Bacaan: Imamat 9 : 1 – 11, 22 – 24 | Pujian: KJ. 231
Nats: “Keluarlah api dari hadapan TUHAN melahap kurban bakaran dan seluruh lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah.” (Ayat 24)
Hari itu menjadi hari yang sangat bersejarah bagi umat Israel. Setelah tujuh hari ditahbiskan, Harun dan anak-anaknya akhirnya mempersembahkan kurban pertama mereka di hadapan Tuhan. Semua dilakukan sesuai perintah Tuhan melalui Musa. Ketika mereka hidup taat dan mempersembahkan dengan sungguh-sungguh, kemuliaan Tuhan pun tampak, dan api turun dari hadapan-Nya untuk membakar kurban itu. Tanda ajaib ini bukan sekadar pertunjukan kuasa, melainkan tanda bahwa Tuhan menerima pelayanan yang dilakukan dengan hati yang murni dan taat.
Api dari Tuhan melambangkan hadirat dan kuasa Tuhan yang menyucikan. Dalam kehidupan kita, Tuhan juga ingin menyalakan api-Nya, bukan di atas mezbah batu, tetapi di mezbah hati kita. Saat kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati, mengakui dosa, dan mempersembahkan hidup kita sepenuhnya, maka api kasih dan kuasa Tuhan akan membakar segala kelemahan, ketakutan, dan kesedihan kita. Api itu menyala bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk memurnikan dan menghidupkan.
Ketaatan Harun berkenan di hadapan Tuhan, sehingga membawa kemuliaan Tuhan turun di tengah umat. Demikian pula, ketaatan kita hari ini dapat menjadi saluran hadirnya kemuliaan Tuhan dalam keluarga, pelayanan, dan pekerjaan kita. Tuhan menghendaki agar hati kita menjadi mezbah yang menyala, bukan oleh ambisi atau emosi, tetapi oleh api kasih-Nya. Ketika api Tuhan membakar hati kita, hidup kita yang tadinya lesu akan kembali bersemangat, pelayanan kita yang hampa akan kembali hidup, dan iman kita yang redup akan kembali menyala. Bukan hanya berdampak pada diri kita sendiri, namun semangat memuliakan Tuhan juga dapat dirasakan oleh orang di sekitar kita. Kiranya kita dimampukan untuk terus menjaga nyala api Tuhan dalam hati kita. Amin. [fani].
“Saat kita mempersembahkan hidup dengan kerendahan hati, Tuhan mengobarkan kembali nyala kasih dan semangat yang baru.”