjelaskan pasal 52:13 yaitu “hamba-Ku.” Hamba Tuhan diceriterakan dalam pasal ini sebbagai yang bernampilan buruk rupanya (ay 2). Penampilannya tidak menarik dan bahkan pasti setiap orang akan menghindarinya dan bahkan jikalau terpaksa melihat pasti  akan memalingkan muka (ay 3). Dengan kondisi yang demikian itu pasti banyak orang yang tidak percaya jikalau orang tersebut disebut hamba Tuhan karena keberadaannya sangat berbeda dengan gambaran hamba Tuhan yang pada umumnya orang bayangkan (ay 4). Namun senyatanya, hamba Tuhan tersebut adalah taruk yang tumbuh dihadapan Tuhan (ay 2). Artinya, hamba Tuhan tersebut adalah layak dan benar yang selalu kehidupannya berkenan kepada Tuhan sebab tidaklah mungkin manusia bisa disebut tumbuh di hadapan Tuhan jikalau dia tidak berkenan kepada Tuhan.

Ayat 5- 9 memberikan penjelasan dan alasan mengapa hamba Tuhan tersebut berpenampilan buruk muka dan mengalami banyak penderitaan. Dalam ayat 5 disebutkan penderitaan yang dialami hamba Tuhan adalah penderitaan fisik yaitu tertikam. Alasan penderitaan itu bukan karena kesalahan hamba Tuhan tersebut tetapi karena kesalahan manusia kebanyakan. Dosa, pelanggaran dan kesesatan kita menjadi alasan akan penderitaan hamba Tuhan tesebut. Tumbal, mungkin itulah tepatnya yang menjadi alasan penderitaan hamba Tuhan. Menjadi tumbal kesesatan, kejahatan dan angkara murka manusia itulah yang menyebabkan hamba Tuhan tersebut menderita. Selain penderitaan fisik hamba Tuhan tersebut juga mengalami penderitaan non fisik yaitu keterasingan bahkan saat hamba Tuhan tersebut telah mati karena dia dikuburkan ditempat yang bukan seharusnya dia dikuburkan (ay 9).

Ayat 10-12 melengkapi alasan penderitaan yang dialami Tuhan yaitu supaya keturunannya yaitu generasi yang akan datang mendapatkan kebenaran dan keabadian karena keturunannya akan mendapatkan umur lanjut (ay 10). Bukan hanya bagi keturunannya saja tetapi juga bagi hamba Tuhan tersebut akan mengalami pemurnian diri sehingga menjadi hakim yang menentukan kebenaran atau kesalahan manusia (ay 11). Bahkan kesengsaraan dan aniaya yang dialami itu justru juga akan memurnikan banyak orang untuk menjadi benar dan kuat sebagai sekawanan milik dari hamba Tuhan itu (ay 12). Lalu siapakah hamba Tuhan itu ?

 

Ibrani 10: 16 – 25

Jikalau dalam bacaan pertama penebusan karena hamba Tuhan yang ditumbalkan, maka dalam bacaan ke dua ini pribadi hamba Tuhan tersebut justru disebutkan secara khusus yaitu Tuhan Yesus Kristus (ay 19). Berbeda dengan bacaan pertama, dalam bacaan ke dua, gambaran dari penebusan digambarkan dalam sebuah ritual di Bait Allah. Seseorang yang boleh masuk ke dalam ruang maha kudus hanyalah seorang imam besar dan bukan sembarang imam apalagi umat umumnya. Gambaran imam besar menegaskan kekhususan dari seseorang yang disebut sebagai hamba Tuhan.

Jadi sebagaimana sebuah ritual dalam tradisi Bait Allah dimana setiap umat yang ingin mempersembahkan korban (sebagai simbol bertemu Tuhan) harus melalui imam maka Tuhan Yesus itulah yang menjadi perantara umat untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Konsep keimaman dalam Ibrani ini kemudian jauh lebih berkembang dari sekadar iman dalam tradisi ritual bait Allah sebab jikalau dalam tradisi ritual Bait Allah umat dapat bertemu dengan Tuhan karena peran seorang imam maka dalam Ibrani perjumpaan umat dengan Tuhan bukan karena seseorang tetapi karena darah Tuhan Yesus Kristus. Disinilah kita melihat kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus Kristus yang disimbolkan dengan darah-Nya yang tertumpah setara dengan korban yang dibawa umat untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Dalam hal perjumpaan umat dengan Tuhan, Ibrani menekankan peran Yesus dalam dua hal yaitu: pertama, Tuhan Yesus sebagai korban supaya umat dapat bertemu dengan Tuhan dan ke dua, peran Tuhan Yesus sebagai Imam Besar yang menjadi kepala Bait Allah (ay 21). Dengan bahasa lain, pada dirinya Tuhan Yesus menjadi perantara umat bertemu Tuhan dan juga pada dirinya Tuhan Yesus memiliki kekuasaan untuk menentukan siapa yang boleh bertemu dengan Tuhan.

Dalam perannya sebagai perantara (korban supaya umat dapat bertemu dengan Tuhan), Tuhan Yesus telah menyucikan semua umat supaya dapat langsung bertemu dengan Tuhan, namun dalam perannya sebagai Imam Besar dan Kepala Rumah Allah, Tuhan Yesus berkuasa menata, mangatur bahkan memilih siapa yang diijinkan bertemu dengan Tuhan. Pertemuan umat dengan Tuhan bergantung dua hal yaitu: penebusan Tuhan Yesus melalui darahnya dan otoritas (kuasa) atau ijin dari Tuhan Yesus sendiri. Untuk hal yang kedua, umat tidak dapat memilih karena sepenuhnya bergantung pemilik kuasa yaitu Tuhan Yesus Kristus tetapi untuk syarat yang pertama manusia memiliki kehendak bebas. Jika ingin langsung bertemu dengan Tuhan (dan tanpa perantara) haruslah menerima darah Kristus sebagai penebusannya. Dan demi menerima syarat pertama inilah kemudian ayat 22-26 mengajak umat untuk menjaga laku hidupnya supaya tetap dapat langsung bertemu dengan Tuhan.

 

Yohanes 19: 28 – 37

Drama atau kisah kematian Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes ini digambarkan atas sebuah skenario. Skenario itu adalah Kitab Suci (ay 28). Ketika Injil Yohanes menyebutkan bahwa Tuhan Yesus yang tergantung di salib maka sebenarnya Injil Yohanes menggemakan kemabli Mazmur 22: 16. “Haus” dalam Injil Yohanes secara puitis digambarkan oleh Mazmur “lidahku melekat pada langit-langit mulutku.” Dengan melihat kembali Mazmur tersebut maka kata “haus” dalam Injil Yohanes ini tidak sekadar bermakna haus biasa tetapi haus disini menggambarkan kondisi yang menderita dan sengsara. Demikian juga dengan ungkapan Injil Yohanes yang menyebutkan “anggur asam” (ay 29) sesungguhnya menggemakan kembali Mazmur 69: 22. Jikalau “anggur asam” itu dilihat dari kacamata Mazmur 69:22 maka sejatinya yang diberikan oleh prajurit tersebut bukan sekadar anggur yang rasanya asam tetapi justru yang diberikan oleh prajurit tersebut adalah racun. Artinya anggur asam yang diberikan kepada Tuhan Yesus yang mengalami ketersiksaan karena kehausan tersebut bukan justru menjadikan Tuhan Yesus merasakan kesegaran tetapi justru semakin menyiksa-Nya.

Setelah mengalami penderitaan yang begitu besar, Tuhan Yesuspun mati, namun kematian yang secara sadar dan atas kehendak-Nya sendiri (ay 30) inipun belum juga mengakhiri penderitaannya sebab jasad yang tak bernyawa itupun masih ditikam lambungnya. Tentu penikaman tersebut bukan tanpa alasan sebab sejatinya para prajurit itu ingin bersegera menyelesaikan tugasnya. Tentu bukan atas keinginannya sendiri tetapi karena permintaan orang-orang Yahudi (ay 31) walaupun yang diminta oleh orang Yahudi bukan penikaman lambung-Nya tetapi pematahan kaki para orang yang disalibkan. Permintaan tersebut bertujuan untuk mempercepat kematian dari orang yang disalibkan. Artinya dengan mematahkan kaki dari orang yang disalib maka kematian itu semakin cepat dan kematian orang yang disalib ditentukan oleh orang yang mematahkannya.

Memang akhirnya para prajurit yang bertugas sebagai algojo mematahkan kaki dua orang yang disalib bersama Tuhan Yesus tetapi tidak kepada Tuhan Yesus. Mengapa ada perbedaan perlakuan antara dua orang yang disalib disisi kanan dan kiri Tuhan Yesus dengan Tuhan Yesus ? Alasannya disebutkan dalam ayat 33 yaitu: KARENA TUHAN YESUS SUDAH MATI. Bahkan Injil Yohanes meyakinkan pembacanya dengan menambahkan saksi-saksi atas kematian Tuhan Yesus (ay 35). Peran saksi ini untuk meyakinkan bahwa Tuhan Yesus benar-benar mati. Dan kematiannya itu bukan karena orang lain tetapi karena kemauan atau kehendak-Nya sendiri.

Jadi dapatlah disimpulkan bahwa kematian Tuhan Yesus itu bukan karena pihak lain atau orang lain tetapi kematian Tuhan Yesus itu ditentukan oleh diri-Nya sendiri. Karena itulah ayat 28 menjelaskan bahwa Tuhan Yesus tahu segala sesuatu sudah selesai. Ini sekaligus menegaskan kembali bahwa kematian adalah jalan yang dipilih Tuhan Yesus sendiri bukan karena dipilihkan oleh orang atau pihak lain. Pilihan tersebut memberikan pesan kuat akan otoritas atau kuasa yang dimiliki oleh Tuhan Yesus bahwa Tuhan Yesus juga berkuasa atas kematian dan itu tercermin dalam penentuan saat kematiannya sendiri.

 

BENANG MERAH ANTAR BACAAN

Tuhan Yesus adalah hamba Tuhan (ebed YHWH) yang mengalami berbagai derita dan kesengsaraan. Namun derita dan kesangsaraan itu tidak pernah menguasai diri-Nya, karena Dialah yang berkuasa atas derita dan kesengsaraan. Karena itulah penderitaan tidak mempengaruhi diriNya, tetapi justru derita dan kesengsaraan dikendalikan oleh-Nya. Dengan demikian, Tuhan Yesus berkuasa atas segala-galanya, baik kematian maupun kehidupan, baik kebahagiaan maupun kesengsaraan.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Hanya Sebuah Rancangan…sangat mungkin dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 

Pendahuluan

Adalah seorang nenek (kurang lebih berusia 100 tahun) yang masih tetap semangat walaupun mengalami banyak keterbatasan. Keterbatasan yang mencolok adalah tidak bisa melihat atau buta total. Walaupun kondisinya demikian, segala aktifitas yang berkaitan dengan dirinya yaitu: makan, minum, mandi, mencuci pakaiannya tetap dilakukan sendiri. Bahkan nenek renta ini tinggal di rumah sendirian. Kesendiriannya bukan hanya terkait tempat tinggal, tetapi juga kesendirian imannya, sebab seluruh anak dan cucu-cucunya adalah non Kristen. Hal yang luar biasa adalah, dia selalu rajin berdoa pada jam-jam tertentu. Dan pokok doa yang selalu dinaikkan adalah berkaitan dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

Mengapa dia rajin mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya? Kepada pendeta yang sering mengunjunginya dia mengaku jikalau dia merasa menjadi beban bagi anak-anak dan cucunya karena mereka harus mengirimi makanan dan minumannya setiap pagi. Karena perasaan terbeban itulah maka setiap kali bertemu dengan pendetanya dia selalu berdoa minta supaya Tuhan segera memanggilnya. Sehari, dua hari, setahun dan dua tahun dan bertahun-tahun dia tidak juga meninggal. Sampai pada akhirnya, dia sudah merasa bosan dengan pokok doa itu lalu kemudian dia dengan sangat dalam berkata kepada pendetanya: “Kula manut Gusti…” (“Saya berserah kepada Tuhan”)

 

Isi

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan,

Apakah anda memiliki keinginan untuk mati? “Wah…nanti dulu, aku ‘kan belum menikah”, “nanti dulu, karirku sedang baik nih”, “nanti dulu, pasanganku masih membutuhkan aku”, “nanti dulu, anakku masih kecil-kecil dan butuh biaya besar nih…nanti dulu…nanti dulu…..”

Kita tidak siap mati saat ada sesuatu dalam hidup ini yang menjadikan alasan diri kita harus tetap hidup. Tetapi sangat berbeda jawaban kita ketika kita hidup tetapi tidak punya alasan untuk terus hidup. Pasti kita inginnya segera mati, malah berupaya membunuh diri sendiri. Padahal di sisi lain kita menyadari bahwa hidup atau mati itu otoritas Tuhan. Ya, Tuhan berkuasa atas kehidupan dan kematian. Dan itulah yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus dalam peristiwa penyalibanNya. Dari kisah penyaliban Tuhan Yesus ini kita mendapatkan pelajaran iman demikian:

Pertama, waktu/ saat kematianNya, Tuhan Yesus sendiri yang memilih bukan orang lain, apalagi kuasa lain. Di sinilah kita tahu bahwa Tuhan Yesus mati karena pilihanNya sendiri. Oleh sebab itu dalam Yohanes 19: 28 disebutkan: “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai…” Ayat ini menekankan bahwa penyebab kematian Tuhan Yesus adalah karena segala misi hidupNya -yaitu melakukan kehendak Bapa-Nya- telah dirampungkan sehingga kematian adalah akhir dari periode melakukan misi itu, yaitu mewartakan kasih anugerah Tuhan bagi semua ciptaan ini. Tuhan Yesus yang menguasai kematian dan bukan kematian yang menguasai Tuhan Yesus. Oleh sebab itulah dalam penyaliban itu Tuhan Yesus tidak kehilangan misiNya. Walaupun disiksa, dianiaya, dicemooh bahkan dikhianati oleh orang yang selama ini dekat dengan Dia, bahkan ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini mengiring Dia, Tuhan Yesus tidak mengubah arah tujuan hidup-Nya yaitu melakukan kehendak Bapa-Nya.

Demikian juga dengan kita, jikalau kita hidup bersama Tuhan -yaitu tujuan dari kehidupan kita ini adalah untuk melakukan kehendakNya- maka apapun yang menimpa kita, peristiwa apapun yang kita alami tidak akan menjadikan kita mengubah arah tujuan kehidupan kita. Kita tetap tegar dan berdiri teguh seraya beriman: jika Tuhan menguasai kehidupanku, maka Dia juga yang menguasai kematianku.

Sikap hidup yang tidak dikuasai kematian adalah sikap hidup yang selalu tertuju kepada kehendak Tuhan walaupun memang kita harus kehilangan nyawa kita. Karena itulah Matius 16:25 menegaskan kembali: “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Ancaman apapun, tantangan apapun janganlah sampai menjadikan kita kehilangan tujuan kehidupan kita yaitu melakukan kehendak Tuhan karena kita adalah hamba Tuhan.

Kedua, kematian Tuhan Yesus bukanlah kematian tanpa tujuan. Kematian dan aniayaNya supaya kita (manusia) dapat berjumpa dengan Tuhan Allah. Ini sekaligus menegaskan manunggaling Gusti lan kawula, bukan sebaliknya. Artinya bahwa otoritas untuk menjadikan manusia bersekutu (manunggal) dengan Tuhan bukan karena usaha dan kemampuan manusia, tetapi karena Tuhan Yesus sendiri yang berinisiatif dan berotoritas. Oleh sebab itulah Tuhan Yesus disebut sebagai korban pendamaian antara manusia dengan Tuhan sendiri. Hubungan yang selama ini tercerai antara manusia dengan Tuhan, melalui kematian Tuhan Yesus kini dipulihkan dan dipersatukan kembali. Menyadari bahwa hidup kita kini disatukan dengan Tuhan, menjadikan kita semakin tenang dan damai walaupun banyak tantangan dan ancaman yang menghadang. Sebab, apakah yang lebih penting dalam hidup ini selain disertai (ditunggil) oleh Tuhan. Karena penyertaan Tuhan itulah dalam kehidupan ini kita mampu sungguh menikmati hidup dan bertanggungjawab kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan.

Ketiga, sebagai hamba Tuhan kita memiliki tugas untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Sebagai hamba yang setia maka pastilah setia pula kepada teladan dan perintah tuannya. Demikian juga jikalau kita telah ditebus oleh Tuhan maka kita juga mempunyai tanggungjawab “menebus” dunia ini dengan karya, perbuatan dan tindakan kita yang menjadi berkat bagi semua ciptaan.

 

Penutup

GKJW adalah gereja Tuhan yang berisikan persekutuan hamba Tuhan. Hamba Tuhan bukan hanya pengemban jabatan khusus (pendeta, penatua, diaken, Guru Injil), tetapi semua orang yang berada dalam gereja ini. Sebagai hamba Tuhan, tantangan dan resiko harus kita tanggung dan bahkan mungkin olokan, aniaya dan derita harus kita terima. Namun toh, andai semua itu terjadi, janganlah sampai kehilangan gelar mulia itu, yaitu: hamba Tuhan. Dengan tetap menyadari posisi sebagai hamba, maka kita tidak akan tergoda untuk menggantikan Tuhan sebagai yang menguasai. Demikian juga sebagai hamba, tidak akan pernah kita ditinggalkan oleh Tuhan karena kematian Kristus itulah yang mempersekutukan kita dengan Tuhan. Bertambah-tambah bahagianya kita sebagai hamba Tuhan karena Ia adalah penguasa kehidupan dan berotoritas pula atas kematian. Sehingga baik hidup atau mati kita, percayalah Tuhan yang selalu tetap menjadi Tuhan yang selalu bersama kita.

Keyakinan senantiasa Tuhan sertai menjadikan kita tidak mudah diombang-ambingkan berbagai pencobaan. Berdiri teguh dan berjalan melakukan kehendak Tuhan itulah sejatinya kemandirian kita. Kehadiran kita tidak ditentukan pihak lain ataupun kuasa lain. Kehadiran kita ditentukan oleh Tuhan Allah sendiri yang memiliki diri kita dan gereja ini. Mari kita bersatu hati menunjukkan kepada dunia bahwa gereja ini adalah gereja yang dimiliki Tuhan sehingga tidak bergantung kepada pihak manapun. Namun demikian, kita juga harus menyadari bahwa kehadiran kita juga harus menjadi berkat bagi yang lainnya baik berkat bagi sesama warga jemaat, antar jemaat dan juga masyarakat kita. Sebab, sesungguhnya kamatian Kristus adalah perwujudan kemandirian diriNya dan juga berkat bagi yang lainnya. Mari meneladani kamatian Kristus ini dalam kehidupan kita baik sebagai pribadi-pribadi maupun dalam persekutuan ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (to2k)

 

Nyanyian: KJ 363

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Wonten satunggalipun simbah ingkang yuswanipun sampun adi (watawis 100 taun) ingkang tetep anggadhahi semangat sanadyan nandhang kahanan ingkang winates. Piyantun menika wuta mboten saged mirsani babar pisan. Sanadyan to kahananipun makaten, samukawis ingkang gegayutan kaliyan kabetahanipun saben dinten saged dipun ayahi piyambak. Upami: dhahar, ngumbahi rasukan, mlampah ugi piyambakan ngagem teken. Raos piyambakan punika ugi kalebet kapitadosan awit ing brayat agungipun, simbah menika Kristen piyambak. Perangan ingkang elok inggih punika simbah sanget anggenipun tumemen ndendonga dhumateng Gusti Allah. Saben-saben donga simbah punika tansah ndongakaken para putra wah kanthi dipun sebat asmanipun para putra lan wayah punika.

Kenging punapa simbah punika tansah ndongakaken para putra lan wayahipun? Dhumateng pendeta ingkang asring manggihi simbah punika cariyos bilih piyambakipun menika ngraosaken sungkan ingkang ageng awit sampun rumaos dados momotanipun para putra awit saben enjang para putra dalah wayah punika gilir-gumantos ngintun dhaharipun. Krana raos ingkang mekaten punika pramila saben pinanggih pendetanipun simbah menika lajeng asring nyuwun dipun dongakaken supados gesangipun enggal dipun pulung dening Gusti. Wonten ing pandonga pribadi panyuwunan menika asring dipun unjukaken, ananging ngantos dangu mataun-taun mboten enggal tilar donya. Wausananipun, ing satunggaling dinten simbah punika matur: “kula manut Gusti mawon pun…”

 

Isi

Bapak lan ibu para sedherek kinasihipun Gusti,

Punapa ing antawis kita punika wonten ingkang kepingin seda? “Wah…mangke rumiyin kula dereng rabi”, “mangke rumiyin karir kula nembe sae punika”, “wah mangke rumiyin, putra kula taksih alit-alit lan mbetahaken biaya ageng”, “mangke rumiyin…mangke rumiyin…mangke rmuiyin…” Kita asring semaya ingkang negesaken bilih kita punika dereng siap seda.

Pancen asring kita mboten siap seda menawi gesang kita samangke taksih anggadhahi alesan kagem gesang. Ananging bilih gesang menika sampun mboten nggadhahi alesan kagem tetep nglangkungi gesang, tamtu kita gampil semplah, malah kepengin enggal-enggal seda, malah kepengin bunuh diri. Kamangka, ing perangan sanes kita tetep pitados bilih Gusti menika ingkang akarya jagad, ingkang mengku pejah dalah gesang. Pancen estu, Gusti menika ingkang mengku pejah dalah gesangipun sedaya tumitah. Lan panguwaosipun Gusti menika ingkang saged kita sinau saking babagan sinalibipun Gusti Yesus. Saking lumampahipun seda lan sinalibipun Gusti Yesus menika kita pikantuk piwulang mekaten:

Kaping sepisan, wegdal sedanipun Gusti Yesus menika ingkang namtokaken anamung Gusti Yesus piyambak, sanes tiyang sanes punapa malih kuwaos sanes. Pramila Yokanan 19:28 nyebataken: ”ing sarehne Gusti Yesus mirsa, yen samubarang kabeh wus rampung…” Perangan ayat punika nedahaken punapa ingkang dados sebabipun Gusti Yesus seda, inggih punika karena sedaya misinipun (pakaryanipun) sampun kelampahan. Misi punika inggih anamung nindakaken karsanipun Rama. Karana misinipun rampung pramila sedanipun Gusti punika mungkasi sedaya kahanan lan lelampahan ing alam donya. Misi ingkang dipun wastani sampun rampung inggih punika misi martosaken sihrahmatipun Gusti Allah kagem sedaya tumitah. Gusti Yesus ketawis sanget kanthi tatag lan mantep anggenipun ngadhepi seda awit Panjenenganipun punika ingkang kagungan panguawaos tumrap pati. Krana Gusti Yesus ingkang nguwaosi pati pramila mboten kraos geter (ajrih), dipun siksa lan dipun wewada dening tiyang kathah. Sedaya kahanan ingkang dipun lampahi mboten ndadosaken Gusti Yesus ewah-gingsir saking tujuan gesangipun, inggih menika nindakaken misinipun Rama.

Makaten ugi menawi gesang kita tansah dipun tunggil dening Gusti, tamtu gesang kita punika namung nedya nglampahi kersanipun Gusti Allah nadyan gesang kita menika kataman kahanan ingkang mawarni-warni. Kita tetep tatag, madhep, mantep awit: Gusti ingkang kagungan panguwaos tumrap gesang lan pati kula.

Lelampahan gesang ingkang mboten dipun kuwaosi dening pati inggih punika lelampahan gesang ingkang anamung tumuju nindakaken kersanipun Gusti Allah sanadyan ta pati ingkang kita tampi. Pramila Mateus 16:25 paring dhawuh: “sing sapa ngudi paya nylametake nyawane malah kelangan nyawane, ananging sing sapa kelangan nyawane karena Gusti Yesus tamtu bakal pikantuk kamulyan.” Sampun ngantos kita kawon kaliyan pangancam, tantangan lan kahanan ingkang kados pundi kemawon ndadosaken kita giris.

Kaping kalih, sedanipun punika anggadhahi tujuan inggih supados kita manungsa saged jumbuh, wanuh lan manunggal kaliyan Gusti Allah. Pramila sedanipun Gusti Yesus punika wujuding “manunggalipun Gusti lan manungsa”, sanes manunggaling manungsa lan Gusti. Awit ingkang nunggilaken kita punika sanes daya kamanungsan ananging karana berkah lan kanugrahanipun Gusti Allah lantaran Gusti Yesus. Pramila Gusti Yesus kasebat kurban/ tumbal ingkang nunggilaken manungsa kaliyan Gusti Allah. Kahananipun manungsa ingkang sampun kapisahaken kaliyan Gusti Allah, samangke lantaran sedanipun Gusti Yesus dipun tunggilaken malih. Bilih samangke kita ngraosaken gesang ingkang katunggilaken kaliyan Gusti tamtu andadosaken lereming manah, sanadyan kathah rubeda ingkang nempuh lelampahan kita. Awit, punapa ta ingkang nglangkungi lereming manah kita kejawi dipun tunggil kaliyan Gusti. Pramila kita tamtu sansaya saged nindakaken kersanipun wonten ing pigesangan kita.

Kaping tiga, minangka abdinipun Gusti kita anggadhahi jejibahan mulya, inggih punika dados berkah tumrap alam donya lan isinipun. Minangka abdi ingkang setya dhumateng bendaranipun tamtu kita kedah nulad tindakipun Gusti. Mekaten ugi bilih kita ngrumaosi dipun tebus kaliyan Gusti tamtu kita sansaya anggadhahi tanggeljawab agung, inggih punika tansah makarya lan tumindak ingkang mujudaken tiyang tebusan ingkang samangke mardika.

Panutup

GKJW punika greja kagunganipun Gusti ingkang kaisi para abdinipun Allah. Abdi Allah punika mboten winates namung para pelados pasamuwan (pendeta, penatua, diaken lan GI), ananging ugi sedaya warganing pasamuwan. Minangka abdinipun Gusti, tantangan lan rubeda kedah kita adhepi kanthi manah ingkang tatag, tegel lan mantep, sampun ewah gingsir punapa malih koncatan gelar kamulyan inggih punika abdinipun Allah. Kanthi tetep ngrumaosi bilih kita punika saderma abdi, tamtu andadosaken kita mboten kumalungkung, malah kladuk kepengin nggantosi Gusti piyambak. Minangka abdi tamtu kita tansah dipun tunggil dening Gusti awit sedanipun Gusti Yesus punika nunggilaken kita kaliyan Gusti Allah. Sansaya mongkog manah kita awit kita menika dados abdinipun Gusti ingkang anggadhahi kuwaos tumrap seda lan gesang. Pramila seda utawi gesang kita punika tansah dipun tunggil dening Gusti Allah.

Tansah ngraosaken gesang ingkang tansah dipun tunggil dening Gusti Allah punika sansaya ndadosaken gesang kita mboten gampil dipun ombang-ambingaken ombyaking donya. Gesang ingkang tansah madhep, mantep lumampah ndherek Gusti punika wujudipun kemandirian kita minangka patunggilan. Kawontenan kita mboten gumantung kaliyan pihak sanes, ananging anamung gumantung dhumateng Gusti piyambak. Pramila sumangga kanthi nunggilaken perangan pasamuwan kita wujudaken tetunggilan ingkang kaesuh srana sesanti patunggilan kang nyawiji. Bilih tetunggilan kita punika lestantun tamtu kita saged wujudaken diri dados berkah tumraping liyan. Sumangga nulad sedanipun Gusti ingkang sampun sumedya ngurbanaken diri supados dados berkah kagem kita srana kita ugi dados berkah tumrap liyan ing patunggilan, masyarakat lan bangsa kita punika. Amin (to2k)

 

Pamuji: KPK 121


Catatan: Rancangan Khotbah untuk Jumat Agung 2018 dapat dibaca disini

 

Bagikan Entri Ini: