Mana surat undangannya?

Bacaan : Lukas 14 : 15 – 24 | Pujian: KJ 354
Nats: “…karena rumahku harus penuh.” [ayat 23]

Ada hal yang tidak biasa dalam pernikahan Raffi Gigi beberapa waktu lalu. Tamu yang diperkenankan masuk ke dalam gedung resepsi hanya tamu yang membawa undangan dimana di setiap undangan disematkan kartu akses yang memiliki barcode. Lalu bagaimana tamu yang tidak membawa undangan? Ya..otomatis tidak bisa memasuki gedung resepsi. Sistem pengamanan yang dibuat seaman mungkin ini salah satu tujuannya adalah untuk menghindari tamu-tamu yang tidak diinginkan/ tidak diundang masuk ke dalam ruangan gedung. Saya membayangkan, tentu para tamu yang diundang dalam pernikahan Raffi Gigi dengan senang hati meluangkan waktu mereka untuk menghadiri acara tersebut. Sesibuk-sibuknya para tamu, tentu akan menyempatkan untuk datang dan memberi ucapan selamat kepada mempelai berdua yang sedang berbahagia.

Raffi Gigi yang mengadakan pesta, tetapi asumsinya banyak orang yang ingin mengikuti walau tidak diundang. Lha cerita kita bersama saat ini kok malah terbalik. Kisah perumpamaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus justru memilukan karena para undangan sepakat bersama-sama meminta maaf karena tidak hadir dalam undangan jamuan tersebut. Alasan yang diberikan pun sungguh membuat murka sang pengada perjamuan.

Ah…mari kita tarik dalam kehidupan keimanan kita. Seberapa sering kita diundang oleh Tuhan untuk menghadiri perjamuan bersamanya? Merasakan kebersamaan denganNya? Seberapa sering pula kita justru menolak untuk memenuhi undangan-undangan tersebut untuk hal-hal dunia? Kita enggan menghadiri pesta Tuhan.

Kalau seandainya Raffi Gigi atau artis terkenal lain atau pejabat mengundang kita untuk menghadiri undangan acaranya, tentu kita dengan senang hati datang. Seharusnya alangkah lebih senangnya kita apabila yang mengundang adalah Tuhan. Mari datang dengan sukacita. Mari kita menghadiri undangan Tuhan dengan segala keberadaan yang terbaik! [Ardien]

“Tidak ada seorangpun yang lebih memanjakan kita lebih dari Allah sendiri. Apakah kita telah melihat anugerah yang ajaib yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma?”(Bunda Teresa)

 

Bagikan Entri Ini: