Temu Raya Pamong Rayon Mataraman

Para pamong di Pertemuan Raya Pamong Rayon Mataraman 2018

Sebanyak 160 pamong (guru sekolah minggu) hadir dalam acara “Temu Raya Pamong Rayon Mataraman” yang berlangsung di GKJW Jemaat Maron, Blitar pada tanggal  29-30 September 2018. Mereka adalah pamong-pamong yang berasal dari majelis daerah (klasis) Madiun, Kediri Utara I, Kediri Utara II, dan Majelis Daerah Kediri Selatan.

Temu raya ini diadakan oleh Dewan Pembinaan Anak dan Remaja (DPAR) GKJW sebagai wahana agar pamong dapat saling memperlengkapi diri di tengah kemajuan anak dan perkembangan jaman yang semakin cepat. Pamong harus senantiasa belajar supaya dapat mendampingi anak dengan baik sesuai konteks anak masa kini.

Tema temu raya kali ini ialah: “Quo Vadis? Kemanakah Engkau Pergi?”. Melalui tema ini para pamong diajak untuk melihat keberadaan diri masing-masing dan bertanya : “Ada di mana diriku saat ini?” dan “Kemana aku membawa anak-anak pergi?”. Kedua pertanyaan ini yang menuntun sesi sharing  para peserta pada hari pertama.

Pada hari kedua, disediakan 5 kelas dengan materi yang berbeda. Masing-masing majelis daerah membagi pamong-pamongnya agar dapat mengikuti lima kelas tersebut. Materi-materi  tersebut ialah:

  1. Pentingnya Pamong Memberikan Pendidikan Seks bagi Anak dan Remaja, dengan narasumber  Pdt. Kristyanti Retno W, S.Si dan fasilitator Ibu Selvy
  2. Media Sosial dan Teknologi Masa Kini dalam Dunia Anak dan Remaja, dengan narasumber Bp. Dany dan Tim M1, dan fasilitator Pdt. Devina W.
  3. Pelayanan yang Kreatif untuk Anak, dengan narasumber Ibu. Renny Julianti dan fasilitator Pdt.Maria Theofani W.
  4. Pelayanan yang Kreatif untuk Remaja dengan narasumber Bp Thomas Kuma’at dan fasilitator Pdt Galuh I.K.
  5. Membangkitkan Semangat Nasionalisme pada Anak dan Remaja melalui Pamong dengan narasumber Bp Cahaya Purnama Putra dan fasilitator Pdt Galih Fendi C.

Temu raya ini ditutup dengan ibadah pengutusan yang dilayani oleh Pdt. Kristyanti Retno W. Di dalam ibadah ini, para pamong diminta untuk sungguh-sungguh meneladani Kristus. Oleh karena Kristus telah membimbing kita, maka para pamong pun seharusnya membimbing anak-anak sebaik mungkin yang mereka bisa.

Namun, tentu ada banyak hal yang menghalangi para pamong untuk dapat melayani dan membimbing anak dengan sungguh-sungguh. Untuk itu Pdt Kristyanti meminta mereka menuliskan hal-hal yang menghambat pelayanan tersebut lalu menyerahkannya kepada Tuhan dengan simbol membakarnya di depan mimbar.

Dalam ibadah ini, para pamong juga mengumpulkan dana untuk program United Action UEM. Dana yang terkumpul dalam program tersebut dipergunakan untuk pelayanan kepada anak pada gereja-gereja anggota UEM.

 

 

Bagikan Entri Ini: