Mana Buktinya?

Bacaan : 1 Raja – raja 17 : 17 – 24 | Pujian: KJ 322
Nats: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman Tuhan yang kau ucapkan itu adalah benar.” [ayat 24]

Sampai sidang ketiga Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama untuk kasus dugaan penistaan agam, sudah beberapa saksi dihadirkan oleh jaksa, mulai dari juru bicara ormas sampai orang yang mengaku mantan biarawati. Yang menarik, para saksi ini kebanyakan tak mampu memberikan kesaksian dan bukti yang jelas tentang kasus yang disidangkan. Tak ayal, detil kesaksian atau identitas para saksi menjadi bahan olokan di dunia maya. Ada yang mengklarifikasi bahwa tak mungkin ada gadis berusia dibawah 20 tahun bisa menjadi biarawati (apalagi mantan biarawati), sebab proses menjadi biarawati sangatlah panjang.

Dalam sebuah persidangan, apapun kasusnya, keberadaan bukti menjadi sangat penting. Karena bukti-lah yang akan menunjukkan apakah seseorang bersalah atau tidak. Bukti juga penting dalam bacaan kita hari ini. Janda Sarfat yang telah beberapa waktu lamanya memberi makan Nabi Elia dengan segenggam tepung dan sedikit minyak yang tak pernah habis, ditimpa kemalangan. Anak perempuannya sakit keras dan akhirnya tak bernafas lagi. Karena itu, ia bertanya dengan penuh kemarahan pada sang nabi, “apakah maksudmu datang kemari….untuk menyebabkan anakku mati?” (ay.18). Ternyata Elia pun ikut menunjukkan protesnya pada Allah (ay.20), lalu setelah mengunjurkan badannya tiga kali di atas anak itu ia memohon agar Allah mengembalikan nyawa anak itu. Dia pun mendengar doa Elia, anak itu hidup kembali. Begitu melihat anaknya kembali hidup, sang janda baru menyatakan kepercayaannya pada Tuhan. Sang janda baru percaya setelah melihat anaknya hidup kembali, padahal ia telah melihat dan merasakan mujizat tepung dan minyak sebelumnya. Nampaknya, kebangkitan anaknya baru menjadi bukti kuat bagi sang janda untuk percaya.

Bukti kasih Allah tak melulu datang melalui peristiwa luar nalar atau luar biasa. Bukti bahwa Dia mengasihi kita ada dalam tiap hembusan nafas dan langkah yang kita buat. Karenanya, mari terus mempercayakan diri hanya pada Dia yang telah memberi bukti, bukan janji. [Rhe]

“Memberi adalah bukti kasih.”

 

Bagikan Entri Ini: