Bacaan: Zakharia 1 : 7 – 17 | Pujian : KJ. 338
Nats: “Maka aku bertanya: Apakah arti semuanya ini, ya tuanku? Lalu malaikat yang berbicara dengan aku itu menjawab: Aku ini akan memperlihatkan kepadamu apa arti semuanya ini!” (Ayat 9)
Ketika kita sedang tidur, tentunya kita pernah bermimpi tentang banyak hal. Beberapa di antaranya ada yang bisa kita ingat dengan jelas dalam jangka waktu yang lama dan ada yang sama sekali tidak bisa kita ingat. Dari realita itu, seringkali kita mendengar bahwa mimpi dianggap sebagai bunga tidur, tetapi kadang juga dipahami sebagai tanda akan sesuatu yang berasal dari Allah.
Berbicara tentang tanda, sebagian besar isi Alkitab kita berbicara tentang tanda. Salah satunya kita lihat dalam bacaan kita saat ini. Nabi Zakharia mendapatkan tanda dari Allah berupa penglihatan tentang para penunggang kuda di antara pohon Murad (simbol dari kesuburan, damai, dan pembaruan). Tidak hanya melihat, tetapi dan Zakharia juga berdialog dengan Malaikat Tuhan yang sedang menunggang kuda dan bertanya tentang arti penglihatan itu. Dari dialog itu tampak bahwa Allah tetap menjalankan rencana-Nya. Allah tetap bekerja dengan berbagai macam cara bahkan dalam cara yang tidak mudah dipahami manusia. Dari sana, kita bisa melihat bahwa Allah senantiasa menunjukkan tanda pada umat-Nya. Tugas umat adalah memahami tanda yang hadir tersebut.
Dalam konteks orang Kristen Jawa, kita tidak bisa meninggalkan budaya dalam setiap ritus keagamaan. Apakah itu buruk? Tentu saja tidak, budaya selalu memiliki nilai dan tanda pengenalan akan sesuatu. Kita perlu mencoba menyelam lebih dalam ke inti budaya untuk menemukan tanda-tanda yang bisa dipakai untuk mewartakan kerajaan Allah. Misalnya budaya memperingati 3 hari, 7 hari, 40 hari kematian seseorang, dapat kita lakukan melalui ibadah syukur yang dimaknai sebagai tanda penyertaan dan pemeliharaan Allah atas hidup kita. Karena itu, untuk dapat merasakan penyertaan Allah atas hidup kita, kita perlu peka melihat tanda-tanda penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita. Salah satu caranya kita mengambil waktu teduh sejenak, merefleksikan pengalaman hidup kita dalam satu hari, kemudian menyadari dan merasakan penyertaan Allah. Dalam bulan budaya saat ini, mari kita tidak hanya peka terhadap kehadiran Allah dalam budaya, tetapi mari kita juga membudayakan proses merefleksikan setiap pengalaman hidup kita agar kita menjadi peka terhadap tanda-tanda penyertaan dan pemeliharaan Allah atas hidup kita. Amin. [KYP].
“Kita hanya perlu peka terhadap tanda-Nya.”