Pelatihan Pengenalan Clinical Pastoral Education

14 October 2018
Peserta pelatihan pengenalan Clinical Pastoral Education bersama supervisor Pdt. Nursini Sihombing.

Greja Kristen Jawi Wetan bersama United Evangelical Mission (UEM) pada tanggal 1-12 Oktober 2018 lalu mengadakan pelatihan pengenalan “Clinical Pastoral Education” (CPE). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pendampingan pastoral bagi pendeta-pendeta gereja anggota UEM.

Lima orang pendeta GKJW dan dua orang pendeta Gereja Kristen Pasundan (GKP) mengikuti program pelatihan ini. Kehadiran dua pendeta GKP dalam pelatihan tersebut adalah salah satu bentuk kemitraan antara GKJW dan GKP meskipun GKP bukan gereja anggota UEM. Bertindak sebagai supervisor dalam pelatihan ini adalah Pdt. Nursini Sihombing dari UEM.

Selama 12 hari peserta berlatih di Kompleks Majelis Agung GKJW (Kompleks Balewiyata) dan di Rumah Sakit Marsudi Waluyo, Malang. Pelatihan di rumah sakit diadakan agar para peserta memiliki pengalaman langsung mengadakan pendampingan pastoral klinis dengan pasien.

Pendampingan pasien idealnya dilakukan oleh orang yang sehat. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar sehat jika ditinjau dari sisi teologis. Banyak pendamping yang mempunyai luka batin atau gambar diri yang rusak.

Metode CPE dibuat bukan hanya untuk menolong pasien namun juga untuk menolong para pendamping (pendeta/ konselor atau dalam konteks CPE sering disebut “Chaplain”) menemukan kelebihan dan kekurangan yang menjadi penghambat dalam pelayanan. Chaplain diajak untuk menemukan kesadaran dirinya kembali agar pelayanannya menjadi lebih baik.

Laporan percakapan antara chaplain dengan pasien (sering disebut “verbatim”) akan mengungkapkan hambatan apa yang dialami chaplain. Supervisor CPE menggunakan verbatim untuk mengetahui luka batin/ mental block  apa yang dihadapi si chaplain sehingga terhambat pelayanannya.

Sejarah CPE dimulai kurang lebih tahun 1925 di Amerika oleh pendeta Anton Boisen dan dokter Richard Clarke Cabot. Anton Boisen mengemukakan bahwa penyembuhan pasien (baik sakit fisik maupun sakit mental) membutuhkan kolaborasi tindakan dari 3 hal yaitu medis, spiritual, dan psikologis.

Baca Juga:  Kerjasama Kemitraan GKI-TP, GKJTU, dan GKJW

Lebih lanjut Anton Boisen memandang bahwa seorang manusia ibarat sebuah dokumen hidup (The living human documents) yang dibentuk sepanjang sejarah hidupnya. Untuk mengerti seseorang pribadi sebagai dokumen yang hidup, maka perlu dimengerti cerita/ sejarah apa yang membentuk pribadi tersebut. Misalnya: chaplin punya masalah dimasa lalu yang membuatnya sulit mendengar keluh kesah pasien.

Dalam tahap selanjutnya, chaplain akan difasilitasi untuk berdamai dengan masa lalunya, menerima kenyataan dengan pengampunan sehingga chaplain kembali nyaman dengan dirinya sendiri. Kesembuhan inilah yang membuat si chaplain lebih mampu menyembuhkan pasien yang sakit.

CPE sebenarnya bukan hanya ditujukan untuk pendeta namun bagi siapa saja yang menaruh perhatian kepada dunia pastoral. Keberadaan CPE melalui UEM di Indonesia dimulai tahun 2004  dirumah sakit HKBP Balige.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak